π·π·π·
Segalanya menjadi lebih ramai. Mansion mereka tidak lagi hanya diisi empat kepala. Satu pekan setelah malam di mana Rhisiart beradu minum bir dengan Orhamel, berbondong-bondong kelompok Bandit Pedang Hitam mendatangi mansion. Mencipta cengiran lebar di wajah Sanae saat menemukan Orhamel dan anak buahnya berpakaian lebih rapi walau senjata masih menghiasi pinggang maupun punggung. Paling tidak, Sanae tak hanya mengandalkan Orphelia dan Orphana untuk memberesi sisa ruangan yang masih terbengkalai.
"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu, Maid-chan." Orhamel lebih dulu menukas. Bisa membaca ekspresi Sanae bahwa gadis pelayan yang bukan sekadar gadis pelayan itu ingin sekali melempar selorohan.
"Kau ... cukup cocok memakai pakaian seperti itu, Orhamel." O, ayolah! Kapan lagi melihat Orhamel mengenakan sesuatu yang menutupi seluruh otot tubuhnya? Sependek ingatan Sanae, mengenal mereka selalu dengan hanya memakai rompi dan celana katun ala kadarnya yang terkadang hanya diganti beberapa hari sekali. Padahal jika mau, mereka bisa membeli sebanyak-banyaknya pakaian dengan koin-koin hasil rampasan yang dia yakin masih belum habis.
"Aku sungguh sial beradu minum dengan bocah tengik itu." Bukan tidak tahu bahwa yang mengajaknya adu minum adalah seorang duke muda sehingga cara bicaranya sangat tidak formal. Toh, pemuda itu sendiri yang meminta agar mereka tidak perlu sungkan, tidak perlu pula tunduk kepada perintahnya, asalkan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah di Erthura.
"Kau akan punya kehidupan yang lebih teratur, Orhamel." Sanae sungguh-sungguh memuji. "Jatah makanmu ditanggung pemilik mansion. Kau pun mendapat upah sesuai tugas yang diberikan. Belum lagi, mengingat usiamu tidak lagi muda, mengurangi terpapar angin malam akan sangat baik untuk kesehatan."
Orhamel berdecih. Walau diutarakan dengan nada berseloroh, yang dibilang Sanae ada benarnya. Barangkali, yang terjadi hari itu merupakan balasan Langit setelah apa yang mereka lakukan untuk Erthura bertahun-tahun belakangan.
"Nah, sebelum kalian melakukan tugas yang diberikan Duke Muda, kalian harus membantu kami memberesi ruangan-ruangan dalam mansion. Masih banyak yang belum dibersihkan dan dirapikan. Jadi, mohon bantuannya!" Sanae membungkuk.
"Mohon bantuannya, Paman Orhamel!" Menyusul Orphelia dan Orphana mengikuti yang dilakukan Sanae.
"Pa-Paman?"
Tawa meledak dari anak buah Bandit Pedang Hitam. Selain oleh panggilan gadis kembar yang terdengar imut saat menggunakan kata 'Paman' kepada Orhamel, mimik yang dimunculkan Orhamel menjadi pendukung bahwa mereka tak lagi bisa menahan gelak.
"Berisik! Cepat kalian beresi apa yang perlu diberesi di mansion tua ini!" Orhamel mendengkus sembari mendahului mereka melangkah. "Astaga! Semiskin apa si duke muda sampai-sampai hanya mampu membeli mansion tua nan reyot ini, heh?"
Masih sembari cekikikan, belasan anak buah Orhamel mengekor. Dengan dipandu Orphelia dan Orphana, mereka memulai pembersihan masal bagian dalam mansion. Dibagi menjadi beberapa kelompok kecil agar pekerjaan selesai bersamaan. Sesekali, gerak tangan mereka dicelotehi si kembar; berbuah decakan maupun dengkusan.
"Paman Aston, kau harus membersihkan dari atas dulu. Lihat! Kalau kaubersihkan plafonnya belakangan, lantai yang sudah disapu akan kotor kembali. Buang-buang tenaga. Nona Maid-chan bilang, tidak efisien. Kau harus bersihkan dari tempat paling tinggi dulu."
"Aku bukan paman kalian, hei!"
Begitulah. Bagi si kembar, memanggil mereka paman adalah jalan paling sopan. Dalam sekejap, kedua gadis remaja hafal keseluruhan nama anggota Bandit Pedang Hitam. Mengundang takjub sekaligus sebal karena diperintah ini atau disuruh itu.
Membiarkan Orphana dan Orphelia mengawasi kinerja Bandit Pedang Hitam di mansion mereka, Sanae yang mengambil tugas berbelanja kebutuhan hari itu. Berhitung bahwa jatah makan dan camilan akan bertambah berkali-kali lipat, Sanae memasang gerobak di salah satu kuda milik mereka.
Ya, gerobak. Bukan kereta yang biasa memuat penumpang. Berkat keahlian pria yang istrinya mereka tolong untuk bersalin, mereka memiliki gerobak khusus untuk mengangkut belanjaan.
"Kau bahkan menambahkan ukiran indah dan rumit di dinding-dinding gerobaknya, Tuan Carloz." Tak bisa Sanae tak takjub dengan hasil tangan Carloz.
"Ah, ini ... saat muda, aku pernah belajar mengukir dinding-dinding kereta milik kaum bangsawan, Nona Maid-chan." Digaruk-garuknya kepala bagian belakang demi mengusir sungkan. Dipuji oleh sosok yang dia tahu cukup berpengaruh di kediaman duke tentulah memberi senang tersendiri.
"Kurasa, daripada kalian kembali ke rumah lama di Distrik Malam Biru dan berurusan lagi dengan bangsawan nakal, ada baiknya kalian tetap di mansion." Sanae bersiap; melompat dengan mudah ke bagian depan gerobak. "Aku sudah membicarakannya dengan Duke Muda. Dia tak keberatan kalau kalian tetap di sini. Kau bisa mengurusi istal, kuda-kuda kami, taman, maupun kereta Duke. Nyonya Amritha bisa membantu Orphana dan Orphelia mengurusi mansion setelah masa nifasnya selesai. Lagi pula, kami butuh lebih banyak orang untuk membantu mengurusi hunian sebesar ini."
Menyembul retakan di sepasang mata Carloz. Bahwa di dunia yang mereka tinggali, yang kerap bertemu dengan pihak-pihak tak berperikemanusiaan, masih tersisa golongan yang bahkan tak perhitungan dalam membantu sesama. Sudah dibantu, diberi pula pekerjaan. Kebaikan mana lagi yang harus mereka dustakan?
"Kami ... kami akan setia dengan Duke Rhisiart, Nona Maid-chan. Kami akan mengikuti apa pun yang diperintahkan Duke Rhisiart. Terima kasih. Sungguh kami berterima kasih karena telah banyak dibantu."
Sanae mengibaskan tangan. "Tidak perlu sungkan."
Setelah mengecek kesiapan berbelanja yang semuanya telah siap, Sanae membawa Viori, kuda jantan berwarna hitam yang dibelinya kemarin, bersama gerobak dengan banyak keranjang bambu. Saat baginya menjalankan tugas sekaligus mengecek progres pesanan pakaian di butik Pharina.
Pagi yang sibuk terjadi tak hanya di kediaman Duke, tetapi di sepanjang jalan di seluruh distrik Erthura.
π·π·π·
"Baiklah. Kurasa, aku tidak akan menggerutu untuk ke depannya atas segala apa pun yang diminta Duke Muda. Mendapat jatah makan sebanyak dan selezat ini tanpa harus berlelah-lelah sendiri merupakan satu dari kebaikan Langit." Ocehan Orhamel mendapat senyum lebar oleh seluruh maid yang tengah memberesi bekas makan siang mereka.
Jam istirahat setelah seharian memberesi mansion. Dua pertiga bangunan telah bersih dan rapi. Tidak ada lagi tanaman rambat liar yang membuat tembok-tembok tampak lebih kusam dan menyedihkan. Pot-pot mengenaskan telah diganti, baik media tanam maupun jenis tanaman itu sendiri. Bagian istal bahkan telah lebih dulu dibenahi sehingga memanjakan bukan saja mata para pekerja mansion, tetapi Viori dan Lorion. Usai mengunyah setumpuk rumput yang dibawakan Carloz dan Aston, mereka merebah; menikmati embusan angin kemarau yang hari itu cukup sejuk.
"Kalau kalian tidak keberatan, kalian boleh mencicipi kue yang kubuat. Aku ingin tahu pendapat kalian tentang rasanya." Dari dapur, Orphelia mendorong troli berisi loyang kue yang meruapkan aroma pisang, susu, dan stroberi, beserta setumpuk piring dan garpu kecil. "Akan kubuatkan teh juga sebagai teman."
"Oi, oi, Orphelia! Kau ingin membuat perut kami meledak, hah?" Menjeling Orhamel demi melihat kemunculan Orphelia dengan camilan yang dia siapkan sepenuh hati. Sialan! Aromanya sangat lezat. Sungguh akan sangat sulit ditolak.
"Kalian sudah bekerja keras membenahi hunian ini. Yang bisa kulakukan sebagai bentuk terima kasih hanya dengan membuatkan makanan dan kudapan yang enak. Tolong tunggu, ya!"
Tak sempat mencegah, Orhamel hanya bisa menatap kepergian Orphelia dengan wajah tak habis mengerti.
"Nikmati saja, Orhamel. Belum tentu kau menemukan kue selezat buatan Orphelia di Distrik Bulan Putih. Kapan lagi, bukan?" Sanae mengerling sembari mendorong troli berisi kue buatan Orphelia yang telah dipisahkan khusus untuk Rhisiart dan poci beserta cangkir teh beraroma rosela. Dibawanya troli ke ruang kerja Rhisiart.
Selagi kawanan Bandit Pedang Hitam memberesi mansion, Rhisiart memang mengurung diri di ruang kerja; mengumpulkan data-data pejabat kota yang disinyalir menyalahgunakan dana dari pajak para penduduk atau mengecek nama-nama bangsawan dari kota-kota di sekitar Erthura yang barangkali suatu hari nanti mengajaknya turut serta dalam acara-acara khusus para petinggi di pemerintahan daerah Kekaisaran Celdara.
Dari Sanae, Rhisiart tahu bahwa Ryonswald Hywel sering menghadiri pertemuan dengan duke, count, earl, bahkan baron dari berbagai kota yang masih satu wilayah Kekaisaran Celdara. Pertemuan-pertemuan yang biasanya membahas kerja sama demi memajukan wilayah masing-masing atau bahkan hanya sekadar agenda berburu pada musim-musim di mana hewan buruan melimpah. Agenda yang sejujurnya tidak terlalu disukai Rhisiart. Bertemu apalagi berinteraksi dengan orang asing adalah hal menyebalkan yang tidak ingin dia lakukan andai bisa.
Aroma teh rosela yang dibawa masuk Sanae menghentikan seketika pergerakan jemari Rhisiart dari belasan lembar di atas meja. Tatapnya berpindah dari lembaran kertas kepada Sanae yang mendorong troli untuk kemudian diposisikan di samping meja kerja Rhisiart.
"Kau berhak untuk teh dan kue lezat buatan Orphelia, Duke Muda." Dituangnya isi poci ke dalam cangkir porselen berukiran rumpun mawar, bersandingan dengan sepotong kue beraroma pisang dengan banyak krim dan stroberi. "Akan sangat rugi kalau kau tidak sempat mencicipi kue terbaru Orphelia."
Alih-alih bersegera menikmati waktu kudapan, Rhisiart justru bangkit; mengabaikan tumpukan kertas, cangkir teh, juga piring kue.
"Aku lebih suka menggunakan waktu istirahat untuk tidur sejenak di pangkuanmu, Maid-chan." Tanpa menunggu persetujuan Sanae, Rhisiart membawanya ke sofa besar di hadapan jendela. Seperti yang pernah mereka lakukan, dimintanya Sanae duduk lantas menggunakan pangkuan si gadis pelayan untuk menopang kepala Rhisiart. "Begini jauh lebih nyaman. Kepalaku sudah sangat pusing walau hanya mengeceki data-data bangsawan nakal di kota ini."
"Tidur di ranjangmu bukankah jauh lebih nyaman?" Kedua lengan Sanae saling bersilang di dada walau sepasang matanya tak lepas memperhatikan kelakuan sang duke. Bukankah dia tampak kekanakan?
"Di sini ... lebih nyaman." Sejuk angin menjelang sore membawa kantuk perlahan di sepasang mata Rhisiart. "Sangat nyaman, Maid-chan."
Sanae menghela napas. Dia betul-betul tak berkutik jika Rhisiart telah menyalakan mode suka-sukanya. Ah, tidak. Bukan mode suka-suka, melainkan manja. Rhisiart persis bocah manja yang tidak suka ditinggal lama-lama oleh ibunya.
Sembari menunggu Rhisiart menyelesaikan 'ritual', Sanae memindai ruang kerja. Seperti biasa, beberapa gumpalan kertas terserak di lantai. Sepotong handuk kecil yang tampak lembap menggeletak di bahu kursi. Dia yakin, Rhisiart menggunakannya untuk meredam gerah yang sempat menerjang wilayah Erthura beberapa jam lalu. Saat menemukan tumpukan kertas di atas meja, dia teringat beberapa lembar amplop yang menjejali kotak pos di depan mansion.
"Sebelum aku lupa, Rhisy." Sanae melongok demi memeriksa kondisi Rhisiart. "Kau betulan tertidur?"
Bergerak-gerak telinga Rhisiart demi mendengar panggilan yang dilontarkan gadis pelayannya. Mengubah arah wajah seketika menjadi menghadap wajah Sanae. Jarak wajah di antara keduanya hanya satu jengkal. "Kau ... memanggilku apa tadi?"
"Memanggil? Hm ... Rhisy?"
Senyum Rhisiart melebar demi sepotong nama yang dilontarkan gadis pelayannya. "Baru kau yang memanggilku dengan nama sependek itu."
"Tak suka?"
"Sama sekali tidak masalah." Rhisiart menahan diri untuk tidak tersenyum lebar demi menjaga wibawa. "Jadi, apa yang ingin kautunjukkan selagi ingat?"
"Ada kiriman surat. Aku menemukannya pagi tadi di kotak pos kita."
"Dari?"
"Bisa kaubangkit dulu? Aku menyimpannya di kamar. Lupa memberitahumu pagi tadi."
Rhisiart bangkit. Menyilakan Sanae untuk mengambil surat yang datang ke mansion mereka. Selagi menunggu, dia justru beranjak; menghampiri teh dan kue yang disiapkan Sanae. Manis dan asam dari kue yang masuk ke mulutnya berhasil mengusir sebagian pening dan kantuk. Perlu dia akui bahwa kemampuan memasak Orphelia memang cakap. Sangat cakap. Jauh lebih cakap dari gadis pelayan bermata hijau zaitun.
Lagi pula, aku meminta Maid-chan menjadi pelayanku bukan demi masakannya atau teh buatannya atau caranya memberesi ruangan demi ruangan di mansion. Aku hanya ingin dia bersamaku. Tak masalah jika dia tak pandai mengurusi mansion.
Kedua bahu Rhisiart bergerak. Hampir habis kue dan teh saat Sanae kembali masuk dengan membawa beberapa amplop bersegelkan lambang beberapa bangsawan yang tinggal di sekitaran Erthura. Hanya satu yang tidak cukup dikenali Sanae.
Rhisiart memintanya membacakan nama-nama pengirim surat. Sebagian besar tidak ... belum dikenali Rhisiart. Hanya satu surat yang pengirimnya sangat familier. Sangat dia kenali.
"Tolong bacakan surat dari Juliana Kremlyn, Maid-chan."
"Sesuai keinginanmu, Duke Muda." Sanae mengambil pisau dari saku di balik celemek yang segera mengundang kernyitan di wajah Rhisiart. Menangkap mimik heran sang duke, Sanae berbaik hati menjelaskan, "Aku selalu membawanya. Selain untuk berjaga-jaga karena musuh bisa datang kapan saja, mengisi saku celemek pelayanku dengan satu atau dua shuriken maupun pisau telah menjadi kebiasaan. Jadi, jangan aneh."
"Aku harus mulai terbiasa melihatmu membawa senjata ke mana-mana." Dengan gerakan tangan, Rhisiart meminta Sanae melanjutkan keinginannya.
Surat telah dikeluarkan dari amplop berlambang Keluarga Kremlyn. Guratan pena yang sangat rapi sekaligus cantik cukup menyihir Sanae selama beberapa detik. Ada belasan baris yang perlu Rhisiart dengar dari surat kiriman atas nama Juliana Kremlyn.
"Bagaimana kabarmu, Rhisiart? Sepekan lebih kau di Erthura, tetapi tak kunjung Bibi mendapat kabar terbarumu? Sebegitu sibukkah sampai-sampai mengabari Bibi saja tak sempat? Dasar anak nakal!" Perlu Sanae menahan tawa demi omelan lewat surat yang dilayangkan sosok bernama Juliana Kremlyn. "Sesibuk apa pun kau di sana, semoga kau tidak mengabaikan jam makan dan jam tidurmu. Bibi sudah dengar dari Pangeran Iloi kalau kau diangkat menjadi duke, menggantikan ayahmu. Bibi harap, kau tidak mendapat masalah dengan status barumu sekarang. Tetaplah berhati-hati karena dengan status barumu itu, akan ada kalangan yang pasti mengusikmu. Jangan sungkan meminta bantuan Paman dan Bibi, oke?"
Sanae mengambil napas. Berhenti sejenak. Beradu tatap dengan Rhisiart.
"Selesai?"
Gadis pelayan itu menggelengi pertanyaan Rhisiart. "Masih ada satu paragraf. Baris terakhir. Ditulis dengan ... kapital."
"Seluruhnya?"
Sanae mengangguk.
"Bacakan!"
"SEKALIPUN KAU SIBUK, TOLONG LUANGKAN WAKTU UNTUK BERKENCAN. JANGAN HABISKAN MASA MUDAMU DENGAN TUMPUKAN PEKERJAAN. KAUPAHAM, RHISIART? BIBI KAN JUGA MAU SEGERA MENIMANG CUCU DARIMU. JADI ...."
"Hentikan!" Rhisiart mendesis demi mendengar kalimat yang dibacakan Sanae dengan penuh penekanan. "Buang saja suratnya atau bakar sekalian. Pesan macam apa yang dia berikan sampai-sampai ditulis dengan huruf kapital? Buang saja, Maid-chan. Aku tidak akan menyimpan surat semacam itu." Tangannya mengibas-ngibas udara, berharap Sanae tidak menjadikan isi surat, terlebih kalimat dengan huruf kapital, kiriman Juliana Kremlyn sebagai bulan-bulanan.
Sayangnya, Sanae kadung tahu. Membaca lengkap pula sehingga tawanya tak bisa ditahan. "Aku bisa membantumu jika kau berniat mencari pendamping dalam waktu dekat, Rhisy."
"Berhenti mengolok-olokku, Maid-chan." Sepasang mata hitam Rhisiart menatap galak.
Walau yang digalaki tak peduli. Masih tertawa sembari memberesi cangkir teh dan piring kue yang telah kosong. Puas sekali menggodai sang duke yang ternyata tidak ada bedanya dengan kebanyakan pemuda yang memiliki orang tua dengan tingkat perhatian berlebihan. Meski terdapat pesan menggelikan, Sanae memahami satu hal tentang hubungan Rhisiart dan pengirim surat. Bahwa keberadaan Rhisiart di kehidupan Juliana Kremlyn tak sekadar keponakan. Barangkali, bagi Juliana, Rhisiart telah dianggapnya seperti anak sendiri sampai-sampai tak sungkan mengirimkan selorohan lewat surat.
Kau masih beruntung, Duke Muda. Masih ada keluarga yang menyayangimu dengan tulus. Kau masih memiliki tempat untuk pulang jika di sini kau tidak diterima siapa pun. Sebuah rumah yang sangat hangat, kurasa.
Mengingat waktu istirahat Rhisiart berakhir, Sanae beranjak membawa troli. Meninggalkan Rhisiart kembali dengan hanya pena dan tumpukan dokumen, sedangkan dirinya kembali ke dapur untuk membantu Orphelia menyiapkan makan malam.
π·π·π·
Tidak ada komentar:
Posting Komentar