Kamis, 11 September 2025

Sold Out

 
(Pict by Pinterest)

🌺🌺🌺

Ruangan tempat mereka berkumpul telah disesaki beberapa perempuan yang membawa balita. Pertemuan yang direncanakan sebagai ajang ruang kangen justru menjadi wahana bermain bagi para balita yang beberapa di antaranya telah saling mengenal. Selesai menyapa, bertukar kabar, dan haha-hihi sebentar dengan para bocil, dia memilih keluar. Melipir dari hingar-bingar obrolan mantan kawan sekelas yang telah berubah status menjadi ayah maupun ibu. Selain demi meraup udara segar, menghindarnya tidak lain demi keluar dari serangan tanya terkait: ‘kapan to nyusul?’ atau ‘enggak kepingin kayak kami ini yang setiap hari pusing ngurusin bocil-bocil tantrum?’. Deret pertanyaan yang membuatnya menggeleng disertai kekehan—pura-pura—renyah.

Di antara yang telah hadir, dia masih belum menemukan salah satu sosok. Sosok wanita yang sempat membuatnya terkejut. Hampir dua tahun berlalu saat pesan panjang dari sebuah nomor yang sejak mereka masih sama-sama di bangku sekolah sangat jarang berkomunikasi. Pesan panjang berisi ungkapan perasaan yang telah dipendam belasan tahun.

Kamu tenang saja. Pernyataanku tak bermaksud untuk menuntut balasanmu. Tolong jangan terbebani. Aku mengatakannya hanya agar perasaanku lebih lega. Barangkali pula bisa menyelesaikan apa-apa yang selama ini mengganjal sehingga langkahku tak mampu beranjak. Terima kasih telah diizinkan mengenalmu, Tryasa. Terima kasih telah menjadi bagian tak terlupakan dari wanita ini. Terima kasih ....

Dia menghela napas. Mengingat kembali pesan panjang dari teman lamanya yang ternyata mengagumi secara rahasia dirinya, entah bagaimana selalu mencipta sesak. Jika dia yang hanya membaca pesan saja merasa sesak, bagaimana yang menulis? Bagaimana yang merasakan? Belasan tahun pula.

“Apakah dia selalu sekuat itu?” Gumamannya tersapu angin musim kemarau yang menerbangkan helai jati bersama kepul debu.

Hendak memejam demi menenangkan diri sekaligus meresapi berbagai suara yang meramaikan sekitar, suara langkah dari ujung koridor tempatnya berdiri berhasil mengambil atensi. Semakin terpikat saat tak hanya suara langkah, melainkan obrolan dari seorang wanita dan bocah perempuan berusia tak kurang dari tiga tahun bergema di sepanjang koridor.

“Zura sudah janji untuk tidak rewel. Bisa pegang janji Zura, ‘kan?”

“Jula janji, Bunda. Jula tidak lewel nanti. Jula mau ikut Bunda.”

Good girl.”

“Banyak teman Bunda, ya?”

“Banyak, Sayang. Ada tiga puluh dua.”

“Tiga ... dua?”

“Tiga puluh dua.”

Tergelitik akan ocehan bocah perempuan yang dirasanya sangat terampil berbicara, dia menoleh. Menemukan seorang wanita berbalut dress panjang dengan lengan tertutup di mana tangan kirinya menggandeng lengan kecil nan gempal. Bocah perempuan berambut keriwil sebahu terlihat sangat menggemaskan dengan balutan dress tiga perempat berwarna baby pink. Senada dengan warna sepatu kets mini yang melindungi kedua kaki mungilnya. Meski memiliki warna kulit sedikit berbeda, dia bisa memperkirakan bahwa si bocah perempuan memiliki pertalian darah dengan wanita yang dipanggil Bunda.

Bukan anak. Dia yakin bahwa wanita berparas Tionghoa itu belum menikah. Kabar terkait adopsi anak pun tak pernah terdengar. Melihat garis wajah, dia menduga bahwa bocah perempuan berwajah Tionghoa dengan kulit lebih gelap itu adalah keponakannya.

“Banyak teman Jula juga nanti, Bunda?”

“Banyak. Teman-teman Bunda bawa anak. O, ada Teh Arsy dan Mas Arsyl juga.”

“O, ya? Asyik! Jula mau main sama Teh Alsy dan Mas Alsyl!”

“Boleh. Teh Arsy sudah tunggu di ....”

Kalimatnya terpenggal seiring langkah tak berlanjut. Karena wanita yang menggandengnya berhenti, si bocah perempuan pun ikut berhenti. Menatap aneh kepada wanita yang selalu dia panggil Bunda tatkala sepasang mata sipit milik sang bunda beralih kepada sosok pria yang berjarak tak lebih dari dua meter dengan mereka.

Untuk sejenak, waktu terhenti di antara mereka. Ocehan wanita dewasa dan bocah perempuan tak lagi menggema di koridor. Bisu membungkus dalam keterpanaan antara dua orang dewasa yang selama hampir dua belas tahun tak pernah lagi bersua dalam kesempatan apa pun. Mungkin, mereka akan bersikap lebih normal, menyapa jenaka, melempar candaan, andai dua tahun lalu tak keluar pernyataan rasa kepadanya. Namun, waktu yang membungkus mereka hari itu terasa berbeda atmosfer setelah saling menyadari siapa yang ditemui.

Canggung. Sedikit meresahkan. Mencipta degup aneh di kedalaman hati masing-masing. Berusaha tersenyum pun rasanya sulit seolah-olah mereka asing satu sama lain.

Adalah tiga menit mereka berdiam. Menunggu untuk menanggapi siapa yang menyapa lebih dulu. Mencerna situasi. Memikirkan masak-masak akan respons yang harus diberikan. Mau tak mau, satu di antara mereka harus menjadi pemecah keterbungkaman.

“Kok, Bunda belhenti? Kita sampai, ya, Bunda?” Sambil menggoyang-goyang lengan wanita dewasa di sampingnya, bocah perempuan itu memprotes.

“Ya, kita sudah sampai. Ruang pertemuannya di sana.” Menyingkirkan kejut yang samar tercipta setelah protesan si balita mungil, dia menunjuk ruangan dengan pintu terbuka serta ramai celoteh.

“Kita masuk, Bunda?”

“Iya, kita masuk. Ayo!” Ajakan yang menyelamatkan. Sepasang kakinya kembali bergerak, mengikuti langkah-langkah riang si bocah.

Sebelum masuk, sebelum mereka bergabung dengan gegap gempitanya acara, sebelum lebur oleh suasana hangat di ruang kelas lama mereka, dia sempatkan menyapa. Hanya segurat senyum tipis dibarengi dengan anggukan. Lama tak pernah berkabar bukan berarti membuatnya lupa akan sosok yang alih-alih menikmati pertemuan dengan teman lama, justru menyendiri di depan koridor.

Tidak! Bila bicara tentang pria itu, tak akan pernah ada yang dilupa. Tentangnya masih mengabadi dalam memori.

Tanpa mereka sadari, satu dari tamu yang telah lebih dulu berada di dalam kelas menyadari akan situasi aneh di antara dua teman lamanya. Diam-diam memperhatikan. Menghela napas lelah setiap kali ingat bagaimana perihal perasaan teman wanitanya baru terungkap belum lama. Bahkan dia yang selalu satu kelas sejak pertemuan pertama mereka tak pernah menyadari bahwa perasaan istimewa telah tumbuh di hati si sahabat wanita.

Bersemi sejak pertama mereka menginjak rumput lapangan upacara sebuah SMA.

