(Ilustrasi Candrakanti dan Andaru yang mengobrol di taman rumah sakit. Pict by Pinterest)
💗💗💗
Langkahnya seperti tak menapak setiap ubin yang dijajaki. Isi benaknya berlompatan; Mengingat pesan-pesan jaringan dari seorang kawan lama; Menabraki laman-laman kenangan yang bermunculan satu per satu. Setiap pijakan yang berpindah, seolah beban ratusan kilo menggelayuti. Semakin dekat dengan kamar rawat yang dimaksud, semakin sesak napas yang berembus. Hari semacam itu tidak pernah ada dalam imajinya.
0821xxxxxxxx
Ini Rahajeng, Mas.
Mas Daru masih ingat Rahajeng, 'kan?
Isi pesan dari sebuah nomor yang belum terdaftar di ponselnya kembali membayang dalam ingatan. Dari sosok bernama Rahajeng yang sependek ingatannya adalah kawan sekelas saat SMA. Selalu satu kelas dari awal masuk sampai mereka lulus.
Andaru Giandra
Saya ingat, Jeng.
Kamu yang duduknya di depan selama kelas XI sampai XII. Bareng Candrakanti.
Yang ngantukan kalau belajar, tapi semangat banget kalau ke kantin.
Bukan. Bukan saja perihal Rahajeng kawan sekelasnya yang membuat dia ingat. Ada hal lain, hal lebih mendebarkan walau datangnya justru bukan dari Rahajeng, tetapi dari gadis yang menjadi teman semeja Rahajeng sejak kelas XI sampai mereka lulus. Seorang gadis yang juga sekelas dengannya sejak kelas X. Mereka selalu ditempatkan di kelas yang sama.
Rahajeng Ekarumayya
Wah, parah kamu, Mas.
Kok, yang diingat malah yang jeleknya? 😒
Andaru Giandra
Mau bagaimana lagi?
Kamu sangat ikonik sebagai sosok yang ngantukan.
Kanti juga sering negur kamu begitu, to?
Rahajeng Ekarumayya
Iya, sih 😅
Untung Kanti suka nyubit-nyubit aku kalau ngantukku datang.
Berkali-kali nama itu muncul, berkali-kali pula dadanya berdebar. Melayangkan ingatan pada sebuah buku yang datang kepadanya empat tahun lalu. Buku yang menjadikannya sebagai sosok tokoh utama. Sesuatu yang tak pernah dia alami, tak pernah dia dapatkan, dari gadis-gadis yang pernah menjadi pacarnya—dulu. Tentangnya terabadi dalam sebentuk buku oleh gadis yang bahkan tidak pernah membuatnya menaruh curiga bahwa ada rasa yang disimpan diam-diam, bertahun-tahun sengaja diendapkan, tak pernah tercerita bahkan kepada kawan dekatnya, tetapi mampu dijabarkan dengan begitu indah lewat tatanan aksara.
Andaru Giandra
Tumben ngechat
Mau bagi-bagi apa, nih?
Bukan buat bagi undangan nikah kedua kali, 'kan?
Dia sengaja berseloroh. Membiarkan obrolan berjalan tanpa canggung. Toh, dulu saat mereka masih tercatat sebagai barisan putih abu-abu, gaya obrolan mereka selalu beraroma banyolan; Tak pernah sungkan saling mencandai; Menghapus sekat sehingga murid laki-laki dan perempuan bisa berkawan tanpa dibumbui baper-baperan.
Rahajeng Ekarumayya
Amit-amit ya, Mas.
Nikahku cukup sekali seumur hidup.
Sembarangan kalau ngomong.
Cubit nih ginjalnya😒
Andaru Giandra
Sorry, sorry
Bercanda.
Aamiin.
Langgengkan pernikahan kawanku ini, Ya Tuhan.
Basa-basi yang kemudian berujung pada percakapan mengenai seseorang berhasil membuatnya tercenung bermenit-menit. Seolah ditampar berkali-kali agar dirinya tersadarkan bahwa waktu telah sedemikian menipis di antara mereka.
Rahajeng Ekarumayya
Sekali saja, Mas.
Mungkin untuk yang terakhir kali.
Maukah Mas Daru menemui Kanti?
Kanti sakit. Sudah sangat akut dengan persentase kesembuhan yang nyaris nol. Setidaknya, jika memang Tuhan ingin mengakhiri fase sakitnya, aku harap Mas menjadi satu dari bagian kenangan terakhirnya.
Mas Daru boleh denial, boleh enggak memercayai perkataanku, menganggap bahwa yang kukatakan mengada-ada demi membuat Mas Daru ge-er, tetapi Demi Tuhan. Ini kenyataan yang harus Mas Daru tahu.
Sampai hari ini, sampai hari di mana dia menghabiskan waktu dengan ranjang rumah sakit dan beragam obat-obatan, dia masih mencintai Mas Daru. Dia masih menyimpan nama Mas Daru di hatinya. Dia masih menjadikan sosok Mas Daru sebagai bahan curhatannya bersamaku dan Dinara. Dia menggenggam cinta untuk Mas Daru sekuat yang dia mampu.
Tolong, Mas. Tolong Mas Daru jenguk Kanti. Cukup menjenguknya. Enggak perlu membalas apa yang sudah Kanti berikan kepada Mas Daru. Dia tak pernah meminta itu dari Mas Daru.
Meski diam, meski baik-baik saja, aku dan Dinara tahu bahwa hati kecil Kanti berharap bisa bertemu lagi denganmu. Bertemu pada kesempatan lain setelah hari perpisahan belasan tahun lalu.
Langkahnya terhenti. Pesan panjang Rahajeng yang menyusupi ingatan membuat goyah pijakan sehingga sebelah tangannya perlu memegangi tembok dari bangsal yang dia lewati; Menarik atensi seorang suster; Menanyai kondisinya apakah perlu diberi pemeriksaan intens atau hanya butuh berdiam sebentar—memanfaatkan satu dari sekian kursi yang berderet.
"Saya enggak apa-apa, Sus." Dikuatkannya lagi kedua kaki sekaligus tekad sehingga petang yang dia pilih untuk datang ke kamar wanita itu tak menjadi sia-sia. "Terima kasih."
Dia melanjutkan langkah seperginya si suster. Kamar di ujung koridor yang dia tapaki adalah tujuannya. Ruang di mana seorang wanita menghabiskan hari dengan berbagai peralatan medis. Tengah berjudi dengan waktu. Menduelkan kelihaian tangan-tangan dokter dengan kekuasaan Sang Maha. Menjadikan hari hanya diisi dengan kecemasan serta rapalan doa. Meminta untuk disembuhkan atau dipulangkan. Yang mana pun, wanita itu seolah telah menyiapkan ketegaran.
Rahajeng Ekarumayya
Aku enggak ngerti lagi dengan keputusan Kanti, Mas. Entah dia menyerah atau lelah, tetapi segala jenis pengobatan sudah dihentikan. Dia bosan merepotkan orang lain, Mas. Barangkali, dengan Mas Daru datang, ada keinginan baru baginya untuk melanjutkan saran-saran dokter.
Kenapa? Kenapa kamu berpikiran sependek itu, Candrakanti? Bukankah kamu dulu sering bilang bahwa tugas manusia adalah berusaha sebaik-baiknya? Mencari jalan semaksimal mungkin? Lalu, kenapa kamu seperti ini?
Tujuannya di depan mata. Di depan kamar bertuliskan Mawar 28, dia mematung. Tak langsung masuk. Mengumpulkan sebanyak mungkin keberanian demi menjumpai sosok yang sejak terakhir mereka di SMA, tak pernah bertemu pada kebetulan mana pun. Takdir menjadi benteng yang menjarakkan kendati mereka masih berada di kota yang sama. Namun, Tuhan menyediakan kembali waktu bagi mereka bersua hari itu. Setelah belasan tahun berlalu. Setelah ratusan purnama menyapa. Setelah kondisi justru tidak baik-baik saja.
Apa yang akan mereka obrolkan saat bertatap nanti? Apa yang akan mereka perbincangkan setelah saling menyapa nanti? Kendati pernah satu kelas, dia menyadari bahwa teramat jarang mereka berbincang sebagai kawan. Sekalinya mengobrol, tidak pernah lebih dari urusan kelas atau tugas kelompok.
Dia dengan wanita itu memiliki dunia yang sangat berbeda. Memiliki ruang yang seolah-olah satu sama lain tak diizinkan masuk. Dia merasakan adanya benteng tak kasat mata yang dibangun wanita itu saat dulu mereka di kelas yang sama. Mencipta kerenggangan tanpa disadari satu sama lain.
"Kamu mencari apa, Daru? Hampir tiga tahun kita SMA dan mantan pacarmu sudah lebih dari tiga. Enggak bisa jomblo sebentar, ya?"
Dia meringis. Hatinya tercubit saat kelakar wanita itu menyusupi ingatan. Andaru yang dahulu memanglah si makhluk yang susah sekali untuk melajang. Ada yang bening sedikit, dia akan naksir. Ada yang manis sedikit, dia tak sungkan menyatakan suka. Bosan dengan yang itu, putuskan lalu ganti yang lain. Sungguh berengsek seorang Andaru di usia 17-nya.
Aku tahu kamu ganjen saat masih sekolah, Daru. Aku pun enggak suka sama cowok yang sering gonta-ganti cewek, tapi aku enggak bisa berbuat apa-apa saat Cupid menembakkan namamu ke hatiku. Perasaan itu muncul untuk kamu bukanlah sesuatu yang aku rencanakan. Andai bisa meminta, aku enggak mau jatuh cinta sama cowok yang ganjen kayak kamu. Logika hanya bisa berencana, tetapi hati tetap menjadi yang berkuasa saat badai romansa menerjangmu.
Bulir hangat merebak dari sudut-sudut mata Andaru demi mengingat isi surat kirimannya. Masih tak beranjak dari depan kamar. Susah sekali melanjutkan padahal tinggal mengetuk pintu, meminta izin dan menjelaskan siapa yang datang, untuk kemudian masuk andai dipersilakan si pemilik kamar.
Rahajeng Ekarumayya
Dia hebat, Mas Daru. Barangkali, dari sekian banyak wanita yang pernah Mas Daru kenal, Candrakanti adalah satu-satunya wanita yang masih dan akan selalu mencintai Mas Daru, enggak peduli setengil apa riwayat percintaanmu. Menutup mata atas ganjennya track record dunia merah jambumu. Dia setulus-tulusnya wanita yang pernah kutemui.
Rahajeng benar. Dia adalah satu-satunya wanita yang masih mau menyukaiku, masih mau menyimpan namaku di hatinya, tak peduli seberapa merah riwayat percintaanku.
"Yang kamu kejar belum tentu menghampirimu kembali, tetapi yang mengejarmu dalam kesabarannya, dalam kelembutannya, dalam kediamannya, dialah yang sesungguhnya mengerti bahwa cinta tidak boleh datang dengan paksaan. Dia wanita hebat, Daru. Kamu beruntung dicintai oleh wanita sehebat itu walau kamu sendiri belum bisa membalasnya. Andai Mas yang dikenalkan dengan wanita modelan Candrakanti, Mas akan berusaha untuk melihatnya."
Dicengkeramnya kuat-kuat kenop pintu demi suara sang kakak yang berkelebat. Karena ikut membaca buku pemberian Candrakanti, kisah mereka pun diketahui beberapa orang rumah.
"Permisi, Mas."
Teguran datang dari belakang Andaru. Seorang perawat wanita berdiri di sana sembari memegangi nampan berisi botol-botol obat dan jarum suntik. Memberi senyum walau sepasang cerminnya memancarkan keingintahuan.
"Mau jenguk Mbak Candrakanti, ya?"
Andaru beranjak sedikit ke kanan dari pintu. Memberi ruang kepada si perawat untuk mendahului. Diberinya anggukan atas tanya yang terlempar.
"Ayo masuk bersama!"
Andaru mengangguk lagi. Membiarkan si perawat wanita masuk lebih dulu, sedangkan dia mengekor. Melangkah terpatah dengan degup yang berirama kurang ajar. Pelan-pelan menjatuhkan tatap kepada sosok yang duduk di pinggiran ranjang sembari menatapi jendela; membelakangi arah datang mereka.
"Selamat sore, Mbak Kanti. Ada yang jenguk, nih. Mas-mas ganteng."
Wanita yang duduk di pinggiran ranjang menoleh. Untuk pertama kali selama belasan tahun sejak hari perpisahan sekolah, mereka kembali bertemu. Satu sama lain terdiam. Saling mencermati. Mengais-ngais ingatan. Mengumpulkan gambaran untuk sebuah kesimpulan bahwa benar mereka saling mengenal kendati telah banyak yang berubah secara fisik.
"Daru?" Meluncur satu nama dari bibir si wanita di pinggiran ranjang. Membiarkan perawat memenuhi tugas, sepasang mata sipit Candrakanti masih tak berpindah dari pria jangkung yang ikut masuk; Berdiri dua meter dari ranjang rawat; Dipenuhi ekspresi yang sulit terjelaskan di matanya.
"Hai, Candrakanti. Lama ... enggak jumpa, ya?"
"Lima belas tahun setelah hari itu, Andaru."
Bagai sakit tak pernah menggerogoti tubuhnya, wajah Candrakanti tampak bersinar di mata Andaru. Tampak segar saat sepasang bibirnya mengurai senyum lebar. Senyum yang dulu selalu dia lihat selama tujuh jam sepanjang enam hari sekolah.
"Hum. Lima belas tahun setelah hari itu, Kanti."
💗💗💗
Petang jatuh di atas kepala saat dia meminta agar mereka mengobrol di taman rumah sakit. Selain karena cuaca sedang sangat bagus, bosan telah amat menggigit sehingga wanita berbalut pakaian pasien itu menginginkan suasana selain di dalam kamar demi mengobrol dengan teman lama.
"Rahajeng atau Dinara yang kasih tau?" tanyanya menjadi pembuka obrolan mereka.
"Rahajeng. Dia WA saya beberapa hari lalu."
"Dia pasti ngomong yang ngawur-ngawur, ya, makanya kamu sampai ke sini?" Ditatapnya goresan warna yang bersolek di atas kepala. Lembayung menjadi teman oranye dan keemasan dalam membentuk kesatuan warna petang. Hangat, tetapi ada sepi yang siap memeluk mereka untuk kemudian jatuh pada dingin malam.
"Dia cuma bilang kalau penulis keren kesayangannya lagi kurang sehat." Tak bisa. Dia tak bisa melepas pandang dari wanita yang duduk berjarak setengah meter di samping kirinya. Ada nyeri yang mencubit hati saat menemukan tiang infus di samping si wanita. Benda yang menurut perawatnya tak boleh ditinggalkan hanya karena ingin mengobrol di luar kamar rawat.
"Dia enggak bisa banget jaga rahasia."
Senyum itu masih tak berubah. Masih senyum yang selalu mencirikan seorang Candrakanti. Masih seperti senyum ketika mereka remaja: tulus, lugu, dan penuh kasih. Yang bisa diingat Andaru, wanita di sampingnya tak pernah marah saat di kelas. Selalu sanggup menjadi penengah kala mereka berdiskusi untuk menentukan regu-regu dalam memeriahkan Porseni. Selalu bisa diandalkan untuk membantu kawan-kawan mereka setiap kesulitan belajar walau tak pernah sekalipun memberi sontekan.
"Aku enggak akan kasih kalian sontekan. Menyontek cuma bikin kalian gampang frustrasi. Gampang nyerah. Enggak mau berusaha lebih keras karena sudah disuapi. Kita bisa belajar bareng buat mecahin soal-soal yang sulit. Belajar bareng, bukan dengan menyontek."
Seorang Candrakanti tak akan sungkan berkoar-koar agar mereka, kawan satu kelas dan seperjuangannya, selalu jujur dalam mengerjakan tugas-tugas pemberian guru.
"Maaf."
Candrakanti menemukan Andaru tertunduk saat menoleh ke arah lelaki di sampingnya. Jelas tergurat penyesalan di wajah lelaki yang meski belasan tahun tak bersua, belasan tahun telah berbagai hal menyapanya, tampak tak banyak berubah. Masih dengan pipi yang agak chubby. Masih dengan hidung yang begitu bangir. Masih dengan tatapan yang tajam—tatapan yang kerap membuat kawan-kawannya menciut setiap beradu debat dalam tugas presentasi kelompok. Tubuh yang dulu jangkung dan cenderung kurus telah sedikit berubah. Lengan-lengannya lebih berotot. Lebih kokoh. Lebih gagah dari Andaru yang berusia 17 tahun.
Ah, Candrakanti merasakannya lagi. Lebih hebat. Lebih membuncah karena mereka duduk bersisian. Perasaan yang tak mau pergi sejak pertama kali mereka saling bertemu di pintu gerbang SMA. Perasaan yang masih sama euforianya sepanjang 18 tahun perkenalan mereka. Perasaan yang mungkin sedikit bisa terbuka untuk beberapa tahun belakangan. Tak lagi hanya mengendap di balik dada sendirian.
Telah sanggup dia bagikan perihal perasaannya tentang Andaru kepada Rahajeng dan Dinara. Telah dia ceritakan jatuh cinta diam-diamnya kepada dua kawan paling dekat sejak masa putih abu-abu. Perasaan yang sayangnya tetap berjalan searah. Memanggil kegemasan di benak Rahajeng dan Dinara yang justru mendorong Candrakanti untuk menyelesaikan nama Andaru; Mengeluarkan nama Andaru dari hatinya; Melepaskan kenangan-kenangan tentang Andaru dari kepalanya.
"Kamu enggak coba, ya, mana tahu bisa enggaknya, Kanti!" Begitulah yang selalu diomelkan Rahajeng dan Dinara. Yang dia sambuti dengan kekehan panjang.
Mencoba menghilangkan tentang Andaru adalah hal yang dia lakukan sepanjang sisa hidupnya. Berkali-kali dia berusaha menghilangkan nama Andaru dari hati sampai mencoba memulai kisah baru dengan pria lain, nyatanya tak cukup menghasilkan. Lagi dan lagi, sosok Andaru mencengkeram perasaannya. Tak tergoyah. Bertakhta begitu lekat di kedalaman relung.
"Sampai Tuhan sendiri yang bilang, 'Cukup, Kanti. Sudah cukup kamu mencintai Andaru. Lepaslah! Melangkahlah dengan kisah baru. Sudah Ku-cukupkan bagimu mencintai dia,' maka perasaanku untuknya akan menguap sendiri. Jadi, biarkan Kanti kalian yang bebal ini menjalani apa yang memang Tuhan masih takdirkan baginya."
Alibinya telah sampai kepada keputusan tak bisa diganggu gugat. Menjadikan Rahajeng dan Dinara hanya geleng-geleng sembari menepuk dahi. Bebalnya mendarah daging.
"Aku enggak merasa kamu membuat kesalahan kepadaku, Daru. Enggak perlu ada maaf."
"Saya banyak salah sama kamu, Kanti."
Candrakanti menemukan pria di sampingnya meremati kedua tangan. Tergambar kesungkanan yang nyata; yang tampaknya ingin sekali disembunyikan Andaru.
Dia paham ke arah mana Andaru ingin berbincang. Tentang rasa suka Candrakanti kepada Andaru. Tentang perasaan Andaru yang tak kunjung bisa membalas rasa suka Candrakanti. Tentang tulus yang searah. Tentang hati yang tak kunjung terketuk.
Candrakanti mendongak. Menjadikan lembayung hari kedua puluh September sebagai tontonan. Indah. Elegan. Lembut. Warna-warna yang menenteramkan. "Aku sudah menjelaskannya lewat surat maupun buku yang kukirim kepadamu. Sudah kutambahi pula dengan chatting panjang dua tahun lalu, bukan?"
Tanya yang tak segera terjawab. Pemilik suara di sampingnya hanya mampu menjadikan rumah semut di dekat kaki sebagai yang ditatapi. Satu sisi perasaan menimbang untuk mencoba membalas, tetapi sisi lainnya menyangkal bahwa yang dia lakukan hanya akan berakhir melukai karena perasaan yang diberikan untuk Candrakanti bukan datang karena benar-benar mencintai; Hanya sebatas rasa iba dan bersalah; Hanya ingin memberi sedikit kebahagiaan demi meringankan hari-hari beratnya.
"Daru, lihatlah kemari." Lembut Candrakanti meminta. Berhasil menggerakkan kepala Andaru untuk menoleh kepadanya. Mengundang senyum lebar di wajah Candrakanti. "Aku enggak pernah meminta kamu membalasnya, Daru. Aku bahkan akan menolak kalau kamu tiba-tiba bilang menyukaiku bahkan mengajakku menjajaki hubungan lebih dari teman. Hal yang kamu lakukan bukan cinta dan aku enggak ingin dicintai dengan cara yang salah. Tolong jangan pernah merasa terbebani hanya karena kamu enggak bisa membalas perasaanku, Daru. Hati memiliki caranya sendiri dalam bekerja. Jika dia mau jatuh cinta, dia akan jatuh cinta. Jika tidak, dia akan tetap denial. Mau logika kamu merongrong untuk iya, kalau hati bilang enggak, ya, enggak bakalan jadi iya. Kalau sampai kamu memaksakan untuk menerima, baik kamu dan aku hanya akan tersakiti. Enggak, Daru. Aku enggak mau cinta yang seperti itu."
"Kanti ...."
Kemampuan berbicaranya lumpuh. Dia tak menemukan kata-kata untuk dirangkai menjadi kalimat tanggapan. Andaru hanya bisa menatap frustrasi wanita di sampingnya. Tidak adakah yang bisa dia lakukan untuk—setidaknya—berterima kasih karena telah dicinta begitu hebat, begitu ikhlas, begitu tulus oleh seorang wanita?
"Kamu tahu? Dengan kamu datang ke sini, dengan kamu menyempatkan waktu di sela-sela sibukmu hanya untuk menemuiku, berbincang sebentar denganku, sudah lebih dari cukup membuatku senang, Daru. Aku seperti mendapat sepuluh persen perpanjangan waktu. Melihat kamu sehat dan baik-baik saja sekarang, sudah sangat cukup buatku."
Andaru beranjak. Duduk bersimpuh kemudian di hadapan Candrakanti. Meraih tangan ringkih Candrakanti. Digenggamnya dengan penuh kelembutan. "Saya harus apa? Saya harus bagaimana agar kamu enggak cuma punya sepuluh persen perpanjangan waktu? Saya mau kamu bisa mendapat lebih dari seratus persen atas waktu yang Tuhan janjikan."
Tatapan Candrakanti jatuh kepada tangan-tangan yang menggenggamnya. Satu genggaman Andaru dia lepas agar tangannya sanggup memberikan usapan di tangan Andaru. "Enggak ada. Kamu enggak perlu berbuat apa pun. Tetap jadi kamu yang seperti biasa aja. Jadi Daru yang misterius. Jadi Daru yang enggak suka upload postingan di media sosial. Jadi Daru yang lebih bahagia ke depannya. Aku bakalan senang banget kalau nanti kamu bisa jatuh cinta lagi. Jangan menutup hati untuk orang baru, ya. Dia yang pernah ninggalin kamu menandakan bahwa ada wanita yang lebih baik yang Tuhan sudah siapkan. Sembuh, ya. Kamu harus sembuh dari trauma mencintai."
Ah, benar. Candrakanti tak melupakan yang satu itu. Tentang Andaru yang ditinggal menikah oleh wanita yang dia kagumi sejak SMA. Kisah yang kemudian menjadikan Andaru sangat tertutup. Sangat jarang membagikan kisah kesehariannya di laman media sosial. Benar-benar menjaga privasi untuk tidak bocor ke publik.
"Kenapa kamu malah ngurusin perasaan saya? Kenapa harapan-harapan baik itu justru kamu langitkan untuk saya? Kenapa kamu enggak mau egois, enggak mau meminta Tuhan menggiring hati saya agar bisa memilih kamu, Kanti?" Andaru frustrasi atas perasaannya sendiri. Dia ingin berubah. Dia ingin mencintai wanita yang begitu tulus memberikan cinta selama belasan tahun kepadanya. Namun, Tuhan tak kunjung menjadikan dadanya berdebar istimewa seperti saat dia dengan gadis-gadisnya dulu.
"Bagi sebagian orang, melihat sosok yang dicintai bisa bahagia walau bukan dengan dirinya akan menjadi kebahagiaan pula untuknya. Naif? Mungkin, tetapi begitulah sebagian orang menghormati perasaan orang lain." Satu kebahagiaanku terpenuhi hari ini, Daru. Dengan kamu di sini. Dengan kita mengobrol kembali setelah lima belas tahun tak pernah bertamu. Dengan tanganmu menggenggamku, itu sudah cukup. Sudah sangat cukup. Aku bisa pergi dengan lebih bahagia.
"Kanti ...."
Ditatapnya wanita itu. Ditatapnya sepasang mata sipit yang dulu seringkali memelototi kawan-kawan sekelas yang bengal. Diabadikannya senyum paling tulus yang pernah dia temui. Senyum dari wanita yang telah kehilangan pipi chubby-nya.
"Mau mengabulkan satu permintaanku, Daru?"
"Katakan, Kanti. Selagi saya mampu, saya akan kabulkan."
"Di dekat nisanku nanti, tolong kamu tanami bunga soka putih, ya. Aku ingin nisanku selalu wangi bunga soka putih. Pasti akan indah saat bunga itu tumbuh besar dan rimbun lalu menaungi nisanku. Mau mengabulkannya, 'kan?"
Andaru membungkam. Ada amarah yang ingin dia luapkan karena Candrakanti seolah-olah menyerah dengan kesempatan hidup. Siapa yang tahu perihal kematian? Tidak seharusnya seorang manusia mendahului ketentuan Tuhannya. Namun, dia ingat bahwa setiap yang ingin pergi memang diberikan firasat sehingga kepergiannya tak memberi lubang lebih lebar bagi yang ditinggalkan.
"Saya ... akan cari bibit pohon soka putih paling bagus, paling cantik, dan paling sehat. Saya akan tanam seperti yang kamu inginkan, Kanti. Saya akan melakukannya." Jatuh kepala Andaru ke pangkuan Candrakanti. Tak terbendung lagi sembulan dari sudut-sudut matanya. Sebisa mungkin menyembunyikan luruhan hangat di pipi dari perhatian wanita itu.
"Terima kasih, Daru. Terima kasih, Andaru Giandra. Kamu selalu bisa diandalkan sebagai kawan yang baik." Candrakanti mendongak. Menatap lembayung di atas kepala, sedangkan sepasang mata mulai membasah. Sampai berjumpa di kehidupan setelah ini, Daru. Semoga Tuhan memberi izin agar Kanti dan Daru di kehidupan selanjutnya bisa menjadi lebih dari teman sekelas. Teruslah menjadi Daru yang bahagia dan menyenangkan. Sembuhlah sehingga dia yang bertakdir denganmu akan mudah ditemukan. Terima kasih atas obrolan petang ini. Aku ....
Kanti terpejam. Membawa senyum dalam diam.
💗💗💗
Tidak ada komentar:
Posting Komentar