Minggu, 14 September 2025

Cuplikan "Teman Lama"

(Picture by Pinterest)

🍰🍰🍰

Langgam tertawa. Astaga! Di sini, yang tidak peka bukan hanya dirinya. Wanita itu pun, gadis itu pun, tidak bisa membaca dengan baik ekspresi yang ditunjukkan Langgam saat itu. Satu hal yang Langgam syukuri sekarang. Karena dengan begitu, mereka tetap menjalin hubungan pertemanan yang tidak canggung. Tetap menjadi Langgam dan Swastika seperti saat mereka menerima hukuman ketika telat masuk di hari pertama MOS.

Satu sama, Wa.

Ponsel di atas meja berdering. Panggilan datang dari Mas Abi. Langgam sampai mengernyit karena tidak biasanya sang kakak menelepon.

"Iya, Mas," salam Langgam setelah panggilan diterima.

"Kamu pulang jam berapa, Lang?"

Kernyitan di dahi Langgam makin banyak. Masnya sedang lupa atau bagaimana? Bukankah dia sudah tahu jadwal tetap Langgam pulang dari bengkel?

"Jam lima kayak biasa, Mas."

Abi di seberang sana menepuk dahi. "O, iya. Selalu jam lima, ya."

Berkat istrinya yang sejak tadi uring-uringan ingin makan spageti, tetapi belum ada spageti yang cocok di lidah, Abi ikut pusing meladeni Sekar.

Dua minggu lalu, kabar bahagia itu datang. Setelah hampir lima tahun mereka menunggu, akhirnya Sekar dinyatakan positif hamil. Bunda dan Ayah sampai menangis terharu karena Sekar yang juga menangis saat memberi tahu kabar tersebut. Dalam sebuah rumah tangga, salah satu hal yang paling ditunggu adalah datangnya momongan, tidak terkecuali pasangan Abi dan Sekar. Mereka bahkan harus menunggu hingga hampir lima tahun.

Sejak saat itu, beragam perubahan dialami Sekar yang sukses membuat orang satu rumah excited sekaligus bingung. Beberapa kali Sekar mengidam hal-hal yang membuat mereka kelimpungan mencari. Contohnya saja dua hari lalu. Tengah malam, wanita itu sesenggukan di ruang TV. Bunda dan Ayah sampai parno, takut kalau yang menangis tengah malam di rumah mereka bukan manusia. Usut punya usut, Sekar sangat ingin makan pastel tutup Lovely yang kebetulan stok di rumah mereka habis.

Tentulah orang satu rumah pusing. Jam segitu, Lovely sudah tutup. Mau mengganggu yang punya untuk dibuatkan mendadak? Tidak mungkin. Siapa mereka sampai tega membangunkan Swastika yang pasti sudah pulas di alam mimpi?

"Enggak mau tau. Mau pastel tutup sekarang." Wajah Sekar sudah sangat basah oleh air mata.

Abi dan Langgam hanya mendesah frustrasi. Sementara Bunda tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengelus lembut punggung sang menantu. Beliau sangat memahami fase yang sedang dialami Sekar. Perubahan hormon orang hamil memang bisa mengacaukan perasaan si calon ibu.

Andai Bunda bisa buatkan sama persis seperti yang di Lovely, Bunda buatkan, deh, Kar. Bunda hanya bisa membatin sepanjang menghibur Sekar dengan elusan.

"Ya, gimana? Kan, Lovely tutup, Mbak. Masa iya aku gedor-gedor rumah Suwa untuk minta dibuatkan pastel tutup khusus buat Mbak Sekar?"

Ucapan Langgam justru membuat isak Sekar menjadi. Bunda memelototi Si Bungsu, sedangkan Abi menggeplak sang adik yang berujung keluhan.

"Coba, deh, Lang. Coba hubungi Suwa. Barangkali Suwa bisa bantu." Bunda memberi saran.

"Bunda, ini tengah malam. Enggak enaklah bangunin orang terus diminta masakin."

Isak Sekar makin keras sekarang.

"Coba dulu. Siapa tahu Suwa mau bantu." Bunda tidak tega melihat menantunya senelangsa itu karena mengidam.

Dengan berat hati, bukan karena tidak ikhlas membantu iparnya melainkan tidak enak kepada Swastika, Langgam mencoba menghubungi wanita itu. Lebih dulu melihat typing WA milik Swastika. Barangkali masih online.

Bravo! Typing-nya betul-betul masih online. Bagaimana bisa dia belum tidur di jam segini?

Langgam segera menekan tombol panggilan dari aplikasi hijau tersebut. Tidak butuh menunggu lama, panggilan segera tersambung.

"Halo, Lang?"

Desah kelegaan keluar dari mulut Langgam. "Syukurlah kamu masih online, Wa."

"Kenapakah? Aku memang biasa tidur telat."

"Anu ... begini ...."

Sungguh! Langgam tidak enak memintanya.

"Lang?"

"Ehm ... begini, Wa. Mbak Sekar lagi hamil dan dia ngidam pengen makan pastel tutupnya Lovely sekarang. Ehm ... kira-kira ... bisa buatin enggak?"

Ya, ampun, Mbak Sekar! Sumpah, ya! Ngerepotin anak orang banget! Langgam melirik Sekar yang sudah menghentikan isak, tetapi matanya masih berkaca-kaca dengan pandangan yang innocense banget. Ingin marah malah jadi tidak tega.

"Mbak Sekar lagi hamil? Wah, selamat, ya. Kamu bentar lagi mau jadi Om." Swastika malah terdengar begitu santai. "Kamu bisa datang ke sini, Lang. Kebetulan, aku ada stok pastel tutup di freezer. Nanti tinggal panasin aja di microwave. Gimana? Mau?"

"Boleh, Wa. Aku ke sana sekarang. Maaf, ya, ganggu. Maaf banget."

Swastika terkekeh. "Santai aja, Lang. Aku maklum, kok. Ibu hamil memang begitu. Oke, aku tunggu, ya."

Jadilah tengah malam itu Langgam menggeber matic-nya ke rumah Swastika untuk menjemput si pastel tutup frozen demi sang ipar yang ngidam tidak tahu waktu. Untungnya, pengorbanan tak sia-sia. Satu loyang pastel tutup ukuran lima belas sentimeter itu ludes dihabiskan Sekar. Yang lain sampai menghela napas lega selega-leganya karena Sekar tidak jadi menangis sepanjang malam.

"Kenapa emangnya, Mas? Mbak Sekar ngidam apa lagi sekarang?"

Abi malah menyahut dengan tawa. "Kamu kenapa jadi parno begitu?"

"Parnolah. Ngidamnya suka enggak tahu waktu."

Abi masih terbahak di seberang panggilan. "Namanya ibu hamil. Entar kalau kamu punya istri pun terus dikasih rezeki bisa hamil, kamu akan merasakan kepusingan ini."

Semoga istriku nanti tidak semeribetkan itu. "Jadi, sekarang apa?"

"Mbakmu minta makan spageti. Tadi, udah Mas beliin di toko piza yang terkenal itu, tapi enggak mau. Enggak enak katanya. Enggak sesuai lidah dia. Heran Mas juga. Biasanya juga enjoy-enjoy aja makan spageti dari sana."

Hormon ibu hamil. Semuanya jadi serba sensitif. Begitu kata Bunda"Terus?"

"Bantuin Mas, Lang. Tolong cariin spageti dari toko mana aja, deh. Beli semuanya, tapi enggak perlu porsi full. Mubazir nanti kalau ujungnya enggak ada yang cocok di lidah Sekar."

Istri siapa yang hamil, siapa pula yang ikutan repot. "Oke, oke. Nanti Langgam coba cari di beberapa resto." Langgam ingat pernah masuk di beberapa restoran western yang menyediakan spageti. Nanti akan dia coba mampiri satu per satu resto tersebut.

"Oke. Makasih, ya. Tolong yang ikhlas kalau bantuin, ya. Demi calon keponakanmu, nih." Panggilan segera diputus setelah Abi mengucap salam.

Lah? Kenapa seolah-olah dia ikut bertanggung jawab dengan kehamilan iparnya? Yang bapaknya siapa di sini, oi!

🍰🍰🍰

"Enggak enak. Ini terlalu asam." Sekar meminggirkan piring ketiga berisi spageti dengan lumuran bolognais.

Langgam sampai meneguk ludah karena terlihat sangat enak, tetapi iparnya malah bilang tidak enak. "Serius enggak enak, Mbak?" 

"Coba aja." Sekar memberengut kesal. Sejak tadi, tidak ada satu pun spageti yang sesuai dengan lidahnya.

Langgam mengambil garpu dan menyendok sebagian sepageti di piring tersebut lalu melahapnya. Enak, kok. Ya, standar rasa spageti restolah.

"Enak, kok."

"Enggak enak, Lang. Enggak enak di lidah Mbak."

Baiklah. Langgam lupa. Iparnya sedang hamil. Tentu saja ada yang berbeda dengan cara kerja lidah tersebut.

"Jadi, gimana? Itu resto terakhir di kota ini yang jual spageti, loh, Mbak. Tuh, liat! Udah berjejer piring-piring spageti yang semuanya enggak cocok di lidah Mbak Sekar." Lama-lama, kesabaran Langgam yang ikut habis menghadapi drama ibu hamil.

Langgam berhasil membawa tiga kemasan spageti, sedangkan Ayah dan Abi yang sudah mencari sejak siang berhasil membawa delapan kemasan yang semuanya tidak cocok di lidah Sekar. Kalau terus begini, ujungnya seperti kejadian waktu itu. Iparnya kembali terisak karena keinginan yang tidak terpenuhi.

"Coba Bunda masakin aja. Siapa tahu yang buatan Bunda lebih cocok di lidah Mbak Sekar." Langgam mencari solusi.

"Sudah. Bahkan yang pertama kali dibilang enggak enak sama dia, ya, buatan Bunda." Bunda memberengut sambil menyilangkan kedua lengan di perut.

"Bukan enggak enak, Bunda. Enggak cocok di lidah Sekar." Sang menantu tidak mau disalahkan.

"Ya, intinya begitu. Untung Ayah mau habiskan jadi tidak mubazir."

Ayah yang duduk di samping Bunda malah memberikan cengiran lebar. "Ayah cuma bisa bantu habiskan sepiring, ya. Selebihnya, Ayah enggak sanggup." Laki-laki paruh baya itu melirik barisan piring spageti yang terbengkalai.

"Jadi, gimana? Masa Sekar enggak bisa makan spageti yang sesuai lidah Sekar?" Wanita itu mulai kembali terisak.

Aduh! Gawat kalau sudah begini!

"Sabar, sabar. Biar Langgam cari lagi, oke? Tunggu." Langgam kembali meraih kunci sepeda motor lalu melajukan Si Matic berkeliling kota untuk mencari toko spageti lagi.

Sayangnya, stok resto yang menjual spageti memang hanya segitu-segitunya di kota mereka. Sudah mereka datangi semua. Terus, mau ke mana Langgam mencari?

Tatapan Langgam terpaku ke arah Lovely Cake and Bakery dengan lampu masih menyala dan menyisakan Swastika tengah duduk di salah satu kursi dekat jendela. Ditengoknya arloji di pergelangan tangan kanan. Jika tidak salah memperhatikan, seharusnya jam segini Lovely sudah tutup. Kenapa Swastika masih di sana?

Langgam menghentikan motor di halaman parkir Lovely. Setelah mengunci dengan baik, langkahnya terarah masuk. Denting bel terdengar saat pintu terbuka.

"Mohon maaf. Lovely sudah tutup. Silakan kem ...."

Swastika tak jadi melanjutkan kalimat saat kepalanya menegak demi mengecek siapa pelanggan yang mendatangi Lovely saat sudah tutup. Sejak tadi, dia sibuk menulis sesuatu di sebuah buku bertemankan secangkir kapucino.

"Langgam?"

"Hai, Wa." Langgam meringis canggung sambil menggaruk kepala bagian belakang. "Aku kebetulan lewat tadi. Terus liat Lovely masih nyala dan kamu masih duduk di situ. Jadi, aku samperin."

Swastika menahan senyum. Memang seharusnya dia sudah pulang. Namun, dia memiliki jadwal pengecekan bahan-bahan toko yang habis stok. Jadi, Swastika masih terperangkap di sana.

"Duduk, Lang. Kamu ke sini bukan buat mandorin aku yang lagi nyatet, 'kan?"

"Eh, iya. Eh, enggak. Maksudku, bukan buat mandorin." Langgam bergegas duduk di kursi seberang Swastika. Mereka terpisah oleh sebuah meja besi di mana buku, bolpoin, dan cangkir kopi Swastika berada.

Wanita itu tidak jadi meneruskan catatan. Ditatapnya Langgam yang berwajah frustrasi. Ada apa dengan pria ini? Tidak biasanya datang dengan wajah begitu.

Alih-alih menanyakan alasan Langgam mampir, Swastika merasa lebih cocok menawarkan sesuatu.

"Mau kopi, Lang?"

"Hah? O, enggak usah, Wa." Langgam jadi tidak enak. Sudah mampir tanpa izin saat toko tutup, mengganggu kesibukan Swastika pula.

"Santai aja. Kayaknya otakmu lagi ruwet. Perlu kafein, tuh."

"Eh?"

Sebelum Langgam kembali menolak, Swastika sudah beranjak. Begitu sampai di ambang pintu ruangan tempat kopi-kopi biasa disiapkan, Swastika berhenti lalu berbalik, kembali menatap Langgam.

"Mokacino, 'kan?"

"Hah?"

"Kopimu. Masih suka mokacino, 'kan?"

"Always."

Swastika membalas dengan senyum lalu melanjutkan langkah memasuki ruang kopi. Sementara menunggu Swastika, Langgam memeriksa buku catatan yang sejak tadi ditulisi wanita itu.

"Tepung pro. tinggi, rendah, dan sedang. Tepung maizena dan sagu. Tepung almon dan pistacio. Kacang mete, almon, pistacio, dan walnut." Langgam mengernyit. Banyak sekali bahan asing yang tidak dia paham kegunaannya. "Keju parmesan, keju mozarella, keju edam, dan keju cheddar." Astaga! Kenapa keju bisa sebanyak ini jenisnya?

Langgam masih terus membaca daftar bahan yang akan dipesan Swastika besok pagi untuk memenuhi stok dapur Lovely. Berkali-kali mendengkus karena membaca bahan aneh yang bahkan tidak pernah dilihat di dapur rumahnya. Bahkan, nyaris semua bahan dalam daftar yang dibuat Swastika tidak tersedia di sana. Bunda bukan perempuan yang ahli dalam per-baking-an. Itu kenapa kalau ingin makan kue pasti beli di toko dan langganannya adalah Lovely Cake and Bakery.

Swastika muncul beberapa menit kemudian dengan cangkir putih yang mengepulkan aroma mokacino.

"Jadi, ada apa sampai wajahmu semumet itu?" Swastika meminggirkan catatan dan bolpoin.

Pantaskah dia ceritakan ini kepada wanita di hadapannya?

"Aku yakin, kamu lagi menghadapi suatu situasi yang kurang menyenangkan." Swastika memasang senyum tulus.

Langgam mendesah lebih dulu. "Entah ini kurang menyenangkan atau sebenarnya berkah."

"Anggaplah berkah."

Berkah macam apa yang membuatnya berkeliling kota sampai nyaris tengah malam hanya untuk mencari spageti yang cocok di lidah iparnya?

"Masih dalam rangka membantu Mas Abi yang menghadapi kehamilan Mbak Sekar."

Ah, Swastika paham sekarang. Masih masalah ngidam.

"Kali ini apa?"

"Spageti."

"Spageti? Hm, bukannya di kota ini banyak resto yang menjual spageti?"

"Banyak, tapi belum satu pun yang cocok dengan lidah ibu hamilnya Mbak Sekar."

Swastika menahan tawa. Bukan salah Mbak Sekar kalau merepotkan suami dan iparnya. Memang, beberapa ibu hamil mengalami fase ngidam yang mungkin bikin orang geregetan bahkan kesal. Dulu pun, Swastika mengalaminya saat menghadapi kehamilan Amanda. Anak satu itu benar-benar merepotkan. Minta dibuatkan mi goreng ala abang-abanglah pas tengah malam. Minta dibuatkan bronis kejulah. Tidak peduli mbaknya super mengantuk bahkan baru tidur karena harus menyelesaikan naskah. Mana si Ojan kebanyakan tidak di rumah karena kerja di luar kota. Otomatis yang direpotkan kalau bukan Swastika, ya, Mama dan Abah.

"Balada ibu hamil memang begitu, Lang. Ada saja yang diminta dan enggak lihat-lihat waktu pula mintanya. Adikku dulu juga gitu waktu hamil Resyakilla. Yang direpotin, ya, aku. Jangan-jangan, nanti keponakanmu plek-ketiplek kamu lagi karena turut andil ngurusin ibunya."

"Wah, bagus itu. Kalau plek-ketiplek aku kan ganteng tiada tara."

Swastika terkikik. Astaga! Pria di hadapannya masih tidak berubah. Masih se-PD dulu.

"Jadi, belum nemu sampai sekarang spageti yang dimau lidahnya Mbak Sekar?"

Langgam menggeleng. "Mungkin, aku harus ke kota sebelah. Siapa tahu nemu resto lain yang bisa memenuhi ekspektasi lidah Mbak Sekar."

Astaga! Ke kota tetangga? Butuh dua jam ke sana. Bolak-balik empat jam. Belum lagi, ini nyaris tengah malam. Mana ada resto western yang buka sampai 24 jam? Ya, kalaupun ada, tetap tidak bisa malam itu juga dia dapatkan spageti-spageti itu.

"Tunggu sebentar." Swastika kembali ke ruang kopi untuk mengambil stok saus spageti yang dia simpan siang tadi di freezer toko. "Aku enggak tau ini bakalan cocok atau enggak di lidah Mbak Sekar, tapi aku harap bisa cocok." Sekar menaruh satu kotak plastik berisi saus spageti buatannya.

"Saus spageti?"

Swastika mengangguk. "Kamu bisa panasin terus tuang ke atas spageti rebusnya. Cuma, aku enggak punya stok pasta mentah."

Seingat Langgam, Bunda selalu simpan stok sepageti dan fusili mentah di rumah.

"Ya, ampun, Wa. Serius ini enggak apa-apa aku bawa? Rasanya, dari kemarin-kemarin kami ngerepotin kamu terus."

"Santai aja kali, Lang. Aku bisa paham dan ... ya, semoga kali ini cocok biar kamu enggak perlu ke kota tetangga."

Kalau sampai tidak cocok juga, entahlah. Akan jadi apa Langgam kalau harus menempuh perjalanan empat jam bolak-balik hanya untuk mencari spageti yang sesuai lidah iparnya.

Setelah mengobrol sebentar dan menghabiskan mokacino buatan Swastika, Langgam pamit. Sejujurnya, dia ingin lebih lama mengobrol dengan Swastika.

"Bener enggak mau aku antar pulang?" tanya Langgam. Membayangkan seorang wanita pulang selarut itu membuat Langgam ngeri.

"Enggak usah. Aku bawa motor sendiri, kok. Tuh." Swastika menunjuk matic hitam yang tidak jauh dari matic Langgam.

"Kamu wanita, Wa. Aku enggak tega bayanginnya kamu pulang selarut ini."

Swastika tersenyum tipis. Bayangan di mana Langgam mengantarnya pulang usai tragedi pengeroyokan Dimas kembali membayang. "Tenang aja. Kan, aku bisa sedikit karate."

Benar juga. Wanita itu bukan sembarang wanita yang mudah disentuh cuma-cuma. Kalau ada yang berani macam-macam, jelas dia akan melawan.

"Ya, udah. Aku pamit, ya. Kamu juga sebaiknya segera pulang." Langgam beranjak dengan tidak lupa membawa kotak plastik berisi saus spageti buatan Swastika.

"Hu um. Bentar lagi selesai, kok. Kamu hati-hati. Jangan ngebut."

Langgam melebarkan senyum, berbalik, lalu melangkah keluar. Denting bel terdengar sangat nyaring karena jalanan di luar toko mulai sepi. Sebelum benar-benar beranjak, Langgam melambai ke arah Swastika yang menatapnya dari balik jendela kaca. Wanita itu pun balas melambai. 

Sepanjang perjalanan pulang, Langgam berdoa agar wanita itu baik-baik saja. Tidak lupa berdoa semoga ini yang terakhir dirinya diribetkan oleh spageti.

🍰🍰🍰

Ayah, Bunda, Langgam, dan Abi menatap cemas ke arah Sekar yang mulai menyendok spageti dengan saus buatan Swastika. Dari yang terlihat, Sekar tidak mempermasalahkan aroma saus tersebut. Tidak seperti beberapa piring sebelumnya yang bahkan belum diicip sudah dipinggirkan karena aromanya, menurut Sekar, tidak enak.

Satu suapan masuk. Sekar mengunyah perlahan. Wajahnya tampak senang. Matanya berbinar. Begitu suapan kedua masuk, wanita itu histeris, tetapi dengan ekspresi yang dipenuhi kepuasan.

"Kenapa? Kenapa?" Abi segera menghampiri sang istri.

"Ini dia, Mas! Ini dia spageti yang sesuai lidah Sekar. Ini enak banget, Mas. Enggak begitu asem, dagingnya juga banyak. Aroma palanya sedap."

Ayah dan Bunda langsung melemaskan bahu. Tunai sudah drama spageti Sekar hari itu. Tidurnya akan tenang karena sang menantu tidak akan lagi menangis tengah malam. Untung rumah mereka tidak menempel dengan rumah tetangga. Kalau sampai menempel lalu mendengar suara tangisan Sekar yang persis kuntilanak di film-film, bisa parno mereka.

Langgam langsung menghela napas lega. Agenda berkeliling kota tetangga dadakan tidak perlu dilakukan. Malam itu, tidurnya akan nyenyak karena tidak memikirkan isakan sang ipar akibat tidak mendapat makanan yang diinginkan.

"Syukurlah kalau pas. Dihabisin ya, kalau gitu. Dari siang, porsi makanmu kacau karena ngurusin spageti mulu." Abi mencium puncak kepala Sekar. Meski bikin heboh dan pusing, Abi tetap mensyukuri apa yang terjadi. Sudah lama dirinya memimpikan hal semacam itu; Sekar yang hamil akan membuatnya melewati banyak drama sebagai suami yang siaga.

"Hu um." Sekar mengangguk-angguk. Dia bahkan tidak berniat menyisihkan sehelai spageti pun saking enaknya saus yang dibawa Langgam. "Omong-omong, kamu dapat saus spageti ini dari mana, Lang?"

Ayah, Bunda, dan Abi menatap Langgam bersamaan.

"Dari Suwa."

"Hah? Suwa?" Bunda terperangah.

"Iya. Pas Langgam lagi jalan buat nyari resto lain, Langgam lihat Suwa masih di Lovely. Sendirian. Langgam samperin terus kelepasan curhat kenapa Langgam bisa ada di sana jam segitu. Eh, Suwa ngasih saus itu untuk bantuin Langgam biar enggak keliling kota sebelah." Langgam menghampiri kulkas dan mengambil sebagian spageti sisa dari tupperware untuk kemudian dipanaskan.

Sejak pulang tadi sore, dirinya belum sempat makan malam. Melihat Sekar begitu menikmati spageti, dirinya jadi ngiler untuk makan itu pula. Ya, meski bukan spageti bersaus buatan Suwa, tak apalah. Yang penting tetap spageti.

Belum ada sahutan lagi dari mereka yang justru saling tatap sambil senyum-senyum tidak jelas sementara Langgam memanaskan makanan.

"Enak banget, loh, Lang. Tapi, Mbak enggak mau bagi-bagi. Mbak mau habisin sendiri saus dari Suwa." Sekar akan chat wanita itu untuk mengucapkan terima kasih dan memuji masakannya.

"Untung ketemu Suwa di sana." Langgam menyahut setelah memasukkan satu sendok spageti ke mulut.

"Jadi, benar-benar calon mantu idaman, 'kan, Yah?" Bunda menjawil Ayah.

Langgam sampai tersedak mendengar celetukan Bunda. Memorinya langsung ingat dengan nama dalam kontak Bunda untuk Swastika.

"Idaman banget." Ayah terkikik.

"Ipar idaman." Abi pun ikut-ikutan yang membuatnya dipelototi Langgam.

Ada apa sih, dengan anggota rumah ini?

🍰🍰🍰


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...