Jumat, 08 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kesembilan

🌷🌷🌷

"Maid-chan!" Serbuan gadis mungil berambut cokelat menghentikan langkah Sanae tepat di ambang pintu. "Kabarnya sudah menyebar ke seluruh distrik. Kau tidak apa-apa? Kau terluka? Kau di mana saat kebakaran terjadi di rumah Nyonya Elora? Maid-chan, aku sangat mengkhawatirkanmu!"

Sanae meringis saat gadis di depannya memberi pelukan sangat erat sampai-sampai menyesakkan dada.

"Aku tidak ingin kehilanganmu, Maid-chan. Temanku hanya kau, Maid-chan. Huaaa!"

Bisa Sanae rasakan hangat di dada berasal dari air mata si gadis berambut cokelat yang menyergapnya.

"Oi, Litiana! Lihat dulu baik-baik gadis yang kaupeluk. Sia-sia kau mengeluarkan air matamu."

"Jangan mengganggu kekhawatiranku, Kak Menma! Kau tidak menjadi aku, sih. Semalaman aku tidak bisa tidur karena mendengar kebakaran di rumah maid. Memikirkan bagaimana nasib Maid-chan kita yang malang ini. Kau sungguh tidak memiliki simpati, Kak Menma." Setelah air mata yang berderai, berikutnya ingus gadis berambut cokelat yang siap mengotori seragam Sanae.

Sebelum terjadi, Sanae melepas paksa pelukan Litiana. "Kau tidak perlu mencemaskanku, Lity. Aku baik-baik saja. Tidak terluka sama sekali."

"Sungguh? Sungguh kau baik-baik saja, Maid-chan?" Mengerjap-ngerjap sepasang mata basah Litiana.

"Lagi pula, mana mungkin kau tidur semalaman. Jam kerjamu saja baru habis pukul tiga dini hari. Kau itu serupa kelelawar yang tidur pada siang hari dan berkeliaran mencari koin untuk makan saat malam."

"Sudah kubilang, jangan mengganggu momen sedihku, Kak Menma!" Mengerucut bibir Litiana karena sejak tadi diusili gadis lain di kedai mereka. Gadis yang selalu mampu mengalihkan tatapan para pria dewasa yang menyambangi Kedai Bir Allan karena kemolekan tubuhnya. Litiana selalu saja merasa terintimidasi setiap bersisian dengan Menma. Tubuhnya yang kurus dan pendek serta seratnya pertumbuhan dada membuat usia dua puluh tahunnya justru terlihat seperti bocah dua belas tahun.

Yang diomeli justru tertawa. Menggoda Litiana memang kerap dilakukan para pelayan di Kedai Bir Allan. Tingkah kekanakan Litiana menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di sela-sela padatnya mengisi gelas-gelas bir atau memanggang daging.

Kedai Bir Allan pada sore hari masihlah tutup. Keberadaan para pelayan tidak lain untuk membersihkan sekaligus menyiapkan bahan-bahan kedai; memilih daging, sayuran, maupun tong-tong bir yang akan mereka sajikan kepada pelanggan. Hanya ada Menma dan Litiana. Allan baru akan muncul mendekati jam buka kedai. Kedatangan Sanae pun bukan untuk bergabung menjadi pelayan seperti hari-hari sebelumnya. Setelah menyetujui kesepakatan dengan Rhisiart, dia harus memberi tahu Allan maupun dua pelayan lain bahwa dirinya tidak akan lagi bekerja bersama mereka.

Sebelum membahas tujuan utama, Sanae berbaik hati membantu mereka melakukan persiapan. Diselingi ocehan Litiana maupun godaan Menma kepada gadis paling mungil di antara mereka. Dibanding dengan Sanae dan Menma, tentu saja postur Litiana tidak bisa dikatakan sebagai gadis dewasa. Baik Sanae maupun Menma selalu menganggap Litiana sebagai si paling bungsu di kedai walau jarak usia satu sama lain tidak berbeda jauh dengan Menma yang paling tua.

"Heh? Kau serius?" Sepasang mata bulat Litiana kian bulat saat Sanae mulai menyinggung tujuan utamanya. "Kau akan meninggalkanku dengan memilih tinggal bersama duke muda itu? Kau akan meninggalkan Litiana, Maid-chan? Kau jahat sekali." Muncul lagi tingkah kekanakan Litiana, memancing tawa Sanae dan gelengan Menma.

"Aku tidak pergi dari Erthura, Lity. Aku tetap di sini dan tentu saja akan sering berkunjung ke kedai, tetapi bukan menjadi pelayan." Sanae memberi kedipan demi menenangkan teman kecilnya.

"Tetap saja berbeda, Maid-chan. Tinggal aku dan Kak Menma. Dia pasti akan lebih sering menjailiku."

"Aku jail kalau kau memulai duluan, Lity."

Tukasan Menma ditingkahi cengiran lebar Litiana. Mendatangi Kedai Bir Allan selain untuk berpamitan, Sanae pun berharap bahwa di antara kedua gadis itu memiliki kenalan yang bisa diajak ke mansion Rhisiart; menemaninya menjadi pelayan.

"Sayang sekali, Maid-chan. Kenalanku yang bisa jadi gadis pelayan sudah tiada. Mereka berada di Rumah Maid Bunga Tulip." Wajah murung Litiana kembali mengingatkan Sanae akan kejadian semalam. "Kau tidak melihat mereka dikuburkan?"

"Tidak." Sanae menggeleng. "Aku akan sangat sedih dan menangis kalau melihat prosesi penguburan tulang-tulang mereka. Aku tidak mau."

"Apa salahnya menangis karena kepergian seseorang? Kau berhak mengeluarkan sedihmu dengan menangis, Maid-chan."

Sembari tersenyum, Sanae menggeleng. Dia tak ingin memperlihatkan tangis kepada lebih banyak orang. Yang terjadi semalam saja sangat dia sesali, terlebih si duke muda juga melihat air matanya. Duh! Jangan lagi, deh!

Sanae meninggalkan kedai setelah pemiliknya datang sehingga niatnya terselesaikan. Meski sedikit berat karena Sanae tidak lagi menjadi pelayannya, Allan tetap menyampaikan selamat karena akhirnya maid paling senior di Rumah Maid Bunga Tulip mendapatkan rumah untuk dilayani.

"Sudah seharusnya kau melayani rumah bangsawan alih-alih berakhir selamanya menjadi pelayan kedai bir, Maid-chan." Allan menertawai tingkah Sanae yang dirasanya sesuka hati karena sering mengabaikan peraturan Elora. "Setidaknya, Elora berhasil membuatmu dipinang bangsawan bahkan seorang duke."

Selepas dari Kedai Bir Allan, Sanae mendatangi Kedai Ramen Yuuto. Dia harus menemui bocah yang membawa sepertiga bagian hasil rampasan mereka semalam. Seperti pada misi-misi sebelumnya, Sanae memang kerap menitipkan hasil pembagian dari Orhamel kepada anak lelaki pemilik Kedai Ramen Yuuto.

Dia baru saja pulang dari mengantar ramen di Distrik Malam Biru saat Sanae tiba. Wajah lusuh terpanggang matahari musim kemarau berhasil menyembunyikan identitas asli dari bocah yang selalu melilitkan syal di leher. Di hadapan ayah dan ibunya, dia dianggap sebagai bocah lelaki biasa yang bisa disuruh kapan pun mengantarkan pesanan. Namun, bagi dunia malam, sosoknya terkenal sebagai bocah ajaib.

Belum genap dua belas tahun dan dia sudah bekerja sama dengan bandit kelas kakap. Menjadi makhluk yang paling dicari untuk menyampaikan pesan rahasia atau memata-matai lawan dari kliennya. Reputasi bocah itu sudah sangat dikenal meski hanya sekitaran Distrik Malam Biru. Beruntungnya, orang-orang di Distrik Malam Biru pun sangat menjaga identitas lain putra pemilik kedai ramen.

"Oi, Hakaza!" Seruan Sanae berhasil menghentikan langkahnya. Mereka tepat di depan kedai ramen. "Kau tidak mengambil bagianku, bukan?"

Bocah lelaki yang membawa kotak tahan panas berdecih. "Aku tidak semiskin itu sampai-sampai harus mengambil bagianmu."

Tidak merasa tersinggung oleh kalimat Hakaza, Sanae justru tergelak. "Aku tahu kalau kau bisa menjaga amanah, Kawan."

Sebelum masuk kedai, Hakaza merogoh saku; mengeluarkan sebuah kunci yang lantas dilemparkan kepada Sanae. "Di tempat biasa. Kembalikan lagi kuncinya setelah kaupakai."

"Kauambil sendiri." Sanae memasukkan kunci berwarna perak pemberian Hakaza ke saku celemek dalam. "Bawakan aku dua porsi ramen ukuran besar dengan daging asap dan udang bakar. Tambahkan dua telur rebus untuk masing-masing mangkuk. Ah, ya. Acar jahe dan lobak merahnya jangan lupa. Aku tunggu di mansion dekat Menara Lonceng saat makan malam. Catat baik-baik pesananku, Hakaza."

Tidak menunggu respons Hakaza, Sanae beranjak. Masih beberapa tempat yang harus dia sambangi sebelum pulang dan membantu Rhisiart membenahi beberapa ruangan agar bisa dipakai secepatnya. Paling tidak, dua kamar tidur, kamar mandi, dan ruang makan harus lebih dulu bersih. Yang lain-lain bisa menyusul setelah maid tambahan mereka dapatkan.

🌷🌷🌷

"Sayang sekali karena aku harus segera kembali ke Ibu Kota. Aku tak bisa membantumu bersih-bersih mansion baru, Kawan." Dipasangnya wajah dengan ekspresi semenyesal mungkin meski Rhisiart tahu hanyalah kepura-puraan yang dimainkan Iloi.

"Kau memang tidak seharusnya berada terlalu lama di luar istana. Banyak hal yang harus kaukerjakan, Pangeran."

"Akan segera kukabari setelah hasil penyelidikan bunga ban roda kereta terpecahkan." Iloi bersiap memasuki kereta.

"Aku mengandalkanmu, Iloi."

Kereta segera meninggalkan depan pagar mansion di atas bukit setelah Iloi masuk. Selesai dari penginapan dan menghadiri acara pemakaman tulang belulang penghuni Rumah Maid Bunga Tulip, Rhisiart menumpang kereta Iloi untuk diantar ke mansion. Rencana yang dia buat dengan Sanae adalah membersihkan beberapa ruangan sehingga bisa langsung ditinggali hari itu juga. Semakin cepat dikerjakan maka semakin cepat pula dirinya menetapi hunian baru.

Dibukanya seluruh jendela di lantai bawah maupun atas. Didatanginya salah satu kamar terbesar di lantai atas. Rhisiart akan menempati kamar tersebut. Selain berada di ketinggian, posisi jendela pun tepat mengarah ke deretan distrik. Memiliki balkon terbuka sehingga Rhisiart bisa menjadikannya tempat bersantai dan mengawasi kota sekaligus. Barangkali akan dia tempatkan sebuah teropong sehingga jangkauan pantau bisa lebih jauh bahkan menyeluruh di Erthura.

Sekadar beres-beres kamar bukanlah hal sulit bagi Rhisiart. Saat masih tinggal dengan Bangsawan Kremlyn, paman dan bibinya membiasakan Rhisiart untuk mandiri. Mengurusi kamar pribadi adalah hal wajib yang harus Rhisiart bisa lakukan.

Dapat dikatakan, kamar pilihan Rhisiart sangatlah lengkap. Selain ruang tidur utama, ada satu ruangan lebih kecil serta kamar mandi dengan kolam yang cukup besar. Rhisiart bisa menempatkan satu ranjang berukuran sedang di ruangan kecil. Bisa dia jadikan sebagai ruang membaca pribadi. Diawali dengan mengeluarkan kasur untuk kemudian dijemur sebentar, kesibukan Rhisiart dimulai.

Kesibukan yang membuatnya tak sadar bahwa seseorang telah bertengger di tembok pembatas balkon. Alih-alih masuk dari pintu depan, Sanae justru melompat ke bagian kamar yang dia tahu sedang diberesi saat memasuki pagar. Terlihat karena jendela memang dibiarkan terbuka oleh Rhisiart. Ketidaksadaran Rhisiart akan kehadirannya menjadikan Sanae penonton seorang pemuda yang begitu apik dalam bersih-bersih. Barangkali lebih apik dari Sanae yang jika pelatihan tiba malah memilih kabur dan berdiam di Distrik Malam Biru.

Benar kata Kak Menma. Anak lelaki tumbuh sangat cepat dibanding anak perempuan. Saat pertama kali bertemu dengannya, dia hanya bocah lelaki ringkih. Saking ringkihnya, seolah-olah jatuh sedikit saja bisa menimbulkan patah tulang. Namun, lihat sekarang. Tubuhnya membesar berkali-kali lipat di mana lengan dan kakinya memiliki otot-otot besar. Dia hanya sedikit lebih proporsional daripada Orhamel. Pantas saja tak tampak kewalahan membawa dua pedang dengan bilah mata yang cukup besar.

Bukan Rhisiart tidak menyadari kedatangan seseorang di balkon kamar. Dia tahu, tetapi membiarkan karena aura yang diberikan Sanae tidak mengancam.

"Paling tidak, belajarlah masuk dari pintu depan, Maid-chan. Seorang gadis harus tahu sopan santun." Barulah Rhisiart menegur setelah beberapa barang dari kamar menghampar di lantai balkon. Berkacak pinggang walau tidak bertampang galak. Tidak berniat sama sekali memarahi gadis yang telah dia bayar untuk menjadi pelayan justru santai menonton sembari duduk di tembok pembatas.

"Kau akan menghukumku, Duke Muda?"

"Kau mau kuhukum?" Rhisiart mencondongkan wajah tepat di depan wajah Sanae. Mereka saling berhadapan dengan hanya terpisah satu langkah.

"Memang, hukuman apa yang kausiapkan untuk maid yang masuk rumah lewat balkon?" Lengan Sanae saling bersilang di perut. Menantang Rhisiart alih-alih menunduk hormat atau takut.

"Tidur di kamarku malam ini."

"Heh?"

🌷🌷🌷

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...