🌺🌺🌺

Acara inti dari temu kangen setelah dua belas tahun lulus telah berakhir. Tersisa suasana bincang-bincang bebas atau lebih tepatnya mengawasi anak-anak bermain. Beberapa balita membentuk kelompok, menghuni sisi maupun sudut, dengan memainkan beragam hal. Bocah perempuan yang dipanggil Zura tergabung dalam kelompok anak dengan usia lebih besar. Menjadi pusat tatapan beberapa orang dewasa yang memilih duduk tidak jauh dari mereka.

“Zura kelihatan dekat sama Arsy dan Arsyl, Ci.” Seorang perempuan menyenggol lengan wanita berparas Tionghoa yang datang membawa Zura.

“Ciara memang sering bawa Zura kalau main ke rumahku, Lis. Makanya, mereka bisa akrab.” Perempuan lain yang paling jangkung di antara perkumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak itu menyahut.

“Ciara sama Ralina masih sedekat dulu, ya. Masih sering main bareng juga. Jadi cemburu aku.”

“Mau main ke rumah Lilis geh percuma. Kan, Lilis ikut suami merantau ke luar kota. Padahal ya mau banget aku ngenalin Zura ke anak-anak Lilis.”

“Dia anteng banget meski cuma sama kamu, Ci. Belum kudengar dia cari-cari emaknya sejak masuk sini.”

“Kalau sudah sama aku, dia kerap lupa ibunya. Terbiasa denganku membuat Zura enggak ketergantungan akan keberadaan ibunya. Itu sebab aku sering ajak dia main ke rumah Ralina. Jarang rewel.”

Obrolan ketiga perempuan menjadi tontonan salah satu pria. Sosok yang sejak acara inti berakhir kembali memisahkan diri. Duduk di sudut ruangan sembari menikmati sisa-sisa kopi dan kudapan. Sesekali terpaku dengan obrolan maupun interaksi belasan bocah, terutama kelompok di mana bocah yang dipanggil Zura itu ikut bermain.

Lewat mencuri dengar itulah dia tahu bahwa Zura bukanlah putri kandung wanita yang selama mereka menjadi teman satu kelas selalu dipanggil Ciara. Entah bagaimana, perasaan lega justru menyelinap diam-diam setelah mengetahui fakta tersebut.

Keseruan para bocah terinterupsi oleh pekik tangis salah satunya. Sebuah tragedi. Bocah lelaki bermata sayu berderai air mata sembari menunjukkan lengan kanan. Tampak bekas gigitan. Tidak cukup dalam, tetapi cukup membekas kemerahan.

“Kenapa?” Lilis tergopoh menghampiri.

“Tanganku digigit Adik Zura, Bu.” Sembari terisak, bocah lelaki berusia lima tahun menjelaskan. Tentu setelah memeluk Lilis.

Yang tertuduh justru mencari tatapan lain alih-alih bergegas membuat alibi. Sepasang mata sipitnya menemukan wanita itu melangkah mendekati mereka. Bulir mulai ikut menggenang kala tubuh wanita yang dikenalnya bersimpuh; sejajar dengan tinggi Zura. Kesalahan yang siap dihakimi. Alibi terpatahkan oleh pernyataan yang kian menyudutkan dari bocah lelaki dengan bekas gigitan.

“Betul Zura yang gigit lengan Abang Arsyad?”

Bocah itu menunduk, sedangkan genangan di sepanjang mata kian mengumpul. Siap meledak menjadi gerimis.

“Zura?” Pertanyaan yang tak ditanggapi menghasilkan pertanyaan susulan yang berbuah isak pelan.

Alih-alih menjelaskan duduk perkara, isak Zura kian memilukan. Bahunya sampai berguncang. Tunduknya kian dalam; bersembunyi dari tatapan penghakiman wanita yang sejak dia bisa bicara, dia selalu memanggilnya dengan sebutan Bunda. Panggilan yang memang telah disepakati, baik oleh ibu dan ayahnya maupun Kakek dan Nenek.

“Bunda mau bicara sama Zura, bisa?”

