🌷🌷🌷
Hampir fajar saat mereka keluar lebih dulu dari Kedai Bir Allan. Membiarkan Orhamel dan belasan anak buahnya menggeletak sembarangan di lantai kedai sehingga Litiana dan Menma menggerutu sepanjang waktu. Memprotes berkali-kali kepada tuan mereka agar kelompok bandit itu dikeluarkan paksa sehingga tidak memenuhi lantai.
"Biarkan saja. Setelah kesadaran mereka kembali, mereka akan pergi dengan sendirinya. Biarkan mereka tetap di sana, Litiana, Menma."
"Artinya, kau yang urus mereka, Tuan Allan. Aku dan Lity akan pulang setelah memberesi bar dan dapur."
Omelan Menma dihargai tawa keras Allan. Dikibas-kibaskannya tangan sebagai tanda agar mereka tak sungkan pulang duluan. Toh, jam kerja mereka memang telah habis. Mengurusi orang-orang teler tidak ada dalam dokumen perjanjian kerja sehingga mereka memang tidak berkeharusan mengurusi Orhamel dan anak buahnya.
Berbeda dengan Orhamel dan anak-anak Bandit Pedang Hitam yang teler setelah bergelas-gelas bir mereka tenggak demi memenuhi tantangannya, Rhisiart mampu menjaga kesadaran. Masih mampu berjalan tegak walau wajahnya memerah serta serdawanya keluar berkali-kali sepanjang bersisian langkah dengan Sanae menuju mansion. Cukup membuat takjub Sanae karena ada yang mampu menyaingi ketangguhan Orhamel dalam menenggak bir.
"Kau sangat tidak bisa dicegah jika sudah bertekad akan sesuatu, Duke Muda." Mengusir jenuh, Sanae menghidupkan obrolan di sela-sela melakukan peregangan tubuh. Meski tidak terlibat baku hantam secara langsung saat 'merampok', beberapa bagian lengannya terasa pegal dan nyeri. Dia mulai memikirkan untuk membenahi saluran air di kamar mandi pribadinya agar bisa mengeluarkan air hangat sehingga tidak lagi perlu repot menunggu rebusan air saat ingin mandi air hangat demi merelaksasi tubuh. Atau, dia pergi saja ke pemandian air hangat yang ada di Distrik Orang Timur? Sedang Sanae pikirkan.
"Aku merasa beruntung karena telah digembleng untuk tahan arak oleh pamanku." Serdawa lagi-lagi keluar dari mulut Rhisiart. "Kautahu, Maid-chan? Jika anak lain baru dibolehkan meminum arak saat usia mereka 18 tahun, pamanku sudah mencekokiku dengan anggur sejak usia 12 tahun. Tanpa sepengetahuan Bibi, Paman mengajariku untuk tahan banting dengan alkohol. Rupanya, kemampuan ini bisa sangat berharga."
"Pamanmu sungguh bukan orang biasa, Duke Muda. Kuharap, hanya kau yang melakukannya. Sungguh tidak patut ditiru." Sanae sampai geleng-geleng demi membayangkan bagaimana tidak warasnya seorang lelaki dewasa yang menyuruh bocah seusia Hakaza untuk minum anggur. Dia sangat tahu seberapa besar kadar alkohol dalam anggur. Diminum oleh seorang bocah tak berpengalaman tentulah sanggup membuat teler walau hanya satu tegukan.
Bulan menggantung separuh bertemankan belasan gugus bintang di berbagai penjuru Erthura. Satu yang paling terang, berpijar di langit bagian utara. Orang-orang di Kekaisaran Celdara menyebutnya sebagai Bintang Zeria. Bintang yang terangnya akan sangat terlihat hanya dengan mata telanjang sejak bulan kelima sampai bulan kedelapan dari kalender Kekaisaran Celdara. Bintang yang menjadi penanda datangnya musim kemarau.
"Kenapa kau tidak minum tadi?" Lagi, untuk kesekian kali, serdawa menjadi salah satu musik latar yang menemani perjalanan pulang dari gadis pelayan dan tuannya yang setengah mabuk. "Aku yakin, usiamu lebih dari cukup untuk menenggak bir."
"Berjaga-jaga." Tanggap tangan Sanae menahan tubuh Rhisiart yang hampir tersungkur karena tersandung batu. "Kalau aku minum lalu ikutan teler, siapa yang akan mengawasimu, Duke Muda? Seperti tadi, misalnya. Kalau aku teler juga, tidak ada yang bisa menolongmu kalau tersungkur di tengah jalan. Yang ada, kau dan aku sama-sama merusuh sepanjang jalan pulang ke mansion."
"Ah, benar. Kau selalu lebih waspada. Aku selalu tahu bahwa membawamu ke mansion-ku akan selalu menguntungkan."
Dua pertiga perjalanan pulang dan Sanae semakin yakin bahwa efek bergelas-gelas bir dengan alkohol tingkat tinggi mulai bereaksi. Barangkali, bukan tidak bisa mabuk si tuan duke yang berjalan di sampingnya. Bisa, sangat bisa, tetapi efeknya akan lambat terasa. Jika Orhamel sudah bisa teler setelah menenggak gelas bir kesepuluhnya, Rhisiart baru akan benar-benar mabuk setelah menandaskan gelas bir yang kelima belas. Jika mereka sama-sama menenggak sepuluh gelas bir, Rhisiart baru akan mabuk tiga puluh sampai satu jam setelahnya.
Jalanan Erthura terhitung sunyi malam itu. Bahkan, Distrik Malam Biru yang terkenal paling ramai saat malam hari pun, untuk malam itu tidak cukup ramai dibanding malam-malam sebelumnya. Barangkali, dinginnya udara pada pertengahan musim kemarau setiap dini hari menjadi penyebab penduduk Erthura lebih memilih menghangatkan tubuh di bawah selimut alih-alih berkeliaran dengan kondisi mabuk.
Hampir mereka meninggalkan kawasan distrik saat keributan terjadi di sebuah rumah. Rumah lusuh dengan beberapa pengawal pribadi yang berjaga di luar. Sanae bisa pastikan bahwa yang menggerebek rumah tersebut adalah pengawal pribadi karena mereka tak memakai zirah dengan lambang Kota Erthura.
"Kalian yang seharusnya membayar kami! Sudah berminggu-minggu sejak panen gandum dan kalian belum memberikan upah yang layak padahal karung-karung gandum di gudang telah mulai dijual. Kalian yang tidak mematuhi kesepakatan!"
Didengarnya teriakan lelaki dewasa dari dalam rumah yang dikepung pengawal pribadi entah dari bangsawan mana.
"Dasar makhluk rendahan! Tidak tahu berterima kasih!" Menyusul suara 'duk' keras yang terdengar sampai ke tempat Sanae dan Rhisiart berdiri. "Kalau kau masih menagih upah, kau harus pergi dari rumah ini! Tuan yang memberikan rumah ini asal kauingat!"
"Aku menyewanya! Tidak menerima cuma-cuma!"
Sanae menghela napas. Dia berharap, sisa harinya berjalan damai, tenang, dan tidak lagi terlibat perseteruan apa pun. Namun, yang disuguhkan sisa malam di hadapannya tak bisa terabaikan begitu saja. Belum lagi, suara rengekan perempuan di dalam rumah yang mengeluh bahwa perutnya semakin sakit serta kepala bayi yang semakin mendekati jalan lahir. Situasi yang dia lihat, jelas-jelas dalam kondisi genting.
Sementara partner yang berjalan bersamanya tak lagi bisa diandalkan. Semakin teler setelah berjam-jam lalu menenggak belasan gelas bir. Jangankan untuk melawan pengawal-pengawal pribadi, untuk melangkah saja sudah sempoyongan. Entah dia sadar atau tidak bahwa tak kurang dari lima meter di hadapannya tengah terjadi huru-hara.
"Kautunggu di sini, Duke Muda. Aku harus membereskan sesuatu." Dibawanya Rhisiart duduk di salah satu bangku panjang di pinggir jalan.
"Memberesi ... apa? Ruangan di mansion? Apakah ... kita sudah sampai di rumah, Maid-chan?"
Perlu Sanae menahan tawa demi mendengar ceracauan sang tuan. Mengoceh dengan mata setengah terpejam. Bisa-bisanya dia masih sanggup berjalan. Sudah benar keputusan Sanae untuk tidak berlebihan minum malam itu.
"Kau baik-baik di sini, Duke Muda. Jangan ke mana-mana, oke? Kaupaham, bukan?"
"Ya, ya, ya." Dia mengangguk-angguk asal sembari mengibas-ngibaskan tangan ke udara.
Sanae beranjak. Mendatangi rumah lusuh yang dikepung pengawal pribadi. Mencoba bernegosiasi sehingga tidak perlu adanya pertarungan. Namun, kekeraskepalaan dan kesokberkuasaan kepala pengawal membuat Sanae memuntahkan kemurkaan. Tidak sampai sepuluh menit, dia berhasil menumbangkan seluruh pengawal yang ditugaskan untuk mengganggu ketenangan keluarga miskin itu.
"N-Nona, k-kumohon! Kumohon tolong istriku, Nona. D-dia ... di-dia sudah ingin melahirkan." Bersimpuh lelaki yang barangkali hanya beberapa tahun lebih tua dari Rhisiart sembari menangkup kedua tangan ke hadapan Sanae. Kentara wajahnya begitu khawatir setiap kali mengalihkan tatapan dari Sanae kepada perempuan dengan perut yang sangat buncit.
"Kaubawa ke tabib. Bukankah dia mau melahirkan?" Jeri Sanae demi melihat wajah kesakitan si perempuan berperut buncit. Teringat sebuah momen pembelajaran yang diberikan Elora bertahun-tahun lalu tentang pelayan yang harus bisa membantu proses persalinan nyonya rumah. Meski sudah ada tabib khusus persalinan, seorang pelayan tetap harus memiliki keterampilan semacam itu demi kondisi-kondisi yang barangkali tak sempat memanggil tabib.
"Tabib khusus persalinan di kota ini sedang tidak ada, Nona. Aku tidak tahu lagi harus membawa istriku ke mana. Tolonglah, Nona! Kudengar, seorang pelayan pun bisa membantu persalinan. Aku ... aku akan membayar berapa pun, bahkan sekalipun dengan nyawaku, asal Nona mau membantu persalinan istriku."
Sanae menghela napas. Memperhatikan si lelaki pemilik rumah lusuh dari ujung kaki sampai puncak kepala. Berpindah kemudian kepada perempuan berperut buncit yang terus mengerang kesakitan. Apa boleh buat? Tak acuh dengan kesusahan orang lain tepat di depan matanya bukanlah kebiasaan Sanae. Terlebih ... membantu persalinan, walau dia sendiri cukup jeri--bahkan jika boleh meminta kepada Langit, dia ingin dihindarkan dari membantu persalinan seorang nyonya--mau tak mau harus dilakukan malam itu.
"Aku akan membawanya ke mansion kami." Sanae beranjak. Mendekati si perempuan buncit lantas membopongnya dengan begitu mudah; memberi isyarat agar lelaki itu mengikuti langkahnya. Mereka menghampiri Rhisiart yang mulai terkantuk-kantuk sembari duduk. "Selagi aku membopong istrimu, tolong kaubantu tuan ini untuk berjalan. Kautahu mansion di dekat Menara Lonceng, bukan?"
Lelaki itu mengangguk-angguk.
"Nah, bergegas!" Menggunakan kemampuannya mengolah tenaga dalam sehingga mampu mengendalikan angin, Sanae melompati atap-atap rumah di sepanjang Distrik Malam Biru dan Distrik Bulan Putih. Akan lebih cepat sampai ke mansion dengan cara seperti itu alih-alih berjalan biasa. Sekejap saja mereka meninggalkan si lelaki lusuh dan Rhisiart.
🌷🌷🌷
Tangis bayi memenuhi sudut-sudut mansion, tepat saat matahari mengintip di balik batang-batang pohon. Melegakan Sanae dan dua maid di mansion mereka yang beberapa jam lalu terpaksa dibangunkan agar bisa membantu selama proses persalinan berlangsung. Andai boleh jujur, Sanae lebih memilih menghadapi ratusan pemanah alih-alih membantu proses persalinan seorang nyonya. Salah langkah, dia bisa mengirim nyawa tak berdosa ke alam baka; memupuskan harapan sepasang orang tua yang telah menunggu datangnya buah hati berbulan-bulan dengan berbagai drama kehamilan yang merepotkan.
"Kalian urus sisanya, Orphelia, Orphana. Aku ... butuh beristirahat." Tersaruk-saruk Sanae keluar dari kamar persalinan; menjadikan dinding sebagai pegangan setiap melangkah. Rasanya, kedua kaki seperti jeli yang bisa goyah bahkan lebur kapan saja. Dia ... barangkali mengalami sedikit trauma demi melihat proses muncul seorang bayi--perlahan-lahan dari kepala sampai kaki dengan sesekali bertemankan erangan kesakitan si ibu.
"Serahkan kepada kami, Nona Maid-chan. Meski budak, kami pernah mendapat pembelajaran tentang mengurusi bayi baru lahir." Alih-alih sungkan, Orphelia justru menyambut antusias. Terselip harapan bahwa pasangan ibu dan ayah baru itu bisa diizinkan tinggal lama di mansion mereka sehingga Orphelia bisa berpuas diri mengurusi seorang bayi lucu nan menggemaskan.
"Ya, lakukan apa pun yang bisa kalian lakukan, Nona-nona. Aku ... sudah tidak sanggup." Kepalanya berdenyut. Sepasang matanya mulai memburam. Dia hampir tersungkur saat seseorang berhasil menangkap tubuh Sanae. "Duke ... Muda?"
"Kerja bagus, Maid-chan." Senyum Rhisiart mengembang. Wajahnya telah lebih segar. Jejak mabuk seolah berhasil diempaskan dengan hanya membasuh wajah menggunakan air dingin. "Berkatmu, seorang bayi lucu berhasil lahir dengan selamat. Kau selalu bisa diandalkan, Maid-chan."
"Kuharap, ini yang pertama dan terakhir. Besok-besok, aku tidak mau lagi berurusan dengan nyonya yang melahirkan." Sanae berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya seolah tak mau bekerja sama. Barangkali, tubuh Sanae telah di batas lelah. Terlalu banyak hal yang dia lakukan dalam semalam sehingga energi terkuras sangat banyak, terutama saat membantu proses persalinan.
"Kau kelelahan, Maid-chan." Tanpa meminta izin, Rhisiart membopong Sanae. "Aku bantu kau ke kamar. Beristirahatlah sebanyak yang kau bisa."
Dia ingin memprotes. Ingin menolak kebaikan yang diberi sang tuan. Namun, apalah daya. Betul yang dikatakan Rhisiart bahwa dirinya kelelahan. Secara fisik maupun mental.
"Kau ... selalu saja seenaknya. Jika orang lain tahu kau memperlakukanku selayaknya putri bangsawan padahal aku hanya maid, reputasimu bisa terancam, Duke Muda."
"Aku tidak peduli selama aku tidak menjadi penyebab maid-ku terluka."
Kau yang terlalu perhatian kepada pelayanmu ini justru sangat mengkhawatirkan, tahu!
Sanae hanya mendumal dalam hati demi mendapati perlakuan Rhisiart.
Perjalanan ke kamarnya cukup memakan waktu. Demi menghindari hal-hal tidak diinginkan saat proses persalinan, Sanae membawanya ke kamar di lantai bawah. Berada di ujung lorong, sedangkan kamarnya--yang bersebelahan dengan kamar Rhisiart--berada di ujung lorong berlainan di lantai atas. Waktu yang cukup bagi sepasang matanya perlahan mengatup sepanjang berada dalam gendongan Rhisiart. Perlu Sanae akui bahwa berada dalam rengkuhan lengan besar Rhisiart sangatlah menyamankan. Bukankah dia sangat kurang ajar? Alih-alih sungkan, menolak sedemikian rupa agar tidak cuma-cuma menerima perlakukan sang tuan, justru dengan santainya dia mengibarkan kantuk.
"Apakah aku terlalu ringan sampai-sampai kau tidak terlihat kesusahan membawaku dari lantai bawah ke lantai atas, Duke Muda?"
Mereka tiba di anak tangga teratas.
"Kau harus makan lebih banyak setelah ini. Kau terlalu ringan, Maid-chan." Rhisiart tak mengada-ada. Bagi lengan kekarnya yang terbisa membawa dua pedang besar dalam pertarungan, bobot Sanae masih terhitung ringan.
"Angin akan sulit menerbangkan kalau aku terlalu berat, Duke Muda."
"Begitukah?"
"Hm." Sanae benar-benar mengantuk. Tak lagi bisa ditahan. Sebagian kesadarannya mungkin telah terbang entah ke mana. Dia tahu bahwa pria yang membopongnya masih mengoceh, tetapi dia tak tahu apa yang dibicarakan. Kesadarannya tak lagi sanggup menangkap dengan jelas setiap kalimat yang keluar dari mulut Rhisiart.
Tahu bahwa si lawan bicara tak sepenuhnya sadar membuat Rhisiart hanya tersenyum. Dengan kaki, dia dorong pintu kamar Sanae. Hati-hati diletakkannya si gadis pelayan ke atas ranjang; Melepas lebih dulu beberapa printilan dari seragam yang terpakai; Beranjak menutup tirai sehingga cahaya pagi yang mulai merangkak, membasuh seluruh jendela dan dinding-dinding rumah, tak perlu menyusupi kamar Sanae.
"Kau sudah bekerja keras hari ini. Selamat beristirahat, Maid-chan." Sebuah usapan lembut di pipi Sanae menjadi salam penutup sebelum Rhisiart meninggalkan kamarnya.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar