🌷🌷🌷
"Sialan!"
Barisan botol parfum mahal di atas meja rias menjadi sasaran kemarahan Klerianna usai rapat dan kembali ke kamar. Di sofa dekat jendela, kedua putrinya membiarkan sang ibu menuntaskan amarah dengan menghancurkan seluruh koleksi parfum daripada mereka yang terkena imbas.
"Kenapa anak sialan itu masih hidup? Keparat Clay bilang kalau dia sudah mati tenggelam. Bagaimana bisa dia masih hidup setelah dikubur? Berengsek!"
Kursi rias melayang ke arah lemari. Menghancurkan seketika cermin setinggi tubuhnya. Berserakan di atas lantai.
"Memang, Ibu melihat sendiri proses pemakaman anak itu?" Wanita yang memiliki garis wajah serupa perempuan yang marah angkat bicara.
"Maksudmu, Rosella?"
Dia Rosella Hywel. Putri pertama Ryonswald dan Klerianna. Beberapa tahun di atas Rhisiart.
"Ibu, kau tidak pernah benar-benar melihat jasad Rhisiart dikuburkan. Kau hanya mendapat laporan dari Tuan Clay. Kau tidak akan tahu bahwasanya orang suruhan Ibu ternyata berbohong."
"Berbohong? Keparat itu berani membohongiku? Dia tidak takut akibatnya, hah?"
Rosella menggerakkan kedua bahu. "Iming-iming bayaran yang Ibu berikan tentulah membuat Clay menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Saat dia gagal melakukan perintah Ibu, dia tinggal membuat kebohongan. Menceritakan seperti apa yang Ibu dengar lalu Ibu percayai bertahun-tahun, sedangkan anak lelaki Ayah berkeliaran dengan sehat di luar sana. Entah jasad siapa yang dikuburkan Clay itu."
"Bajingan!" Satu lagi kursi rias melayang. Membentur tembok. Mencipta debam yang menggetarkan kaca-kaca jendela. "Corline! Di mana kau, Corline!"
Tergopoh-gopoh seorang lelaki paruh baya berbusana khas pelayan pria memasuki kamar Klerianna.
"Saya datang, Nyonya." Dia membungkuk. Selain untuk menghormat, sebisa mungkin tatapannya tak bertemu wajah muntab perempuan yang akan segera melepas statusnya sebagai duchess menjadi bangsawan biasa.
Pada rapat penunjukkan duke baru beberapa saat lalu, Rhisiart mengajukan beberapa hal yang mana salah satunya tidak akan ada duchess selama Rhisiart masih sendiri. Pertanda bahwa duchess yang sudah ada akan dilengserkan dan Iloi menyetujui. Sekali duke telah ditunjuk, maka dia bebas membentuk aturan selama kepemimpinannya berlangsung.
"Bereskan Clay! Dia harus membayar atas kebohongannya! Kerjakan serapi mungkin dan jangan sampai orang tahu bahwa aku yang menyuruhmu. Kausuruh lagi saja orang yang lebih mumpuni untuk menghabisi bajingan itu tanpa meninggalkan kecurigaan kalau dia dibunuh."
"Saya mengerti, Nyonya." Corline membungkuk. Mundur satu langkah. Tenang beranjak meninggalkan kamar Klerianna yang telah berserakan barang-barang pecah.
Sekeluarnya dari kamar, Corline masih mendengar teriakan dan umpatan Klerianna. Entah bertahan berapa lama kemarahan perempuan itu karena saat Corline beranjak, meninggalkan lorong di mana kamar sang mantan duchess berada, perempuan itu belum selesai dengan amarahnya. Masih menyumpahserapahi tidak hanya Rhisiart, tetapi bajingan-bajingan suruhannya yang tak becus bekerja.
🌷🌷🌷
Rhisiart cukup tahu diri untuk tidak mengusik lebih jauh kediaman sang ayah. Dibiarkannya istri pertama dan putri-putri Ryonswald untuk tetap mendiami rumah mewah di Distrik Awan Emas. Rhisiart berencana mencari hunian lain. Yang tidak berada di kawasan permukiman. Yang bisa dia jadikan tak sekadar hunian, tetapi tempat mengawasi. Saat memasuki Erthura, tatapannya sempat jatuh ke menara dengan lonceng di atas bukit. Tidak jauh dari menara, terlihat sebuah bangunan mirip mansion. Tampak tua dan tidak terawat, tetapi Rhisiart justru tertarik karena letaknya yang sesuai.
"Jadi, kau tidak mau tinggal di kediaman mendiang duke?" Iloi bertanya setelah seorang pelayan dari rumah bir yang mereka sambangi meletakkan pesanan di atas meja: dua gelas bir besar, belasan bilah daging panggang dalam sebuah pinggan, serta sepiring kacang tanah rebus.
"Aku tidak ingin terikat apa pun dengan duke sebelumnya." Rhisiart membiarkan Iloi menenggak lebih dulu gelas bir. Dia memilih butiran-butiran kacang rebus sebagai pembuka.
Malam belum beranjak jauh saat Iloi mengajaknya berkeliling Erthura. Tanpa menunggangi apa pun, hanya berjalan, dan tanpa pengawalan dari pelayan pribadi Iloi, mereka menyusuri lorong demi lorong dari Distrik Malam Biru. Meski tidak tinggal di Erthura dan hanya sesekali mampir dalam beberapa perjalanannya menjelajah wilayah, Iloi cukup tahu seluk-beluk setiap distrik di kota tersebut. Hafal dengan sangat baik setiap ruas jalan yang ingin dilalui. Cukup bisa merekomendasikan tempat-tempat mana yang bisa dikunjungi oleh kawannya yang akan menetap.
"Kau harus mencari hunian baru. Aku bisa menghubungi beberapa agen properti di kota ini untuk membantumu. Tenang saja. Mereka orang-orangku yang bisa dipercaya."
"Mungkin ... aku tidak butuh. Rasanya, aku menemukan bangunan yang cocok. Tidak di kawasan permukiman pada umumnya."
"Heh?" Iloi menjeling heran. "Tidak di kawasan permukiman?"
"Bangunan di dekat Menara Lonceng. Kautahu itu milik siapa? Carikan saja informasi tentang pemilik tanah dan bangunannya."
"Akan kuminta Ceroz menyelidiki." Iloi kembali menikmati sisa bir. Menyusul suapan demi suapan dari bilah-bilah daging berlumur saus yang gurih dengan sentuhan sedikit manis dan asam. "Kauyakin mau tinggal di sana? Bukankah jauh dari pusat kota? Jauh dari distrik-distrik yang barangkali kaubutuhkan?"
"Jauh dari pusat kota adalah hal yang kumau, Pangeran. Akan lebih menyamankan untukku menyelesaikan tugas-tugas dari kota ini."
"Ya, terserah kau saja kalau begitu." Iloi tak ingin mendebat lebih lama. "Omong-omong, daging panggang ini enak sekali. Boleh aku meminta piring tambahan untuk dagingnya, Nona Pelayan?" Dicekalnya seorang gadis pelayan yang kebetulan melintas di samping meja mereka.
"Akan kubawakan untukmu, Tuan." Gadis pelayan yang memiliki rambut berwarna hijau zaitun itu mengerling. "Ada lagi yang ingin kaumau? Berbaik hatilah kepada rumah bir kami karena memiliki kudapan sebagai teman minummu yang tidak hanya murah, tetapi enak."
Iloi perlu tertawa mendengar tawaran yang terdengar sangat profesional. "Kalau begitu, aku mau tambah gelas bir. Ah, tolong juga kau isi lagi gelas bir kawanku ini agar suntuk di kepalanya membuyar."
"Pesananmu segera datang, Tuan." Gadis itu membungkuk sopan; Mengambil gelas-gelas bir dan piring kudapan yang kosong; Bersiap menggantinya dengan yang baru.
Saat gadis itu berbalik membelakangi Rhisiart untuk kemudian melangkah menuju meja bar, tatapannya menemukan sesuatu yang runcing menyembul dari kantong di balik celemek putih si gadis pelayan berambut hijau zaitun. Sesuatu yang tak asing karena ke mana pun dia pergi, dia selalu membawanya. Rhisiart yakin bahwa sembulan runcing dari celemek si gadis pelayan adalah sisi-sisi shuriken. Salah satu senjata khas buatan orang-orang di Distrik Orang Timur.
Siapa gadis itu? Kenapa dia membawa shuriken di balik celemeknya? Apakah setiap gadis pelayan memang normal membawa senjata ke mana-mana?
Tanpa sadar, Rhisiart menggerakkan kedua bahu. Belum ingin memikirkan dalam-dalam keanehan dari gadis pelayan di Rumah Bir Tuan Allan.
🌷🌷🌷
"Kau masih berhubungan dengan orang istana itu, Zeimora?"
Terdengar suara Elora saat Sanae hendak masuk dari pintu belakang yang terhubung dengan dapur dan ruang mencuci. Menemukan nada serius dalam pertanyaan Elora justru mengurungkan niat Sanae untuk masuk. Merasa bahwa kemunculannya nanti akan mengganggu obrolan mereka, Sanae memutuskan menunggu. Berjongkok agak ke kanan dari posisi pintu. Memutar-mutar jari di permukaan lantai yang berdebu. Samar mendengkus karena usahanya menyapu pagi tadi seolah-olah tidak menunjukkan hasil. Apa boleh buat. Erthura sedang memasuki musim kemarau di mana debu mengepul hampir sepanjang waktu.
"Aku tidak akan berakhir dengan hanya menjadi pelayan rumah bangsawan, Nyonya Elora. Aku bisa mencapai puncak. Menjadi selir sah Kaisar bukanlah sesuatu yang sulit dengan apa yang kupunya."
Tenang, tetapi menusuk. Sanae bisa merasakan ambisi dari jawaban Zeimora. Di balik tampilan Zeimora yang terlihat anggun, Sanae tak menyangka bahwa wanita itu memiliki mimpi yang besar.
"Kaudatang bukan dari kalangan bangsawan, Zeimora. Akan banyak intrik, terutama dari Faksi Permaisuri kalau kau meneruskan hubunganmu dengannya."
"Selama Kaisar menyukaiku, aku tidak peduli faksi mana pun."
Sanae menghela napas. Bangkit. Memilih tak jadi pulang. Tubuhnya memelesat, menjadikan angin malam Erthura sebagai pijakan menjelajah ketinggian.
"Kapten Orhamel punya misi. Kalau kau mau ikut, berkumpullah di pinggir hutan Ibu Kota tengah malam nanti."
Sanae memilih tawaran Hakaza untuk bergabung dengan kelompok Orhamel. Dia tak ingin mendengarkan lebih jauh perdebatan Elora dan Zeimora yang justru mencipta ketidakenakan hati saat nanti bertemu mereka. Sanae tak ingin ikut campur atas apa pun pilihan hidup orang-orang di Rumah Maid Bunga Tulip. Terserah mereka ingin tetap menjadi pelayan atau sosok lain. Selama tidak saling menyakiti, Sanae tidak akan turut andil. Hanya perang pendapat bukanlah sesuatu yang harus diributkan.
Namun, Sanae keliru. Ambisi tanpa dibarengi nurani dan logika bersih justru mampu membinasakan siapa pun yang bahkan tidak bersalah apa pun.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar