🌷🌷🌷
Rumah Maid Bunga Tulip terletak di ujung perbatasan antara Distrik Orang Timur dengan Distrik Malam Biru. Berdiri sejak tahun kedua Duke Ryonswald Hywel berkuasa. Dijadikan tempat menimba ilmu bagi gadis-gadis yang nantinya dipilih oleh para bangsawan untuk melayani mereka. Diperbolehkan mendiami Rumah Maid Bunga Tulip sejak usia delapan tahun dan akan mulai dipilih menjadi maid bangsawan saat berusia lima belas tahun.
Gadis-gadis di dalam rumah maid mendapat banyak pengajaran terkait pelayanan kepada bangsawan. Membersihkan mansion, mengurusi perpustakaan, mengurusi makanan sampai pakaian, menyiapkan kamar sehingga siap kapan pun dihuni, meracik dan menyeduh teh atau kopi, dan sederet pekerjaan pelayan lainnya. Kepala rumah maid akan mendoktrin para gadis untuk memiliki wibawa, integritas, serta kesetiaan kepada bangsawan yang mengambil mereka. Selaras dengan makna bunga tulip yang menjadi lambang bagi rumah maid kelolaan Elora Wilstein. Bahwa gadis-gadis yang keluar dari rumah maid diharapkan mendapat kehidupan baru lewat cinta dan belas kasih bangsawan yang mengambil mereka. Kehidupan yang sebagian besar tidak mereka dapatkan sebelum memasuki rumah maid.
Kebanyakan gadis yang memasuki rumah maid merupakan anak-anak yatim piatu. Melihat bahwa para gadis cilik dapat saja menjadi sasaran kejahatan karena tak ada orang dewasa yang melindungi, mendorong Elora untuk menjadikan rumah besarnya sebagai rumah tempat para gadis yatim piatu mempersiapkan diri menyambut hidup yang lebih layak. Sebagai salah satu bangsawan kelas tinggi di Erthura, nama Elora menjadi kian tersohor setelah mencetuskan dan mengajukan pendirian rumah maid kepada Duke Ryonswald. Segera disetujui tanpa syarat dan ketentuan merepotkan sehingga rumah besar Elora bisa segera dijadikan sekolah khusus maid.
Selain karena keibaannya atas gadis-gadis tanpa kerabat, Elora menjadikan rumah besarnya sebagai hunian calon maid agar dirinya tak lagi sendirian. Terlalu lapang sekaligus sepi rumah yang dia bangun dengan mendiang suaminya jika hanya dihuni sendiri. Dia tak bedanya dengan gadis-gadis yatim piatu. Tak bersuami, tak beranak, sedangkan kerabat yang masih hidup justru tinggal jauh dari Erthura.
Dia mengikuti mendiang suaminya yang merupakan kapten prajurit Ibu Kota Kekaisaran Celdara di mana jarak antara Kota Erthura dan Ibu Kota Kekaisaran tidaklah cukup jauh bila dibanding Elora memilih tinggal dekat dengan kerabat lain. Walaupun bertugas di Ibu Kota, Elora meminta agar kediaman mereka tidak dibangun di jantung kota. Pilih kota lain yang masih terjangkau jarak sehingga suaminya bisa bolak-balik tanpa perlu menempuh perjalanan panjang nan lama. Maka Erthura-lah yang mereka pilih untuk membangun rumah besar itu.
Hidup Elora menjadi lebih berwarna setelah menjadikan kediamannya sebagai sekolah calon maid. Menjadi lebih baik-baik saja kendati tidak lagi berdampingan dengan sang suami. Mengajari banyak hal yang dia tahu kepada gadis-gadis itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Meski usianya telah menginjak hampir kepala enam, Elora terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usia seharusnya.
"Coba saja Nyonya bandingkan wajah Nyonya dengan Nyonya Duchess. Aku berani bertaruh bahwa wajah Nyonya jauh lebih muda dibanding Duchess Klerianna."
"Kau jangan mengada-ada, Sanae. Cepat selesaikan tugasmu! Kau memujiku hanya agar aku melonggarkan tugasmu, bukan?"
Gadis dengan rambut sewarna kulit buah zaitun tertawa. Tak bisa menampik. Membuat Elora mengendurkan aturan adalah kegiatannya sehari-hari meski tidak pernah berhasil. Elora adalah wanita tua yang sangat berprinsip. Sekali dia membuat aturan, para gadis di rumahnya harus mematuhi. Tidak ada pengecualian.
Namun, segalanya telah menghilang bersama leburnya kayu-kayu rumah menjadi arang. Tidak akan ada lagi ocehan Elora setiap pagi kala membangunkan para gadis. Tidak akan ada lagi nasihat Elora saat jemputan bangsawan untuk gadis-gadis pilihan mulai datang. Tidak akan ada lagi yang menjewer telinga gadis berambut sewarna kulit buah zaitun akibat seringnya berkeliaran pada saat seharusnya melahap pembelajaran. Tidak akan ada lagi sarapan yang menghangatkan meja makan mereka.
Tidak akan ada lagi ....
Dia hanya bisa terduduk menatapi hamparan arang saat fajar menyingsing di kaki bukit. Kepul asap tak hanya menguarkan aroma kayu atau tembok, tetapi juga daging terbakar. Lewat bau yang terbawa angin pagi musim kemarau, dia tahu bahwa penghuni Rumah Maid Bunga Tulip tak ada yang tersisa. Tak satu pun selamat.
Sepotong jubah dijatuhkan dengan lembut oleh seseorang untuk melapisi pakaian pelayannya. Angin musim kemarau saat fajar terasa menggigilkan. Tidak peduli di depan mereka terhampar bekas pembakaran, hangatnya tak mampu menyentuh seorang gadis yang kehilangan banyak hal. Dia biarkan gadis itu menatapi lebih lama bangunan di dalam pagar yang hampir rata dengan tanah. Tersisa beberapa tembok yang sebagian besar menghangus. Puluhan ember air yang dibawa para penduduk tak sanggup meredam amukan si jago merah.
"Kau mau menyisiri bekas kebakarannya, Maid-chan?"
Hari masih harus berlanjut. Tidak lagi bisa membantu apa pun membuat sebagian besar penduduk memilih beranjak. Mereka telah melaporkan tragedi kebakaran dini hari itu kepada pihak berwenang. Kepolisian wilayah seharusnya sudah memproses bahkan mengadukan kepada duke terbaru. Namun, dari puluhan penduduk yang berusaha memadamkan api di Rumah Maid Bunga Tulip, tak satu pun menyadari bahwa petinggi kota telah bergabung dengan mereka. Bergegas mendatangi lokasi kejadian perkara saat seorang bocah lelaki melaporkan adanya kasus kebakaran di perbatasan Distrik Orang Timur dan Distrik Malam Biru. Tidak jadi menemani kawan sekamarnya untuk melelap.
Suka tidak suka, sembari menahan gemetar dan kesedihan, gadis berjubah bangkit. Menatap sedemikian lama pada gerbang hitam yang tingginya dua kali lipat dari tinggi kebanyakan orang dewasa di Erthura. Gerbang yang setiap malam hanya bisa dia lompati agar Elora tak mencium gelagat kaburnya demi bergabung dalam misi Orhamel.
"Kau bisa tinggalkan aku, Tuan. Tidak perlu menemaniku. Aku ... baik-baik saja." Sanae mulai melangkah. Tak peduli akan respons dari sosok yang sejak kedatangannya memilih berdiri satu langkah di belakang.
"Tidak. Tidak untuk kali ini aku pergi meninggalkanmu, Maid-chan. Akan kutemani kau ke dalam."
Ada keanehan dalam tanggapan yang diberikan sosok bersuara lelaki di belakangnya. Menarik rasa ingin tahu sehingga alih-alih melanjutkan langkah, dia terdiam lantas berbalik. Didapatinya sosok pemuda bertubuh tinggi lagi kekar dengan pakaian khas kaum bangsawan. Rambut hitam legamnya tersiram lineria fajar; Terpangkas rapi setengkuk; Lurus dengan belahan yang agak ke kanan.
"Kau ... siapa?" Dia yakin belum pernah melihat tampang pemuda yang berdiri di hadapannya.
Basuhan matahari pagi menampilkan sosok utuh gadis berpakaian pelayan yang kini mengenakan jubahnya. Seperti hal dirinya yang banyak berubah, gadis berpakaian pelayan di depannya pun mengalami banyak perubahan. Wajah kekanakan yang tirus telah menjelma sebentuk paras dengan pipi lebih menggembung. Posturnya telah jauh lebih tinggi dan kokoh. Tidak diceritakan pun dia tahu bahwa gadis yang memiliki sepasang mata besar beriris hijau zaitun adalah seorang petarung. Satu yang tak berubah adalah kalung pas leher dengan liontin berbentuk bunga tulip. Kalung yang juga dia pakai pada malam di pinggiran hutan Ibu Kota.
"Kita akan bicarakan itu nanti, Maid-chan. Ada baiknya, kita memeriksa lebih dulu lokasi kebakaran. Tentu kauingin menemukan sesuatu, bukan?"
Pemuda itu benar. Aku harus memeriksa bekas kebakaran untuk tahu penyebab api melalap habis kediaman kami. Hanya saja, kenapa rasanya tak asing melihat pemuda ini? Pernahkah kami bertemu sebelumnya?
Sepasang bahunya bergerak bersamaan. Nanti-nanti saja akan dia pikirkan. Yang harus diselesaikan adalah mencari tahu penyebab kebakaran di Rumah Maid Bunga Tulip. Dia perlu tahu sehingga dugaan-dugaan buruk tak kadung bersemayam dalam kepala.
Beberapa polisi wilayah menyusul datang. Satu di antaranya mencegat langkah pemuda yang memberi jubah. Membiarkan Sanae masuk lebih dulu. Membiarkannya memeriksa ruangan demi ruangan; berharap bahwa tersisa keajaiban di mana tak semua dari mereka lenyap. Sialnya, yang Sanae temukan adalah beberapa kerangka manusia. Entah seberapa lama dan seberapa hebatnya kebakaran yang terjadi sampai-sampai tak satu pun dari mereka sempat menyelamatkan diri.
Terlalu lelapkah? Beberapa kerangka yang Sanae temukan tampak berbaris dalam posisi tidur. Sanae tahu bahwa lantai yang dia pijak adalah sebuah kamar. Beberapa gadis pelayan menghuni kamar tersebut.
Angin pagi berembus lebih kencang. Menerbangkan abu sisa kebakaran. Menguak aroma-aroma yang tersembunyi oleh sejuk embun beberapa jam lalu.
Minyak tanah?
Hidung Sanae bergerak-gerak. Meraup udara. Mengendusi aroma samar yang familier. Tanpa sadar, langkahnya berpindah-pindah. Terkadang ke sisi dinding di mana bekas jendela pernah terpasang. Terkadang ke sisa-sisa kosen pintu. Semakin ditelusuri, Sanae yakin jika hidungnya tak berbohong. Dia menemukan aroma minyak tanah tersebar ke seantero rumah.
"Menemukan sesuatu?" Pemuda yang memberinya jubah kembali datang.
"Meski sangat samar, aku bisa mencium aroma minyak tanah."
"Kalian menggunakan minyak tanah?"
Sanae menggeleng. "Rumah kami tidak menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. Jika untuk memasak, kami memakai kayu bakar. Untuk lampu, kami menggunakan minyak nabati dan minyak zaitun. Tidak pernah minyak tanah."
"Cukup aneh."
Mendapat jeda untuk berpikir, Sanae memperhatikan lamat-lamat pemuda yang mengusap-usap dagu di depannya. Semakin ditatap membuat Sanae yakin bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Terlebih, cara pemuda itu memperlakukan Sanae seolah bukan kepada orang asing.
Rambut selegam arang. Sepasang mata yang juga hitam berbentuk almon utuh. Tidak banyak di Erthura yang memiliki rambut hitam selegam arang. Tidak jika dia penduduk asli Erthura. Namun, jika dia percampuran dengan orang dari Distrik Orang Timur ... bukankah dia sangat mirip dengan Bibi?
Sekelebat memori muncul di kepala Sanae. Malam tanpa bulan. Seorang bocah lelaki meringkuk di sela tumpukan peti bekas dan tembok buntu sebuah lorong di Distrik Malam Biru. Sekelompok prajurit yang mencari keberadaan seorang bocah lelaki. Saputangan dengan lambang serigala dalam perisai diapit dua pedang berlainan arah.
"Kau ...."
Suara Sanae menarik perhatian pemuda di depannya.
"Ya?"
"Kau bocah laki-laki yang tidak bisa terbang itu, 'kan?"
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar