🌷🌷🌷
Ada banyak hal yang harus mereka kerjakan, salah satunya mengambil dokumen-dokumen kerja di ruangan duke lama. Sesuatu yang sejujurnya enggan Rhisiart lakukan andai tak mengingat siapa dia sekarang. Lagi pula, kenapa dia tak menolak saja penunjukkan Iloi padahal dia bisa menolak? Apa yang dia pikirkan sampai mau-mau saja memenuhi tugas sebagai duke baru padahal tidak memiliki riwayat mengelola sebuah wilayah? Sepanjang dia hidup, sepanjang dia belajar dalam pengasuhan Keluarga Kremlyn, Rhisiart tak pernah diarahkan agar kelak menjadi pemimpin sebuah wilayah.
Memimpin Erthura, menggantikan sang ayah yang bahkan dekat saja tidak, justru menjadikannya seketika musuh untuk beberapa kalangan. Kehidupannya mulai berubah, bukan lagi sebagai Rhisiart yang suka bertarung dalam ajang-ajang bela diri untuk merayakan hari ini atau acara itu, melainkan mengelola wilayah yang dihuni berbagai distrik dengan berbagai tipe penduduk.
Tidak mudah. Terlebih Rhisiart bukanlah sosok yang mudah membaur dengan orang. Dia lebih menyukai berbincang menggunakan pedang alih-alih mengambil atensi ratusan penduduk dengan mengadakan perundingan demi memutuskan sistem wilayah atau berapa persen upeti yang harus diberikan kepada pengelola wilayah agar kota mereka menjadi kota yang makmur dan disegani.
Keengganan yang terbaca jelas di sepasang mata hijau zaitun Sanae. Resah yang bisa Sanae rasakan setiap berdiri berdekatan dengan Rhisiart. Bahasa tubuh yang tidak bisa disembunyikan bahwa gugup Rhisiart sedang bicara.
"Aku tahu mungkin yang kumasak tidak seenak makanan di kedai, tetapi cobalah mengisi perutmu dengan makanan hangat sebelum memulai aktivitas, Duke Muda." Sanae meletakkan semangkuk sup ayam berkuah kental dengan beberapa potong roti gandum keras dan segelas susu hangat. "Kau akan melakukan banyak hal hari ini sehingga jangan pergi dengan perut kosong."
Pagi sekali Sanae pergi ke Distrik Bulan Putih untuk membeli beberapa bahan makanan. Meski sering membolos kelas maid, Sanae cukup tahu jadwal apa saja yang harus dikerjakan seorang pelayan. Setelah membuka seluruh jendela mansion sehingga udara pagi yang segar dan beraroma rumput memenuhi ruangan, dengan lagi-lagi menjadikan batang-batang pohon atau atap-atap rumah sebagai tumpuan lompatan, Sanae tiba lebih cepat ke Distrik Bulan Putih. Sebagian toko masih tutup, kecuali toko-toko bahan masakan yang memang buka lebih pagi dari yang lain. Menggunakan koinnya, Sanae membawa pulang beberapa kantong belanjaan; stok bahan masakan hari itu.
"Kau harus menghargai makanan yang telah dimasak seseorang, Duke Muda." Sanae masih mengoceh. "Ah, ya. Belanjaan hari ini memakai koinku. Kau harus menggantinya."
Tak bisa Rhisiart tidak tersenyum menyadari betapa perhitungannya gadis yang kemudian bergabung di meja makan.
"Kau sangat perhitungan." Rhisiart mengambil sendok lantas menyuap sedikit kuah sup yang putih dan kental serta beraroma menggiurkan. Ledakan rasa gurih dan sedikit berminyak bereuforia di dalam mulut. Untuk Rhisiart, olahan tangan Sanae sudah cukup lezat. Agak sedikit asin, tetapi Rhisiart bisa mengakali dengan mencelupkan roti.
"Mengumpulkan koin tidaklah mudah, Duke Muda." Sanae menyusul. Mengernyit setelah menemukan rasa sup yang dia masak sendiri. "Tidakkah kuah supnya terasa ... keasinan?"
"Bisa kauakali dengan mencelupkan rotinya, Maid-chan."
Ditatapnya pemuda yang duduk di ujung meja. Tampak tidak mempermasalahkan rasa masakan buatannya. Potong demi potong roti yang dia rendam ke kuah sup mulai habis. Beberapa tulang ayam mendiami piring kecil yang telah Sanae sediakan.
"Kaupunya toleransi rasa asin yang tinggi, rupanya." Sanae mengangkat kedua bahu. Meniru yang dilakukan Rhisiart. Rasa lebih baik didapat lidah Sanae sehingga satu mangkuk sup dengan potongan-potongan roti di dalamnya berhasil tandas.
"Kauingin melakukan apa hari ini?" Pertanyaan Sanae muncul setelah memberesi dan mencuci bekas makan; mendatangi Rhisiart yang berdiri menatap jendela besar di bagian paling depan mansion.
"Aku berencana mendatangi ruang kerja duke lama. Pasti banyak dokumen yang harus kupelajari dan tentunya hanya ada di ruangan kerja duke."
"Aku yakin, kau akan disambut tatapan-tatapan tidak suka dari orang-orang di sana, terutama pengikut mantan duchess."
Rhisiart tersenyum samar. "Aku sudah membayangkannya."
"Bagaimana kalau kita datangi ruang kerja duke lama saat mantan duchess dan anak-anaknya tidak di rumah?"
"Kapan? Aku bahkan tidak tahu jadwal harian mereka."
"Kaupunya maid yang pandai menyelinap dan menguping, Duke Muda." Sanae mengerling jail.
🌷🌷🌷
Di sanalah Sanae satu jam kemudian. Bersembunyi di antara rapatnya batang-batang pohon oak tepat di samping ruang makan Kediaman Hywel. Setelah berkeliling dengan hati-hati untuk menemukan di mana mantan duchess dan dua anaknya berada, Sanae menemukan mereka masih di ruang makan. Jendela besar yang dibiarkan terbuka memudahkan Sanae mencuri dengar obrolan.
"Ibu dilepas dari gelar duchess, apakah artinya setiap gaji yang dimiliki duke baru tidak dibagi untuk Ibu?"
Sanae mendengar pertanyaan dari putri mendiang Ryonswald. Dia tahu bahwa gadis yang memiliki warna kulit seputih susu dengan rambut merah aprikot itu bernama Rosella. Putri tertua Ryonswald.
"Kauserius, Kak? Karena Ibu sudah tidak bergelar duchess, kita tidak akan dapat apa-apa?" Gadis lain yang hampir mirip Rosella ikut bertanya. Yang membedakan mereka hanyalah warna rambut. Bila Rosella mendapat warna rambut seperti ibunya, lain dengan Rowelina. Warna rambut Rowelina menurun dari sang nenek, yakni cokelat muda. Warna khas keluarga Klerianna.
"Kalian tidak perlu khawatir. Duke yang mangkat tetap mendapat dana pensiun setiap bulan. Kita juga punya bisnis anggur. Ayah kalian tidak semiskin itu sehingga tidak perlu mengkhawatirkan keuangan keluarga." Dengan santai, Klerianna menenangkan kedua putrinya. Terdapat gelas tinggi berisi cairan kemerahan yang Sanae tahu adalah fermentasi anggur merah berkadar alkohol.
Sanae berdecak samar. Tidak habis pikir bahwa ada makhluk yang sudah mengonsumsi anggur saat sarapan.
"Ibu akan membiarkan anak itu menguasai Erthura?" Rosella kembali bertanya.
"Kita lihat saja. Jika dia mengusik apa yang kita perbuat, kita akan menendangnya dari sini. Terlalu awal baginya menjadi pemimpin kota. Lagi pula, tidak ada koneksi yang dia miliki dari Istana. Jangan harap jalannya akan semudah yang dibayangkan."
"Tapi ... dia tampak dekat dengan Pangeran Pertama, Bu. Tidakkah Ibu merasa terancam?" Rowelina menimbrung.
"Tidak ada yang lebih tinggi dari kekuasaan paman kalian. Perintah Pangeran Pertama tidak semutlak perintah Kaisar Celdara. Tenang saja."
Muncul kerutan di dahi Sanae. Dia baru tahu bahwa Klerianna memiliki kekerabatan dengan orang Istana.
Paman kalian? Tidak semutlak perintah Kaisar Celdara? Jangan-jangan, Kaisar adalah paman mereka? Kerabat dekat Mantan Duchess? Wah ....
"Ibu ada undangan minum teh siang nanti. Akan pulang sore. Kalian jangan macam-macam jika berkeliaran di luar."
"Aku juga ada undangan minum teh dengan anak Bangsawan Odio. Aku dan Rowelina, lebih tepatnya. Mungkin akan sampai malam karena kami mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut diangkatnya putri Bangsawan Odio sebagai pejabat keistanaan."
Cukup dengan info yang mereka berikan, Sanae beranjak. Ringan melompati batang-batang pohon lantas menjadikan atap Kediaman Hywel sebagai jalan kabur. Seperti yang disombongkan Sanae kepada Rhisiart bahwa penyusupannya selalu berhasil, dia kembali tanpa ketahuan sedikit pun. Angin menyembunyikan setiap langkah Sanae di atas kepala para prajurit jaga.
🌷🌷🌷
Untuk mengisi waktu sampai Kediaman Hywel ditinggalkan pemiliknya, Rhisiart meminta Sanae untuk mengajaknya menjelajah Erthura. Langkah-langkah mereka menyusuri jalanan distrik. Di bawah terik musim kemarau, Sanae membawa Rhisiart ke Distrik Bulan Putih.
Ramai. Begitu yang Rhisiart lihat setelah menapak di gerbang masuk Distrik Bulan Putih. Manusia menyemut di setiap jalan. Kedai-kedai ramai pengunjung. Beragam aroma meruap. Silih berganti obrolan orang dewasa maupun tawa anak-anak menyelinap masuk ke telinga Rhisiart.
"Jantung Bisnis Erthura. Begitulah kami atau para pelancong menyebut Distrik Bulan Putih. Kau bisa membeli apa pun di sini. Dari bahan masakan sampai tumpukan kain. Dari toko kertas sampai toko senjata. Menjamur di setiap sisi jalan distrik." Sanae menjelaskan seiring langkah mereka berpindah dari satu kios ke kios lain.
Gerobak-gerobak silih berganti datang membawa tumpukan karung berisi beras, tepung, kentang, terkadang juga gentong-gentong berisi susu, mentega, ataupun arak. Beberapa gadis seusias Sanae menggerombol di salah satu toko khusus perhiasan. Terkikik-kikik dengan sesekali menunjuk beberapa pemuda yang lewat. Tampak seperti saling mengenal.
"Kau tidak ingin membeli sesuatu, Duke Muda?"
Mereka berada di bagian distrik dengan deretan toko khusus sandang. Salah satu spot favorit para gadis dan wanita dewasa untuk menghabiskan koin. Beberapa butik menyajikan pakaian jadi. Beberapa lainnya berupa toko kain dan jasa jahit. Ada yang sudah satu paket, di mana toko kain memiliki tukang jahit tersendiri. Biasanya, toko-toko semacam ini memiliki bangunan yang lebih luas serta harga yang lebih mahal.
"Aku harus membeli apa?" Pemuda di samping Sanae menatap bingung, menyebabkan gadis itu menghela napas.
"Saat memberesi lemari kamarmu, kau memiliki sangat sedikit pakaian, Duke Muda. Hanya beberapa potong dengan model dan corak yang cukup ketinggalan zaman. Sebagai petinggi kota, kau akan sering diundang ke acara-acara di mana kau bertemu orang-orang penting dari beragam lapisan masyarakat. Kau harus bisa menunjukkan wibawa seorang duke muda dan untuk mengawalinya, pakaianmu harus sesuai dengan jabatan dan usiamu." Mulut Sanae memang mengoceh, tetapi sepasang mata hijau zaitunnya lincah menyisiri setiap butik yang tengah mereka lewati. "Sini! Kau harus berbelanja pakaian baru."
Mereka memasuki sebuah butik dengan bangunan tak terlalu besar dan tidak cukup ramai. Namun, Sanae bisa menjamin bahwa kualitas dari produk yang dihadirkan butik tersebut bisa memuaskan pelanggan. Pemiliknya adalah seorang perempuan paruh baya yang juga bertindak sebagai perancang pakaian. Dua gadis pelayan ditempatkan sebagai penerima pelanggan. Satu lainnya dikhususkan mengurusi kasir. Sementara penjahit, mereka menempati ruangan lain; ruangan lebih kecil di sisi lain butik.
"Kautampak sangat sibuk, Nyonya Pharina." Sanae melongok dari balik punggung seorang perempuan paruh baya yang sibuk mencoret-coret kertas sehingga kedatangannya tidak disadari.
Mendengar suara yang tak lagi asing, perempuan yang dipanggil Pharina itu menoleh sekaligus menampakkan ekspresi terkejut. "O, Maid-chan! Sejak kapan kau di sana? Kok, aku tidak sadar?"
"Kau sangat sibuk menggambar sampai-sampai yang kau perhatikan hanyalah kertas dan pensil, Nyonya."
Pharina tertawa. Tak berniat mengelak. Tubuhnya yang sekalipun telah mendekati usia enam puluh, tetapi tidak tampak ringkih ataupun membungkuk. Tegap menopang wajah yang bersahaja. Sanae sering mengira bahwa saat muda, Pharina menjadi sosok yang digemari kaum pria. Jika saja Pharina mau, dia bisa menjadi model dalam katalog busana musiman yang dikeluarkan beberapa kantor surat kabar di kekaisaran.
"Ada permintaan dari anak duke di kota sebelah yang ingin dibuatkan gaun pernikahan untuk hari istimewanya. Aku sedang membuat gambaran kasar dari apa yang dia inginkan." Pharina mengalihkan tatapan kepada pemuda di samping Sanae. "Selamat datang di toko kami, Duke Muda. Senang mendapat kunjungan Anda."
Tentu saja. Sebagian besar penduduk distrik yang melayat saat kematian Ryonswald akan dengan mudah mengenali sosok Rhisiart. Tidak terkecuali Pharina.
"Dia memaksaku untuk masuk ke tempat ini, Nyonya." Kendati memiliki jabatan lebih tinggi, tetapi usia membuat Rhisiart memanggil Pharina dengan tambahan Nyonya. Dia merasa tidak sopan jika hanya memanggil nama.
"Aku harus memaksamu agar kaupunya baju ganti yang lebih baik, Duke Muda." Sebuah kerlingan diberikan Sanae kepada Rhisiart. "Nah, Nyonya. Bisakah kau membuatkan beberapa pakaian untuk duke kita ini? Beberapa untuk pakaian harian, beberapa untuk pakaian kedinasan, dan beberapa lagi yang mudah digunakan dalam perjalanan. Tolong sesuaikan agar pakaian-pakaian itu bisa ditempati dua pedang. Duke Muda terlalu menyayangi kedua pedangnya sehingga ke mana pun harus dibawa. Tolong juga sesuaikan bahannya untuk setiap musim, ya, Nyonya."
Pharina menyusuri sosok Rhisiart dari atas sampai bawah. Menemukan pula dua pedang yang tersampir di bahu. Saling menyilang seolah-olah akan sering digunakan sehingga menjelajah distrik saja dia bawa.
"Karena kau meminta banyak, pengerjaannya butuh waktu. Satu sampai dua pekan lagi bisa kauambil. Bagaimana?"
"Tak masalah." Sanae menyetujui. "Terpenting, dia memiliki pakaian ganti yang nyaman dan aman."
Pharina lagi-lagi tertawa karena gaya bicara Sanae yang bernada selorohan. "Baiklah. Aku akan mengukur dulu tubuhmu, Duke Muda. Mari!"
Mereka dibawa ke sisi lain butik. Sudut dengan cermin setinggi orang dewasa. Sembari menunggu Rhisiart diukur, Sanae menjelajah ruangan. Melihat-lihat apakah dapat menemukan pakaian yang menarik hati kendati dia bukanlah gadis-gadis penggila mode. Satu musim hanya membeli satu potong pakaian saja sudah untung-untungan bagi Sanae. Dia lebih suka menggelontorkan koin untuk memperbanyak shuriken dan kunai daripada pakaian.
Pengukuran tak memakan banyak waktu. Usai dari butik, mereka sempat menjelajah beberapa kios lagi untuk mencoba jajanan. Barulah setelah makan siang mereka mendatangi ruang kerja duke. Sesuai pengintaian Sanae, kediaman mendiang duke siang itu tanpa mantan duchess dan dua anaknya. Mereka berkeliaran di ruangan duke dengan aman.
Kunjungan hari itu diakhir dengan semangkuk ramen untuk makan malam di Kedai Ramen Yuuto
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar