🌷🌷🌷
"Ada kabar beredar bahwa Rumah Maid Bunga Tulip mengalami kebakaran hebat, Nyonya." Pelayan paruh baya yang sedang merapikan rambut Klerianna memberi tahu.
"O, ya? Rumah pelayan kebanggaan Elora itu?"
"Betul, Nyonya."
"Bagus kalau sudah lenyap. Upeti penduduk tidak lagi untuk memberi makan gadis-gadis bodoh yang sok berilmu. Rumah maid tidak seharusnya ada. Tanpa perlu pengajaran khusus pun, seorang pelayan bisa tetap bekerja. Buang-buang koin saja. Mengambil dari budak yang diperjualbelikan jauh lebih murah daripada mengambil dari rumah maid sok pintar itu."
Omelan Klerianna hanya ditanggapi dengan senyum. Sudah bukan hal asing jika istri mendiang Duke Ryonswald memiliki ketidaksetujuan atas dibukanya rumah maid. Baginya, pelayan tidak perlu dibekali ilmu ini atau praktik itu. Jiwa pelayan akan membimbing dengan sendirinya agar mereka luwes dalam melakukan pekerjaan.
Yang lebih dia ingin tahu adalah nasib kelanjutan Clay. Tak akan dia lepas begitu saja setelah dibohongi mentah-mentah. Koinnya lenyap banyak, tetapi hasil tak sesuai yang dikira. Jangankan membuat anak itu mati, melukainya saja tidak. Dia berhasil tumbuh menjadi pemuda yang perlu Klerianna akui memiliki kewibawaan jauh lebih besar dari suaminya.
"Tch! Mengingatnya saja sudah membuatku geram. Kenapa dia tidak mati saja seperti ibunya? Keparat! Aku salah membayar orang."
Selesai berias, Klerianna bergabung dengan kedua putrinya yang sudah duduk menghadapi meja makan.
"Aku mendengar dari pelayan kalau rumah maid yang dikelola Nyonya Elora mengalami kebakaran. Benarkah?"
"Pelayan Ibu juga bilang seperti itu, Rowelina."
"Sangat disayangkan. Padahal kudengar, gadis-gadis maid binaan Nyonya Elora merupakan yang terbaik sejauh ini di Celdara."
"Pelayan tetaplah pelayan. Mau seterbaik apa pun, dia tidak akan pernah menjadi permaisuri. Tugasnya hanya melayani rumah dan orang-orang di dalamnya."
"Ya, memang." Rowelina tak melanjutkan. Melihat bagaimana wajah keruh ibunya sepagi itu menandakan bahwa dia tak ingin berdebat akan sesuatu yang tak terlalu dia sukai. Memilih melanjutkan makan daripada menjadi sasaran kekesalan sang ibu.
"Apakah Corline ada?" Tanpa menengok, sembari terus memotongi daging panggang di atas piring, pertanyaan Klerianna ditujukan kepada setiap pelayan yang berdiri tak jauh dari meja makan.
"Saya, Nyonya." Pria yang dicari pun menghadap. Membungkuk sebagai salam hormat.
"Bagaimana? Kausudah melakukan yang kuminta?"
"Seperti yang Nyonya mau. Saya sudah menyelesaikannya."
"Tidak meninggalkan jejak?"
"Tidak, Nyonya."
"Kalau kaugagal, berikutnya kau yang harus pergi ke alam baka."
"Baik, Nyonya."
Dikibaskannya tangan Klerianna, memberi instruksi agar Corline keluar dari ruang makan.
"Ibu sudah tahu kalau Paman pulang malam tadi?"
Klerianna melirik putri bungsunya. Info baru di pagi mereka yang untuk pertama kali tanpa keberadaan Ryonswald di meja makan. "Pamanmu, Rowelina?"
Gadis itu mengangguk.
"Dia memang harus cepat pulang atau Faksi Permaisuri akan membuat ulah untuk menciptakan cela." Klerianna mendesah heran. "Untuk apa dia sering-sering kemari, sih? Menjalankan misi? Menyuruh tangan kanannya kan juga bisa."
"Menemui gundiknya, tentu saja."
"Kau jangan asal bicara, Rosella."
Gadis yang mendapat sangkalan justru menggerakkan kedua bahu. "Bukankah tidak aneh jika seorang kaisar memiliki satu atau dua gundik? Sewaktu di akademi, aku punya teman yang ibunya jadi gundik di kerajaan tempatnya tinggal."
Klerianna menghela napas. Memang bukan hal aneh jika petinggi sebuah negara memiliki satu atau dua gundik. Ada yang disembunyikan, ada pula yang terang-terangan. Namun, posisi lelaki yang kedua putrinya panggil Paman tidak seharusnya mencari bahkan memiliki gundik simpanan. Takhta bisa diruntuhkan jika kelakuan saudara dekatnya aneh-aneh.
Kepala Klerianna mendadak pening dengan hanya memikirkan si pria tua di takhta kekaisaran.
🌷🌷🌷
Sanae tidak ingin percaya bahwa pemuda yang meminjamkan jubah yang juga menemaninya memeriksa lokasi kebakaran adalah bocah yang dulu pernah dibawanya menunggangi angin melewati batang-batang pohon tertinggi untuk menghindari pengejaran prajurit bayaran. Posturnya telah jauh berbeda, tidak lagi sekecil dan seringkih belasan tahun lalu. Alih-alih Sanae yang membopongnya, justru dialah yang akan mudah dibopong oleh pemuda itu.
Meski tak percaya bahwa mereka benar-benar akan kembali bertemu, Sanae perlu bersyukur bahwa bocah lelaki ringkih yang dibantunya hidup dengan baik. Sangat sehat. Andai boleh Sanae menebak, dia menjelma petarung andal. Terlihat dari bagaimana bentuk tubuh yang terbangun. Bukan sembarangan pemuda.
"Seperti katamu, kita akan bertemu lagi." Seulas senyum tipis diberikan pemuda di hadapan Sanae.
"Padahal malam itu, aku hanya bergurau. Tidak benar-benar yakin akan kembali bertemu denganmu."
"Segalanya mewujud nyata. Langit menakdirkan bahwa kau akan menjadi bagian dari kehidupanku sejak malam itu, Maid-chan."
Sebelah alis Sanae terangkat. "Kautampak sangat senang bertemu denganku, Tuan. Serupa mendapat perhiasan paling mahal dan langka yang baru bisa kautemukan setelah mengeruk ribuan kaki ke dasar tanah."
Dilanjutkannya mengelilingi bekas kebakaran. Tidak ada perabot yang tersisa. Lemari, meja, maupun kursi segalanya telah menjadi arang. Tak ada baju ganti yang bisa Sanae bawa dari rumah maid. Yang lebih parah, tak ada tempat tinggal untuk ke depannya. Meski tak memusingkan urusan pekerjaan, tetap saja. Ketiadaan rumah maid mengharuskannya mampu untuk memulai hidup sendirian. Benar-benar sendirian tanpa omelan ataupun nasihat seorang perempuan tua.
"Aku tentu sangat senang karena diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan gadis yang menyelamatkanku. Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin mayat seorang Rhisiart Hywel sudah mengapung di sungai."
Langkah Sanae kembali berhenti demi mendengar sepotong nama yang terbetik dalam pernyataan si pemuda. Rhisiart Hywel? Di mana aku pernah mendengar nama itu? Hem ... tunggu sebentar ... hem ....
"Kautahu, Maid-chan? Duke pengganti sudah ditunjuk. Langsung oleh Pangeran Iloi yang mewakili istana untuk menghadiri pemakaman Duke Ryonswald." Suara renyah Litiana berdengung di kepala Sanae. "Dia masih sangat muda, Maid-chan. Mungkin seusia kita. Wajahnya tampan, tapi entah kenapa aku merasakan aura yang sangat dingin darinya. Namanya Rhisiart Hywel. Anak dari istri kedua mendiang Duke Ryonswald. Dia memiliki lencana asli Keluarga Hywel. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa menentang penunjukkannya. O, Maid-chan! Kau harus melihatnya! Kau harus melihatnya!"
