Jumat, 08 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kedua Belas

🌷🌷🌷

"Aduh!"

"Aish, Orphana! Cepat bangun! Kita harus segera lari. Kau mau mereka menangkap kita lalu betul-betul menjual kita?"

"Tentu saja aku tidak mau, Orphelia. Aku tidak mau dijual kepada bangsawan yang jahat." Remaja perempuan dengan baju compang-camping dan lutut berdarah karena gesekan dengan tanah berkerikil merengek bersimbah air mata.

"Makanya, kita harus cepat." Remaja perempuan lainnya bergegas membantu gadis cilik bernama Orphana.

Dengan kedua kaki kurus, mereka menabraki belukar, melompati cadas-cadas sungai, tergelincir sesekali saat menemukan tanah basah setelah hujan. Mereka harus melarikan diri atau orang-orang tak berperikemanusiaan melelang mereka kepada bangsawan tak punya hati yang ingin memiliki pelayan dengan harga murah. Alih-alih mengambil secara legal dari sebuah rumah maid, mereka memilih anak-anak atau remaja yang dijadikan budak lantas diperjualbelikan.

Di sebagian Kekaisaran Celdara, beberapa yang bertindak nakal memang sembunyi-sembunyi melakukan perdagangan manusia. Suap-menyuap pejabat daerah kerap dilakukan agar operasi mereka tak gampang terendus atau kereta-kereta yang membawa gerobak tak diperiksa baik-baik sehingga mampu lolos melewati gerbang kota. Pecah kubu di istana menyebabkan ketimpangan-ketimpangan dalam sistem kepemerintahan sehingga kewenangan-kewenangan disalahgunakan.

Orphana dan Orphelia terus berlari. Menjauh sebisa kaki membawa mereka dari kereta pemilik budak. Sehati-hati mungkin bergerak agar kaburnya mereka tidak mudah dideteksi. Target kedua remaja perempuan adalah menyusup ke Erthura. Kota terdekat dan mungkin teraman. Mereka pernah mendengar bahwa duke di Erthura memiliki reputasi yang cukup baik. Tidak pula melegalkan jual beli manusia.

Tengah malam saat dua pasang kaki mereka mulai melelah. Mengingat jarak dari markas pemilik budak dengan gerbang pembatas kota bagian timur Erthura cukuplah jauh, mereka bisa sedikit bernapas lega meski tidak melepas kewaspadaan. Lari keduanya mulai dipelankan. Bukan saja karena merasa di wilayah yang aman, tetapi lelah akibat menempuh lebih dari tiga kilometer tanpa jeda.

"Kita jalan ke mana, Orphelia? Hutannya gelap sekali. Bukankah akan sangat berbahaya kalau kita masuk hutan malam-malam?" Orphana merapatkan tubuh di samping Orphelia. Mengeratkan pelukan. Tidak ingin terpisah atau tamatlah riwayatnya.

"Tidak seberbahaya saat kita bersama Si Tua Gila, Orphana. Tenang saja. Hutan akan menjadi menyeramkan untuk mereka yang pengecut."

Mereka terus melangkah maju. Menyibaki semak-semak guna membuka jalan baru alih-alih melewati setapak yang berkemungkinan mempertemukan mereka dengan penduduk atau bandit-bandit jahat. Sampai kemudian, sepasang telinga Orphelia menegak. Samar terdengar suara. Semakin Orphelia membawa Orphana memasuki jantung hutan, semakin jelas suara yang mengudara.

"Dua pekan lagi, rombongan bangsawan tengik akan melewati jalan hutan ini. Mereka diduga menyalahgunakan upeti untuk kepentingan pribadi. Kalau tidak salah, bangsawan ini yang mengurus sistem kependudukan Erthura." Menyusul decakan dari warna suara yang sama.

"Tumben sekali mereka lewat jalan hutan. Seharusnya, kalangan bangsawan tahu kalau hutan ini dihuni kalian, 'kan?"

Suara anak-anak? Entah bagaimana, Orphelia tak merasa takut untuk menghampiri sedekat mungkin asal obrolan. Butuh dua puluh meter sampai kemudian Orphelia menemukan segerombolan orang mengitari api unggun yang hampir padam. Dari pakaian dan senjata yang digeletakkan begitu saja, Orphelia menduga bahwa mereka bukan orang sembarangan.

"M-mereka siapa, Orphelia?" Mencicit suara Orphana di samping Orphelia. Beruntung mereka menemukan pohon besar di dekat gerombolan dengan tampang sangar dan tubuh besar-besar. Tubuh kurus mereka tersembunyi.

"Mana kutahu. Ke hutan ini saja baru sekarang, Orphana."

"A-ada g-gagak di bahu tuan besar itu, Orphelia."

Tepat setelah mengatakan penemuannya, gagak yang dimaksud Orphana mengepakkan sayap. Terbang meninggalkan bahu Si Tuan Besar. Berputar-putar di atas kepala mereka sembari berkoak, sedang sepasang matanya tertuju kepada dua remaja perempuan yang bersembunyi di balik pohon. Tidak jauh dari perkumpulan Si Tuan Besar. Seolah tahu bahwa ada yang mengintai perbincangan mereka.

Menyadari kelakuan si gagak, bocah lelaki bersyal mengikuti arah tatapannya. Menajamkan kewaspadaan. Mencoba membaca keberadaan selain mereka.

"Siapa di sana?" Seruannya berhasil mengagetkan dua remaja di balik pohon.

Tak sempat berpindah tempat saat tahu-tahu bocah lelaki bersyal sudah di hadapan mereka. Semakin meringkuklah Orphana di balik punggung Orphelia. Mencuri-curi tatap dari balik lengan Orphelia. Meski merasa ngeri, dia pun penasaran akan sosok yang memergoki persembunyian mereka.

"Siapa kalian?"

"Oi, oi, Hakaza!" Terdengar langkah berat mendekati mereka. Menggetarkan permukaan tanah yang dipijaki Orphana dan Orphelia. "Aih! Tidak ada gadis yang akan menyukaimu kalau sedikit-sedikit kauacungkan pisau kepada mereka."

"Mereka orang asing, Orhamel. Berbahaya atau tidak, aku perlu waspa ... aduh!"

Tepukan keras lebih dulu bersarang di kepala Hakaza. "Inilah buruknya kau. Terlalu waspada."

Hakaza mendecih. Tidak menampik.

"Sarungkan kembali pisaumu. Tidak lihat kalau mereka ketakutan, heh?"

Orphelia sempat beradu tatap dengan Si Tuan Besar yang dipanggil Orhamel oleh bocah lelaki bersyal. Merasa dugaannya keliru bahwa Orhamel berkemungkin bukan orang baik-baik. Setelah saling berhadapan, Orphelia justru merasakan hawa kehadiran yang entah bagaimana menenangkan. Kendati bertubuh besar dengan wajah menyeramkan, Orhamel terasa bersahaja. Jauh lebih bersahaja dari lelaki yang selama ini menjadikan mereka budak padahal wajah lelaki itu lebih bersih dan klimis khas orang baik-baik.

"Kita lari saja, Orphelia. Sepertinya, mereka bukan orang baik-baik. Ayo!" Orphana berbisik sembari menariki lengan Orphelia.

Seperti halnya Orphelia yang menatapi mereka, Orhamel pun menyusurkan pandangan kepada dua gadis yang dia taksir berusia empat atau lima belas tahun. Memiliki garis wajah dan warna iris yang sama. Yang membedakan di antara keduanya adalah warna rambut. Gadis yang berdiri paling depan dengan tatapan menantang memiliki warna rambut lebih gelap dari gadis satunya. Cokelat dan krem.

Budak yang kabur. Orhamel mengambil kesimpulan setelah mendapati pakaian mereka lusuh dengan sobekan di beberapa bagian. Berada di dunia bawah membuat Orhamel pandai menilai orang-orang dari kalangan sejenis. Perbudakan adalah salah satu wilayah yang biasa mereka temui.

"Kalian milik bangsawan mana?" Kendati bertubuh dan berwajah menyeramkan, pertanyaan Orhamel justru terdengar ramah. "Aku yakin kalau kalian budak yang kabur."

"Budak?" Hakaza menoleh kepada Orhamel. "Apakah kita punya mangsa dari kalangan bangsawan yang membawa budak?"

"Tidak untuk sekarang." Orhamel mengangkat kedua bahu. "Nah, Nona-nona. Kalian milik bangsawan mana?"

Mengabaikan cicitan Orphana, Orphelia justru menjelaskan tentang siapa dan bagaimana mereka bisa sampai ke hutan tempat berkumpulnya sekelompok bandit paling ditakuti kaum bangsawan. Rasa-rasanya, Orphelia tak lagi merasa takut saat berhadapan dengan Orhamel. Hanya sedikit merasa risih karena tatapan waspada yang diberikan Hakaza.

Diusap-usapnya dagu berjenggot Orhamel setelah cerita Orphelia selesai. Perkara perdagangan budak memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi setiap pejabat wilayah. Undang-undang dilarangnya perdagangan manusia telah lama diresmikan, tetapi masih banyak kaum bangsawan yang melanggar. Didukung oleh pejabat munafik yang menghalalkan demi meraup sebanyak-banyaknya koin.

Orhamel mampu saja menyelesaikan masalah kedua nona, tetapi bangsawan yang menjadi pemilik Orphelia dan Orphana berada di kawasan luar Erthura. Kendati kelompoknya adalah bandit kelas kakap, Orhamel tak mau gegabah memasuki wilayah asing. Selain berimbas kepada nama Bandit Pedang Hitam, Erthura pun bisa jadi terseret. Orhamel masih menghargai kinerja pimpinan Erthura.

Bandit Pedang Hitam memang tak bisa ikut campur, tetapi Orhamel memiliki satu nama yang berkemungkinan besar mampu memberi pelajaran kepada bangsawan tengik pemilik Orphelia dan Orphana.

"Hakaza, kautemui Maid-chan sekarang. Bilang kalau aku ingin dia menyelesaikan satu misi dadakan malam ini."

"Heh? Maid-chan? Maksudmu ...."

"Lima belas koin emas untukmu kalau kau berhasil membawa Maid-chan untuk menyetujui misi ini. Akan kutambah lima belas koin emas lagi kalau kau membantu Maid-chan mengeksekusi bangsawan tengik penjual budak itu."

"Aku suka caramu, Orhamel." Tak lagi memprotes, Hakaza memelesat. Melompat dari pohon ke pohon meninggalkan jantung hutan menuju mansion di atas bukit.

Orhamel mengajak Orphelia dan Orphana bergabung sementara dengan mereka. Akan diapakan nanti, dia perlu berdiskusi dengan Sanae. Urusan menampung orang, Sanae lebih bisa mengendalikan.

Ah, bukankah Maid-chan sedang mencari maid tambahan untuk mansion duke? Hm ... sepertinya, mereka cukup umur untuk bekerja. Semoga saja Maid-chan bisa membantu.

🌷🌷🌷

Hampir Sanae terpejam saat ketukan di jendela menggagalkan. Melihat bayangan tak seberapa tinggi dengan lambaian syal, Sanae tahu bahwa yang datang adalah Hakaza. Mau tak mau, Sanae menggeret langkah mendatangi jendela; membukanya sebagian agar obrolan dengan Hakaza berjalan nyaman. Tidak perlu merasa khawatir bahwa penghuni kamar sebelah akan terganggu. Saat meninggalkan kamarnya tadi, Sanae menemukan pemuda itu telah lelap dengan masih memakai kimono mandi. Terlalu lelah setelah seharian menyisiri Erthura membuat Rhisiart mudah tertidur.

"Kau perlu apa sampai-sampai mendatangiku selarut ini, Hakaza?" Sanae menguap. Sepasang matanya memang telah memberat.

"Orhamel meminta bantuanmu. Ada gadis kembar menyasar ke sarang Bandit Pedang Hitam. Mereka budak yang kabur."

"Budak?"

Hakaza mengangguk.

"Belum masuk Erthura?"

"Barangkali tidak masuk Erthura. Laporannya belum sampai bahwa ada rombongan bangsawan membawa budak melintasi Erthura. Mereka dari kota sebelah."

"Pak tua itu memintaku mengurus mereka?"

Hakaza mengangguk. Mengingat seberapa cerdas Sanae, dia tak perlu berpanjang-panjang kalimat menjelaskan.

Lebih dulu Sanae mengintip posisi bulan. Lewat tengah malam dan dia harus memenuhi panggilan 'kerja' dari Orhamel yang tanpa perencanaan. Namun, ingin mengabaikan pun rasanya tak bisa. Mendengar bahwa ada gadis kembar menjadi budak saja sudah membuat Sanae geram. Lagi pula, kalaupun ada yang harus pergi, memang hanya Sanae--dan Hakaza jika bocah lelaki itu mau--yang bisa. Orhamel dan anak buahnya tak mungkin memasuki wilayah kota sebelah. Rombongan mereka akan menarik perhatian mata-mata wilayah yang memang kerap berkeliaran di perbatasan antarkota.

"Baiklah. Aku akan berangkat. Tunggu sebentar." Sanae menjauhi Hakaza. Mendekati lemari. Memakai segera kostum maid dengan celemek yang bisa dia pakai untuk menyimpan senjata. Akibat pertarungan beberapa malam lalu, Sanae belum mendapatkan senjata baru. Tersisa hanya beberapa kunai dan pisau buah. Dia kehabisan shuriken.

Sesedikit mungkin Sanae bersuara saat memutuskan keluar lewat jendela. Berharap bahwa pergerakan mereka tidak sampai membangunkan Rhisiart. Banyak hal yang dikerjakan Rhisiart sehingga Sanae ingin pemuda itu memiliki waktu istirahat yang cukup.

"Kita pergi, Hakaza." Sanae memimpin. Melompat ke salah satu pohon. Menjadikan batang-batang pohon berikutnya sebagai 'kendaraan' menuju markas Bandit Pedang Hitam.

🌷🌷🌷

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...