Kamis, 07 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kedua

🌷🌷🌷

"Ke mana kau kemarin, Sanae? Kenapa tidak ada di barisan para maid? Kau kabur lagi?" Omelan Elora terdengar saat makan pagi. Sepasang mata paruh bayanya sangat tajam sampai-sampai menyadari ketidakadaan salah satu gadis pelayan binaannya di antara ratusan penduduk yang menyesaki halaman kediaman Ryonswald Hywel.

"Aku ada di sana, Nyonya. Hanya memilih tempat yang lebih nyaman untuk berduka. Aku tahu kalau Nyonya berada di barisan setelah para bangsawan. Aku melihat semuanya, kok. Tenang saja." Gadis yang diomeli menanggapi dengan santai sembari menikmati olahan daging asap tumis dengan brokoli dan jamur bersama satu mangkuk nasi beraroma gurih dan pedas. "Masakan Kak Zeimora tidak pernah gagal di lidahku."

"Jangan mengalihkan omelanku, Sanae!"

"Alangkah lebih baik kalau Nyonya segera makan. Nasi dengan tumis daging asap akan enak dimakan saat masih hangat." Dia betul-betul mengabaikan omelan perempuan paling sepuh di kediaman mereka.

"Sanae benar, Nyonya." Usapan lembut diberikan Zeimora usai mengisi keseluruhan cangkir dengan air jeruk hangat. Pagi itu, bagian mengurusi sarapan memang jatuh ke tangan Zeimora dan dua gadis pelayan lain yang lebih muda.

Elora menghela napas. Menguruti pelipis karena denyutan tiba-tiba menyerang. Kepalanya akan selalu pusing jika memikirkan tindak-tanduk Sanae. "Seharusnya, kau sudah mendiami rumah seorang bangsawan untuk bekerja, Sanae. Tinggal kau dan Zeimora, gadis paling senior, yang tak kunjung menerima pinangan para bangsawan untuk bekerja dengan mereka."

"Aku sudah bekerja, Nyonya Elora. Di toko sayuran Tuan Cruz dan Kedai Bir Tuan Allan."

"Kau belajar sebagai maid bukan untuk jadi pelayan toko, Sanae. Kau dikhususkan untuk melayani rumah bangsawan."

"Apa bedanya sih, Nyonya? Toh, sama-sama melayani. Di toko Tuan Cruz dan Tuan Allan, aku juga melayani pelanggan."

"Kau ini ...."

Ingin sekali Elora menimpuk mulut Sanae dengan kulit jeruk saat tangan Zeimora lebih dulu mencegah. "Selalu saja kau membela gadis nakal itu, Zei."

Kekehan Zeimora menutup kemarahan Elora. Dengan isyarat tangan, Zeimora meminta Elora untuk melanjutkan sarapan. Mengingatkan bahwa mereka harus bergegas karena pemakaman duke akan segera dimulai. Hari penting untuk Kota Erthura sehingga mereka tak boleh tak hadir.

Seperti juga pagi-pagi sebelumnya, Sanae berhasil lolos dari omelan maupun tepukan keras sang nyonya rumah. Bersiul senang di sela-sela menghabiskan hidangan. Menampilkan ekspresi yang sesungguhnya mengundang kembali sebal Elora. Namun, demi gegasnya ritual makan pagi mereka, Elora bersedia mengabaikan.

Bersamaan dengan terdengarnya enam kali denting lonceng dari menara di atas bukit, rombongan gadis pelayan dari Rumah Maid Bunga Tulip keluar. Bergabung dengan ratusan penduduk. Mengarah ke kediaman Duke Ryonswald. Masih dengan busana yang sama seperti kemarin. Memerahkan jalanan Erthura.

Mencuri kelengahan Elora, Sanae kembali memisahkan diri. Bergerak lambat sehingga posisinya makin tertinggal. Setelah cukup aman dari ratusan tatapan penduduk, Sanae melompat cepat ke salah satu atap rumah. Menjadikannya sebagai tempat merebah sekaligus menikmati matahari pagi musim semi. Tidak ada yang menyenangkan dari turunnya peti mati ke liang lahat maka Sanae hanya memperhatikan proses pemakaman dari jauh. Hampir-hampir sepasang mata besar Sanae terpejam saat derak roda kereta kuda terdengar bersamaan enam kali denting lonceng dari menara di atas bukit untuk kedua kali. Memicing Sanae untuk mengecek bangsawan mana yang datang ke pemakaman duke.

"Bendera berlambang serigala membawa rumpun padi?" Dicarinya ingatan tentang pembelajaran terkait lambang-lambang bendera kebangsawanan yang tersebar di Kekaisaran Celdara. Namun, Sanae tak pernah menemukan lambang tersebut dari buku-buku yang dibaca. Sepasang bahunya bergerak. Tak acuh. Tak ingin tahu bangsawan mana yang datang. Toh, tidak ada hubungan dengannya.

Sanae tak berniat beranjak sampai prosesi pemakaman selesai. Dia takzim merebah di atap rumah salah satu penduduk demi menikmati siraman hangat matahari pagi musim semi. Mengabaikan pemberitahuan dari rumah duka bahwa setiap penduduk diharuskan berkumpul untuk mendengarkan khotbah kematian.

Dikorek-koreknya salah satu telinga. Mengeluarkan sedikit kotoran yang sempat membuat gatal. Mengempas ke udara sehingga angin menerbangkannya entah ke mana. Sepasang mata besar Sanae lantas memejam.

"Kaupikir siapa yang betah mendengarkan khotbah kematian, hah?"

Sanae tak pernah benar-benar melihat peti mati duke dikebumikan.

🌷🌷🌷

Jasad Ryonswald Hywel dalam peti mati telah damai di bawah timbunan tanah. Khotbah kematian telah berakhir. Buket-buket bunga telah pula menyesaki sekitaran tugu batu yang menjadi tanda makam. Ratusan penduduk bersiap ke kediaman masing-masing, ingin memulai kembali aktivitas saat sebuah suara menginterupsi langkah pertama mereka.

"Aku tahu kalian ingin segera membuka kembali toko-toko, mencabuti rumput liar di ladang dan kebun, atau mengeluarkan ternak dari kandang karena sejak kemarin hanya bisa dikurung. Sayangnya, kalian perlu menahan sedikit lebih lama keinginan tersebut." Ditatapnya wajah-wajah bingung yang menjadikan pemuda dengan selempang perak berlambangkan dua pedang bersilang dengan rumpun hibiscus di bagian tengah sebagai pusat perhatian. "Ada hal yang harus kalian saksikan hari ini juga. Marilah kembali ke kediaman duke! Tidak butuh waktu lama. Hanya sebentar lalu setelahnya kalian bebas memulai aktivitas."

Menggunakan tatapan sebagai instruksi, seorang pelayan pria berusaha menggiring para penduduk untuk kembali ke kediaman duke. Berjalan mendahului sang duchess dan putri-putrinya yang masih di depan tugu makam.

"Apa yang ingin kausampaikan, Pangeran Iloi?"

"Kau akan tahu setelah sampai di sana, Duchess Klerianna." Senyum simpul ditambahi kerlingan diberikan Iloi kepada perempuan yang merupakan istri mendiang Ryonswald. "Mari kembali, Nyonya Duchess! Jangan membuang-buang waktu karena aku masih harus mengurus yang lain."

Tak menunggu sampai Klerianna dan putri-putrinya beranjak, Iloi mendahului; menghampiri lebih dulu seorang pemuda yang sejak prosesi pemakaman memilih sedikit menjauh dari istri dan putri-putri Ryonswald. Sengaja membangun benteng sehingga tidak perlu beramah-tamah.

"Tidak sopan kalau kau tak memperkenalkan dirimu kepada para penduduk, bukan? Jadi, mari kembali."

Rhisiart mengangguk. Mengikuti langkah Iloi. Berjalan beberapa langkah di belakang.

Masih di tempat, Klerianna saling pandang dengan kedua putrinya. Baru menyadari kehadiran seorang pemuda yang terlihat akrab dengan sang pangeran. Sama sekali tak menduga bahwa yang datang adalah bocah lelaki yang dia yakini telah berhasil ditiadakan.

Ketidaktahuan Klerianna perihal Rhisiart yang masih hidup memanglah wajar. Kepala prajurit yang bertugas melenyapkan Rhisiart belasan tahun lalu telah membohongi mereka. Mengatakan bahwa anak simpanan Ryonswald jatuh ke jurang di dekat hutan pinggiran Ibu Kota dalam pelariannya. Tubuhnya ditemukan mengambang pada esok hari dan langsung dikubur asal sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan dengan bodohnya Klerianna tidak mengecek kebenaran si kepala prajurit. Percaya begitu saja.

Dalam perjalanan kembali ke kediaman duke, Iloi menahan senyum. Sedang membayangkan ekspresi duchess dan para putri yang pasti tidak menyangka telah dibohongi prajurit bayaran mereka. Lebih tidak menyangka lagi jika anak lelaki duke, yang paling berhak atas tampuk kekuasaan berdasarkan ikatan darah, berhasil hidup; tumbuh dengan sehat dalam pengasuhan paman dan bibinya yang sengaja dirahasiakan. Hanya segelintir yang tahu bahwa Ryonswald masih berkerabat dengan Bangsawan Kremlyn dari kota sebelah. Sebagai pangeran, tentu Iloi menjadi salah satu yang mengetahui banyak hal terkait silsilah para bangsawan di kerajaannya.

Rapat digelar segera setelah Klerianna dan kedua putrinya bergabung. Di hadapan para penduduk Erthura, Iloi memimpin rapat. Tak jauh dari tempatnya, Rhisiart berdiri sedikit di belakang Iloi. Meski akrab, status keduanya tetaplah berbeda. Rhisiart tetap harus menjaga pandangan orang-orang terhadap mereka.

"Seperti yang kita tahu bahwa duke yang mengawasi Erthura telah mangkat." Tatapan Iloi memindai aula kediaman Ryonswald. "Tentu kursi kekuasaan Duke Erthura tidak boleh kosong walau sehari pun. Harus segera ada yang mengisi sehingga pemerintahan daerah Kota Erthura berjalan dengan semestinya."

Bisik-bisik samar terdengar dari kumpulan penduduk. Mempertanyakan siapa yang akan menggantikan kepemimpinan Ryonswald, sedangkan mereka tahu bahwa sang duke tidak memiliki anak lelaki. Ya, para penduduk memang tidak pernah tahu bahwa Ryonswald memiliki dua istri yang dinikahi secara sah dan tercatat dalam dokumen kekaisaran. Namun, demi menghindari beberapa hal yang tidak diinginkan, Ryonswald memang merahasiakan pernikahan keduanya. Pernikahan dengan seorang wanita dari keturunan penduduk biasa, bahkan merupakan pendatang yang tinggal di Distrik Orang Timur. Sialnya, dengan kecermatan Klerianna, keberadaan istri dan anak lelakinya berhasil diketahui.

"Maaf, Pangeran." Klerianna mengangkat tangan; mencoba menginterupsi. "Bukankah terlalu cepat jika kita mengadakan pemilihan sekarang? Duke baru saja pergi. Kami masih berkabung. Setidaknya, pemilihan bisa diadakan tiga hari mendatang."

"Pemilihan?" Tampang Iloi terlihat ingin tertawa. "Aku tidak berkata akan mengadakan pemilihan, Duchess Klerianna."

"Jika tidak ada pemilihan, bagaimana kursi duke akan digantikan?"

"Tentu saja putra kandungnya yang akan menggantikan. Tentu Duchess Klerianna tahu aturan penempatan duke di kerajaan ini, bukan?"

Terlihat kerutan di dahi Klerianna. Sebisa mungkin menahan diri untuk tidak bersikap gegabah, terlebih di hadapan ratusan penduduk dan Pangeran Mahkota.

"Maaf, Pangeran. Kurasa, ada kekeliruan dalam rencanamu. Suamiku, Duke Ryonswald, hanya memiliki dua putri. Jadi, penunjukkan kursi duke dengan memakai garis keturunan telah gugur." Apa yang kaurencanakan, Bocah Tengik?

"Begitukah? Hm ...."

Ditampilkannya wajah yang seolah-olah berpikir. Bergaya sok mempertimbangkan. Sengaja sekali memainkan ekspresi di hadapan sang duchess.

"Agaknya, kau tidak mengenal baik suamimu, Nyonya Duchess." Seringai licik tak disembunyikan sama sekali dari hadapan Klerianna. "Baiklah. Aku tidak akan membuat kalian penasaran lama-lama. Kalian tentu tidak sabar untuk kembali beraktivitas."

Iloi bangkit. Beranjak ke belakang. Menarik Rhisiart yang sejak tadi diam mendengarkan untuk bergabung bersamanya di muka rapat. "Kalian harus tahu bahwa Duke Ryonswald memiliki seorang putra. Hasil pernikahan dengan seorang wanita dari Distrik Orang Timur. Pernikahannya sah dan tercatat di dokumen kekaisaran."

Segalanya telah diantisipasi untuk menghadapi hari itu. Iloi bahkan membawa sekaligus menunjukkan dokumen-dokumen legal dari pernikahan Ryonswald dan istri keduanya yang tidak lain adalah ibu kandung Rhisiart.

"Putra Duke Ryonswald dengan perempuan itu adalah pemuda yang berdiri di samping kananku. Rhisiart Hywel. Dialah yang akan menjadi pengganti Duke Ryonswald memimpin Erthura."

Rhisiart membungkuk. Memberi salam hormat kepada para penduduk. Bisik-bisik mulai terdengar di aula rapat. Sebagian mempertanyakan kebenaran tentang duke mereka yang beristri dua. Sebagian lain menatap tak percaya bahwa duke pengganti yang akan memimpin mereka masih sangatlah muda. Hanya Klerianna dan kedua putrinya yang terenyak. Habis kalimat oleh dentuman petir yang dibawa Iloi.

Mereka ... tidak bergurau, bukan?

🌷🌷🌷


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...