🌷🌷🌷
"Kau tidak tinggal dengan Duchess dan anak-anaknya?"
Rhisiart menggelengi pertanyaan Sanae.
"Kenapa? Bukankah kau berhak tinggal di kediaman mendiang Duke Ryonswald? Selain karena dia ayahmu, mansion itu dibangun untuk kepentingan kepemimpinan duke. Karena kau duke pengganti, tidak akan masalah kautinggal dengan mereka."
"Aku ingin melepas segala hal yang berkaitan dengan Ayah. Terdengar kurang ajar, ya?"
Sanae tak langsung menjawab. Mencari-cari dalam kepalanya pilihan kalimat yang terdengar bijaksana. "Tidak juga. Sebagai anak lelaki, memang sangat wajar jika ingin terlepas dari pengaruh orang tua."
"Lagi pula, aku tak bisa tinggal dengan orang-orang yang cenderung membenciku."
"Mereka membencimu? Wah ...."
"Kau mau tinggal bersamaku, Maid-chan?"
"Hah? Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Kau tak punya rumah sekarang karena kediaman Nyonya Elora telah hampir rata dengan tanah, sedangkan aku membutuhkan seseorang yang kukenal untuk bisa membantu kepemimpinanku sebagai duke baru. Kau orang yang tepat, Maid-chan."
"Heh?" Dia ini seperti tidak memiliki radar kekhawatiran. Sekalipun saling kenal, bukan berarti kami akrab. Bertemu saja baru dua kali dengan obrolan yang ke mana-mana; tidak jelas. Bisa-bisanya dia mengajakku untuk tinggal bersama. Dia bodohkah?
Namun, Sanae tak bisa meninggalkan dia begitu saja saat menyinggung mansion di atas bukit dekat Menara Lonceng. Alih-alih menunggu Iloi bangun dan sadar dari pengar setelah mabuk, Rhisiart mengajak Sanae untuk mencari tahu pemilik tanah dan bangunan mansion tersebut. Berhubung Sanae lahir dan besar di Erthura, jejak koneksinya pasti lebih cepat dalam mewujudkan keinginan Rhisiart.
Di sanalah mereka berada. Berdiri di depan gerbang yang lebih tinggi dari gerbang Rumah Maid Bunga Tulip. Menghadap bangunan mansion yang tidak terawat selama hampir belasan tahun. Ditinggalkan pemilik sebelumnya yang pindah ke kota lain. Dimutasi akibat tidak becus menjadi pegawai pemerintahan daerah. Keinginan Sanae untuk mencari penginapan sementara karena belum tahu ingin tinggal di mana pun terpaksa ditunda.
Rumput liar meninggi di mana-mana. Tanaman rambat menghiasi dinding. Menjalar hingga nyaris menyentuh atap. Dindingnya dipenuhi lumut dan jamur. Dedaunan kering berserakan. Tanaman berbunga sekarat; daun dan batangnya tercekik kekurangan air dan pupuk. Sanae menyesalkan dalam hati bahwa bangunan sebegitu megah bisa sangat memprihatikan dalam waktu singkat karena tidak dihuni. Dia bisa membayangkan sekacau apa di balik dinding mansion: lembap, apak, dan berdebu tebal. Membersihkannya tak bisa hanya dengan satu maid.
Saat Rhisiart mengajak Sanae masuk, dikeluarkannya selembar saputangan lantas digunakan untuk melindungi hidung dan mulut. Saputangan yang berhasil menarik perhatian Rhisiart.
"Kau masih menyimpannya, Maid-chan?" Ada gelenyar aneh yang timbul perlahan di dada Rhisiart ketika menyadari bahwa pemberiannya kepada seorang gadis masih disimpan dengan baik bahkan dibawa ke mana-mana.
"Tidak ada alasan untukku membuangnya. Selain hasil sulamannya sangat cantik, aku bisa membawanya ke mana-mana untuk menutupi wajah bila diperlukan. Tidak terlalu lebar sehingga muat disimpan di saku celemek."
"Ibu yang menjahitnya sendiri. Tangannya sangat terampil untuk hal-hal semacam itu."
"O ...."
Sanae meringis saat Rhisiart mendorong perlahan pintu ganda mansion yang menciptakan jeritan engsel memekakan. Jelas sekali tak sering diminyaki sehingga mudah berkarat. Banyak hal yang harus dibenahi jika Rhisiart ingin tinggal di sana.
"Kenapa kau tertarik dengan tempat seperti ini, sih? Lihat! Meski tidak terlihat bobrok, sebagian besar bangunan ini harus dibenahi. Engsel pintu dan jendela harus diganti karena termakan karat. Kosen dan daun pintu maupun jendela pun beberapa di antaranya termakan rayap. Sebagai seorang bangsawan, kau bisa menemukan bangunan yang lebih bersih, indah, megah, dan terawat secara rutin. Bukan yang ditinggalkan begini." Meski sering membolos kelas maid, bukan berarti Sanae tidak tahu-menahu soal pelayanan rumah. Dia cukup ahli bersih-bersih. Cukup bisa memasak walau Elora merasa lebih aman menyerahkan tugas mengolah makanan kepada Zeimora atau gadis lainnya. Bekal Sanae untuk menilai rumah layak huni atau tidak bisa dikatakan cukup dan Sanae akan memberi nilai bahwa mansion lirikan Rhisiart sangatlah buruk.
"Aku suka tinggal di ketinggian. Akan mudah mengawasi Erthura dari sini. Dan, ya, faktor paling penting adalah tidak berada di kepadatan distrik. Memiliki halaman sangat luas sehingga aku bisa memanfaatkannya untuk kebun pribadi."
"Seperti yang kau akan punya banyak waktu saja untuk berkebun, Duke Muda."
Mereka di sana sampai menjelang makan siang. Sanae tak bisa menghentikan tekad Rhisiart untuk mendapatkan bangunan di samping Menara Lonceng. Tidak karena Rhisiart memiliki cukup koin emas untuk ditukarkan dengan si mansion.
Setelah menimbang bahwa lebih banyak keuntungan jika memenuhi tawaran Rhisiart, Sanae menyetujui bahwa dia bersedia tinggal dengannya. Menjadi pelayan yang dikhususkan mengurusi Rhisiart.
"Hanya mengurusimu?"
"Hanya mengurusiku."
"Lalu, siapa yang akan mengurusi hunianmu, heh?"
"Bisa kaubantu aku mendapat beberapa pelayan lagi yang terpercaya? Ah, ya. Sebelum lupa. Kau tidak perlu lagi bekerja di Kedai Bir Allan setelah menjadi pelayan khususku."
"Baiklah, Duke Muda." Sanae menurut. Lagi pula, siapa yang mau bekerja di banyak tempat jika satu tempat saja sudah memberi banyak koin? Aku bukan yang gila-gila amat dalam bekerja.
🌷🌷🌷
Iloi memicing saat menemukan Rhisiart kembali tak sendiri. Seorang gadis berpakaian khas pelayan berdiri di belakangnya; membungkuk hormat karena tahu siapa yang satu kamar penginapan dengan Rhisiart.
"Lengah sedikit, kau sudah jalan-jalan lalu membawa pulang seorang gadis. Begitukah caramu menebar pesona, Duke Muda?"
"Aku bukan kau yang membawa gadis ke kamar untuk ditiduri."
"Wah! Kau sangat kurang ajar menuduh pangeran kekaisaran tempatmu tinggal berbuat sebegitu mesum, Bung." Iloi tak pernah benar-benar tersinggung meski selorohan Rhisiart sangat menyakitkan dan tidak sesuai fakta. "Aku memang sering berbincang dengan gadis-gadis, tetapi tidak sampai membawanya tidur bersama."
"Sampai kau melakukannya, Permaisuri sendiri yang akan menggantungmu hidup-hidup."
Membiarkan dua pemuda di depannya berbalas ejekan, Sanae tertarik dengan gulungan kertas di atas meja dekat jendela kamar penginapan mereka. Mengulum senyum sekaligus memuji dalam hati bahwa rekan 'merampok'-nya selalu bisa diandalkan untuk memenuhi tugas.
Hal yang kemudian menjadi pembahasan Iloi. Terbangun tanpa Rhisiart, dia justru menemukan gulungan kertas berisi surat pernyataan seorang bangsawan yang mengakui telah melakukan tindak korupsi. Bersedia menerima pemeriksaan resmi atas kekayaan yang dimiliki. Mereka membahasnya dalam sesi minum teh ditemani beberapa potong roti daging.
"Hm ... boleh aku berkomentar?" Iloi mengangkat cangkir teh miliknya. "Apakah rasa teh di kota ini memang begini atau lidahku saja yang masih pengar? Terasa agak ... aneh." Ditatapinya Sanae yang memang diberi tugas menyajikan teh; meracik sendiri dengan memanfaatkan tungku kecil dan tetek bengek pertehan yang disediakan penginapan kelas satu di Distrik Orang Timur.
"Lidahmu masih pengar, Pangeran. Tidak ada yang aneh dengan tehnya." Sanae menggerakkan kedua bahu. Tidak ambil pusing dengan protesan Iloi yang tentu saja lebih dari mampu untuk membedakan rasa teh yang benar dan tidak.
"Begitukah? Kalau lidahku yang bermasalah, kenapa rasa roti dagingnya enak-enak saja?"
Rhisiart perlu menahan tawa. Tidak ambil pusing. Dalam perjalanan pulang ke penginapan, Sanae telah memberi tahu beberapa hal jika dirinya tetap diinginkan untuk menjadi pelayan khusus di hunian Rhisiart.
"Jujur saja, aku tidak cakap dalam meracik teh atau kopi. Aku juga tidak pandai memasak. Tak masalahlah kalau untuk bersih-bersih."
"Bertahun-tahun kau di rumah maid, apa yang kau pelajari, Maid-chan?"
"Aku lebih sering kabur untuk belajar bela diri daripada mendengarkan ocehan Nyonya Elora." Sanae menggerakkan kedua bahu. Acuh tak acuh dengan pandangan Rhisiart nanti.
Kendati melihat sendiri bagaimana tak cakapnya Sanae melakukan pekerjaan pertama sebagai maid untuknya, Rhisiart tak masalah. Tidak sama sekali karena yang dia butuhkan dari Sanae bukan seberapa dia pandai bersih-bersih lantai dan tembok atau menyiapkan makanan dan teh, tetapi kemampuan Sanae dalam bertarung. Memang, Rhisiart belum melihat kemampuan sebenarnya dari Sanae. Bagaimana kepandaiannya menggunakan shuriken, kunai, maupun pisau buah belum tertangkap mata, tetapi yang terjadi saat mereka belasan tahun demi menghindari kejaran prajurit bayaran telah lebih dari cukup bahwa Rhisiart menginginkan Sanae bersamanya.
"Aku tidak tahu harus mengatakan kau sial atau beruntung, Rhisiart." Iloi berkomentar setelah mendengar rincian kasus yang dibawa Rhisiart. "Kaupindah baru kemarin dan sudah dihadapkan oleh terbakarnya rumah maid serta munculnya gulungan berisi pernyataan bangsawan korup. Kupikir, kota ini memiliki banyak hal yang harus dibenahi."
"Yang belum bisa dibenahi oleh duke sebelumnya, entah mengapa." Sepasang mata almon Rhisiart menjadikan langit siang dari jendela kamar penginapan sebagai objek tatapan.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar