(Picture by Pinterest)
Momen Kedua
Dia mulai menjadi bagian dari hari-hariku.
πΌπΌπΌ
Jadilah kami tontonan para ABG yang agaknya beberapa mulai terpesona oleh cowok cungkring di sampingku. Kalau boleh jujur, wajah si Raga ini tidak jelek-jelek amat. Cuma kalau dibandingkan dengan Kak Roki, meski punya bibit buaya darat, masih gantengan Kak Roki.
“Mau nyanyi sambil duduk atau berdiri?” tanya Kak Retha.
“Saya berdiri saja, Kak. Engap kalau nyanyi sambil duduk,” akuku. Fakta yang kualami memang seperti itu. Aku lebih cepat kehabisan napas kalau bernyanyi sambil duduk.
“Raga mau duduk?” tawar Kak Rosiana.
“Boleh, Kak.”
Kak Roki mengambil satu bangku, menyerahkan gitar ke Raga, dan membiarkan cowok itu duduk. Posisi kami yang seperti ini tampak sejajar. Ya ampun, betapa kuntetnya aku jika berdiri di samping si Raga.
“Talitha bisa lagu apa?” Pertanyaan Kak Roki mengembalikan alam bawah sadarku yang beberapa saat lalu melanglang buana.
“Lagu duet aja, Tha. Raga bisa nyanyi juga enggak?” Nuri yang duduk di bangku saf tengah, barisan kedua, kembali berceloteh.
“Bisa, kok.”
Aku menengok sedikit ke Raga yang tampak santai saja berdiri di depan kelas. Agaknya, cowok ini cukup punya jiwa narsis. Tidak tampak sama sekali demam panggung. Padahal, aku yang terbilang sering bernyanyi untuk upacara hari Senin saja masih merasa demam panggung kalau disuruh bernyanyi solo begini—enggak solo-solo amat, kan tadi si Nuri bloon minta kami duet.
“My Heart aja. Yang Acha duet sama Irwansyah.” Rana mengusulkan.
“Enggak. Ribet bahasa Inggris-nya. Lidahku lidah Jawa banget.” Aku langsung menolak. Aksen Inggris-nya nanti agak medok kalau aku nyanyi itu.
Kak Roki menahan tawa.
Lucu memangnya ucapanku?
“Kalau gitu ... Pelengkap Hidupku. Eren sama Romi, tuh.” Suara Dimas yang kali ini menginterupsi.
Pelengkap Hidupku? Yang bagaimana liriknya? Hm ... ah, ya.
“Boleh. Raga hafal?” Aku menoleh ke Raga yang sejak tadi diam saja. Sama sekali tidak komen ini dan itu. Nih, anak mauan orangnya.
“Boleh. Lumayan hafal dan tau kuncinya.”
Lumayan dia bilang? Hm, tidak menjanjikan sekali jawabannya.
πΌπΌπΌ
“Tha, Tha.” Nuri terbahak setelah jam nahas itu. Senang sekali dia melihat kawannya menderita demam panggung sampai salah lirik.
“Gara-gara kamu, 'kan?” Aku mendengkus. Sebal sekali.
“Buat Persami nanti jangan sampai salah lirik ya, Tha. Banyakin latihan sama Raga biar lebih enjoy pas hari H.” Begitu saran Kak Roki, sambil menahan tawa, sebelum keluar kelas.
Huf! Niat hati tidak ingin menjadi siswi yang menonjol, tetapi Nuri justru menjerumuskanku. Sudah bisa dipastikan, kandidat paling kuat kalau ada lomba nyanyi antarkelas pasti aku yang ditunjuk.
“Pas Persami nanti, aku enggak masuk saja, deh. Biar tahu rasa Gugus Peach ini.”
“Eh, jangan begitu, dong! Kok, balas dendam, sih? Kan, bagus juga buat kariermu ke depannya, Tha.” Nuri masih terkekeh di antara saran tidak masuk akalnya.
“Aku enggak pengen jadi penyanyi.” Kusandarkan tubuh di tiang koridor, sedangkan Nuri duduk di emperan taman mini yang memang disediakan setiap kelas.
“Iya, tau, tau. Mau jadi penulis, editor, syukur-syukur reporter.”
Aku menahan senyum. Nuri masih ingat rupanya dengan impian yang pernah kuberi tahu.
“Ganti personel enggak bisa apa? Kayaknya yang bisa nyanyi bukan aku saja, Nur.” Kalau ada kesempatan untuk berkelit, kenapa enggak?
“Ada sih yang bisa nyanyi, tapi mungkin enggak seenak suara kamu.” Nuri mengendik tak acuh.
“Bagaimana kalau kita diskusi lagi? Tanya lagi siapa yang mau tampil. Sumpah ya, Nuri. Aku malas tampil depan umum begitu.”
“Ya, coba saja. Cuma, aku enggak bisa jamin kalau mereka mau dengan sukarela tukeran tempat mengantikan you. Lagian, tampil doang enggak bikin mukamu bopeng, Tha. Kan, lumayan. Hadiahnya buat kelas kita nanti.”
“Masalahnya, kalau sampai salah lirik kayak tadi, gimana? Reputasiku yang ingin jadi siswi biasa-biasa saja bisa berubah. Nanti ada tagline: Talitha Si Gadis yang Lupa Lirik Saat Bernyanyi. Kan, enggak bagus banget.”
Nuri kembali terbahak. Nih, anak memang receh. Gampang banget buat menertawakan kesengsaraan orang.
“Ya, kamu latihanlah. Pulang MOS nanti kamu sama Raga latihan. Jangan langsung pulang.”
Artinya, aku harus izin dari jaga toko buku dan CD-nya Mbak Ginuk? Mau bagaimana lagi? Kalau sampai aku lupa lirik di hari H, tagline Talitha Si Gadis yang Lupa Lirik Saat Bernyanyi akan benar-benar menghantui sepanjang tiga tahun dunia putih abu-abuku.
“Suara kamu sudah bagus, Tha. Cuma perlu mempertajam ingatanmu dengan liriknya. Kamu juga enggak buta nada.” Tiana ikut nimbrung. Agaknya, gadis ini baru dari kantin karena tangannya menenteng banyak makanan.
“Betul, tuh. Udah, jangan banyak alasan. Pokoknya, kamu harus latihan untuk mempertajam ingatanmu tentang lirik. Nanti kita patungan buat uang makan kamu selama latihan.” Riska menaikturunkan alis.
Fiuh! Apa boleh buat.
πΌπΌπΌ
Tadinya, aku meminta Nuri untuk menemani latihan. Namun, gadis itu memiliki segudang alasan untuk kabur. Meminta gadis yang lain pun sama saja. Mereka tidak setia kawan sama sekali. Meninggalkan temannya sendirian di sini. Ya, tidak sendirian. Kan, ada Raga. Cuma ... ya, bagaimana, ya?
“Ini bekal kalian selama latihan. Pokoknya, Talitha harus hafal lirik lagu yang mau dinyanyikan di Persami.” Akmal menaruh dua plastik hitam penuh isi di atas meja.
“Raga, bimbing Talitha. Kalian cuma latihan nyanyi doang loh, ya. Enggak selain itu.” Nuri mengingatkan setelah menaruh dua gelas plastik berisi es jeruk manis.
Aku mengernyit atas kalimat aneh gadis itu. Enggak selain itu ... maksudnya? Dia nih, pikirannya suka ke mana-mana, deh.
Sementara yang lain sibuk mengingatkan ini dan itu, Raga anteng saja di tempatnya. O, iya. Kami juga dipinjami gitar akustik oleh Kak Roki untuk latihan.
Kelas langsung sunyi setelah mereka keluar. Tinggal aku dan Raga. Pintu sengaja dibuka agar tidak mengundang gosip yang tidak-tidak.
Meski aku dan Raga duduk satu meja, tetapi kami jarang mengobrol. Kami seperti punya dunia sendiri-sendiri yang tidak perlu dimasuki orang lain. Pun aku tipe cewek yang tidak begitu bisa akrab dengan cowok, kecuali mereka yang membuka circle untukku.
“Jadi, mau lagu apa untuk acara Persami? Kayaknya, kamu kurang hafal dengan lagu tadi.” Raga memecah bisu. Syukurlah dia duluan yang bersuara.
“Sebentar, aku mikir dulu.” Iya, perlu mikir karena aku juga lupa lagu apa yang hafal di luar kepala. Harus lagu duet pula. Masalahnya, kalau diminta ingat, justru otak ini lupa. Perlu tanya Google-kah?
“Coba dengerin ini.” Raga menghampiriku yang sejak tadi duduk di meja Arui, tepat di depan menghadap papan tulis. Diselipkannya sebelah earphone ke salah satu telingaku.
Ucapkanlah kasih satu kata yang kunantikan
Sebab 'ku tak mampu membaca matamu, mendengar bisikmu
Nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
Sebab 'ku tak sanggup mengartikan getar ini
Sebab 'ku meragu pada dirimu ....
Aku menoleh ke Raga. Cowok itu memejam sepanjang lagu bergema di telinga kami. Seperti sangat menikmati atau bahkan dia menyelam ke intisari lagunya? Jangan-jangan, cowok ini sedang jatuh cinta karena tampak ... seperti itu.
Daripada menikmati lagu, aku lebih menikmati ekspresi diam Raga yang mendengarkan lagu. Diam, tetapi seolah menyatu dengan setiap alunan musiknya. Aku seperti melihat sisi lain Raga yang tak pernah kutemui.
Sepanjang pertemuan awal kami, Raga tidak banyak bicara. Hanya bersuara seperlunya, bahkan kepadaku yang satu meja. Tidak banyak berbincang jika denganku, tetapi agaknya cukup akrab dengan beberapa teman cowok di kelas.
Seperti apa sebenarnya Raga? Apakah dia benar-benar menyukai musik?
“Mau lagu ini?”
“Hah?” Aku tersentak saat Raga menatapku. Sejak kapan dia terjaga dari menikmati lagu?
“Mau lagu ini, enggak?” ulangnya karena aku belum menjawab.
“Ah, boleh-boleh. Aku cari liriknya dulu.”
“Langsung catat aja. Aku dikte.”
“Eh?”
“Biar cepet. Buruan catet.”
“Ah, iya, iya.” Aku mengangguk-angguk. Ngikut sajalah daripada berantem nanti.
Setelah lirik selesai ditulis, kami pun mulai berlatih. Satu dua kali percobaan, aku masih saja salah lirik. Inilah kenapa aku tidak tertarik menjadi penyanyi meski suaraku—kata orang—bagus. Aku tidak bisa menghafal lirik dengan baik.
πΌπΌπΌ
“Ayo kuantar pulang!” Raga menghentikan sepeda tepat di depanku.
Ini hari ketiga kami latihan. Demi tidak ingin mengecewakan Gugus Peach, kami memaksakan diri latihan sampai sore. Untung toko Mbak Ginuk lagi sepi, jadi tidak terlalu merepotkan kalau aku hanya bekerja beberapa menit sebelum toko tutup.
Sejak SMP, aku sudah bekerja di toko Mbak Ginuk untuk mendapat uang saku tambahan. Sebagian upah kuberikan ke Ibu untuk menambal kekurangan beli lauk, sebagian lagi aku simpan untuk keperluanku. Biasanya, tabungan hasil upah menjaga toko kubelikan novel-novel karya penulis favorit.
Eh, omong-omong. Kok, Raga mau nganterin?
“Enggak usah, Ga. Rumahku beda arah sama rumah kamu. Aku juga harus ke toko dulu. Masih ada beberapa menit sebelum tutup.”
“Toko?”
O, ya. Selain Nuri, anak-anak Gugus Peach tidak ada yang tahu kalau aku bekerja paruh waktu. Ya, untuk apa menebar berita tidak penting, 'kan?
“Ehm, itu ... toko tempatku kerja paruh waktu.”
Raga tampak mengangguk. “Jauh dari sini?”
“Enggak, sih.”
“Kalau rumahmu, jauh dari sini?”
“Lumayan. Tiga puluh menit jalan kaki.”
“Ya, udah. Ayok kuantar.”
Lah, malah keukeuh mau nganter? “Enggak usah, Ga. Dibilang beda arah.”
“Udah sore, Tha. Udah setengah enam. Udah mau gelap. Hayuk!” Raga menarik tanganku mendekati boncengan. “Naik.”
Ini beneran Raga? Eh, kesambet apa dia sehangat ini? Biasanya juga bodo amat, 'kan?
“Ye, malah bengong. Hayuk!” Tarikan tangan Raga membuatku makin mepet ke boncengan.
Terima enggak?
“Talitha Saraswati?”
“Eh, iya, iya.” Aku langsung naik ke boncengan. Eh, kok, nurut?
Jalanan menggelap. Ya, namanya jalan pedesaan. Kalaupun terang, itu efek lampu-lampu dari rumah warga. Jika memungkinkan, dalam beberapa bulan ke depan, katanya akan ada pemberian lampu jalan di jalan-jalan utama desa. Lumayanlah. Seandainya aku kebagian pulang sore, seperti sekarang, aku tidak perlu was-was karena jalanan cukup terang.
“Tha, di mana tokonya?” Suara Raga yang tersapu angin mampir di telinga.
“Masih lurus. Nanti ada spanduk Toko Buku dan CD Mbak Ginuk.”
“Oke.”
Sunyi lagi. Raga ini irit bicara. Jangan-jangan modelan Ji Hoo di F-Four, nih. Dingin-dingin perhatian.
Kami sampai di depan toko Mbak Ginuk.
“Kamu tunggu sini aja,” instruksi Raga saat aku turun dari boncengan.
“Loh? Kan, aku mau kerja.”
“Diam dan tunggu sini, oke?”
Seperti sihir, instruksi Raga tidak bisa dibantah—atau memang aku saja yang tidak mau beradu urat dengannya? Eh, tapi, kenapa dia memintaku menunggu di sini? Ish, mauan lagi si Talitha!
Setelah beberapa menit, Raga kembali keluar. “Yuk, pulang!”
“Hah?” Ih, keanehan apa, sih? Hari ini aku makan apa, sih? Eh, bukan aku, tapi Raga.
Raga yang kenapa.
“Aku udah izin ke Mbak Ginuk kalau hari ini kamu off. Besok-besok, kita latihan selesai lebih cepet biar enggak pulang kesorean.”
Aku hanya melongo mendengar ocehan Raga yang naik ke jok depan.
“Tha? Ayo, naik! Kok, malah bengong?”
Ini perlu diluruskan! Kondisi Raga yang seperti ini seperti bukan Raga. Dia pasti kesambet. Jangan-jangan, beneran ada hantu di sekolah itu mengingat bangunannya saja tua.
Aku berjalan lewat sisi lain dan berdiri di depan sepeda Raga, menatap penuh tuntut ke cowok yang duduk santai di jok sepeda berwarna oranye.
“Bilang ke aku, kamu kesambet apa? Kamu salah makan ya, tadi?” Aduh, anak orang ini. Kalau sampai kenapa-kenapa, entar aku yang disalahin.
“Kesambet?” Tatapan Raga cengo sesaat, tetapi hanya beberapa detik. Tawanya meledak sampai bahu cowok ikut terguncang.
Beneran kesambet dia. Aduh, mendadak merinding bulu roma.
“Tha, Tha. Makanya jangan kebanyakan nonton horor. Yuk, ah! Udah gelap banget.” Raga menekan pedal sehingga sepeda meluncur sedikit dan berhenti di sampingku.
“Enggak. Ini bukan Raga. Kamu siapa?”
Raga malah terkekeh. Ya ampun, aku serius ini. Kalau dia benar bukan Raga, aku harus apa?
Dia meraih sebelah tanganku dan menyentuhkan telunjuk ke pipinya. “Raga, 'kan?”
Mana aku tahu! Memangnya aku pernah nyentuh pipi dia sebelumnya?
“Tha, ini Raga. Beneran Raga, kok. Udah, yuk. Kebanyakan nonton film nih, kamu.” Raga kembali menarik tanganku untuk segera naik ke boncengan.
Dia ... beneran Raga Jiwa Asmarandana, 'kan?
πΌπΌπΌ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar