🌷🌷🌷
"Oi, Hakaza!" Lelaki bertubuh tinggi besar yang duduk di atas sebuah batu menatap nyalang bocah lelaki dengan syal melilit di leher. "Di mana Maid-chan? Kauberi tahu dia tidak kalau kita punya misi, heh?"
"Aku sudah memberi tahu Maid-chan, tapi entahlah dia jadi datang atau tidak." Hakaza mendengkus. Dia lupa menagih jawaban wanita berambut hijau zaitun usai memberi kabar terkait misi malam itu. Buru-buru pergi karena barang antarannya harus segera sampai di salah satu kediaman bangsawan atau upah yang tak seberapa justru terpangkas.
"Kita butuh Maid-chan." Lelaki tinggi besar di atas batu mengorek-ngorek telinga. "Mata-mataku bilang, mereka menyebar pengawal yang ahli pertarungan jarak jauh untuk menyabotase serangan bandit. Ck! Akan sangat merepotkan kalau Si Mata Besar Shuriken tidak ikut."
Bulan menggantung bulat sempurna. Seekor gagak berputar di atas kepala lantas mendarat di lengan lelaki tinggi-besar yang dengan sengaja merentangkan sebelah tangan. Diusap-usapnya kepala gagak selayaknya seorang bocah manja.
"Killey bilang kalau rombongan bangsawan korup itu sudah mencapai mulut hutan."
Sebelum menanggapi ocehan si lelaki tinggi besar, Hakaza melirik lebih dulu gagak di atas tangannya. "Orhamel, kau yakin kalau gagak itu bisa bicara? Aku tidak pernah mendengar kata-kata gagak yang kauberi nama Killey itu. Apa kau hanya berhalusinasi?"
"Kautahu harus melakukan apa, Killey?"
Gagak di tangan Orhamel mengepak-ngepakkan sayap. Mengudara rendah. Tepat di atas kepala Hakaza. Paruhnya lantas mematuki puncak kepala bocah bersyal. Mengundang tawa Orhamel sampai kedua bahunya berguncang-guncang.
"Astaga! Astaga! Astaga!" Hakaza berusaha melindungi kepala dengan kedua lengan. "Iya, iya! Kau mampu bicara dengan tuanmu, Killey! Iya, aku salah sudah menuduhmu!"
Seolah betulan mengerti, permintaan ampun Hakaza disetujui. Killey kembali terbang. Berputar-putar lebih dulu sampai kemudian bertengger di bahu Orhamel. Lelaki tinggi besar itu masih menertawakan kesialan Hakaza. Tak menyadari bahwa telah hadir di antara mereka seorang wanita berpakaian pelayan yang bandana putih berendanya tersemat di kepala berambut hijau zaitun. Begitu lembut empasan di atas permukaan tanah sampai-sampai Hakaza dan Orhamel tak mendengar tapakan sepasang kaki dengan sepatu bersol tinggi berujung datar.
"Apakah aku ketinggalan tontonan yang menarik, Tuan-tuan?"
Barulah kedua lelaki berbeda usia itu menyadari personel tambahan untuk misi mereka.
"Yo, Maid-chan! Hampir-hampir kau kutinggal karena tidak kunjung menampakkan wajah manismu."
Melihat wanita berambut hijau zaitun telah bergabung, Killey berpindah lagi. Bahu Sanae menjadi tempat bertenggernya. Membuahkan usapan lembut di sepanjang kepala dan leher. Sudah tidak asing dengan keberadaan Sanae.
"Mengingat aku sedang butuh shuriken dan kunai baru, rasanya tak mungkin melepas mangsa malam ini, Kapten."
"Contohlah Maid-chan, Hakaza. Dia selalu hormat dengan memanggilku Kapten. Kau yang masih bocah malah memanggilku hanya nama."
Hakaza hanya berdecak. Merasa tidak perlu menanggapi omelan Orhamel berkenaan panggilan. Toh, dia bukan anggota resmi perkumpulan bandit yang hobinya merampok kawanan bangsawan korup. Ya, paling tidak belum niat bergabung karena kesibukan utamanya menjadi pengantar makanan dari sebuah kedai ramen di Distrik Bulan Putih. Tidak mungkin bergabung dengan kelompok bandit atau ayah dan ibunya terkena serangan jantung mendadak. Kalaulah dia bisa berkeliaran malam untuk ikut misi, tidak lain karena selalu mampu mengelabui kedua orang tua.
Tergopoh seorang pemuda pendek dengan otot-otot liat di sekujur tubuh mendatangi tempat Orhamel duduk. Tampak peluh membanjir di wajah dan dada yang terbuka. Sebilah pedang berwarna hitam tersampir di ikat pinggang.
"Mereka sudah datang, Kapten. Ada puluhan pemanah yang berada di sisi lain dari jalur yang dipakai si bangsawan. Kita tepat berseberangan dengan pasukan pemanah mereka."
"Pemanah, ya?" Orhamel mengusap-usap dagu. Melirik kepada Sanae yang dibalas cengiran lebar.
"Sepertiga bagian untukku, Kapten." Memijak udara, Sanae memelesat terbang di atas mereka. Mencapai batang pohon terdekat. Melompati satu per satu pohon tanpa sedikit pun menimbulkan suara. Membiarkan Killey tetap di bahu sebagai mata yang menghubungkan dengan kelompok Orhamel.
"Harta orang kurampok, sedangkan hartaku dia yang rampok. Dasar wanita licik." Orhamel bangkit. Menepuk-nepuk bokong agar debu yang menempeli celana terempas. "Ayo, Hakaza! Kita berpesta malam ini! Akan kubayari jus jeruk dari kedai Allan."
"Aku tidak minum jus jeruk!" Bocah lelaki bersyal itu mendengkus. Selalu saja dibuat sebal oleh Orhamel yang memang tidak pernah sungkan mencandai.
Mereka beranjak. Orhamel memanggul pedang besar berwarna hitam di bahu. Hakaza yang melangkah di sampingnya asyik memainkan kunai sembari bersiul. Pemuda berotot yang tadi melapor justru berjalan terbungkuk-bungkuk demi mengatur napas setelah berlari tanpa jeda sepanjang satu kilometer. Di udara, Sanae dan Killey menjadi ratu pertarungan tak terlihat.
🌷🌷🌷
Memilih pohon paling tinggi dari sisi berlawan dengan rombongan bangsawan yang akan mereka rampok, Sanae berdiri dengan keseimbangan sempurna. Killey setia di bahunya. Ikut menatap awas rombongan yang melindungi satu kereta kuda berpelitur mewah. Mengilat dijatuhi cahaya bulan yang bersolek tanpa gangguan awan.
Terbiasa bekerja dalam gelap tak membuat Sanae kesulitan menghitung lawan yang harus dihadapi. Urusannya hanya dengan para pemanah. Sebagai petarung jarak jauh, tentu saja Sanae yang kebagian menghabisi orang-orang bayaran si bangsawan. Dia sangat tahu seberapa banyak seharusnya seorang bangsawan memiliki pasukan pribadi. Yang jelas, tidak akan sebanyak yang mengawal bangsawan malam itu.
"Kaulihat, Killey? Dengan tanpa dosa mereka membawa harta yang tidak seharusnya mereka miliki. Merebut hak penduduk, sedangkan upeti yang ditariki sangat mencekik. Kejahatan harus dilawan kejahatan kalau dengan cara halus masih tidak digubris." Sanae mengusapi leher Killey.
Hakaza belum memberi tahu rincian seberapa banyak rampasan yang akan mereka dapat. Orhamel juga tidak sempat menjelaskan, tetapi Sanae sudah bisa memperhitungkan hanya dari jumlah pengawalan serta mewahnya kereta kuda yang dipakai. Sepertiga bagian yang dia minta akan sangat cukup untuk membiayai satu panti asuhan selama satu bulan.
Ya, harta yang dirampok mereka bukanlah harta yang seharusnya dimiliki si bangsawan. Sebelum melakukan serangan, Orhamel dan anak buahnya telah berhitung. Telah pula memiliki daftar nama orang-orang pemerintahan yang selama ini melakukan kecurangan; menyalahgunakan keberadaan upeti untuk mengenyangkan lambung pribadi. Orhamel dan kelompoknya hanya akan merampok bangsawan atau orang pemerintahan yang telah terbukti korup dalam perhitungan mereka.
Sanae melihat beberapa pengawal membawa obor. Seringai licik menghias wajah. Bertarung dengan hanya mengandalkan cahaya bulan bukanlah hal sulit bagi Orhamel dan anak buahnya.
"Bandit Pedang Hitam justru menyenangi pertarungan dalam gelap." Dikeluarkannya empat shuriken dari kantong dalam celemek. Menggunakan tenaga dalam, Sanae mengirim keempat shuriken bersamaan. Tanpa meleset sedikit pun, ujung-ujung shuriken berhasil menancap di dada dan lengan empat pembawa obor.
Pekik kesakitan memecah bisu hutan. Seruan-seruan panik sekaligus siaga terdengar. Desing anak panah meramaikan udara walau entah ke mana mengarah. Jauh meleset dari posisi Sanae.
"Aku tidak tahu berapa usia pemanahmu, Bangsawan Bodoh. Yang jelas, kemampuan mereka belum setara dengan serangan shuriken-ku. Kalian hanya cari mati dengan setuju mengawal bangsawan korup sepertinya."
Dua. Empat. Enam. Delapan. Belasan shuriken melayang di udara untuk kemudian menancapi dada, dahi, kepala, dan lengan para pemanah. Formasi pengawalan buyar total. Beberapa pemanah bergegas tunggang-langgang. Tahu bahwa tak diuntungkan, mereka memilih menyelamatkan nyawa alih-alih menyerahkannya kepada kelompok bandit paling kejam di Kekaisaran Celdara.
Dalam waktu singkat, prajurit pemanah selesai dihabisi Sanae. Tidak sampai mati. Sanae masih berbelas kasih. Hanya luka robekan yang mereka derita. Karena tugasnya membuka pertarungan selesai, Sanae mengambil waktu; duduk di salah satu batang pohon besar sembari ongkang-angking kaki. Sepasang matanya menontoni tebasan demi tebasan pedang kelompok Bandit Pedang Hitam.
"Lihat-lihat belakangmu, Hakaza! Astaga! Kau seperti pemula saja! Pakai kunai-mu dengan benar, Bocah!"
"Berisik! Jangan menggangguku, Maid-chan!"
Sorakan Sanae berbalas kekesalan bocah bersyal. Alih-alih tersinggung karena dimarahi, Sanae justru tergelak. Tidak merasa perlu ikut campur karena kesepakatan mereka adalah Sanae cukup menghabisi regu pengawal yang mampu menyerang dari jarak jauh. Tampak dari tempatnya jika Orhamel tidak sampai turun tangan. Membiarkan belasan anak buahnya yang mendominasi pertarungan.
"Oi, Pak Tua! Kau jangan makan gaji buta! Bekerjalah! Enak-enakan kau menonton sedangkan bocah paling kecil dari kelompokmu saja bersimbah peluh melakukan pertempuran." Terdengar lagi omelan Hakaza.
Tawa Orhamel menggelegar. "Bagus untuk melatih kekuatan bertarungmu, Hakaza. Aku menyerahkannya kepadamu agar jam terbangmu bertambah."
"Memang dasarnya kau pemalas, Orhamel!" Hakaza melenting saat tebasan pedang hampir menusuk leher. Sebuah kunai dia lempar, tepat mengenai dada sang penyerang, menimbulkan pekik yang mengagetkan belasan kelelawar.
Tak peduli omelan Hakaza, Orhamel terus tertawa. Langkahnya lantas mendatangi kereta kuda yang masih tertutup. Terkunci sempurna. Dia bisa membayangkan wajah pucat si bangsawan yang tersergap.
"Aku bisa saja melepasmu selama kau menyerahkan semua peti hartamu, Tuan." Santai Orhamel menyandari dinding luar kereta. "Kalau kau masih sayang nyawamu, masih ingin melihat matahari terbit esok hari, kau hanya perlu menyerahkan semua yang kaubawa malam ini."
Pertarungan hampir selesai. Puluhan pengawal menggeletak dengan luka-luka tak fatal. Kendati menyerang, Orhamel berusaha tidak membunuh. Niat mereka hanya merampas, bukan menghilangkan nyawa. Selagi pihak lawan mampu diajak bekerja sama, bisa saja Orhamel melepaskan tanpa perlu ada yang meregang nyawa.
"K-kau tidak berbohong? K-kau a-akan melepaskanku jika ... jika kuberikan semuanya?" Terdengar tanggapan dari dalam kereta.
"Tentu saja. Aku hanya butuh bawaanmu, bukan orang tak berguna sepertimu."
"K-kau ... t-tidak akan membunuhku, 'kan?" Tercicit suara di dalam kereta.
Orhamel bisa membayangkan setakut apa si bangsawan yang lebih sering banyak bicara dan mengeluh alih-alih bekerja jujur memperbaiki kota. "Aku kapten dari kelompok Bandit Pedang Hitam. Tidak akan membunuh jika tidak terancam dibunuh."
Terdengar kelotak disusul pintu kereta terbuka. Dengan instruksi kepala, Orhamel meminta si bangsawan keluar. Membawanya menjauhi kereta lantas menempelkan pedang besarnya di leher.
"Oi, oi! Tuan kalian telah menyerahkan diri. Daripada membuang-buang tenaga, alangkah baiknya kalian menyerah."
Seruan Orhamel berhasil menghentikan pertarungan. Belasan prajurit yang masih bugar terpaksa bertekuk lutut dalam pengawasan anak buah Orhamel.
"Hakaza, cek setiap peti yang dibawa bangsawan sialan ini. Keluarkan semua jika isinya sesuai dengan kemauan kita."
Tanpa memprotes, Hakaza memenuhi perintah. Diceknya satu per satu peti yang sebagian besar berisi koin emas. Beberapa lagi berisi perhiasan. Sedikit di antaranya berisi berlian dan permata yang terkenal dari kerajaan tetangga.
Dengan bantuan seorang anak buah Bandit Pedang Hitam, Hakaza mengeluarkan setiap peti. Tidak menyisakan satu pun. Mereka panen besar malam itu.
"Kau membawa stempel kebangsawananmu?" Orhamel menekan lebih dalam mata pedang ke leher si bangsawan.
"I-iya. I-iya aku membawanya." Tubuh si bangsawan gemetar. Peluh dingin membanjiri sekujur punggung. Tidak ada yang bisa dia lakukan karena jika menolak apalagi memberontak, lehernya bisa putus tanpa dia sadari. Rumor bahwa kepala perampok Bandit Pedang Hitam bisa membunuh tanpa terlihat dan terasa telah menyebar ke seantero kekaisaran.
"Berikan stempelmu di kertas itu." Orhamel melempar gulungan kertas ke hadapan si bangsawan. "Stempel di bawah nama yang sudah dibubuhkan."
Terpatah-patah gerakan tangan si bangsawan saat membubuhkan stempel.
"Bagus! Tikus memang harus menurut kepada kucing besar." Dengan instruksi tatapan, Orhamel meminta Hakaza mengambil kertas yang sudah berstempel. "Berikan kepada Duke sehingga ketidakbecusannya dalam mengelola Distrik Bulan Putih bisa diselesaikan sesuai hukum."
Untuk kesekian kali, Hakaza tak memprotes walau disuruh-suruh. Dia gulung kembali kertas lantas menyimpan di saku dalam dari pakaian yang dikenakan. Bergabung kemudian dengan anak buah Bandit Pedang Hitam untuk membawa peti-peti jarahan.
"Aku tidak merusak keretamu. Kau bisa kendarai untuk pulang. Selamat malam. Semoga harimu menyenangkan." Orhamel memanggul pedang hitam tanpa sarung kebanggaannya. Berjalan paling belakang dari belasan anak buah yang bersiul senang karena peti-peti yang terpanggul sarat muatan. Dengan menukar koin atau berlian, mereka bisa menikmati bir semalam suntuk.
Tinggallah si bangsawan yang hanya mampu menatap nelangsa kepergian peti-peti harta kesayangannya.
Dari pohon paling tinggi di arena pertarungan, Sanae menyaksikan setiap momen. Bangkit dari duduk santainya. Meregangkan otot-otot lengan demi mengurangi cedera akibat lepasan tenaga dalam saat melempar shuriken. Dia biarkan belasan shuriken terserak di bawah sana. Dia tak perlu mengambilnya meski belasan yang harus hilang. Toh, dengan sepertiga bagian dari Orhamel akan mampu mengembalikan lebih banyak shuriken. Tiga sampai lima kali lipat shuriken baru yang akan dia dapat.
Dari bulan yang semakin condong ke barat, Sanae tahu bahwa fajar akan tiba dalam kurun tiga jam ke depan. Dia harus segera pulang sebelum Elora menyadari bahwa tubuhnya tidak berada di ranjang kamar.
"Nah, Killey. Kembali kepada tuanmu. Ingatkan agar tidak mengutil bagianku, ya."
Killey terbang meninggalkan bahu Sanae setelah mendapat usapan dan ciuman.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar