Sabtu, 09 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Ketiga Belas

🌷🌷🌷

Tengah hari saat kereta yang membawa Iloi berhenti di istal Istana Permaisuri. Dimintanya Ceroz yang mengawal untuk meletakkan barang-barang bawaan mereka ke Istana Pangeran, sedangkan Iloi melanjutkan langkah menuju ruangan Permaisuri. Ah, bukan. Waktu kedatangannya bertepatan dengan jam makan siang. Iloi berbelok ke ruang makan alih-alih mendatangi kamar pribadi.

Sangkaannya tepat. Perempuan paruh baya yang dicari tengah duduk seorang diri menghadapi meja makan besar. Beberapa pelayan berdiri di sisi lain ruangan. Berjaga-jaga jika sang permaisuri meminta diambilkan ini atau itu.

Suara langkah Iloi berhasil mengambil atensi Permaisuri. Senyum lebar dia berikan begitu sepasang matanya menemukan sosok yang beberapa hari belakangan tengah sibuk mengemban tugas. Makan siangnya hari itu tidak lagi sendirian. Keberadaan Iloi akan mengusir sedikit rasa kesepian.

"Kaudatang tepat waktu, Iloi. Koki Ibu memasak ikan goreng kesukaanmu. Ayo! Duduk dan makanlah bersama Ibu." Sebelah tangannya melambai kepada seorang pelayan. Sebuah kode agar mereka menambahkan peralatan makan untuk Iloi.

"Instingku sangat tajam untuk mampir ke tempat Ibu dulu." Tak sungkan Iloi bergabung. Selain memang lapar, ada banyak hal yang ingin dia ceritakan kepada perempuan yang belakangan lebih sering berdiam di Istana Permaisuri alih-alih berada di sisi Kaisar. "Bagaimana istana, Bu?"

"Tidak banyak berubah. Hanya bertambah anggota baru."

Iloi mengernyit kendati bisa meraba yang dimaksud perempuan di ujung meja.

"Ayahmu membawa gundiknya." Permaisuri melanjutkan.

"Ibu tidak mencegah?"

"Ibu sudah tidak ingin mencampuri apa pun tentang ayahmu, Iloi."

Tenang. Teramat tenang yang diperlihatkan perempuan di ujung meja atas apa-apa yang berkaitan dengan petinggi negeri mereka. Barangkali, telah habis rasa perempuan itu kepada lelaki yang sejak beberapa tahun belakangan menjadi lebih gila wanita. Hal yang juga menjadi penyebabnya tidak lagi mengunjungi Istana Kaisar, entah untuk makan siang atau makan malam bersama. Iloi menyadari bahwa yang ibunya tunjukkan sudah tidak bisa diganggu gugat.

Tidak ingin menggugat pula. Iloi justru merasa lega jika perempuan kesayangannya menjauh dari kehidupan Kaisar. Dia tahu jika ibunya bertahan hanya untuk mengamankan kekuasaan yang sejatinya dimiliki seseorang, bukan sang ayah.

"Aku masih belum menemukan petunjuk tentang keberadaan putri Paman, Bu." Iloi menukil tugas pemberian Permaisuri yang dijalankan diam-diam.

"Pasti sulit untukmu mengembang tugas ini, Iloi." Sebelah tangan Permaisuri mengusap punggung Iloi. Keduanya memang duduk berdekatan. Meja makan di Istana Permaisuri memang dibuat tidak sebesar meja makan Istana Kaisar. Menyempitnya ruang memberi kebebasan mereka mengobrol sedekat mungkin.

Pemuda berambut pirang yang sama persis seperti rambut Permaisuri itu menggeleng. Membalas usapan sang ibu dengan genggaman. "Kita memang harus mencarinya, Bu. Yang menjadi milik kita sekarang, seharusnya milik adik sepupuku. Dialah pemangku sah takhta. Tidak seharusnya Ayah menyabotase. Lelaki itu harus segera disadarkan agar tidak semena-mena kepada apa yang bukan miliknya."

"Terima kasih karena mendukung rencana Ibu, Iloi."

"Ibu seperti dengan siapa saja." Cengiran lebar diberikan Iloi. "Aku akan kembali mencari saat tugas perjalanan berikutnya. Jika Ibu bisa menemukan sesuatu agar ruang pencarian menyempit, itu akan lebih bagus."

"Akan Ibu usahakan."

Sisa makan siang mereka habiskan dengan obrolan ke sana kemari. Lebih banyak Iloi yang berceloteh tentang perjalanannya dalam mengawasi beberapa wilayah di Kekaisaran Celdara.

Selepas menghabiskan waktu dengan sang ibu, Iloi kembali ke kamar di Istana Pangeran. Ceroz telah menunggu di ruang kerja pribadi Iloi yang juga bersebelahan dengan kamarnya. Terhampar selembar kertas di atas meja.

"Data bunga roda yang kaupinta, Pangeran." Ceroz menunjuk lembaran di atas meja. "Sebagian masih belum terkumpul karena banyaknya kereta pejabat istana yang kita miliki."

Iloi memperhatikan sebentar. "Terus lakukan penyelidikan, Ceroz. Aku sudah berjanji untuk membantu Rhisiart dan ... tunggu. Siapa nama gadis pelayannya itu?"

"Maid-chan, Pangeran."

"Ah, ya. Maid-chan. Nama yang aneh sekali." Iloi mengusap-usap dagu.

🌷🌷🌷

Dia mendapatkannya. Hal-hal yang dulu hanya diangankan. Kamar mewah dengan gorden-gorden mahal. Ranjang empuk dengan seprai super halus. Puluhan gaun dari sutra terbaik. Perhiasan yang mentereng. Bahkan, pelayan pribadi yang siap melayani kapan pun. Posisi yang hampir saja dia tidak miliki andai pertemuan dengan orang nomor satu di Kekaisaran Celdara tak terjadi.

Derajatnya telah berbeda. Bukan lagi gadis yang akan menjadi maid di sebuah rumah bangsawan. Bukan lagi gadis yang hanya bisa disuruh membersihkan ini atau membuatkan itu. Dia telah menjadi bagian penting dari Kekaisaran Celdara.

Ah, bukan kekaisaran, melainkan Kaisar. Ya, dia menjadi milik Kaisar. Dia yang nantinya menyuruh dibuatkan ini atau membersihkan itu kepada belasan pelayan di istana. Bahkan jika memungkinkan, dia bisa saja menggeser posisi perempuan tertinggi di kekaisaran. Bisa saja jika dengan kepandaian dan kemolekan tubuhnya untuk memanipulasi cinta Kaisar.

"Kau salah, Nyonya Elora. Gadis sepertiku tidak akan hanya berakhir di rumah bangsawan sebagai pelayan. Aku bisa mendapat strata tertinggi dengan kecerdikan dan kecantikanku. Aku akan menjadi selir resmi Kaisar." Senyumnya terkembang lebar. Puas dengan roda hidup yang mengantarnya menuju puncak.

Ya, masih menuju. Untuk sementara, dia harus berpuas hati dengan posisi saat itu. Perlahan-lahan. Akan dia lakukan perlahan-lahan untuk mengambil hati orang-orang kekaisaran sehingga tampuk perempuan dengan strata tertinggi di kekaisaran bisa dia dapatkan.

Ketukan terdengar di pintu kamar. "Nona Zeimora, Kaisar datang berkunjung."

Ronanya mencerah. Semburat kemerahan memenuhi wajah dengan bibir sensual terpulas gincu merah. Semakin menghidupkan daya dalam pancaran sepasang mata almonnya.

"Biarkan dia masuk." Usai berseru, dihampirinya lemari lantas mengambil sebuah gaun dengan potongan kerah berbentuk V di mana sebagian dada terekspose; gundukannya menyembul dengan sangat sensual.

Ditemuinya sosok lelaki yang jika berhitung usia akan lebih pantas menjadi ayahnya. Dua setengah kali lipat usianya saat ini.

"Bukankah pagi tadi kita sudah bertemu, Kaisar?" Dilingkarkannya kedua lengan melewati leher Kaisar yang tengah duduk menghadap meja bundar di kamar pertemuan mereka.

"Rasanya, aku tidak bisa jauh darimu, Zeimora." Dikecupnya lengan mulus gadis di belakang. "Aku merindukanmu lagi."

"Bagaimana kalau kautinggal saja di sini denganku, Kaisar? Kau tidak perlu lagi bolak-bolak dari Istana Kaisar ke paviliunku."

Kaisar bangkit. Merengkuh pinggang Zeimora. Memerangkapnya dalam pelukan. Perlahan-lahan, lahar panas di kedalaman dirinya menggelegak. Selalu saja tak mampu menahan pesona gadis maid yang berhasil dia dapatkan dari kota di mana adiknya tinggal.

"Tidak dalam waktu dekat, Sayang." Satu kecupan lembut bersarang di bibir Zeimora. "Situasi masih belum memungkinkan."

"Kenapa tidak kaulengserkan saja takhta Permaisuri? Kau ... bisa mengalihkannya kepadaku."

Kaisar menggeleng. "Tidak semudah itu. Faksi Permaisuri adalah orang-orang kepercayaan kaisar terdahulu. Bangsawan-bangsawan kelas atas yang secara catatan hukum sangat bersih. Takhta yang sekarang menjadi milikku sebenarnya hanya titipan."

"Aku harap, anak kaisar terdahulu tidak pernah ditemukan." Kedua lengan Zeimora ditambatkan ke bahu Kaisar. Wajah manjanya mengundang gemas sehingga satu kecupan lembut kembali bersarang di bibir sensual Zeimora.

"Bahkan, ada atau tidak adanya anak kaisar terdahulu masih sebuah rumor. Tidak pernah benar-benar ada yang tahu apakah dia memang ada atau hanya mengada-ada."

"Kalau memang ada, bagaimana? Apa yang akan Kaisar lakukan?"

"Menyingkirkannya, tentu saja."

"Sebelum Permaisuri tahu?"

"Kau adalah kecerdikanku, Zeimora." Dilesakkannya ciuman di leher Zeimora. "Bagaimana kalau kau memberiku kebahagiaan siang ini, hm?"

"Kau mendapatkannya, Kaisarku."

🌷🌷🌷

Mereka menemukan rombongan kereta bangsawan yang membawa budak. Dua kereta berada di gerbang utara dari kota tetangga Erthura. Berjarak sangat jauh dari pinggiran hutan, tetapi kecepatan Sanae dan Hakaza dalam menunggangi angin mampu mengantar keduanya dalam waktu singkat.

Dua penjaga berhasil dilumpuhkan Hakaza sebelum menyadari penyusupan mereka. Meski merasa mumpuni untuk menaklukan bangsawan berhati culas di bawah sana, Sanae meminta Hakaza untuk tidak gegabah.

"Pastikan bahwa kaburnya mereka dengan keterangan surat legal, Hakaza. Akan menguntungkan bagi mereka jika membawa surat pembebasan perbudakan sehingga kehidupan selanjutnya bisa berjalan lebih baik."

"Kaupikir, bangsawan gila seperti dia mau memberikan surat terlegalisir untuk membebaskan para budak?"

"Tinggal kita paksa mereka mengeluarkannya. Bukankah begitu cara Bandit Pedang Hitam menindaklanjuti keserakahan bangsawan korup?"

"Benar juga." Hakaza mengangguk-angguk.

Bandit Pedang Hitam memang tidak cuma merampas secera ilegal. Mereka mengirimkan surat pengakuan para bangsawan korup dengan stempel asli milik bangsawan terkait. Hukuman tetap harus dilakukan secara resmi, sesuai undang-undang yang berlaku.

"Tiga puluh pengawal bersenjata, Hakaza." Sanae telah berhitung. Dua melawan tiga puluh. Kekuatan sangatlah timpang. Jika bukan Sanae dan Hakaza, tentu saja tak ada keuntungan di pihak mereka.

"Tidak lebih banyak dari rombongan terakhir yang kita selesaikan, Maid-chan."

Sanae menyiapkan senjata. Tiga kunai di tangan kanan, tiga lainnya di kiri. Mengatur tenaga dalam sedemikian rupa sehingga enam kunai melesak tepat di dada enam pengawal. Keenamnya langsung tumbang. Kericuhan segera tercipta.

"Keparat!" Pria berwajah klimis tak jadi memasuki kereta. "Siapa kalian?"

"Tidak penting kautahu siapa kami, Tuan." Sanae mengambil alih jawaban. "Lepaskan budak-budakmu kalau kau masih ingin melihat matahari terbit esok hari."

"Cih!" Pria itu meludah. "Kaulah yang seharusnya menjaga sikapmu, Nona."

Senyum miring menghias wajah Sanae yang tertutup kain hitam. "Tuan, kau tidak dalam keadaan menguntungkan. Dengan senjata milikku, setengah pengawalmu bisa habis tanpa perlu aku turun. Setengahnya lagi akan dengan mudah dibabat habis oleh rekanku. Kau tidak bisa apa-apa."

"Jangan sesumbar! Panah dia!"

Belasan anak panah melesat ke arah Sanae dan Hakaza, tetapi dengan mudah dihindari. Ringan tubuh mereka melompat di antara anak-anak panah yang hanya menemui ruang kosong.

Sanae berdecak. Menatap iba kepada nasib bangsawan yang mereka temui. Enam kunai lagi meluncur. Dua di antaranya mampu dihindari. Empat lainnya berhasil menancap di dahi dan lengan. Pekik kesakitan memecah bisu malam. Mengganggu belasan burung hantu yang sedang bersimfoni di kejauhan.

"Kausungguh bebal, Tuan." Sanae menampik beberapa lesatan anak panah yang menyasar wajah. Dua kunai bersiap di masing-masing tangan. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, Sanae melompat turun sembari terus menangkisi anak panah. Mendarat di atas kereta. Berdiri kian dekat dengan si pria berwajah klimis.

Di lain sisi, Hakaza telah terlibat pertarungan dengan beberapa pengawal. Dua tangan memegang pedang pendek bermata besar. Pinjaman dari salah satu anak Bandit Pedang Hitam. Hakaza tak membawa senjata saat berkunjung ke sarang mereka.

Lincah kedua pedang bermain di tangan Hakaza. Menampik setiap serangan yang lebih sering menyasar leher. Tidak sungkan membalas dengan sabetan di kaki dan dada. Darah memuncrati permukaan tanah kering. Pekikan-pekikan saling bersahut dengan denting pedang atau tombak.

Sementara Hakaza melayani olah pedang, Sanae bermain dengan pengawal dan anak panah mereka. Tubuhnya melenting ke sana kemari, melayang berkali-kali di udara, bahkan menangkapi anak panah untuk kemudian dikembalikan kepada pemiliknya. Dia memutuskan menjaga ketinggian agar lemparan kunai maupun pisau buahnya menancap sempurna di bagian-bagian yang dia mau.

Bulan hampir jatuh ke barat saat tak tersisa satu pun pengawal yang berdiri. Mereka menggeletak bersimbah luka. Beberapa tak sadarkan diri. Lebih banyak yang meringis kesakitan tanpa bisa melanjutkan pertarungan karena goresan di lengan yang dalam atau beberapa tulang mereka terpatahkan.

Sanae mengacungkan pedang ke leher pria berwajah klimis. Berhasil diamankan Hakaza sebelum kabur. Tak berkutik karena juluran pedang di leher depan maupun belakang. Hakaza berdiri tepat di belakang pria berwajah klimis.

"Nah, Tuan. Kau bisa tetap melihat matahari terbit beberapa jam lagi setelah kau memberi stempel di surat-surat kebebasan budakmu." Ujung pedang yang dijulurkan Sanae--dia ambil dari seorang pengawal yang tergeletak--tepat menempel di leher pria berwajah klimis. "Hidup matimu ada di tanganmu, Tuan."

"S-suratnya a-ada di keretaku."

"Oi, kalian!" Seruan Sanae ditujukan kepada gerombolan remaja di dalam kereta yang lebih lusuh. "Keluarlah! Aku sudah mengamankan bangsawan kurang ajar ini. Kalian bisa bebas kalau mau membantuku."

Tanpa diseru dua kali, beberapa bocah lelaki dan perempuan seusia Orphana dan Orphelia berhamburan keluar dari kereta. Mereka telah menyaksikan pertarungan dua orang asing itu. Telah meyakini bahwa datangnya gadis berpakaian maid dan bocah lelaki bersyal adalah untuk menolong mereka.

"Siapa pun di antara kalian, carilah surat-surat kepemilikan budak yang disimpan bajingan ini. Bawa kemari segera."

Seorang bocah lelaki berlarian mendatangi kereta si pria berwajah klimis. Bergegas masuk. Mengobrak-abrik barang bawaan tuannya. Menemukan setumpuk berkas di dalam sebuah tas. Dia tak bisa membaca, tetapi meyakini bahwa berkas itulah yang diminta gadis berpakaian maid. Dia menyerahkan tas berisi berkas kepada Sanae.

"Jangan lepaskan tatapanmu dari Si Berengsek, Hakaza!"

"Kulihat aku sedang apa, heh?" Bocah bersyal memelototi Sanae.

Sanae memberi cengiran lebar kepada Hakaza yang gampang sekali marah setiap dijaili. Ditinjaunya lebih dulu setumpuk berkas dalam tas. Dihitung setiap lembar; menyesuaikan dengan banyaknya kepala yang ada.

"Sesuai. Ini berkas kepemilikan budak punya Si Berengsek." Sanae melempar tas berisi berkas ke hadapan pria berwajah klimis. "Kaustempeli semuanya. Tak boleh ada yang terlewat atau nyawamu yang melayang. Segera!"

Bergetar kedua tangan si pria berwajah klimis saat menstempeli setiap berkas. Sesekali melirik ujung pedang yang tepat di depan mata. Runcing. Dia bisa membayangkan seberapa sakit saat menyentuh kulit. Meski harus kehilangan puluhan koin emas, setidaknya nyawa masih di raga. Dia sungguh tak berkutik. Tiga puluh pengawal yang disewa benar-benar tidak berguna. Kalah hanya oleh dua orang.

Menyerahkan penjagaan kepada Hakaza, Sanae mengambil tumpukan berkas yang telah distempel. Memeriksa ulang agar tidak ada yang tertinggal. Membagikan satu per satu kepada pemilik berkas bersangkutan. Wajah-wajah bahagia menatapi Sanae.

"Terima kasih, Nona. Kami sangat berterima kasih. Sungguh kami tak tahu harus membalas dengan apa kebaikan Nona dan Tuan." Bocah lelaki yang tadi mengambil berkas bersedia mewakili belasan kawannya untuk bicara.

Sanae mengibaskan tangan. "Pergilah ke kota di mana kalian bisa hidup dengan lebih baik. Jagalah baik-baik berkas pembebasan budak yang kalian miliki. Kalian bukan barang sehingga diperjualbelikan. Hiduplah dengan bebas."

"Terima kasih, Nona. Sekali lagi, kami berterima kasih."

Dengan kibasan tangan, Sanae meminta mereka bergegas pergi. Ramai-ramai mereka melambaikan tangan kepada Sanae dan Hakaza. Meneruskan keluar melalui gerbang utara. Menuju ke lain kota.

Tersisa dua berkas di tangan Sanae bernamakan Orphelia dan Orphana. Tidak diberi tahu pun Sanae tahu bahwa berkas itu milik gadis kembar di markas Bandit Pedang Hitam.

"Mari pulang, Hakaza! Tinggalkan saja bajingan itu di sana. Semoga saja tidak ada serigala menyasar kemari. Dengar-dengar, beberapa serigala kedapatan berseliweran di hutan dekat gerbang utara." Sanae membenahi beberapa kunai dan pisau buah yang tersisa.

Seperti biasa, dia sengaja meninggalkan senjata yang telah terpakai. Tidak sudi menyimpan kembali setelah dikotori darah para bajingan. Jika butuh, dia akan memesan kunai dan pisau baru kepada Pak Tua Ebihara. Sanae punya cukup banyak koin.

Setelah memberi satu pukulan di kepala pria berwajah klimis sehingga membuatnya terjengkang tak berdaya, Hakaza mengikuti jejak Sanae. Menunggangi udara untuk kemudian melompati dahan demi dahan pohon. Saatnya kembali ke markas Bandit Pedang Hitam.

🌷🌷🌷


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...