Minggu, 10 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Keempat Belas

🌷🌷🌷

Menyipit mata Rhisiart karena tusukan cahaya dari gorden terbuka. Dikumpulkannya kesadaran untuk kemudian terjaga. Masih berbaring, dia temukan sosok gadis dengan pakaian pelayan tengah membuka seluruh jendela kamar sehingga cahaya dan udara pagi berebut masuk.

"Sudah pagi, Duke Muda. Saatnya bangun dan memulai aktivitas."

Didengarnya sapaan gadis pelayan sembari wara-wiri mengumpulkan pakaian yang terserak di lantai.

"Kupikir, kau adalah makhluk resik yang tidak suka memberantaki kamarmu, Duke Muda. Tahunya ...."

Satu sisi Rhisiart diketahui. Kendati menyukai kebersihan, pemuda berambut hitam itu tidak piawai dengan kerapian. Bahkan mungkin tak acuh mengingat beberapa pakaian dan lembaran kertas memenuhi lantai.

"Apa yang ingin kaulakukan, Duke Muda?" Dia berdiri di samping ranjang dengan setumpuk pakaian. Masih mendominasi celotehan karena pemilik hanya asyik memperhatikan kesibukannya. "Ingin mandi atau langsung ke meja makan?"

"Aku perlu mencari keringat, Maid-chan." Rhisiart menyingkap selimut. Kesadarannya utuh. "Lari mengelilingi mansion dan latihan berpedang sebelum berendam air dingin dan menikmati hidanganmu."

Muncul dari balik selimut dengan hanya bercelana panjang tanpa kaos sehingga kotak-kotak perutnya terekspose di depan mata Sanae tak membuat si gadis pelayan memekik histeris. Seolah apa yang dilihatnya bukanlah hal baru. Lagi pula, dia memang terbiasa menontoni perut kotak-kotak Orhamel atau anak Bandit Pedang Hitam yang lain yang memang lebih sering hanya memakai rompi tanpa dalaman utuh.

"Akan kusiapkan bak mandimu selagi kau mencari keringat." Sanae bersiap keluar saat cekalan Rhisiart di tangannya menghentikan langkah. "Ada apa? Kaubutuh sesuatu?"

Lembut tarikan Rhisiart membawa tubuh Sanae ke hadapannya. Ditelusurinya pemilik wajah dengan mata bulat beriris hijau zaitun. "Aku tidak melihat goresan ini kemarin. Kapan kau terluka?"

Dapat Sanae rasakan permukaan ibu jari Rhisiart yang kasar menyentuh goresan samar di pipi. Ah, benar. Ujung anak panah dari pertarungan semalam memang sempat menggores pipi Sanae. Hanya goresan tipis. Bahkan Sanae tidak merasakan perih.

Sanae ingin berbohong. Ingin bilang bahwa luka itu karena kecerobohannya saat membersihkan apalah. Namun, jauh di dalam hati Sanae, sebagian perasaan mencegah agar Sanae tidak berbicara bohong kepada Rhisiart. Untuk hal apa pun.

"Aku bertarung semalam. Bersama Hakaza. Di kota sebelah. Membebaskan segerombolan budak yang akan diperjualbelikan." Cengiran Sanae melebar.

Menyangka bahwa Rhisiart akan terkejut, tetapi respons pemuda di hadapannya hanyalah helaan napas. "Sudah kauobati?"

"Belum." Sanae menjawab enteng. "Sadar bahwa ada luka di pipi saja setelah kau yang memberi tahu. Sepertinya, aku tidak boleh sampai terluka agar kau tidak mengetahui pekerjaan sampinganku, Duke Muda."

"Aku sudah mengetahuinya sekarang."

"Sialnya begitu."

Rhisiart membimbing Sanae untuk duduk di sisi ranjang. "Sekalipun hanya goresan tipis, lukamu harus tetap diobati, Maid-chan. Kita tidak tahu terbuat dari apa ujung panah yang melukaimu. Salah-salah malah lukamu bisa infeksi."

Dibiarkannya Sanae menunggu sedang dirinya menghampiri bufet di dekat rak buku. Terdapat kotak berisi beberapa ramuan dan salep. Rhisiart mengambil salah satu salep. Membawanya ke hadapan Sanae. Pelan-pelan dioleskannya ke luka gores Sanae. Kesibukan yang Sanae nikmati hanya dengan diam.

"Padahal, aku bisa mengurusnya sendiri, Duke Muda."

"Tidak ada salahnya aku yang mengurus maid-ku."

"Alih-alih maid, aku justru merasa diperlakukan seperti seorang istri. Istri yang ceroboh sehingga mudah sekali terluka." Senyum jail Sanae tertangkap Rhisiart.

"Jangan sering-sering terluka jika kau tidak ingin merasa dianggap istri yang ceroboh oleh suami yang protektif." Pria itu berkacak pinggang.

Entah apa yang lucu, tawa Sanae menggelegar. Bahunya berguncang-guncang saking gelinya akan interaksi di antara mereka.

"Sikapmu yang justru menakutkan, Duke Muda." Sanae bangkit. "Jika kau memperlihatkannya di depan orang banyak, rumor buruk pasti beredar di seluruh penjuru Erthura."

"Aku tidak peduli."

Sanae tak menanggapi. Memilih membawa keluar tumpukan pakaian kotor di tangannya agar segera dicuci. Selagi menunggu Rhisiart selesai dengan kegiatan mencari keringatnya, Sanae memberesi seisi kamar sang duke. Menyerahkan tugas mencuci dan memasak kepada maid lain.

Ya, maid lain. Sanae berhasil menemukannya tidak sampai satu pekan mereka tinggal di mansion. Melebar senyum Sanae karena tugasnya tak lagi semenempuk beberapa hari lalu.

🌷🌷🌷

"Mereka adalah budak yang kubebaskan semalam. Yang berambut cokelat gelap adalah Orphelia, sedangkan bocah manis berambut krem adalah Orphana. Seperti yang Duke Muda lihat, mereka gadis kembar." Sanae memperkenalkan maid baru di mansion mereka segera setelah Rhisiart duduk menghadap meja makan. "Daripada mereka luntang-lantung di jalanan, aku memutuskan membawa keduanya ke mansion. Selain menghindari bahwa bisa saja mereka kembali ditangkap bangsawan menjijikan untuk kemudian diperjualbelikan, Orphelia dan Orphana telah cukup umur untuk bekerja. Kau tidak keberatan, bukan?"

Di ujung meja, di kursinya, Rhisiart menyusurkan tatapan kepada gadis kembar yang berdiri di samping Sanae. Satu di antaranya lebih sering menunduk dengan ekspresi cenderung takut alih-alih malu. Berbeda dengan gadis berambut cokelat gelap. Rhisiart bisa merasakan aura keberanian dari Orphelia.

"Kau lebih dari paham hal-hal semacam ini, Maid-chan. Aku menyerahkan urusan maid baru kepadamu."

"Begitulah seharusnya seorang duke." Sanae berbalik menatap Orphelia dan Orphana. "Nah, Orphelia dan Orphana. Kalian resmi menjadi maid untuk Duke Rhisiart Hywel. Tugas kalian mengurusi keseluruhan mansion. Kalian bagi saja sendiri ingin mengurusi bagian mana. Sampai aku menemukan maid lain yang cocok untuk bergabung, kalianlah yang bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapian mansion. Khusus kamar pribadi Duke Muda, aku yang mengurus. Kalian tidak perlu masuk ke sana."

"Baik, Nona." Keduanya mengangguk bersamaan.

"Nah, mari mengisi perut sebelum melanjutkan tugas." Sanae memundurkan salah satu kursi di sisi kanan. "Kalian juga. Di mansion ini, kalian akan makan di tempat yang sama dengan duke. Tidak ada perbedaan, terutama saat hanya ada kita di mansion. Kalian bisa makan apa pun yang tersaji di meja makan. Tidak perlu sungkan."

"Bukankah itu tidak sopan, Nona?" Orphelia memprotes. Sepanjang ingatan Orphelia, maid-maid yang pernah dia temui tidak bertindak sebebas gadis yang memperkenalkan diri sebagai Maid-chan. Banyak peraturan ketat untuk seorang maid, salah satunya dengan tidak makan satu ruangan bersama para majikan. Lalu, apa yang diperlihatkan Maid-chan? Bagaimana bisa dia tidak tampak sungkan sama sekali padahal berhadapan dengan seorang pemimpin kota?

"Tidak sama sekali, Orphelia." Rhisiart yang menanggapi protesan Orphelia. "Kalian bisa makan satu meja denganku. Kalian juga bebas pilih kamar pribadi di mansion. Hanya saja, kalian tidak boleh memilih kamar di dekat kamarku."

"Tapi, Tuan Duke ...."

"Kalian memang maid di rumah ini, tetapi derajat kita sama sebagai manusia, Orphelia. Aku tidak akan membedakan perlakuan hanya karena kau seorang pelayan. Tidak ada perbedaan strata di mansion ini. Tidak berlaku jika kalian tinggal bersamaku."

Jawaban Rhisiart berhasil mengundang sembulan hangat di sudut-sudut mata Orphelia dan Orphana. Barangkali, untuk pertama kali sepanjang lima belas tahun mereka hidup, baru saat tinggal dengan Rhisiart-lah mereka dihargai; dianggap selayaknya manusia sekalipun status mereka hanya pelayan kediaman bangsawan.

"Aku mau mengurusimu, akan tinggal denganmu, bahkan mengikuti apa pun perintahmu asal kau bersedia memenuhi syarat dariku."

"Syarat? Syarat apa?"

"Tidak akan memberlakukan kesenjangan strata dengan maid-maid di mansion. Kau akan memanusiakan mereka. Memperlakukan mereka sama derajat selama mereka bisa menghormatimu sebagai petinggi kota. Makan dengan menu dan di meja yang sama. Tinggal di mansion yang sama alih-alih menempatkan mereka di bangunan lebih buruk. Mandi dengan fasilitas yang sama. Tidak mengekang kehidupan pribadi mereka. Memberi mereka waktu libur jika mereka menginginkannya."

"Kau mendapatkannya, Maid-chan."

Begitulah. Rhisiart memang telah bersepakat dengan Sanae bahwa mereka tidak akan membeda-bedakan perlakuan kepada para pelayan mansion. Tidak selama Rhisiart yang memerintah Erthura.

"Kentang tumbuk akan enak dimakan saat masih hangat, Orphelia, Orphana." Sanae mengingatkan sembari memindahkan satu sendok besar kentang tumbuk ke atas piring Rhisiart. Kendati diberi kebebasan sedemikian banyak, Sanae pun tahu diri untuk tidak melupakan tugas. Paling utama adalah melayani Rhisiart. "Buatan Orphelia. Dia akan kutempatkan di bagian dapur. Kemampuan memasaknya jauh lebih baik dariku."

"Aku memberimu kebebasan mengatur para maid, Maid-chan."

Melepas canggung, Orphelia mengajak Orphana bergabung dengan Sanae dan Rhisiart. Makan pagi berjalan damai. Sedamai Erthura pada minggu-minggu pertengahan kemarau. Halimun kelabu mulai tampak di langit timur meski tak bertahan bahkan menurunkan hujan. Muncul beberapa jam untuk kemudian terempas entah ke mana. Penghujan masih butuh beberapa minggu lagi untuk menyambangi Erthura.

🌷🌷🌷

Selagi membiarkan Rhisiart sibuk dengan tumpukan dokumen yang harus dipelajari, Sanae menjelajah distrik. Tujuan paling awal adalah mendatangi bengkel kerja Ebihara. Di sanalah Sanae biasa memesan perlengkapan ninja demi menunjang kemampuan bertarungnya. Beberapa pemuda tengah sibuk memandai saat Sanae melongok. Satu-dua pemuda yang menyadari kedatangan Sanae segera menyapa sekaligus memberi tahu bahwa Ebihara berada di kediaman utama. Seringnya mampir membuat Sanae terkenal di kalangan para pemandai.

Kediaman utama yang dimaksud adalah bangunan yang dihuni keluarga Ebihara. Terletak di belakang bengkel senjata. Perlu berjalan melewati setapak yang diapit rumpun bambu demi menemukan hunian pak tua itu. Tampak yang dicari sedang mengawasi seorang bocah laki-laki berusia kurang dari empat tahun; berlarian di halaman yang luas.

"Maid-chan!" Sorakan bocah lelaki menyambut lebih dulu kedatangan Sanae. Lagi-lagi, karena sering bertemu dengan Ebihara, tidak hanya di bengkel pun di rumah, keseluruhan anggota keluarga Ebihara mengenali Sanae. Bahkan, masa kecil Sanae pernah dalam pengasuhan Ebihara dan istrinya.

"Hai, Jiro! Woah, kautumbuh sangat tinggi sekarang." Sanae bersimpuh saat berhadapan dengan bocah lelaki itu. Mengusap puncak kepalanya. Menimbulkan kekehan senang di wajah Jiro. "Kau pasti makan banyak, ya, Jiro?"

"Hum." Dia tak sungkan mengangguk. "Kakek bilang, Jiro harus banyak makan agar tumbuh tinggi dan pintar melempar shuriken seperti Maid-chan."

"Kau akan lebih pintar dariku, Jiro." Sanae bangkit, mengusap lagi kepala Jiro, lantas membiarkannya bermain sementara dirinya berbincang dengan Ebihara. "Kau masih tampak sehat, Pak Tua."

"Aku bahkan tak bisa mati jika mengingat seberapa bergantungnya kau dengan senjata buatanku." Terdapat sebuah kotak cukup besar di samping Ebihara. Benda yang memisahkan posisi duduk keduanya. "Pesananmu."

"Benda kesayanganku." Tak sungkan Sanae membawanya ke dalam pelukan sebelum dibuka dan diperiksa. Puluhan shuriken, kunai, dan pisau buah berujung runcing menyesaki isi kotak.

"Aku mendengar dari Hakaza kalau kautinggal di mansion dekat Menara Lonceng. Betul-betul menjadi pelayan, heh?" Diisapnya sebuah cerutu beraroma cengkih dan tembakau.

"Begitulah."

"Kauingin mengambilnya, bukan?"

"Ilmu dukunmu semakin mahir, Pak Tua." Sanae memberi acungan jempol saat Jiro menunjukkan seekor cacing besar menggeliat-geliat di tangannya. "Sudah lebih aman kalau aku membawanya."

Ebihara tak menanggapi. Beranjak. Memasuki sebuah ruangan di ujung lorong dari lantai yang mereka duduki. Mengambil sebuah kotak kecil dengan permukaan berlambang tulip mengapung di atas dua pedang yang menghadap berbeda, tetapi sejajar secara horizontal. Ebihara memberikannya kepada Sanae setelah kembali.

Terpulas senyum tipis di wajah Sanae saat melihat isi dalam kotak. Sebuah shuriken dengan lambang serupa di permukaan kotak dan secarik saputangan berbordir serigala betina memakai mahkota.

"Terima kasih telah membantu menyimpannya untukku selama ini, Ebihara-sensei."

Ebihara menanggapi hanya dengan dehaman.

🌷🌷🌷


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...