Jadi, pemuda yang dulunya adalah bocah yang kutolong adalah anak dari istri kedua Duke Tua yang sekarang menjadi Duke Muda Erthura? Takdir Langit membuatku kehabisan kata-kata.
Fajar semakin merangkak naik. Semakin banyak langkah di luar Rumah Maid Bunga Tulip--yang tinggal tembok tanpa atap--terdengar mendekat. Beberapa penduduk yang tak sempat menonton karena terlalu lelap atau teler setelah minum-minum di kedai Distrik Malam Biru baru sempat menengok lokasi kejadian. Satu-dua perempuan dewasa menyayangkan apa yang telah terjadi kepada Elora dan gadis-gadis asuhannya. Mulai membincangkan betapa orang sebaik Elora tidak selayaknya cepat pergi. Beberapa gadis tak menutupi kesedihan. Kesempatan mereka untuk belajar menjadi maid di kota sendiri telah pupus. Hilangnya Rumah Maid Bunga Tulip seperti mencabut satu kesempatan hidup yang lebih baik bagi gadis-gadis tak bertuan meski untuk sekarang masih dalam pengasuhan panti.
Ya, anak-anak di bawah usia delapan tahun tanpa ibu dan ayah memang ditempatkan di sebuah panti agar mereka tidak berkeliaran sembarangan sekaligus terawat. Memasuki usia sembilan tahun, para gadis diizinkan mengambil kelas maid jika ingin mengibarkan karier di bidang pelayanan bangsawan. Beberapa yang tak berminat bisa langsung bekerja di toko-toko sepanjang Distrik Bulan Putih. Sebelum usia mereka lima belas tahun, anak-anak yatim piatu dilarang mendekati Distrik Malam Biru sekalipun tersedia banyak pekerjaan. Begitu pun Distrik Malam Biru, dilarang mengambil anak-anak di bawah umur yang tak bertuan untuk bekerja kepada mereka atau sanksi dari duke harus mereka terima.
Seperti pula Sanae. Dia baru bisa memasuki Distrik Malam Biru setelah berusia lima belas tahun kendati sebelum usia tersebut sudah mampu melayani di rumah bir atau rumah-rumah hiburan lain.
"Kami memang bekerja di dunia malam, Maid-chan. Namun, kebaikan Duke Ryonswald kepada kami membuat kami segan untuk melanggar peraturan. Setelah usiamu lima belas tahun, kembalilah ke sini. Kedai Bir Allan akan menerimamu. Sebelum itu, kami tak bisa. Kau tetaplah bocah, Nak."
Begitulah penolakan yang diterima Sanae saat pertama kali mencari pekerjaan di Distrik Malam Biru.
"Aku akan naik ke atap rumah untuk memeriksa beberapa hal." Sanae mencukupkan penyelidikan di bawah. Dia perlu memeriksa dari ketinggian karena biasanya, ada saja petunjuk penting yang dia temukan. Entahlah. Firasatnya mengatakan dia harus memindai sekitaran Rumah Maid Bunga Tulip dari ketinggian juga. "Mau ikut? Aku bisa membopongmu lagi kalau sampai hari ini kau tak bisa melompati angin."
Cengiran Sanae mengundang jelingan di wajah Rhisiart. "Kau terdengar meremehkanku, Maid-chan."
"Ya, siapa tahu, bukan?" Tak menunggu Rhisiart menyusul, Sanae berpijak pada udara untuk kemudian sampai di salah satu atap rumah yang berhadapan dengan Rumah Maid Bunga Tulip dalam sekali lompatan. Karena solek matahari menuju pukul tujuh terasa menyilaukan, Sanae perlu menudungi sepasang mata besarnya dengan kedua tangan saat memindai ke bawah.
Rhisiart menyusul. Menjadikan undakan demi undakan dari beberapa rumah untuk sampai di samping Sanae. Kendati bertubuh tinggi dan besar, tak ada kesulitan berarti saat Rhisiart melompat. Pemuda itu seringan bulu gagak. Sanae semakin yakin bahwa tubuhnya memang telah diolah untuk menjadi petarung.
Jalanan yang membelah dua distrik Erthura semakin ramai. Gerobak-gerobak yang ditarik kuda mulai bermunculan, sebagian besar menuju Distrik Bulan Putih dengan membawa berbagai barang: sayuran, buah, kain, gentong-gentong acar atau susu, dan segala hal yang bisa diperjualbelikan. Kereta-kereta bangsawan pun melintas. Entah pemiliknya tinggal di Erthura atau dari kota lain yang kebetulan singgah. Gerbang masuk dan keluar kota memang sudah dibuka sejak pukul enam pagi. Obrolan-obrolan mengalir di sepanjang jalan.
Tidak hanya para orang dewasa, tetapi juga anak-anak; memanggul atau menenteng tas untuk kemudian mendatangi bangunan akademi. Anak-anak dengan orang tua berkecukupan bisa memasuki akademi sejak usia tujuh tahun. Menimba pembelajaran dasar selama lima tahun yang akan dilanjut pembelajaran menengah selama tiga tahun lalu pembelajaran tinggi selama empat tahun. Dengan lisensi akademi yang mereka dapat secara legal akan memudahkan mereka memasuki instansi-instansi pemerintahan. Lima tahun tambahan di akademi tingkat khusus bisa membawa mereka ke kursi parlemen lewat jalur profesi yang dipilih.
Sementara bagi anak-anak yang tak sanggup memasuki akademi hanya berakhir menjadi pelayan rumah bangsawan, bekerja di toko-toko distrik, atau yang lebih mengenaskan lagi terciduk penjual budak. Meski telah ada larangan bahwa manusia tidak lagi boleh diperjualbelikan, beberapa yang nakal tak peduli akan aturan. Suap beberapa koin emas maka penyelundupan bisa lolos tanpa halangan. Hal yang diusahakan secara ketat oleh mendiang Duke Erthura agar kota mereka tidak menjadi salah satu jalur penyelundupan perdagangan anak-anak.
"Kau menemukan se--"
Sanae lebih dulu beranjak sebelum Rhisiart menyuarakan pertanyaan. Melompati atap beberapa rumah sampai kemudian berhenti di perbatasan antara Distrik Malam Biru dengan hutan. Rhisiart mengikuti karena menemukan ekspresi Sanae yang keruh tiba-tiba. Mereka mendarat perlahan di ujung jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu kereta kuda. Menuju kedalaman hutan yang Sanae tahu berbatasan dengan Ibu Kota Kekaisaran Celdara.
"Jejak roda kereta." Sanae menunjuk permukaan jalan setapak. Tampak lintasan roda yang hampir hilang. "Kereta beroda besar. Bukan milik penduduk biasa."
Rhisiart berjongkok demi meneliti bentuk lintasan roda. Berpikir takjub akan kejelian mata beriris zaitun dari gadis di sampingnya. Dia sendiri tak akan sanggup mengenali dari jarak dan ketinggian sejauh beberapa rumah sebelum jalan setapak yang mereka diami.
"Kau benar. Penduduk biasa tak akan memiliki roda dengan bunga ban yang dibentuk sedemikian mewah." Meski sangat samar, Rhisiart bisa melihat permukaan jalan setapak mendapat tekanan berupa uliran bunga ban yang sangat rumit.
"Kereta bangsawan kelas atas. Bisa jadi juga, milik kalangan pemerintahan istana. Kereta kekaisaran."
Angin pagi pertengahan kemarau di Erthura membawa gigil yang mengepulkan debu di sekitar mereka.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar