🌷🌷🌷
Ke mana? Ke mana aku harus lari? Ke mana aku harus bersembunyi?
Tubuhnya bergelimang peluh. Pelarian sejak tengah hari tak kunjung menemukan tempat aman. Dia bahkan harus berpisah dengan satu-satunya penjaga yang selama ini mengurusi mereka. Entah bagaimana nasib penjaga tua itu. Dia berharap bahwa prajurit yang mengejar mereka tidak sampai menemukan atau tamatlah riwayatnya.
"Periksa semua rumah! Telusuri seluruh ruangan! Bahkan kumpulan tempat sampah sekalipun, kalian tak boleh melewatkannya!"
"Baik, Kapten!"
Tubuhnya kembali menggigil. Dia tak tahu lagi harus pergi ke mana. Dia terjebak di antara tumpukan peti bekas di sebuah lorong yang entah di distrik apa. Dia tak melihat marka jalan sama sekali saat melarikan diri. Yang dia tahu hanyalah berlari secepatnya, bersembunyi semampunya, sehingga sekelompok prajurit berzirah yang menyergap kediaman mereka tak bisa menemukan.
"Apa pun yang terjadi, kau harus selamat. Aku sudah mengirim pesan kepada Bangsawan Kremlyn untuk menemuimu di pinggiran hutan Ibu Kota. Tempat itu tak akan terjamah karena rumor bahwa sekumpulan bandit kejam bersarang di sana. Kau tidak perlu khawatir. Sekalipun tersebar berita bahwa mereka kejam, mereka hanya menyerang bangsawan atau kelompok yang bermasalah. Mereka tidak akan menyerang anak kecil. Tidak pernah terbetik kabar bahwa mereka melakukan penyerangan kepada anak-anak."
Menyusup kalimat lelaki tua yang selama ini menjaga dirinya dan sang ibu.
Kau tidak berbohong kan, Paman Eziel? Aku tidak akan diserang bandit-bandit itu, 'kan? Aku ... aku tidak mau mati.
Dia meringkuk. Menggulung badan sekecil mungkin agar bayangannya pun tak terlihat oleh lalu lalang prajurit yang mencari.
Dia tak bisa ke mana-mana. Tepat di ujung lorong, belasan prajurit mondar-mandir. Memeriksa setiap sudut distrik bahkan tak segan mengganggu ketenteraman penduduk karena dengan paksa memasuki rumah mereka. Memeriksa setiap ruangan. Menyusuri setiap lantai. Tidak luput menengoki lemari dan kolong ranjang. Mereka berjibaku mencari bocah lelaki berambut hitam dengan iris berwarna cokelat gelap. Seorang anak yang lahir dari istri kedua Duke Tua Erthura. Seorang anak yang tak diinginkan oleh pihak keluarga istri pertama.
Ya, keberadaan prajurit yang mencari bocah lelaki itu lantas jika bisa dilenyapkan sekalian adalah perintah dari istri pertama Duke Tua Erthura. Mengetahui bahwa suaminya memiliki anak dari perempuan lain dan disembunyikan dengan pintar bertahun-tahun membuatnya muntab. Tanpa memberi tahu sang duke, dilakukan diam-diam, memerintahkan sekelompok prajurit bayaran, dia menginginkan kematian ibu dan anak tersebut. Tidak boleh ada yang menjegal keistimewaannya sebagai satu-satunya istri duke di Erthura. Kekuasaan sang suami hanya diturunkan kepada mereka. Kepada keturunan darah biru yang sah.
Tanpa bocah lelaki itu sadari, sepasang mata besar milik seorang remaja perempuan telah memperhatikan sejak si bocah laki-laki menyusup di antara sela tumpukan peti bekas dan tembok buntu lorong. Sembari duduk di atas atap sebuah rumah, dia menghitung jumlah prajurit yang berkeliaran di luar lorong. Menyesuaikan apakah jumlah prajurit akan bisa dilumpuhkan dengan setumpuk shuriken dan pisau yang memenuhi bagian dalam celemek putih miliknya. Dia juga perlu mempertimbangkan ke bagian mana senjata-senjata miliknya harus menancap karena zirah yang dikenakan para prajurit.
"Dia bocah yang beruntung kalau masih bisa selamat dari kejaran prajurit sebanyak itu." Gadis itu bangkit. Melakukan sedikit pemanasan dengan meregangkan otot tangan dan kaki. Disiapkannya setumpuk shuriken dan pisau buah berujung runcing. Dengan mengandalkan tenaga dalam yang telah dilatih bertahun-tahun, lesakan shuriken dan pisau--mungkin--mampu menembus lapisan zirah.
Dia mengambil ancang-ancang; melompat-lompat tanpa suara di atas atap rumah seolah-olah pijakannya berupa angin sehingga tidak menimbulkan gemeretak. Lebih dulu menarik napas dalam-dalam sampai kemudian lesatan shuriken dan pisau buah menimbulkan pekik kesakitan. Seketika memecah bisu tengah malam. Mengalahkan derik jangkrik dan koak gagak yang melintas.
Satu shuriken menancap di dahi seorang prajurit. Menyusul pisau buah menancap di lengan mereka. Dua, tiga, sampai belasan senjata khas ninja itu menusuk berbagai bagian tubuh prajurit.
"Keparat! Siapa yang mengacau! Jangan main-main, hei!" Sebuah teriakan mendominasi di antara pekik kesakitan.
Malam tanpa bulan sedikit menguntungkan. Tindakannya tak akan segera diketahui, terlebih tubuh mungilnya bergegas turun; mendatangi tempat bocah lelaki itu meringkuk.
"Kau tidak punya banyak waktu! Ikut aku!" Tanpa sungkan, ditariknya lengan si bocah lelaki. Memintanya bergegas bangkit.
"Siapa kau?" Si bocah lelaki bertahan. Memancang diri. Tidak mau tergesa menuruti. Gadis yang mencekal lengannya adalah orang asing. Bagaimana mungkin dia menuruti? Bagaimana jika gadis itu pun orang suruhan yang ingin melenyapkannya?
"Aish!" Decakan sebal keluar dari mulut si gadis. "Kau jangan banyak tanya! Ikuti aku dan kau masih bisa bernapas besok-besok. Kita tidak punya waktu! Mereka akan segera menyadari seranganku."
"Seranganmu? Pekikan-pekikan kesakitan itu karena ulahmu?"
"Bergegas!" Dengan mengerahkan seluruh tenaga, gadis itu berhasil membuat langkah si bocah lelaki tergerak. Mereka menyusup di antara belasan prajurit yang ribut karena kesakitan. Berharap gelap malam mampu mengelabui pandangan mereka sehingga munculnya dua bocah belasan tahun dari sebuah lorong tak akan dicurigai.
Langit seolah merestui bahwa mereka akan hidup lebih lama. Mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran prajurit bayaran. Memilih memasuki kawasan hutan agar jejak kepergian mereka sulit terlacak. Paling tidak, keberadaan mereka tidak tercium sampai dini hari nanti.
"Kau bisa melompat ke batang pohon yang tinggi?"
Pertanyaan si gadis yang membawanya menjauhi permukiman hanya disambut gelengan.
Terdengar helaan napas frustrasi dari gadis yang mengenakan pakaian khas pelayan di rumah-rumah bangsawan: gaun berwarna hitam sebatas mata kaki berlengan panjang, celemek putih yang melindungi bagian dada yang juga menjulur sepanjang gaun, sebuah bandana putih berenda menghiasi kepala, terdapat kalung pas leher dengan liontin berbentuk mahkota bunga tulip sebagai aksesori tambahan. Bocah lelaki itu pernah melihat penampilan serupa di rumah paman jauhnya yang seorang bangsawan. Satu-satunya kerabat dari sang ayah yang mau mengakui mereka bahkan dengan tangan terbuka menerima keberadaan dirinya dan sang ibu.
"Kalau begitu, ke mana tujuanmu, Tuan Muda?" Dia bertanya setelah menyusuri tampilan bocah lelaki di sampingnya.
Tidak cukup mewah. Kalaulah dia tidak dikejar-kejar rombongan prajurit, baju dan celananya tak akan sekotor dan sekusut itu. Ada sarung pisau yang tersampir di ikat pinggang si bocah lelaki. Sarung dengan logo yang dia tahu berasal dari sebuah toko senjata terkenal di Erthura meski isinya entah ke mana.
"Aku harus pergi ke hutan di pinggiran Ibu Kota. Akan ada kerabatku yang menjemput."
"Pinggiran hutan Ibu Kota? Hutannya Bandit Pedang Hitam?"
Si bocah lelaki mengangguk gamang. Dia tahu soal bandit yang berkeliaran di sana, tetapi tidak tahu nama kelompok tersebut.
"Sekalipun berlari, kita tidak akan cepat sampai ke sana. Hutan pinggiran Ibu Kota sangat jauh. Prajurit-prajurit yang mengejarmu pun pasti akan segera menyadari bahwa kau tidak di Erthura."
"Lalu?"
"Aku tahu kalau yang kulakukan mungkin tidak nyaman untukmu, tetapi hanya dengan cara ini kita bisa lebih cepat sampai." Si gadis pelayan sedikit mundur. Memosisikan diri di belakang si bocah lelaki. "Maaf. Aku akan membopongmu."
"Heh?" Belum genap rasa terkejutnya, tubuh si bocah lelaki sudah lebih dulu melayang. "K-kau ... apa yang kaulakukan?"
"Tenang saja. Aku tidak akan menjatuhkanmu. Kau malah sangat ringan. Setelah bertemu kerabatmu nanti, kau harus banyak makan. Kasihan ototmu kalau dibiarkan melemah." Dia tak peduli dengan wajah memerah si bocah lelaki. Melompat dari satu batang ke batang pohon lain. Menjadikan angin sebagai pijakan. Menjauhi permukaan tanah agar jejak mereka tidak mudah ditemukan. Kondisi tanah kering akibat kemarau membuat jejak langkah mereka kentara. Oleh karena itu, dia harus membawa si bocah lelaki mengudara.
Dengan kecepatan tak biasa, si gadis pelayan berhasil membawa bocah lelaki dalam gendongannya mencapai pinggiran hutan Ibu Kota sebelum fajar. Tidak tepat di pintu keluar hutan, tetapi telah sangat jauh dari distrik di mana prajurit bayaran mencarinya.
"Kau sudah aman. Tenang saja. Bandit Pedang Hitam tidak akan menyerangmu atau bangsawan yang menjemputmu. Kurasa, bangsawan yang menjemputmu merupakan bangsawan baik."
"Kenapa begitu?" Sedikit rasa penasarannya tercukil terkait Bandit Pedang Hitam.
"Tidak ada anak buah bandit di sini yang menandakan bangsawan yang menjemputmu bukanlah target mereka. Meski terkenal sebagai bandit, mereka hanya menyerang bangsawan atau orang-orang kerajaan yang memiliki catatan hitam. Bangsawan korup adalah makanan mereka." Ditepuk-tepuknya bagian bawah celemek untuk mengempaskan debu. Hari memanglah belum terik, tetapi debu tetap mengepul sepanjang waktu selama kemarau berlangsung. "Sudah, ya. Kau sudah aman. Aku harus kembali ke rumah atau Nyonya Elora menghukumku akibat berkeliaran lagi saat malam."
"Terima kasih. Kau sudah membantuku."
"Eih, eih!" Tangannya mengibas-ngibas udara. "Aku sangat tidak suka melihat penindasan. Entah apa yang terjadi, tetapi tidak seharusnya kau dikejar puluhan prajurit berzirah seperti itu. Dilihat dari sisi mana pun, kau seperti anak baik-baik. Tidak terlihat tampang anak nakal."
"Aku ... berutang banyak kepadamu, Nona."
"Tidak perlu sungkan, Tuan Muda." Dirogohnya saku di balik celemek lantas mengulurkan beberapa shuriken. "Simpanlah! Kaulemparkan kalau bertemu prajurit yang mengejarmu. Besok-besok kalau mau kabur, kau harus membawa cukup senjata untuk bertahan."
Setumpuk shuriken berpindah ke telapak tangannya. "Bagaimana denganmu? Kalau kauberikan benda ini kepadaku ...."
"Aku masih punya banyak. Tenang saja." Si gadis pelayan bersiap melompat.
"Namamu! Siapa namamu? Setidaknya, sebelum kau pergi, tolong beri tahu namamu." Bocah lelaki itu memohon sebelum si gadis pelayan benar-benar pergi.
"Panggil saja aku Maid-chan, Tuan Muda."
"Maid-chan?"
"Aku akan memberi tahu namaku yang sebenarnya saat kita bertemu lagi. Sampai hari itu tiba, kau harus tetap hidup. O, ya. Kau juga tidak boleh menghilangkan benda pemberianku."
Bocah lelaki dengan luka gores di wajah dan lengan menatap benda tajam berbentuk bintang di tangannya. Benda yang terasa tidak asing.
"Kita akan bertemu lagi, Tuan Muda."
"Tunggu!" Lagi-lagi, seruan si bocah lelaki menahan langkahnya. Dari saku celana, dia keluarkan selembar saputangan dengan lambang serigala dalam perisai dikelilingi pedang ganda berlainan arah: sisi kanan menghadap ke atas dan sisi kiri menghadap ke bawah. "Terimalah! Kau memberikan senjatamu untukku. Karena aku tidak punya senjata untuk membalas budi, aku ... aku hanya bisa memberimu ini."
"Padahal, kau tidak perlu memberi balasan, tapi ... baiklah. Aku akan menerimanya."
Saputangan pun berpindah kepemilikan.
Ringan tubuh si gadis pelayan melompat ke batang pohon terdekat.
"Percayalah! Kita akan bertemu lagi, Tuan Muda! Tetaplah hidup dan jangan mau dikalahkan oleh orang-orang licik! Sampai jumpa!"
Belum genap kesadaran si bocah lelaki, gadis cilik berpakaian pelayan itu memelesat. Melayang lincah. Menjadikan dahan-dahan pohon sebagai pijakan. Dalam sekejap, tubuh mungilnya menghilang ditelan rimbunan daun. Meninggalkan si bocah lelaki sendirian di pinggiran hutan perbatasan Ibu Kota.
"Maid-chan ... kenapa namanya aneh sekali?" Dia menggeleng. Menatap kembali setumpuk shuriken pemberian gadis bernama Maid-chan. Menyimpannya baik-baik. Bergegas melanjutkan perjalanan. Fajar mengintip di kaki langit timur saat dia melihat kereta kuda di mulut hutan. Berlambangkan berlian dikelilingi sulur daun sirih. Lambang Bangsawan Kremlyn. Paman jauhnya.
Lambaian tangan dari seorang perempuan di luar kereta memicunya mempercepat langkah. Pelukan hangat serta ciuman bertubi-tubi diberikan.
"Kau pulang bersama kami, Rhisiart."
Bocah lelaki itu mengangguk.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar