Jumat, 12 September 2025

Lagu dari Senja

(Pict by Pinterest)

💝💝💝

Mereka membisu di antara lalu lalang pelanggan yang memesan kopi dan kudapan; di antara tanya pelayan-pelayan dengan bolpoin dan buku data menu, suara sepatu-sepatu yang keluar dan masuk melewati pintu dorong-tarik, serta seruan-seruan dari dalam dapur kepada pelayan agar segera mengantar pesanan yang telah siap.

Dia menghela napas. Mengumpulkan segala keberanian yang jauh-jauh sudah diniatkan, tetapi enggan tercerita. Jika saja dia tidak membuat janji dengan wanita itu, dia tidak perlu duduk di sini sambil mendengarkan riuh kafe sore hari dengan kelembapan yang meninggi. Uap air sedang berkumpul di atas sana. Menghalangi jingga, saga, magenta, dan keemasan yang seharusnya memesona.

“Kenapa kamu yang memberikan ini? Di mana Senja?” 

Kepalanya menoleh ke sisi kiri, tepat menghadap jendela kaca yang menampakkan langit oranye keabu-abuan. Senja yang sedikit muram karena mendung mulai menggenapi langit. 

“Dia di suatu tempat di mana rasa sakit tidak lagi merajam tubuhnya.”

“Maksudmu?” Pertanyaan memburu dari pria 28 tahun yang duduk menghadapi wanita itu. Dia pikir, wanita yang mengajaknya bertemu akan membawa serta wanita lain yang dia harapkan kedatangannya. 

Seharusnya, setelah bertahun-tahun sejak hari perpisahan sekolah, itu waktu yang tepat untuk memulai kembali pertemanan yang terjeda.

Atau ... lebih dari itu seperti yang direncanakan dalam kepalanya.

“Sanju, kamu akan tahu ke mana dia saat kamu membuka benda itu.” Sebuah senyum terbit sebagai imbuhan di ujung dialog dengan tatapan mengode pada sebuah kotak kayu di atas meja mereka.

💝💝💝

11 Juli 2009.

Hujan membuat langkahnya urung untuk segera pulang. Payung yang tidak terbawa dan jas hujan yang juga lupa dimasukkan ke tas tadi pagi, membuatnya harus terperangkap lebih lama di sekolah. 

Hari itu adalah hari khusus ekstrakurikuler. Dari jam 7 pagi hingga 5 sore, kegiatan KBM  diganti dengan pendalaman nonakademik. Senja, gadis yang terperangkap hujan saat itu, merupakan salah satu anggota Mading Sekolah. Ekstrakurikuler yang dikenal sebagai kegiatan paling lama pulang. 

Senja beranjak keluar kelas. Langkahnya berhenti tepat di depan ruangan Radio Sekolah. Tidak menunggu siapa pun. Hanya saja, itu tempat strategis untuknya menunggu hujan reda.

“Loh, Nja? Belum pulang?” 

Kepala Senja menoleh ke belakang, menemukan Sanju yang baru saja keluar dari ruang radio dengan menenteng sebuah gitar akustik. Sanju memang salah satu anggota ekskul Radio Sekolah yang agaknya hari itu bertugas sebagai penyiar—teman sekelasnya.

“Belum. Masih hujan. Lagi enggak bawa payung.” Senja memberikan cengiran. 

“Ya, senasib deh, kita.” Sanju menghampiri posisi Senja lantas berdiri di samping kiri gadis itu. “Senja yang kelabu.” 

“Bagus dijadiin judul lagu, tuh.” 

“Ha ha. Aku mana bisa bikin lirik lagu, Nja. Enggak bakat.” 

“Tapi, kamu bisa main gitar.”

“Aku bisa main alat musik, tapi enggak bisa bikin lirik lagu. Enggak semua orang yang bisa main alat musik terus bisa juga bikin lirik lagu.”

“Kalau begitu, nanti aku yang bikin liriknya dan kamu yang bikin musiknya. Kita rekam, terus kirim ke produser. Siapa tahu nanti dikontrak, 'kan?” Senja mengubah posisi dengan kini menghadap Sanju. Tatapannya mengerling jenaka atas ide yang baru saja disuarakan.

“Ha ha. Ada-ada aja kamu, nih. Siapa yang mau nyanyi emang? Suaraku jelek, 'kan?” 

“Ye, suka merendah gitu kamu, sih. Yang nyanyi, ya, kamulah. Orang satu sekolah juga tahu suara kamu bagus.” 

“Hm ... emang beneran kamu bisa bikin lirik lagu?” 

“Hm ....” 

Sanju menatap lekat gadis yang berdiri di sampingnya. 

“Kalau lagi patah hati. He he he.” 

“Huh! Ya, kali nunggu patah hati dulu baru bikin lirik lagu. Dasar!” Sanju mencebik lalu kembali menghadap rintik yang tidak kunjung mereda. 

Sementara Senja hanya terkekeh melihat kejengkelan Sanju. 

“Kalau aku beneran bisa buat lirik lagu untuk kamu, imbalannya apa?” Kembali Senja berbicara. Sementara tatapan lurus menatap rintik yang meluncur dari genting.

“Lah, kan tadi udah setuju untuk bagi dua hasil rekaman.” 

“Ish! Bukan dari itunya. Dari kamu pribadilah.” 

“Hm, jadi ceritanya enggak ikhlas bikinin lirik lagu, nih?” Sanju mendelik tajam ke arah gadis di sampingnya.

“Tidak ada yang gratis untuk sebuah karya, Bung!” Senja menepuk-nepuk bahu Sanju.

“Hm ... aku hanya akan menyanyikan lagu buatan kamu.” 

Senja mengerutkan kening. Menatap dalam-dalam Sanju yang berdiri di sisinya. Jika saja yang mendengar ucapan itu gadis setipe Runa yang centil, pasti dirinya akan melayang ke langit ketujuh. Satu kalimat yang sejujurnya romantis. 

“Halah! Sok-sokan.” Senja memukul pelan bahu Sanju lalu kembali mengarahkan tatapan kepada deras. 

Sementara Sanju hanya garuk-garuk kepala keki. Sok? Tidak juga. Itu semacam ... impian? Entahlah. Sanju sangat tahu jika Senja memiliki kemahiran menguntai kata yang indah. Tidak heran kalau Bu Anna sering menunjuknya sebagai perwakilan sekolah untuk lomba-lomba yang berkaitan dengan literasi. Senja sangat mumpuni dalam bidang sastra. Lirik lagu masuk ke jalur sastra juga, ‘kan? 

“Nju?” 

“Hm.”

“Mau bernyanyi?” 

“Apa? Sekarang?” Sanju menatap bingung kepada Senja. 

“Hum. Sebuah lagu yang berkaitan dengan hujan.” 

“Lagu apa?” 

“Hm ... Menjaga Hati?” 

Sebagai penyiar radio sekolah yang selalu berkutat memutar lagu-lagu pilihan pendengar, Sanju jelas tahu lagu itu. 

“Untuk Senja di bawah senja yang kelabu sore ini.” Sanju menenteng gitar dan mulai memetik satu per satu senar. Alunan intro memulai lagu yang dipopulerkan Yovie and Nuno. 


Masih tertinggal bayanganmu

Yang telah membekas di relung hatiku

Hujan tanpa henti seolah pertanda 

Cinta tak di sini lagi kau t'lah berpaling


Biarkan aku menjaga perasaan ini hooo

Menjaga segenap cinta yang telah kau beri

Engkau pergi aku tak 'kan pergi

Kau menjauh aku tak 'kan jauh

Sebenarnya diriku masih mengharapkanmu ....

💝💝💝

Sanju menemukan sebuah buku dan selembar surat dari kotak yang diberikan Nana beberapa waktu lalu. Bukan sekadar buku tulis. Dari tampilannya, bahkan tampak seperti buku harian berukuran 10 x 15 sentimeter dengan hardcover bercorak sulur dan mawar berwarna silver. Namun, yang menarik perhatian Sanju adalah selembar surat dengan rangkaian namanya yang ditulis tangan. 


Untuk Sandaran Juang alias Sanju alias Penyiar Kesayangan SMANJA.

Apa kabarmu saat membaca surat ini? Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan. Semoga juga sudah menjadi penyanyi terkenal yang lagunya terjual puluhan juta copy. Aamiin.

Kamu masih ingat percakapan enggak jelas kita saat kelabu sore itu? Semoga masih, ya. Jadi, saat aku berikan buku itu, kamu enggak terheran-heran. 

Aku harap, kamu beneran jadi penyanyi profesional, Sanju. Suaramu khas. Bagus. Enak dan bikin ... kalau aku bilang bikin kangen, kamu geli enggak? Ya, kalau geli juga enggak apa-apa, sih. Toh, aku enggak akan tahu juga ekspresimu. Toh, kita enggak akan pernah saling bertemu lagi, jadi aku enggak malu-malu amat. *angkat dua jari tanda damai.

Itu kenangan dariku untukmu, Sanju. Semoga kamu suka. Dinyanyikan atau enggak, itu terserah padamu. Cuma, aku, sih menantikan sekali kalau kamu menyanyikannya. He he he. Maksa, ya, jadinya? 

Sekalipun kamu enggak jadi penyanyi, tapi mau ya bikin instrumen untuk lirik-lirik itu? Kan, sayang kalau cuma dianggurin. Untuk lirik-lirik yang romantis ... kayaknya liriknya romantis semua, sih. Ya, pokoknya lirik-lirik yang penuh aura merah jambu, bisa kamu pakai untuk hadiah ke pacar atau istri kamu nanti. Tapi kalau buat pacar atau istri, jangan bilang itu buatanku. Nanti mereka cemburu lagi. He he he. Ya, kali mau cemburu sama orang yang sudah mati. Kan, enggak enak. 

Panjang banget ya, isi suratnya? Anggap saja curahan hati terakhir kalinya dari Sendraloka Jauhara. Aku titip lirik-lirik itu, ya. Terserah mau kamu apain, he he he. 


Salam rindu dariku,

Sendraloka Jauhara alias Senja.


Sanju meremat selembar kertas berisikan surat kawan lamanya. Surat dari seorang wanita yang ingin sekali dia temui setelah mampu berdiri tegak sebagai seorang pria. Surat dari seorang wanita yang namanya masih tak tersingkir dari kedalaman relung Sanju.

"Kenapa kamu sejahat ini, Senja? Lagu darimu itu ... enggak akan cukup menemani sisa usiaku."

Lengang. Keluhannya hanya berbuah suara dari gemerisik dedaunan pohon mangga di halaman.

💝💝💝



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...