🌷🌷🌷
Walau jam tidurnya kerap terpangkas, walau kulit gadisnya menjadi lebih sering terpapar angin malam, dia sangat menyukai pekerjaan sampingannya. Sangat menyukai sehingga setiap kali Orhamel meminta menjadi bagian operasi perampasan para tikus berpangkat, dia akan selalu datang. Tidak peduli selarut dan sebanyak apa pun lawan yang akan dia hadapi.
Barangkali, desas-desus keberadaan kelompok Bandit Pedang Hitam telah meluas di kalangan bangsawan sehingga mereka mempersiapkan pengawalan seketat dan seramai itu padahal jika berhitung pendapatan, para pekerja di parlemen kekaisaran ataupun pemerintahan kota tidak akan sanggup membayar pengawal pribadi sebanyak satu batalion--bahkan lebih. Sudah pasti, ada dana yang mereka catut dari dana-dana yang tidak seharusnya. Catatan dana yang tidak pernah lolos dari perhatian Orhamel dan kelompoknya.
Terkadang, Sanae berpikir bahwa seharusnya Orhamel tidak menjadi sekadar bandit. Jika dia ditempatkan di parlemen atau jajaran pejabat kepengurusan kota, Sanae yakin bahwa Orhamel akan menjadi pejabat paling bersih; pejabat yang akan maju pertama kali memperjuangkan kesejahteraan penduduk dalam wewenangnya. Tampang dan postur lelaki itu memang menyeramkan, tetapi hati seorang Orhamel jauh lebih mulia daripada tikus-tikus berpangkat.
Apa mungkin bisa menggaet Bandit Pedang Hitam menjadi bagian duke baru demi membenahi tatanan Erthura? Jika yang berkuasa sekarang adalah Rhisiart dan dia kenalkan Rhisiart dengan kelompok Orhamel, bukan tidak mungkin Rhisiart tertarik merekrut mereka, 'kan?
Seulas senyum terbit di wajah Sanae yang tersapu dingin angin kemarau dini hari sepanjang memijaki satu per satu batang pohon untuk sampai ke lokasi pertemuan.
Rhisiart perlu orang-orang seperti kelompok Bandit Pedang Hitam. Mereka tak pernah segan menghukumi bangsawan-bangsawan ataupun pejabat-pejabat pemerintahan kota dengan cara paling sadis sekalipun. Walau, ya, sejauh dirinya membersamai aksi Orhamel dan Bandit Pedang Hitam, belum sekalipun melihat mereka membunuh mangsa. Jika si mangsa sudah menandatangani berkas persetujuan pemeriksaan harta, Orhamel akan membiarkan mereka tetap hidup.
Kejahatan untuk kebaikan. Sanae rasa, dia lebih menyukai cara Orhamel dalam menindaklanjuti kejahatan orang-orang berpangkat daripada kementerian hukum yang kerap leyeh-leyeh. Boleh jadi juga, beberapa kasus yang berjalan mulus karena mereka mendapat suap yang sayangnya belum terjangkau oleh penyelidikan Bandit Pedang Hitam. Urusan menghukum secara Kitab Hukum Celdara memang dilakukan di Ibu Kota Kekaisaran dan pejabat-pejabat hukum di sana belum menjadi sasaran Bandit Pedang Hitam. Bukan wilayah yang bisa dimasuki.
"Kalau saja kau ingin tahu bahwa pedangku gatal bermain di leher pejabat-pejabat Ibu Kota, Maid-chan. Sayangnya, aku sudah berjanji kepada Ryonswald hanya akan mengurusi pejabat-pejabat nakal di Erthura. Dengan begitu, si Tua Ryonswald akan melindungi wilayah kerja Bandit Pedang Hitam. Tidak akan mengusik-usik bagian yang kami ambil selama tidak berlebihan dan tidak untuk kejahatan."
Menyusup sepotong keterangan Orhamel saat Sanae mencoba mencari tahu alasan Bandit Pedang Hitam hanya beroperasi di wilayah Erthura.
"Lagi pula, dengan kaisar yang sekarang, kelompok seperti kami ini tidak akan mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Yang ada, mereka akan menangkap kami bagaimanapun caranya agar tidak mengganggu kehidupan mereka yang kuyakin paling bermasalah di Celdara. Ah, aku jadi merindukan kaisar yang dulu, Maid-chan. Kalau saja kautahu seperti apa dia, kau pasti mengidolakannya. Dia kaisar muda yang baik hati, berbakat, dan tegas. Sayangnya, banyak yang ingin menjatuhkan dia sehingga entah bagaimana dia berakhir menjadi mayat suatu hari lalu. Bersama istrinya. Sungguh malang sekali nasib kaisar itu."
Sanae tak banyak mencari tahu, tetapi obrolan-obrolan di Kedai Bir Allan berhasil membawa banyak informasi penting, salah satunya tentang kepemimpinan kaisar terbaru. Konon, gonjang-ganjing sedang melanda istana Ibu Kota. Sejak diangkatnya kaisar baru, alih-alih bersatu demi kemaslahatan kekaisaran, para pejabat tinggi Ibu Kota justru terpecah menjadi dua faksi: Faksi Kaisar dan Faksi Permaisuri. Dua faksi yang saling bersinggungan; saling mencari cela untuk menjatuhkan satu sama lain. Kekaisaran Celdara berada pada kondisi yang tidak baik-baik saja sejak kematian kaisar sebelumnya.
Apa peduliku? Terpenting saat ini, hidupku baik-baik saja. Mendapat rumah yang nyaman untuk ditinggali. Memiliki pekerjaan yang cukup untuk membeli shuriken, kunai, dan pisau baru setiap kali kuperlukan. Tentunya, memiliki tuan yang memperlakukan diriku tak sekadar pelayan. Bahkan rasanya, aku tidak perlakukan selayaknya pelayan oleh pria itu.
Digerakkannya kedua bahu sebagai tanda Sanae tak ingin memikirkan lebih jauh. Hidupnya sudah lebih dari nyaman. Dia tak perlu memikirkan hal-hal lain yang tidak bersinggungan dengannya.
Kedatangan Sanae disambut Killey yang langsung bertengger di bahu. Seperti biasa, usapan dan elusan Sanae membuat Killey nyaman bekerja dengannya sepanjang malam. Hal yang justru menyebalkan di mata seorang bocah dengan syal terlilit longgar di leher.
"Kenapa Killey selalu menurut kepadamu, Maid-chan? Sedangkan kepadaku, dia tak segan mematuk-matuk kepalaku."
Tawa keras Orhamel berhasil mengagetkan belasan kelelawar hutan. "Killey menyukai wanita cantik, Hakaza. Dan, ya, Maid-chan selalu memberinya usapan dan elusan lembut. Kau? Kau malah sering menggerutu dan meledeknya. Tentu saja Killey kurang menyukaimu."
Bocah bernama Hakaza berdecih lantas berbalas tatap dengan gagak hitam di bahu Sanae. Berdetik-detik mereka beradu tatap sampai kemudian Killey terbang; menghampiri Hakaza lantas mendaratkan patukan di kepalanya. Seolah-olah tatapan Hakaza tadi memancing kemarahan si gagak peliharaan Orhamel.
"Astaga! Astaga! Hentikan, Killey! Ya, ya, ya! Maafkan aku karena menatapmu dengan kesal! Astaga, kau ini! Mudah sekali tersinggung padahal aku hanya menatapmu." Dengan kedua lengan, Hakaza berusaha melindungi kepalanya dari patukan Killey.
Perseteruan Hakaza dan Killey selalu berhasil mencipta tawa mereka. Setidaknya, mereka perlu sedikit mencairkan suasana sebelum pergulatan dengan rombongan bangsawan nakal itu terjadi.
"Mereka datang dari mana, Orhamel?" Sanae menginterupsi setelah membaca posisi bulan. Mulai suruk ke barat yang menandakan fajar semakin dekat.
"Seperti biasa. Pintu utara. Bukankah sudah kuterangkan lewat surat yang dibawa Hakaza?"
"Ah, benar. Aku lupa." Sanae memberikan cengiran lebar. "Baiklah. Aku akan mengeceknya."
"Kaulakukan saja sesukamu."
"Ayo, Killey!"
Panggilan Sanae berhasil menghentikan serangan Killey ke kepala Hakaza. Kepaknya lantas mengikuti lompatan Sanae. Bersama keduanya menuju pintu utara untuk memeriksa sebanyak apa lawan mereka malam itu.
Mereka tak tahu--atau tak perlu merasa tahu--bahwa dari balik pohon-pohon besar, seseorang memperhatikan setiap pergerakan mereka. Hanya menonton, bukan untuk menindak. Sosok yang hanya mendapat lirikan ekor mata Orhamel sebelum mereka berpindah tempat.
Tidak menguarkan aroma berbahaya, tetapi dia mengikuti Maid-chan. Jika orang biasa, hanya penggemar Maid-chan, tidak mungkin bisa mengikuti pergerakan Maid-chan sampai sejauh ini. Siapa pemuda besar itu?
Orhamel menggerakan kedua bahu. Tak mau ambil pusing.
🌷🌷🌷
Dia bersembunyi di balik bayang-bayang. Menontoni pertarungan antara Bandit Pedang Hitam dan pengawal pribadi seorang bangsawan yang hendak mengungsikan harta yang berhasil digelapkan dari proyek pembangunan kota. Masih tak habis mengerti bahwa sekelompok bandit mampu memiliki catatan faktual terkait bangsawan mana saja yang telah menggelapkan dana. Dia sendiri belum memeriksa sejauh itu. Terlalu banyak yang harus diurusi sampai-sampai belum sempat memeriksa apalagi menghitung jumlah kekayaam pejabat-pejabat di Erthura.
Melihat bagaimana keapikan Bandit Pedang Hitam mengeksekusi bangsawan nakal, seharusnya mereka tidak sekadar menjadi bandit. Mereka sanggup mengelola sebuah badan dalam naungan hukum yang bertugas mengaudit harta-harta milik pejabat. Barangkali, bukan saja berguna di Erthura, tetapi di seantero Kekaisaran Celdara.
Kekaisaran Celdara? Dia menggeleng-geleng. Lupakan target seluas kekaisaran. Bukan karena ruang kerja yang terlalu besar, melainkan siapa yang akan membawahi mereka. Jangankan kelompok sekeras Bandit Pedang Hitam, Iloi saja memilih berada di kubu berseberangan dengan ayahnya sendiri. Jelas ada yang tidak beres di pemerintahan pusat yang sayangnya tidak cukup dia ketahui.
Andai tidak untuk kekaisaran, barangkali mereka mau menggunakan kekuatan sekaligus pengetahuannya untuk membangun Erthura menjadi lebih baik.
Itulah yang memenuhi kepala pemuda di balik pohon besar selagi sepasang matanya mengikuti pergerakan pedang maupun lesatan shuriken dan kunai. Tak terhitung berapa prajurit yang telah tumbang akibat serangan shuriken dan kunai yang muncul dari kegelapan. Mereka yang tak awas menjadi sasaran empuk serangan gadis berpakaian pelayan dengan seekor gagak bertengger di bahu. Tak tampak ingin beranjak untuk bergabung dengan kelompok berpedang di bawahnya.
Dia bertugas melakukan serangan jarak jauh, ya? Dengan senjata model shuriken, kunai, dan pisau buah serta kelihaiannya dalam mengatur tenaga dalam, memang sangat menguntungkan baginya berada di barisan tak terlihat lantas melakukan serangan kejutan.
Kemampuan yang jelas-jelas telah sangat berkembang dari belasan tahun lalu saat dirinya untuk pertama kali bertemu bahkan diselamatkan seorang gadis cilik dengan rambut dan iris sewarna buah zaitun muda. Tak menyangka bahwa pertemuan kembali betul-betul terjadi. Bahkan, tidak hanya pertemuan untuk satu-dua jam atau sehari-dua hari. Dia berhasil membawanya memasuki kehidupan seorang Rhisiart Hywel. Sebuah perjalanan yang tentunya tidak akan mudah; sulit mulus bila mengingat siapa dan bagaimana latar belakang dirinya.
Apa tak masalah menempatkannya bersamaku? Bukan tidak mungkin bahwa ke depannya akan lebih banyak pertarungan untuknya, tak sekadar membantu Bandit Pedang Hitam menumpas bangsawan-bangsawan nakal.
Tak sampai fajar, bahkan bulan hanya bergeser sedikit dari tengah malam, pertarungan berakhir. Tidak ada korban walau banyak prajurit terkapar dengan shuriken dan kunai menancap di lengan atau dada; beberapa ruas jari dari titik vital. Dengan sedikit mengancam, lelaki paling besar dan paling berotot dari kelompok bandit meminta bangsawan yang bersembunyi di dalam kereta kuda untuk keluar. Ritual menandatangani surat kebersediaan digeledah dan diaudit oleh pihak berwenang pun tak luput didapat si bangsawan.
"Sudah puaskah kau menonton kami, Anak Muda?" Sembari memanggul pedang besar kebanggaannya, Orhamel menatap pohon besar di mana seseorang sejak tadi takzim menontoni pertarungan.
Alih-alih gemetar, takut, atau waswas, dia keluar dengan langkah tegap. "Sudah kuduga kalau kau akan menyadarinya."
"Jangan meremehkan Orhamel si Kepala Bandit, Anak Muda."
Selain Orhamel, anak buah Bandit Pedang Hitam bersiaga. Senjata-senjata mereka teracung untuk pemuda yang keluar dari balik pohon besar. Dengan sendirinya merasa waspada ketika menemukan yang muncul dari persembunyian memiliki postur tak jauh berbeda dengan Orhamel. Tinggi, gagah, tampak sangat kuat dengan otot-otot di sepanjang lengan, kaki, dan perut--tercetak jelas dari kaos yang dipakai. Orhamel versi lebih muda, lebih tampan, dan lebih manusiawi, begitulah yang berkelebat di kepala anak buah Bandit Pedang Hitam.
"Oi, Orhamel! Ada delapan peti berisi emas, lima peti berisi perak, dan ... ah! T-Tuan Duke?" Tergagap Hakaza demi menyadari siapa yang telah bergabung dengan kelompoknya. Meski tidak tampak mengancam, kemunculannya yang tiba-tiba tetap mengagetkan. Seketika membuyarkan hitungan peti yang menjadi tugasnya malam itu. Apakah Maid-chan yang membawanya? Apakah dia ikut atas izin Maid-chan? Atau ... dia ke sini dengan membuntuti Maid-chan diam-diam?
Seolah tahu isi kepala bocah bersyal, dia bersedia meluruskan agar gadis pelayannya tidak dituduh macam-macam. "Aku ke sini atas kesadaranku. Membuntuti Maid-chan, bukan dia yang mengajakku. Dia ... mungkin tidak sadar kalau aku mengikutinya."
Hakaza buru-buru mendongak. Mencari-cari keberadaan gadis pelayan yang selama pertarungan sangat jarang melakukan serangan jarak dekat. Namun, gelap malam serta lebatnya dedaunan pohon yang berjajar teramat berdekatan menjadi penyebab sulitnya gadis itu terlacak.
Tidak terlacak oleh orang-orang di bawah bukan berarti tak terlihat oleh si gadis berpakaian pelayan. Dari ketinggian, dia mampu menilik apa pun yang terjadi. Sepasang matanya yang sudah lebar makin melebar saat seseorang muncul dari balik pohon besar; berhadapan dengan Orhamel.
Duke Muda? Bagaimana ... ah, sial! Dia mengikutiku, ya? Dia berpura-pura tidur, rupanya. Dasar nakal!
Mau tak mau, dia meluncur. Lembut menjejakkan kaki ke tanah kering hutan. Alih-alih khawatir karena ketahuan si Tuan Rumah, gadis pelayan itu justru menatap galak kepada pemuda yang memberinya seringai samar.
"Kurasa, kau perlu melatih kembali ketajaman indramu, Maid-chan." Orhamel sengaja menyindir dengan nada kelakar. "Untung yang mengikutimu bukan orang berbahaya."
"Kenapa kau di sini? Kau seharusnya di rumah, Duke Muda. Tidur. Melepas lelah. Menyipkan tubuhmu untuk pekerjaan besok bukan malah di sini dan menontoni kami bertarung." Seolah bukan kepada pemimpin kota dia berbicara, kedua tangannya berkacak pinggang. Persis ibu-ibu yang memarahi putranya karena tak kunjung tidur padahal esok harus pergi ke akademi untuk menimba ilmu. Mengabaikan kelakar Orhamel.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bekerja. Kau jauh lebih tangkas dari belasan tahun lalu, Maid-chan."
"Kau mengejekku, ya?"
"Aku serius."
Mereka saling bertatap. Bermenit-menit. Mencari maksud lain dari setiap tanya dan jawaban yang terlontar. Walau kemudian, si gadis pelayan menghela napas. Menyerah. Tak ingin mencecar lebih dalam alasan sang duke yang membuntutinya.
Perseteruan singkat antara duke dan gadis pelayannya ... atau lebih seru dikatakan antara pemuda dan gadis yang dirasa Orhamel tak sekadar tuan dan pelayan cukup menarik perhatian. Dibiarkannya si pemuda diomeli si gadis pelayan. Lagi pula, kenapa si pemuda yang notabenenya seorang duke justru tak keberatan diomeli oleh seorang gadis pelayan? Bukankah tindakan si gadis pelayan cukup kurang ajar? Bukannya patuh, bekerja cukup hanya kepada duke, dia malah ikut-ikutan merampok dengan kelompok bandit.
Tanpa sadar, Orhamel menghela napas bila mengingat bagaimana karakter gadis yang selalu mereka panggil Maid-chan. Susah diatur. Melakukan apa pun yang dia mau, tak peduli walau membahayakan nyawa. Terkadang, Orhamel penasaran dengan guru yang mengajari gadis itu sehingga mumpuni menggunakan senjata-senjata khas ninja.
"Guruku sudah tidak ada. Aku belajar dengannya sejak usia ... lima tahun? Entah juga. Aku tak ingat. Berawal kami bertemu di pinggiran hutan dan aku melihatnya bertarung dengan sekelompok orang jahat, aku memintanya untuk mengajariku bertarung juga."
Hanya itu yang pernah diberitahukan si gadis pelayan jika ada yang menyinggung kemampuan bertarungnya.
"Bawa peti-petinya!" Orhamel bersiap meninggalkan lokasi perampasan. Meminta anak-anak Bandit Pedang Hitam menyelesaikan tugas terakhir. "Nah, Hakaza! Berhubung Tuan Duke ada di sini, kaukasihkan saja surat pernyataan bangsawan nakal itu kepadanya langsung. Jadi, kau tidak perlu susah-susah ke mansion-nya lagi."
"Tunggu!" Seruan Rhisiart menghentikan langkah Orhamel. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Dengan kalian, Bandit Pedang Hitam."
Menjeling mata Orhamel demi mendengar penawaran sang duke. "Bicara?"
"Kedai Bir Allan, bagaimana? Aku yang akan membayar semua bir pesanan kalian."
"Heh?" Gantian Sanae yang menjeling. Terkejut demi mendengar rencana Rhisiart yang tidak dia ketahui sebelum-sebelumnya. "Kau yakin mau membayari semua bir pesanan mereka? Kau bisa langsung bangkrut, Duke Muda. Ditawari minum seperti itu membuat mereka tak akan segan menggasak isi kantongmu."
"Tak apa selama mereka mau mendengar rencanaku. Lebih bagus lagi, mereka mau menyetujui tawaranku."
Lebih dulu Orhamel saling tatap dengan beberapa anak buah kepercayaannya. Menatap pula kepada Hakaza yang hanya mengangkat kedua bahu. Terserah, begitulah yang dia pahami dari tanggapan bocah bersyal. Pertimbangan semakin matang saat tatapannya mendapati Killey bertengger nyaman di bahu Rhisiart. Pertanda baik jika Killey mau berdekatan dengan sosok yang belum dikenalnya sama sekali.
"Sepertinya, tawaranmu tidak buruk, Duke Muda." Dia berbalik, masih dengan memanggul pedang besarnya, untuk kemudian memberikan cengiran lebar kepada Rhisiart.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar