🌻🌻🌻
Menginjak pukul dua dini hari, Kedai Bir Ichinoya berhasil 'mengusir' pelanggan terakhir yang setengah mabuk. Sebagai bentuk pelayanan atau mungkin pula kebaikan hati pemilik kedai, sebuah taksi diberhentikan untuk mengantar sang pelanggan sehingga sosok yang setengah mabuk itu tidak luntang-lantung terlalu lama di jalanan. Perginya pelanggan terakhir menjadi alarm bagi para pekerja untuk bergegas membereskan sisa-sisa kekacauan dari para peminum. Satu-dua orang membersihkan meja dengan tumpahan bir atau serakan remah-remah kudapan. Yang lain memberesi konter dan dapur: membawa gelas dan piring kotor untuk kemudian mencucinya, mengecek kecukupan bahan untuk dijual esok malam, menghitung penghasilan yang didapat hari itu, serta memilah sampah-sampah dan memasukkannya ke kantong-kantong sesuai jenis yang diberlakukan.
Tampak melelahkan. Seolah tak ada habisnya walau pelanggan telah hengkang. Di sela-sela sibuk memberesi, demi membunuh jenuh, para karyawan Kedai Bir Ichinoya menghidupkan obrolan. Menyalakan kelakar-kelakar mengundang tawa sehingga lelah seusai melayani begitu banyaknya pelanggan dapat terangkat sebagian. Satu-dua yang telah akrab justru merencanakan pergi ke pemandian umum. Berendam air hangat lalu minum susu—menenggak bir bagi yang telah cukup usia—atau mengudap telur rebus akan mampu menghilangkan pegal-pegal di sekujur tubuh. Sebagian lagi ada yang memilih segera pulang, bergegas tidur setelah mampir sebentar ke kedai ramen tengah malam, untuk kemudian tidur dalam hamparan futon yang empuk dan hangat. Musim mulai beranjak menjadi gugur sehingga berlama-lama di luar rumah pada dini hari sama seperti mereka sedang menyelami lemari pendingin.
"Suzuhara-chan, kau mau ikut? Aku dan Sei-san akan mampir ke pemandian umum. Kudengar, ada pelayanan baru berupa pijat relaksasi di sana. Bukankah akan sangat sempurna jika kita pergi setelah lelah bekerja?"
Gadis yang sedang memisahkan ragam sampah untuk dimasukkan ke kantong berbeda itu menoleh. "Pemandian Umum Reikiko, Haruno-san?"
"Hum hum." Wanita yang lebih berumur dari gadis yang dipanggil Suzuhara-chan itu mengangguk-angguk antusias. Tampak seperti bocah lima tahun yang disetujui pergi bermain setelah berhari-hari terjebak di dalam rumah karena musim dingin yang menggigit. Semakin tampak seperti bocah karena tinggi dan bentuk tubuh yang begitu mungil di mata siapa pun. "Kau harus mencobanya, Suzuhara-chan. Temanku kemarin sudah ke sana dan katanya, pelayanan pijat mereka sangat memuaskan."
"Woah!" Membulat mulut Suzuhara demi mendengar promosi meyakinkan Haruno-san. Namun, dia tak bisa pergi malam itu. Dia harus segera sampai ke rumah. Masih ada PR yang belum sempat dia kerjakan dan itu akan dikumpulkan besok. Dia tak punya banyak waktu walau sekadar menikmati pelayanan pijat dari sebuah pemandian umum.
"Mungkin lain kali, Haruno-san. Maaf, ya. Aku masih ada PR yang belum selesai kukerjakan dan harus dikumpulkan besok. Jika tidak segera pulang, bisa-bisa aku tak sempat mengerjakan."
"Ah, sayang sekali, Suzuhara-chan." Menekuk bibir Haruno-san karena kawan mandinya berkurang. "Kuharap kau bisa mengerjakan dengan baik PR-mu itu. Menjadi gadis yang masih sekolah—terkadang—memang menyebalkan karena masih harus mengerjakan PR."
"Memangnya, Haruno-san tidak ada tugas kuliah? Anak kuliahan juga punya tugas, 'kan?"
"Eto ...." Lebar cengiran Haruno dengan diimbuhi garuk-garuk cuping hidung.
"Suzu-chan!" Panggilan lain datang dari laki-laki paruh baya dengan celemek tersampir di bahu. "Setelah membuang sampah, kau bisa langsung pulang. Jangan lupa membawa bingkisan yang ada di meja konter, ya. Kau bisa ambil mana pun karena toh isinya sama."
"Baik, Ichinoya-san. Terima kasih karena sudah mengurusku."
"Bergegas selesaikan tugasmu agar tidak ketinggalan bus terakhir."
"Baik!" Tangkas tangan Suzuhara bekerja. Secepat kilat menyelesaikan pemisahan jenis sampah. Dua plastik besar sarat muatan dibawanya ke bagian belakang kedai. Di sanalah dia menumpuk plastik sampah yang akan diambil petugas siang nanti.
Selesai mencuci tangan, mengganti seragam kerja dengan seragam sekolah yang tersimpan di loker karyawan, tak lupa menggunakan sweter rajut untuk menahan gigil serta membawa bingkisan yang disiapkan pemilik kedai, Suzuhara berjalan menjauh ke arah timur dari Kedai Bir Ichinoya. Melewati beberapa kedai ramen untuk kemudian sampai di halte yang mana bus terakhir dengan tujuan daerah perumahannya terbiasa berhenti. Sembari menunggu, dibukanya bingkisan dari Ichinoya; berupa sekotak gyoza dan yakisoba ber-topping daging asap dan jamur.
Jatah kudapan para karyawan Kedai Bir Ichinoya hari itu. Sangat cukup untuk mengganjal perut Suzuhara setiba di rumah. Setidaknya, dia akan memakan yakisoba di rumah. Tiga dari tujuh gyoza pemberian Ichinoya tak bisa selamat dari lumatan mulut. Wangi kulit gyoza yang terpanggang serta jus dari isian yang meleleh keluar tak bisa menghentikan rontaan perut dan lidah untuk mencicipi.
"Gyoza buatan Ichinoya memang sangat lezat." Suzuhara menatap lekat pada kotak berisi sisa gyoza. Ada ingatan yang muncul setiap kudapan khas negeri kelahirannya itu menyapa mulut. Tentang masa yang telah lewat. Tentang sosok yang tidak lagi membersamai hari-harinya. Tentang kesendirian yang kian hari kian menggigit.
Sudah berapa tahun dirinya tak menyapa mereka? Sudah berapa ratus hari mereka tak menanyai kabar tentangnya? Apakah memang seorang anak tidak lagi dibutuhkan setelah hubungan di antara kedua orang tuanya selesai? Hanya karena ayah dan ibunya memilih jalan kisah berbeda, lantas dirinya berhak diabaikan? Ditinggalkan begitu saja? Hanya dipenuhi secara material ... apakah cukup bagi seorang anak? Bahkan dengan kerja paruh waktu yang dia jalani, dia bisa menghidupi diri sendiri; Bisa makan makanan lezat hampir setiap hari; Bisa membeli buku bacaan apa pun yang dia mau; Bisa membiayai sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi untuk lulus sebagai siswi sekolah menengah atas.
Dia mendongak. Mendapati langit malam pada awal musim gugur yang begitu cerah. Tiga bintang paling terang di arah timur bersolek tanpa gangguan awan-awan yang melintas. Dia ingat guru SD-nya pernah mengatakan bahwa tiga bintang paling terang yang bisa dilihat pada awal Juni sampai akhir November dinamai sebagai Segitiga Musim Panas.
"Keberadan Segitiga Musim Panas bisa dijadikan penanda pergantian musim. Karena nanti, saat memasuki musim dingin, ada segitiga bintang lain yang terangnya lebih terlihat."
Tahu-tahu, satu telunjuk tangannya mengarah kepada bintang paling terang dari ketiga titik yang membentuk segitiga di atas kepala. "Yang paling terang adalah Vega dari rasi bintang Lyra si Harpa. Lalu, ke arah kiri bawah ada Deneb dari rasi bintang Cygnus si Angsa. Ke arah kanan bawah ada Altair dari rasi bintang Aquila si Elang."
Pelajaran tentang langit, materi tentang bintang-bintang, adalah hal yang Suzuhara sukai selama bersekolah. Ah, benar. Dia pun ikut Klub Astronomi sejak SMP sampai SMA; semakin menyukai setelah pertemuan tak sengaja dengan seseorang. Samar-samar, ingatannya mengintip momen yang telah lama lewat. Tentang sebuah pertemuan di atap sekolah sewaktu SMP. Saat dia kabur dari rumah setelah perbincangan kedua orang tua yang berujung kepada kesepakatan bercerai.
"Kau ini masih SMP, kenapa berkeliaran di sini malam-malam?"
Dia yang menekuk kaki sembari menyembunyikan tangis di antara lutut terperanjat demi mendengar kemunculan seseorang. Bukan saja sosoknya, tetapi proses muncul yang datang dari tembok pembatas atap alih-alih tangga berhasil menimbulkan kernyit di wajah.
"Woah! Kau menangis, Nona?" Mengabaikan ekspresi sekaligus tatapannya, dia justru ikut duduk. Berjarak hanya satu depa di samping kanan Suzuhara. "Tidak baik untuk nona kecil sepertimu berkeliaran bahkan naik ke atap sekolah malam-malam. Kau tidak tahu rumor kalau hantu berkeliaran di lorong-lorong sekolah setiap malam, ya?"
"Ini sekolahku." Memberengut wajah Suzuhara sembari menumpukan dagu di sela lutut yang tertekuk. "Aku tidak takut hantu. Tidak ada hantu di dunia ini."
Entah apa yang lucu, tetapi sosok di samping Suzuhara justru tergelak. "Nona Kecil, kau sangat pemberani."
"Kau sendiri kenapa di sini? Naik dari mana? Kenapa tidak dari tangga? Memangnya kau laba-laba atau cecak yang bisa merayap di tembok? Kenapa kau mun—"
"Satu per satu kalau bertanya, Nona. Kau ini sudah seperti senapan gatling saja yang memberondong musuh dalam sekali serang." Kecerewetan gadis di sampingnya mengundang gemas sampai-sampai tanpa sadar tangannya mengacak-acak rambut Suzuhara; mencipta lagi cemberut di wajah gadis itu.
Kenapa bisa dia sok akrab sekali?
Selesai mencandai rambut Suzuhara, tangannya tersimpan kemudian di dalam saku almamater sekolah khusus laki-laki yang rasanya tidak asing dalam ingatan Suzuhara. Entah di mana, dia seperti pernah melihat gerombolan anak laki-laki dengan seragam yang sangat mirip yang dikenakan sosok di sampingnya.
Mungkinkah murid dari sekolah itu juga? Kalaupun iya, tentu saja tidak aneh. Anak laki-laki sepertinya sangat wajar masuk akademi khusus laki-laki—yang menurut beberapa kawan gadisnya menjadi tempat menyebalkan sekaligus menyenangkan dalam satu waktu.
"Aku ke sini untuk melihat bintang. Kabur dari rumah karena orang tua yang bertengkar sangatlah berisik. Di sini, di atap sekolah yang katamu milikmu ini, aku bisa menontoni gugusan bintang dengan leluasa. Lihat!" Dia menunjuk langit Jepang di arah timur. "Kau lihat tiga titik paling terang di sana?"
Mengusap wajah demi menyingkirkan bekas air mata yang meleleh ke pipi, Suzuhara mengikuti arah tunjuk pemuda di sampingnya. Gerakan telunjuk si pemuda membentuk bangun segitiga di alam imaji Suzuhara.
"Namanya Segitiga Musim Panas. Bintang-bintang paling terang yang membentuk segitiga itu berasal dari tiga rasi yang berdekatan. Yang paling terang adalah Vega dari rasi bintang Lyra si Harpa. Lalu, ke arah kiri bawah ada Deneb dari rasi bintang Cygnus si Angsa. Ke arah kanan bawah ada Altair dari rasi bintang Aquila si Elang. Kemunculan mereka dimulai sejak awal Juni sampai akhir November. Menandai datangnya musim panas dan awal-awal musim gugur."
Malam yang tak pernah Suzuhara sangka akan dipertemukan dengan sosok pemuda yang begitu menyukai dunia bintang—dunia langit malam secara keseluruhan, seperti dirinya.
Decit rem menjadi pengingat bahwa pengelanaan Suzuhara kepada masa lampau harus diakhiri. Bus terakhir yang menuju kediamannya telah datang. Tanpa perlu menengok bagaimana kondisi bus—merasa bahwa bus tersebut adalah bus yang sama seperti sehari-hari dia naiki, Suzuhara beranjak meninggalkan halte; Memasuki bus dengan tidak lupa menempelkan kartu pembayaran transportasi umum khusus pelajar.
"Selamat malam, Nona. Semoga harimu berakhir menyenangkan."
Langkahnya tak langsung mendatangi kursi yang diinginkan. Terpancang sejenak di dekat mesin pembayaran untuk mencermati sopir yang menyapa. Bukankah cukup aneh untuk malam itu karena sopir bus menyapa dengan hangat kepadanya? Sangat tidak biasa walau memang beberapa sopir memiliki sikap yang ramah kepada penumpang bus. Namun, sepanjang menjadi penikmat transportasi umum yang satu itu, khusus bus terakhir di setiap perjalanan pulang, Suzuhara baru mengalami.
"Bus akan berangkat, Nona. Silakan pilih di mana pun kau mau duduk." Tersenyum ramah, sopir laki-laki yang dia kira seusia—atau lebih sedikit—dengan ayahnya itu menyilakan.
Tak mau ambil pusing, dia beranjak; Memilih barisan dua bangku; Mengempas duduk di bangku dekat jendela.
Bus melaju perlahan. Meninggalkan halte yang menyisakan kursi-kursi kesepian. Membawa hanya satu penumpang yang perlahan-lahan terkantuk di kursinya walau kesendirian gadis yang duduk di dekat jendela itu bertahan hanya sepuluh menit.
Hampir tertinggal, seorang pemuda yang muncul dari sebuah lorong jalan berlarian mengejar. Jika saja si sopir tak melongok ke spion, sudah dipastikan si pemuda dengan ransel hitam dan jas khas laboratorium itu ketinggalan kendaraan terakhir yang mengantarnya pulang; berakhir menginap di hotel murah atau warung internet terdekat.
Terengah tubuhnya begitu memasuki bus. Sebelum menentukan kursi mana yang ingin diduduki, tatapnya memindai; menemukan seorang gadis berseragam SMA tengah terkantuk-kantuk di kursi untuk dua orang. Entah bagaimana, langkahnya terarah ke kursi si gadis. Hampir jatuh kepala si gadis ke sisi kursi yang kosong saat tubuhnya terburu-buru terempas sehingga bahu menjadi bantalan bagi kepala yang terkulai. Dengkur halus terdengar seiring bus yang kembali melaju.
"Su-zu-ha-ra To-ki-o." Diejanya rajutan nama dari kain yang menempeli plakat kecil yang dijadikan gantungan ransel. Nama yang menggiring ingatannya kepada sebuah malam di atap sebuah sekolah menengah pertama pada beberapa tahun lalu. Gambaran seorang gadis SMP dengan wajah dipenuhi bekas air mata menyusupi ingatan. "Mungkinkah ...."
🌻🌻🌻
Dia merasakannya. Usapan lembut di pipi. Menggiring kemudian untuk terjaga, lantas sepasang mata mengerjap-ngerjap demi menemukan cahaya sehingga fokus penglihatannya kembali.
"Ayo bangun, Sayang! Busnya berhenti. Kita sampai."
Tertatih isi kepalanya mengais-ngais kesadaran demi serangkaian kalimat yang terdengar ... aneh?
Sayang? Siapa yang memanggil Sayang kepada siapa?
Saat sadar terpulihkan, cerah sepasang matanya menangkap berbagai objek. Tak ayal tubuhnya tergeragap saat menemukan sesosok lelaki duduk di baris yang sama. Tepat di kursi di sampingnya. Lebih aneh lagi karena lelaki dengan ransel dan jas putih yang dia tahu khas orang-orang pekerja laboraturium justru mengurai senyum lembut yang rasanya begitu manis dipandang.
Apa yang kaupikirkan, Suzuhara? Bukan saatnya mengagumi senyum orang asing. Bagaimana jika dia berniat jahat kepadamu, hah? Bangun! Pulihkan kesadaranmu, Suzuhara-chan!
"Kau sudah sadar sepenuhnya? Bus sudah berhenti. Kita harus segera turun atau Akiyama-san akan mengomeli kita seperti dulu."
A ... kiyama-san? Seperti dulu? Kita?
Kerutan di dahi Suzuhara bertambah berkali lipat. Semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari pria yang kini menghadapnya. Dari bagaimana dia mengajak mengobrol dengan begitu santai dan tidak formal, seolah mereka telah saling mengenal untuk waktu yang lama.
Hei! Mana ada! Aku bahkan tidak tahu siapa dia? Bagaimana bisa dia bicara sesantai itu kepada orang asing?
Tak peduli seberapa bingung wajah dari sosok yang duduk dengannya, pria berjas laboraturium bangkit. Satu tangannya lantas terjulur. "Ayo, Suzu-chan! Anak-anak sudah menunggu di rumah. Kita sudah sangat telat."
"Su-Suzu ... -chan?" Astaga! Dia ini siapa? Bagaimana bisa memanggilku -chan? Aku ... aku tidak mengenalnya, hei!
"Kapan kalian akan turun, Tuan dan Nyonya Hirasaki? Aku sudah harus berangkat. Atau ... kalian mau sampai ke pangkalan bus agar waktu berduaan kalian lebih lama? Dasar pasangan muda!"
Seolah tak tersinggung oleh gerutuan si sopir bus, pria berjas putih di hadapannya justru tergelak. Benar-benar tampak seperti mereka telah saling mengenal begitu lama.
"Istriku baru bangun, Akiyama-san. Bersabarlah sedikit lagi. Biarkan dia mengumpulkan kesadaran lebih dulu. Aku yakin, dia begitu kelelahan hari ini. Bekerja sekaligus kuliah bukanlah hal mudah."
Bekerja? Sambil kuliah? Apa lagi ini? Astaga!
"Bergegaslah, Nyonya Hirasaki. Aku juga ingin segera pulang dan bertemu cucu-cucuku."
"Ayo, Suzu-chan! Kita harus mengasihani Akiyama-san." Lembut diraihnya tangan Suzuhara agar segera bangkit.
Walau masih tak mengerti, walau diliputi kebimbangan besar, walau banyak pertanyaan di dalam kepala, entah kenapa tubuhnya tak menolak ajakan pria berjas putih. Bahkan tak menampik tangan besarnya yang melesapkan tangan Suzuhara dalam genggaman. Meninggalkan kelakar untuk Akiyama—yang disambuti dengan dengkusan, mereka keluar bus. Tak menunggu sampai bus melaju, keduanya menjajaki trotoar ke arah barat dari halte di mana mereka tiba. Meski terasa ada yang berbeda, Suzuhara sangat ingat bahwa arah yang diambil memanglah jalan menuju rumahnya.
Rumah yang tak lagi memakai plakat Keluarga Tokio, melainkan Keluarga Hirasaki. Bahkan tertulis lengkap siapa saja yang tinggal di sana sehingga kolega dari siapa pun penghuni rumah tersebut akan dengan mudah menemukan satu dari sekian mereka yang dibutuhkan.
Hirasaki Ichiyo? Suzuhara Hirasaki? Sinohara Hirasaki? Maihara Hirasaki?
Ada empat nama yang tercetak dalam plakat. Tiga nama terakhir jelas menandakan bahwa mereka adalah bagian terdekat dari kepala keluarga bernama Hirasaki Ichiyo.
Kepala keluarga? Hirasaki ... Ichiyo? Tetapi, ini rumahku. Bagaimana bisa plakatnya berganti dari Tokio menjadi Hirasaki? Nama belakangku pun berganti menjadi Hirasaki. Tadi pun, si sopir bus menyebut kami sebagai Tuan dan Nyonya Hirasaki. Apa maksudnya ini? Aku tidak pernah merasa menikah dengan pria ini.
Kepalanya memang berisik oleh pertanyaan-pertanyaan yang anehnya tak satu pun disuarakan. Lebih aneh lagi saat tubuhnya tak menampik setiap kali disentuh, entah digenggam atau digamit. Seharusnya, dia memprotes karena pria asing memasuki rumah bahkan mengganti nama belakangnya lantas menambahi dua nama lain yang dia tidak kenal.
Siapa pria ini? Siapa si Hirasaki Ichiyo ini? Bagaimana aku tidak meneriakinya karena memasuki rumahku? Astaga! Sebenarnya aku kenapa? Aku ... di mana?
Yang Suzuhara ingat, dia pulang dari bekerja di Kedai Bir Ichinoya. Duduk sendirian di halte sembari mengudap beberapa buah gyoza pemberian Ichinoya-san. Sembari menunggu bus terakhir, ingatannya berlarian ke masa-masa lain. Satu hal yang paling terkenang adalah pertemuan dengan seorang pemuda berseragam salah satu sekolah khusus laki-laki di kotanya. Sekolah yang juga berdekatan dengan gedung SMP-nya. Sampai menjelang tengah malam, mereka di atap SMP Suzuhara lantas menontoni puluhan gugus bintang, terutama susunan tiga bintang paling terang pada musim panas yang mereka kenal sebagai Segitiga Musim Panas.
Ingatan masa lalunya selesai bersamaan datangnya bus terakhir. Bus dengan sopir yang untuk pertama kali menyapa begitu hangat. Dia duduk kemudian di bangku dua jejer. Memilih dekat jendela. Bus melaju yang perlahan-lahan membuatnya terkantuk. Di antara sadar dan tidak, dia seperti merasakan bus berhenti lalu masuk seseorang dengan pakaian putih. Selebihnya, dia tak tahu. Tak ingat apa pun. Tahu-tahu dibangunkan oleh suara dan usapan lembut di pipi; diberi tahu bahwa bus telah sampai ke tujuan mereka.
Yang terjadi selanjutnya, mereka sampai di kediaman dengan plakat bertuliskan Hirasaki Ichinoya sebagai kepala keluarga.
"Sepertinya, anak-anak sudah tidur." Suara pria itu menjeda keriuhan di kepala Suzuhara. "Bibi yang menjaga menulis pesan bahwa dia pulang tepat setelah Sino dan Mai tertidur. Ada gyoza dan kare yang disisakan Bibi untuk makan malam kita. Kau mau makan atau mandi dulu, Sayang?"
Selagi Suzuhara hanya mematung di ambang pintu ruang keluarga—menyambung dengan dapur dan ruang makan, pria itu telah melepas jas; menggulung kemeja cokelat yang dikenakan untuk kemudian memakai celemek; Menyalakan kompor dan memanasi kare serta gyoza buatan asisten rumah tangga dengan sistem pulang-pergi selama bekerja.
"Kare-nya sedikit pedas dengan banyak daging sapi tanpa lemak. Kesukaanmu, Sayang. Kutambahkan kentang, ya? Sepertinya, Sino dan Mai menghabiskan kentang dalam kare ini."
Apa yang pria itu bicarakan? Anak-anak? Sino? Mai? Anak-anak siapa? Kenapa dia selalu memanggilku dengan Sayang atau Suzu-chan? Dia ... siapa?
"Sayang?" Merasa suaranya diabaikan, pria itu berbalik. Membiarkan kompor menyala untuk merebus kembali kare yang telah ditambahi beberapa potongan kentang. Mendapati wajah pucat Suzuhara—yang tengah berpikir keras, bergegas dia mendekat. "Kau kenapa? Kau merasa tidak sehat? Mau beristirahat dulu?"
"Aku ... di mana?" Tergagap Suzuhara mencari tahu. Dia harus memecahkan kebingungan yang membelit atau kepalanya pecah oleh ketidakmengertian. "Kau ... siapa? Bagaimana bisa plakat Keluarga Tokio berubah menjadi Keluarga Hirasaki? Kenapa ... kenapa nama belakangku menjadi Hirasaki?"
Tak masalah dengan rentet pertanyaan Suzuhara, pria itu memasang senyum lembut. Senyum yang betul-betul manis sekaligus tulus bagi mata Suzuhara.
"Sayang, kita di rumah. Rumahmu yang menjadi rumah kita bersama setelah menikah. Kau bilang kau tidak ingin meninggalkan rumah ini, jadi aku yang mengalah pindah." Kedua tangannya menyentuh lembut kedua bahu Suzuhara. "Aku Hirasaki Ichiyo. Suamimu. Pria yang menikah dengan Suzuhara Tokio. Karena kau sudah menikah denganku, maka nama belakangmu berganti dari Tokio menjadi Hirasaki, mengikuti nama depanku."
"Menikah?"
Hirasaki mengangguk. Masih disertai senyum.
"Aku ... menikah denganmu?"
Lagi, Hirasaki mengangguk. Senyum masih tak luntur di bibirnya.
"B-bagaimana bisa? B-bagaimana kita ... bisa saling mengenal lalu menikah?" Tidak, tidak, tidak! Ini mustahil! Aku belum lulus SMA. Baru akan lulus musim semi tahun depan. Bagaimana bisa dia menyebut kami telah menikah?
"Ceritanya akan sangat panjang kalau kau ingin kembali mengenang masa-masa itu, Sayang." Ada keki yang terbit di wajah Hirasaki—bahkan telinganya bersemu merah. "Sebaiknya, kau bersih-bersih dulu selagi aku menyiapkan makan malam. Setelahnya, baru kita akan mengobrol tentang masa lalu. Bagaimana? Kau tampak kelelahan. Mandi air hangat akan membuat tubuhmu lebih nyaman."
Tubuhnya didorong dengan lembut untuk keluar dari ruang keluarga. Berpindah ke ruangan lain yang dia tahu merupakan kawasan mencuci, toilet, dan kamar mandi. Hal mengejutkan berikutnya terjadi. Di ruangan khusus kepentingan kakus itu, dia menemukan banyak foto tertempel, entah di dinding maupun cermin besar.
"Mandilah dengan nyaman. Tak usah terburu-buru, oke?"
Suzuhara mengangguk terpatah. Sepeninggal Hirasaki, alih-alih bergegas ke bak mandi, Suzuhara justru mendekati belasan lembar foto yang meramaikan dinding dan cermin. Foto-foto yang memuat dirinya, Hirasaki, dan dua bocah berbeda gender tetapi memiliki postur yang sama besar. Belum lagi, wajah mereka begitu mirip. Yang membedakan hanyalah warna rambut; si bocah lelaki memiliki warna rambut yang sama dengannya, sedangkan si bocah perempuan memiliki warna dan jenis rambut yang sama dengan Hirasaki. Menandakan bahwa gen-gen mereka seolah diturunkan kepada kedua bocah itu.
"Sepertinya, anak-anak sudah tidur." Menyusup kalimat Hirasaki ke dalam kepalanya.
Jika benar yang dikatakan Hirasaki perihal anak-anak, kedua bocah ini berarti anakku dan dia? Sino dan Mai? Sinohara dan Maihara?
Dia berhasil menemukan foto-foto dirinya dengan gaun pernikahan. Bersanding dengan Hirasaki yang tampan dan manis dengan balutan jas. Dalam satu deret, dia menemukan potretnya dengan berbagai kondisi terabadi: dia yang berperut buncit, dia yang meringis kesakitan di atas birthing ball, dia yang berada di ranjang persalinan, dia yang kemudian menggendong satu bayi berbedong kain warna biru dengan satu bayi lagi berbedong kain warna merah muda tergendong Hirasaki. Dalam setiap momen yang terabadi, sosok Hirasaki selalu ada di antara mereka. Hirasaki yang terkantuk-kantuk saat menidurkan bayi perempuan. Hirasaki yang sedang mengganti popok si bayi laki-laki. Bahkan, Hirasaki tak sungkan memasak sembari mengawasi kedua bayinya makan.
Potret keluarga yang sangat dia impikan. Keberadaan seorang pria yang tak cuma menjadi suami, tetapi ayah dari anak-anak mereka. Dari bagaimana anak-anak memberi pelukan kepada Hirasaki dalam foto-foto itu, Suzuhara bisa melihat seberapa besar peran pria itu di kehidupan para bocah—di kehidupan mereka.
"Aku ... menikah dengan lelaki sehangat dan seperhatian ini?" Dia usap foto pernikahannya dengan Hirasaki yang menampakkan senyum sangat lebar. Kentara sangat-sangat bahagia. Meski masih bingung, dia menyerah untuk mengingat lebih banyak. Memilih ke kamar mandi. Menyiapkan jakuzi dan mengisinya dengan air hangat. Mencampur garam mandi beraroma lavender dan mint yang seketika melegakan pernapasan serta merelaksasi otot-otot badan.
Ah, terserahlah! Aku tak ingin memusingkan sesuatu yang seperti ini. Barangkali, hidupku yang sebenarnya berada di sini.
Dia menyandar di pinggiran jakuzi. Membiarkan air hangat meremajakan. Menggiring sepasang matanya kembali memejam. Aroma lavender dan mint berhasil mendorong kembali Suzuhara memasuki alam mimpi.
🌻🌻🌻
Tarikan rem bus yang cukup kuat berhasil menyentakkan kesadaran. Dahinya bahkan tak terselamatkan akibat dorongan dari rem yang ditarik kasar—membentur punggung kursi di depannya sehingga mencipta pekik samar. Belum selesai dengan rasa sebal karena bus berhenti mendadak, suara sopir memberi tahu bahwa dia sudah bisa keluar. Bus berhenti di halte dekat perumahannya.
"Paman, kau mengerem sangat kasar. Dahiku sampai menyeruduk kursi di depanku." Sembari mengusap-usap dahi yang kemerahan, dia memprotes. Kantuknya telah benar-benar hilang. Sepasang matanya secerah matahari bulan Agustus. Saking sebalnya, dia sampai tak menyadari bahwa ada penumpan lain di bus yang sama dengan posisi duduk bersebarangan dengan kursinya.
"Maaf, Nona. Aku hampir menabrak kucing liar yang melintas. Kebetulan sekali tepat di halte kau seharusnya berhenti."
"Terima kasih sudah mengantarku. Semoga harimu menyenangkan dan tidak ada lagi kucing yang hampir tertabrak sehingga penumpang tidak menyeruduk kursi-kursi di depannya."
"Akan kuingat baik-baik pesanmu, Nona. Berhati-hatilah saat berjalan di tempat sepi."
Dia mengangguk. Bergegas keluar. Dibenahinya sweter sehingga angin musim gugur pada awal minggu tak menggigiti kulit. Mengambil arah ke selatan, dia meninggalkan halte di mana bus berhenti. Hampir berbelok ke arah kanan saat terdengar derap terburu-buru di belakang.
"Tunggu, Nona! Hei, tunggu! Kau meninggalkan ponselmu!"
Ponsel? Aku?
Dia berhenti. Mengecek saku sweter yang dijadikan tempat menyimpan ponsel. Tak ada. Benda berukuran 7 inci dengan layar pipih itu tak ada di sana. Dia lantas menoleh. Menemukan pria berjas putih dengan ransel tersampir di bahu kanan terengah-engah mendatangi.
"Kau meninggalkannya." Dia menyerahkan benda yang tentu saja sangat dikenali. Ponsel miliknya. "Sepertinya, kau tak sadar ketika ponselmu terjatuh akibat bus yang mengerem dadakan tadi."
"Maaf merepotkanmu." Dia menerimanya dengan kelegaan. Hidupnya akan kacau jika sampai ponsel itu menghilang bahkan tak ditemukan lagi. Siapa yang bisa menjamin sebuah ponsel jatuh di bus akan aman atau disimpankan, terlebih banyak rumor beredar belakangan bahwa wilayah kerja pengutil telah sampai ke transportasi-transportasi umum? "Eto ... harus dengan apa aku berterima kasih, hm ...."
Harus dia panggil apa pria yang telah menolongnya? Dia tak tahu sama sekali nama pria itu.
"Tidak perlu, Suzuhara-san. Aku hanya mengembalikan ponselmu. Bukan sesuatu yang besar."
"Kau ... tahu namaku?" Tatapan Suzuhara menelisik apa pun dari yang dipakai pria berjas putih di depannya. Menemukan kartu identitas terjepit di bagian saku dada. "Ichiyo ... -san?"
"Hirasaki Ichiyo. Panggil Hirasaki saja."
Hirasaki Ichiyo? Hm ... rasanya pernah mendengar nama itu? Di mana? Kapan? Hm ....
"Ayo kuantar kau sampai ke rumah. Tidak baik bagi seorang gadis berjalan sendirian pada hari segelap ini."
"Eh?" Suzuhara menatapi langkah Hirasaki. Tepat menuju ke kediamannya. Bukankah dia belum memberi tahu ke mana arah seharusnya yang mereka ambil?
"Ayo, Suzu-chan! Kau harus segera sampai ke rumah, bukan?"
Alih-alih mengekori, Suzuhara tak berkutik. Tercengang demi mendengar panggilan yang diberikan Hirasaki. Memanggil dengan sebutan nama depan bahkan diimbuhi -chan pada pertemuan pertama dua orang asing bukanlah hal sopan. Tidak seharusnya Hirasaki memanggil demikian. Seharusnya pula, Suzuhara merasa tidak nyaman bahkan mengomel. Namun, entah bagaimana, perasaannya baik-baik saja. Dia tak merasa tersinggung oleh panggilan Hirasaki kepadanya, seolah-olah mereka telah terbiasa melakukan itu.
"Suzu-chan!" Menggema panggilan Hirasaki yang telah beberapa langkah mendahului. Bergaya sangat santai sembari memegangi ransel di salah satu bahu.
"Iya! Aku menyusul!" Eh? Aku? Bagaimana ....
Langkahnya lebih dulu bergegas; Mendatangi Hirasaki; Berjalan di belakangnya tanpa suara. Membiarkan gemerisik dedaunan maple menjadi simfoni perjalanan pulang mereka.
🌻🌻🌻
Tidak ada komentar:
Posting Komentar