Kepala mungilnya mengangguk. Masih tak berani bertatapan langsung. Membiarkan isak merajai kondisi.

Alih-alih menuntun, Ciara justru merengkuh Zura; membawanya dalam gendongan. Semakin menarik isak keluar yang tertahan-tahan. Kepala mungil itu melesap di ceruk leher Ciara.

Dengan kode mata, Ciara meminta izin keluar. Dibalas kibasan tangan Ralina. Sering mempertemukan Zura dan kedua anaknya membuat Ralina paham siklus pertemanan anak-anak. Berselisih paham adalah hal lumrah di antara mereka. Menangis oleh satu-dua keusilan bukanlah perkara yang perlu diributkan berlebihan. Setiap kali Zura yang salah, Ciara sendiri yang menangani dengan membawanya menepi dari circle; mengajak deeptalk di tempat yang hanya ada mereka. Ralina tahu bahwa begitulah cara Ciara berkomunikasi dengan keponakan tersayang.

Huru-hara yang lagi-lagi tak luput dari perhatian Tryasa. Tak lama setelah Ciara membawa Zura keluar, dia mengekor. Rasa-rasanya, segala gerak-gerik Ciara hari itu tidak boleh diabaikan. Bagaimana Ciara berkomunikasi dengan Zura telah berhasil menarik keingintahuan Tryasa.

Suara keduanya terdengar di balik tembok kelas. Mereka memang di sana. Ciara memangku Zura, duduk hanya beralas lantai semen sembari memandangi kolam koi yang memang dibuat di lahan kosong dekat kelas. Isakan Zura tumpang tindih dengan gemuruh air mancur dan kecipak belasan koi.

“Bunda sudah bisa bicara dengan Zura?” Ciara bertanya sembari mengusap lembut punggung Zura yang justru dibalas gelengan lemah. “Oke. Bunda akan tunggu sampai Zura siap bicara.”

Menit berlalu hanya berisikan isak si gadis kecil. Dengan sabar, Ciara membiarkan gadis kecilnya menuntaskan tangis. Berusaha sebisa mungkin melembutkan suara agar Zura tak merasa dihakimi walau rasa tak enak kepada Lilis kian menyergap dada. Biar bagaimanapun, anak kawannya telah terluka oleh ulah gadis kecilnya.

Seperti pula Ciara yang sabar menunggu, Tryasa pun sabar menanti kelanjutan obrolan ‘ibu’ dan anak itu. Duduk merapat tembok. Berusaha tak terlihat sehingga dua anak manusia yang hanya berjarak tak lebih dari sepuluh langkah tak perlu merasa terganggu.

Isak mulai melirih. Dalam hitungan detik, menghilang sepenuhnya, berganti dekapan mengerat dan merapatnya kepala di dada Ciara. Gestur yang Ciara tandai sebagai kesiapan Zura untuk bercerita. Demi memuluskan gerak bibir si gadis kecil, Ciara mengusap lembut punggung Zura. Mengabarkan bahwa dia bebas bercerita tanpa perlu merasa takut dihakimi bahkan dimarahi.

“Jula ... gemas, Bun.” Malu-malu dia mengakui. “Tangan Abang Alsyad gembul kayak tangan Jula ... kayak tangan Mbak Hila.”

Demi mendengar pengakuan Zura, Ciara menahan tawa. Sudah menduga bahwa tragedi penggigitan akan memiliki alasan demikian. Meski bukan hal baik, momen Zura menggigit teman main bukan sekali dua kali, terlebih pada fase masih tumbuh gigi.

“Zura ingat kalau Bunda pernah bilang untuk tidak boleh menggigit orang?” Ciara ingin bocah di pangkuannya mengingat salah satu hal yang pernah mereka diskusikan.

Pelan-pelan Zura mengangguk. Kepalanya masih merapat di dada Ciara. Masih sungkan bertatap.

“Boleh atau tidak kita menggigit orang?”

Gelengan menjadi balasan Zura.

“Zura bisa bicara?” Ciara tahu bahwa menjawab dengan gerakan tubuh bukanlah hal salah. Namun, dia bermaksud mengajari Zura untuk mampu mengomunikasikan apa pun, termasuk mampu menjawab jika ditanya. “Coba Zura jawab dengan bicara ke Bunda.”

Tidak ada gertakan. Tidak ada intonasi tinggi. Penuh kehati-hatian. Yang mengalir selayaknya simfoni. Lembut menyapa tak hanya telinga, tetapi nurani. Begitulah Tryasa memaknai suara Ciara saat mengobrol—menginterogasi tepatnya—si gadis kecil Zura.

Senyum tipis kembali terkembang. Kepalanya segera mengorek-ngorek ingatan mengenai sosok Ciara saat mereka menjadi teman satu kelas. Semasa menjadi anak putih abu-abu, Ciara tak banyak bicara. Mengobrol pun sesekali. Ciara semasa SMA merupakan gadis yang lebih suka berdiam sembari membaca novel. Tidak cukup aktif di kelas. Muncul jika diperlukan. Mengasingkan diri jika tidak dilibatkan. Berteman dengan siapa saja, tetapi hanya Ralina yang sangat dekat dengannya.

Seberkas sesal berkelebat di dada Tryasa. Tiga tahun mereka satu kelas, tetapi mengobrol dengan Ciara bisa dihitung hanya dengan jari tangan. Sekadar berbalas SMS pun terjadi bilamana menyangkut kepentingan kelas: kerja kelompok, rapat classmeeting, dan sejenisnya. Basa-basi curhat? Tidak pernah sama sekali. Tryasa buta akan sisi-sisi yang dimiliki Ciara.

“Tidak boleh. Bunda bilang, Jula tidak boleh gigit-gigit olang. Sakit nanti.”

“Betul.”

Obrolan mereka kembali menyusup ke alam sadar Tryasa. Sedikit mengintip, Tryasa menemukan wajah Zura sudah dalam tangkupan Ciara.

“Zura sendiri pernah digigit, ‘kan? Dulu. Sama Mbak Rengganis. Bagaimana rasanya?”

“Sakit. Tangan Jula sakit digigit Mbak Anis.”

Wajah cemberut Zura berhasil mencipta senyum lebih lebar di bibir Tryasa. Dipandang lebih jeli, Zura semakin terlihat mirip dengan Ciara. Garis senyum mereka tampak serupa.

“Nah, sama seperti yang dirasakan Abang Arsyad tadi. Itu kenapa Abang Arsyad menangis. Gigitan Zura kan sakit. Tuh, lihat! Gigi-gigi Zura tajam, loh.” Ciara menowel pelan hidung sang keponakan.

“Iya. Sakit, ya, Bunda?”

“Betul. Tidak boleh diulangi, ya. Zura salah kalau suka gigit orang. Perbuatan tidak baik, ya, Nduk.”

Bocah perempuan itu mengangguk. “Jula salah, Bunda.”

“Kalau salah harus apa artinya?”

Dua pasang mata saling bertatap dalam jarak satu jengkal. Tatapan serta intonasi yang lembut membuat Zura tak sungkan mengakui kesalahan alih-alih takut. Dia sendiri paham bahwa wanita dewasa yang memangkunya dalam mode berceramah. Namun, bagi telinga Zura, untuk mata sipitnya, ceramah Ciara serupa simfoni yang menghangatkan.

“Jula ... minta maaf. Jula halus say to solly.”

Good girl.” Tangkupan di wajah terlepas, berganti dengan pelukan. “Betul. Anak Bunda pintar. Saat kita melakukan kesalahan, kita tidak boleh malu meminta maaf. Karena tadi Zura yang salah, maka harus Zura yang meminta maaf kepada Abang Arsyad.”

Mengangguk-angguk si bocah perempuan dalam pangkuan. Senyum perlahan terkembang. Mood yang sempat rebah kembali jemawa. Tidak ada lagi yang perlu dinasihatkan kepada Zura membuat Ciara bergegas bangkit; mengajaknya kembali bergabung dengan rombongan reuni di kelas lama.

Gegap gempita anak-anak menyambut kedatangan mereka. Bukan karena sengaja menunggu melainkan seorang pria tengah berbagi balon dengan anak-anak. Satu-dua anak bahkan tak segan memilih sendiri warna yang dimau.

Satu balon terakhir. Berwarna merah muda. Warna yang menarik perhatian bocah perempuan dalam genggaman Ciara. Berharap bahwa dirinya pun mendapatkan balon dengan warna favoritnya itu. Diliriknya lebih dulu wajah orang dewasa di sampingnya yang hanya tertegun. Bergeming. Menatap lurus kepada pria yang berdiri di hadapan mereka sembari membawa balon disertai seulas senyum tulus.

“Balon terakhir untuk gadis kecil yang baik.” Disodorkannya balon merah muda ke hadapan Zura lantas mendongak untuk menemukan wajah Ciara. “Boleh kalau saya berikan balon ini untuk Zura, Ra?”

Mendengar namanya disebut berhasil mengembalikan kesadaran Ciara. Demi mengusir gugup, dia mendeham pelan. Mempersiapkan diri untuk bersuara. Lebih tepatnya, berbalas obrolan.

“Zura mau balonnya?” Ditengoknya sang gadis kecil yang disambut anggukan serta binar sepasang mata. “Dia enggak menolak, Yas.”

“Untuk Zura.”

Senang hati Zura menerima. Senyumnya melebar. Tulus terarah untuk Tryasa. “Telima kasih, Om Yas.”

“Sama-sama, Anak Baik.”

“Zura sudah dapat balon, waktunya minta maaf ke Abang Arsyad, Nduk.”

“O, iya. Jula belum minta maaf, Bunda. Sebental.” Rambut keriting bocah perempuan itu ikut menari saat tubuhnya berlarian mendatangi bocah laki-laki di antara kerumunan. Tanpa merasa sungkan, dia julurkan tangan sebagai bentuk meminta maaf. “Abang Alsyad, Jula minta maaf udah gigit Abang.”

Seperti halnya dunia anak-anak, tanpa menaruh dendam, bocah bernama Arsyad menjabat balik genggaman Zura. Seketika masalah selesai. Mereka kembali bermain. Ramai-ramai menunjukkan balon hasil pemberian Tryasa. Ocehan-ocehan lucu menjadi yang dominan di ruangan. Para orang dewasa hanya kebagian mengawasi. Beberapa melanjutkan obrolan, sebagian keluar; mencari ruang lain untuk merokok.

Alih-alih duduk bersama kawan wanitanya, Ciara memilih tetap berdiri; menyandar di salah satu sisi dinding sembari melipat tangan. Mengawasi gerak-gerik keponakannya sehingga hal yang sama tak perlu terjadi. Di sampingnya, Tryasa melakukan hal serupa. Lewat ekor mata, Ciara bisa melihat bahwa pria di sampingnya tak tampak ingin segera beranjak. Nyaman menontoni belasan anak bermain balon.

Ciara tak bisa memprotes bahwa keberadaan Tryasa tepat di sampingnya justru mencipta gugup diam-diam. Akan terlihat sangat lucu kalau sampai Ciara memprotesi hal yang bahkan tidak tampak mengganggu—untuk orang lain.

Samar Ciara menghela napas. Menyatakan perasaan kepada Tryasa tak serta-merta membuat hatinya baik-baik saja. Bohong bila perasaan istimewa untuk Tryasa telah lenyap seluruhnya. Dia hanya menjadi munafik jika bilang tak lagi memiliki perasaan untuk pria itu. Nyatanya, bunga merah jambu masih tumbuh di dada Ciara untuk Tryasa. Mungkin akan kembali merimbun setelah pertemuan hari itu. Biar bagaimanapun, tak banyak yang berubah dari Tryasa. Entah sikap ataupun fisiknya. Daya tarik yang tak pernah mampu ditolak Ciara.

“Kamu sudah cocok punya anak, Ra.” Kalimat Tryasa berhasil menarik pengelanaan isi kepala Ciara.

“Bagaimana, Yas?” Tidak. Ciara tak sebodoh itu sehingga tidak mengerti maksud kalimat pria di sampingnya. Sangat mengerti. Hanya basa-basi agar Tryasa tidak merasa diabaikan.

“Kamu sudah cocok jadi ibu, Ra. Pandai meng-handle anak-anak.”

Pandai meng-handle? Mungkinkah ....

“Zura akan tumbuh jadi gadis baik karena punya Bunda kayak kamu. Dia beruntung sekali punya uwa yang rasanya kayak ibu sendiri.”

“Kamu nguping omelanku ke dia, ya?”

“Saya penasaran. Gimana sih marahnya seorang Ciara? Ternyata kalem banget. Enggak banyak berubah kamu, Ra.” 

Ciara menggigit bibir. Ya Tuhan! Kok, dia kepikiran ngintipin aku dan Zura, sih? Kurang kerjaankah?

So, kapan mau susul Ralina dan Lilis untuk punya buntut sendiri?” Tryasa masih mengajaknya mengobrol. Entahlah. Rasanya, dia tak ingin menyia-nyiakan momen pertemuan hari itu. Ada hal yang sedang Tryasa selami. Sesuatu yang masih terasa samar, tetapi Tryasa memiliki keyakinan bahwa pertemuan kembali dengan wanita di sampingnya akan membawa banyak perubahan.

“Kayak yang dapat suami segampang cari permen di toko, Yas.” Ciara melambaikan tangan saat Zura menunjukkan balon kuning milik kawannya. Bertukar untuk saling meminjam.

“Gampang kalau sudah jodoh, Ra.”

“Nah, barangkali belum ada jodoh, jadilah kawanmu ini masih melajang, Yas.”

“Artinya, kamu sedang enggak dengan siapa pun?”

Ciara menanggapi dengan gelengan. “Enggak ada yang mau sama wanita modelan Ciara, kayaknya.”

Tryasa terkekeh sesaat. “Kamu terlalu merendah, Ra. Barangkali banyak yang naksir kamu, tapi kamu menutup pintu rapat-rapat. Mereka yang mengetuk akhirnya hanya menemui kebekuan.”

Wanita di samping Tryasa tak langsung menanggapi. Membuang pandangan ke langit-langit kelas. Tersenyum samar. “Mungkin kamu benar, Yas. Mungkin memang ada di luar sana yang hendak berniat baik melamar, tetapi aku terlalu abai. Aku masih sibuk membenahi apa-apa yang ada di dalam perasaanku.”

“Mau saya bantu benahi?”

Pertanyaan Tryasa sukses mencipta gelegar di kedalaman kepala Ciara. Membantu ... membenahi? Dia? Orang yang membuat hatinya berantakan?

Ciara menatap Tryasa yang justru menatapi kumpulan anak-anak. Bersikap kalem dengan senyum lebar menghias wajah. Seolah memberikan pertanyaan semacam tadi tak menimbulkan efek apa pun di diri Tryasa.

“Perasaanmu ... hatimu yang berantakan itu karena ulah saya, bukan? Kalau saya tanggung jawab untuk benahi, saya rapikan, saya rekatkan bagian yang tercerai, apakah kamu bersedia, Ra?” Tryasa menoleh setelah beberapa detik membiarkan beku di antara mereka.

Terdengar meyakinkan tawaran Tryasa, tetapi Ciara sadar untuk tidak mudah terhanyut. Mungkin saja Tryasa serius, tetapi lebih mungkin bergurau mengingat bagaimana sosoknya saat masih menjadi anak sekolahan sangatlah suka mencandai.

“Bercandanya enggak lucu, Yas.” Ciara kembali mengawasi Zura. “Bercandamu bisa bikin anak orang baper, loh. Mau tanggung jawab?”

“Kamu enggak gampang diyakinkan, ya, Ra?”

“Karena yang menawarkan kamu. Makhluk yang dari dulu sukanya ngebanyol.”

Kekehan Tryasa menarik beberapa kawan di dekatnya untuk memperhatikan mereka sesaat. Riuhnya celoteh anak-anak membuat obrolan di antara Ciara dan Tryasa teredam. Kalaulah terdengar, paling-paling oleh kawan yang dua sampai tiga langkah dari mereka. Sayangnya, tak ada siapa pun di dekat mereka. Sebagian besar kawan mereka memilih keluar atau ke sisi lain ruangan agar obrolan tak terganggu ramainya anak-anak. Merasa tidak ada yang aneh dari Tryasa maupun Ciara, mereka kembali abai. Membiarkan saja dua makhluk itu mengobrol berdua.

“Dengan apa saya perlu yakinkan kamu kalau saya enggak bercanda kali ini?”

“Enggak tahu. Aku ... enggak ada pengalaman begitu.”

Rona malu-malu Ciara yang muncul tanpa disadari pemiliknya justru mengundang gemas di hati Tryasa. Ya Tuhan, betapa bodoh karena dirinya mengabaikan sosok Ciara yang ternyata mengagumkan sekaligus menggemaskan.

“Pulang nanti sama siapa?” Tryasa akan membuktikan bahwa niat baiknya tak sekadar banyolan.

“Dijemput ibunya Zura.”

“Enggak usah minta jemput. Biar saya antar sekalian mampir ke rumah kamu.”

“Mau apa mampir?”

“Ngobrol sama ibu dan bapakmu. Ada di rumah, ‘kan?”

Tidak ada yang memberi aba-aba, tetapi mereka saling menatap setelah sebelumnya sibuk menjadikan subyek lain sebagai pusat tatapan.

“Yas, kamu ... habis terbentur di mana? Ada yang enggak beres sama isi kepalamu, ya?”

Tryasa melepas tawa. Sangat keras sampai-sampai seluruh penghuni ruangan menatapi mereka. Beberapa bahkan berbisik-bisik, mengomentari tingkah Tryasa yang tak ubahnya zaman sekolah.

“Saya bisa membayangkan kalau sisa perjalanan saya akan sangat menyenangkan kalau kamu yang temani, Ra.”

Ciara hilang kalimat. Hanya mampu bergeming sepanjang memandangi langkah Tryasa yang mendatangi kerumunan anak-anak lantas bergabung dengan mereka.

Lilis dan Ralina yang sejak tadi sengaja tak ikut campur tak lagi bisa menahan diri. Dihampirinya Ciara yang masih terbengong-bengong meski sadar akan kedatangan kedua karibnya.

“Lis, Lin, tolong benerin isi kepala Tryasa, deh. Kayaknya, ada syaraf dia yang geser atau bahkan putus. Dia ngomong aneh tadi.”

Lilis dan Ralina saling pandang. Meski belum terlalu paham, keduanya bisa mencium topik yang diperbincangkan dua kawannya sejak tadi. Sebuah kisah baru akan dimulai setelah hari itu.

“Si Tryasa kenapa memang?” Ralina sengaja memancing.

“Mau nganter aku dan Zura pulang sekaligus mau bicara dengan Bapak dan Ibu, katanya.”

Gantian Lilis dan Ralina yang terbahak akibat wajah plongoan Ciara.

Otw sold out, Ciara!” Mereka memeluknya walau yang dipeluki masih melongo tak mengerti.

Tuhan selalu tahu kapan waktu terbaik bagi dua hati yang telah siap untuk saling bersatu. 

🌺🌺🌺


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  πŸ€πŸ€πŸ€ 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...