🌷🌷🌷
"Sudah kaucek pesanan Maid-chan, Hakaza?" Dari balik meja konter, Yuuto mengingatkan sebelum Hakaza membawa pesanan milik Sanae.
Masih tiga puluh menit sebelum jam makan malam datang. Dengan kemampuan yang Hakaza miliki, mencapai mansion di dekat Menara Lonceng tidak akan memakan waktu lama. Akan sampai dengan kondisi ramen buatan ayahnya masih hangat.
"Kau jangan meragukan kemampuanku mengingat setiap pesanan, Ayah." Bocah lelaki yang sering sekali memakai syal pada kondisi apa pun menjawab setelah berdecak.
"O, o, tunggu, Hakaza." Dari bagian dalam kedai yang merupakan wilayah rumah tinggal, seorang perempuan tergopoh-gopoh sembari membawa kendi berukuran sedang. "Kaubawakan juga ini untuk Maid-chan, ya. Dia sangat suka acar jahe dan cabai. Ibu membuat banyak untuk di rumah. Kita berikan sebagian untuk Maid-chan dan Tuan Duke."
Berita cepat sekali tersebar. Masih terhitung belasan jam dari kesepakatan Sanae dengan Rhisiart yang kemudian diceritakan kepada orang-orang di Kedai Bir Allan, tetapi hampir semua penduduk di Distrik Bulan Putih dan Distrik Malam Biru mengetahui bahwa Sanae yang lebih mereka kenal dengan Maid-chan telah berpindah kerja. Keluar dari Kedai Bir Allan. Menjadi pelayan Duke Muda Erthura.
"Ada lagi, Bu Yukia? Agar aku tidak bolak-balik menyerahkan pemberian Ibu kepada gadis itu."
Melihat wajah kusut Hakaza--yang memang selalu tampak kusut setiap harinya karena bawaan genetik, tawa Yukia memenuhi langit-langit kedai. "Pasanglah wajah manis saat menemui pelanggan setiamu, Hakaza. Kalau kau bertampang ketus setiap saat, bisa-bisa kedai ayahmu akan sepi karena pelanggan takut menemui wajahmu."
Hakaza menanggapi hanya dengan decakan. Nasihat Yukia bukan yang pertama kali memasuki telinga. Telah berkali-kali dan berkali-kali pula dibiarkan hanya mampir. Lagi pula, mau memasang wajah semanis apa kalau memang sudah terlahir seperti itu? Memberikan cengiran sedikit malah menakuti anak-anak yang lewat. Tampangnya memang terbentuk tidak ramah, tetapi Hakaza tak mempermasalahkan. Dia juga bukan tipe anak yang suka berkawan dengan teman seusia. Bahkan mungkin, Hakaza lebih memilih berteman dengan kelompok Bandit Pedang Hitam. Akan lebih bermanfaat.
Menenteng kendi berisi acar dan kotak tahan panas untuk menyimpan ramen di kedua tangan, Hakaza meninggalkan Kedai Ramen Yuuto. Berjalan biasa sampai keluar distrik. Melompati atap demi atap dari deretan toko maupun rumah tinggal setelah memasuki Distrik Malam Biru. Tidak akan ada yang menganggapnya aneh karena orang-orang di Distrik Malam Biru telah terbiasa melihat apa yang dilakukan Hakaza.
Petang memayungi setiap lompatan Hakaza. Beberapa anak pemilik kedai di Distrik Malam Biru yang kebetulan melihatnya sempat bertepuk tangan. Gembira karena melihat seseorang melompati atap-atap rumah.
Bangunan mansion terlihat tak sampai lima belas menit Hakaza mengudara. Pagar tinggi dari besi menjadi gerbang paling depan sebelum memasuki hunian duke baru. Di sekeliling mansion terbangun tembok yang tingginya hanya setengah bagian tinggi pagar besi. Di beberapa titik, terdapat pot-pot tanaman dengan rumput hias atau pohon bunga yang kering. Sangat mengenaskan jika tidak segera dibenahi.
Dalam ingatan pendek Hakaza, saat masih dihuni oleh bangsawan terdahulu pun, mansion di atas bukit mengalami kurang perawatan. Padahal, Duke Ryonswald telah memberi dana tersendiri bagi bangsawan yang menjadi pejabat daerah lantas tinggal di mansion tersebut. Sudah bukan rahasia jika pejabat-pejabat daerah di Erthura menjadi koruptor. Dana dari Duke Ryonswald barangkali ditilap untuk hal-hal lain sehingga perawatan mansion pun terabaikan.
Bisa Hakaza lihat bahwa kesibukan terjadi di lantai atas saat menjadikan tembok pembatas sebagai tempat pemberhentian. Tampak balkon yang menghadap langsung ke arah tempatnya berdiri memperlihatkan dua sosok dewasa. Seorang gadis tengah menyeka debu dari tumpukan buku, sedangkan seorang pemuda memukul-mukuli kasur setelah menyemprotkan cairan antihama; mengusir kutu atau tungau yang barangkali hinggap selama tidak berpenghuni. Sayangnya, dari jarak Hakaza berdiri, obrolan kedua orang di balkon tak terdengar. Hakaza hanya mampu melihat pergerakan bibir keduanya.
"Untuk pertama kalinya aku melihat Maid-chan beres-beres hunian." Hakaza berdecak. Dia sangat tahu sepak terjang Sanae selama di Rumah Maid Bunga Tulip. Lebih sering diomeli Elora karena mangkir dari tugas beres-beres akibat seringnya mengeluyur bersama Bandit Pedang Hitam demi merampasi koin-koin bangsawan korup.
Merasa cukup menontoni kesibukan mereka, Hakaza turun dari tembok. Berjalan normal mendekati pintu depan mansion. Memukulkan besi bulat yang menempel di pintu agar kedatangannya diketahui pemilik hunian.
"Kaukah, Hakaza?" Terdengar seruan Sanae dari balkon yang tepat di atas pintu depan.
"Ramen pesananmu, Maid-chan!"
"Naiklah. Aku malas membuka pintu. Langsung naik ke balkon, Hakaza."
Hakaza menghela napas. Tidak habis pikir bahwa ada maid yang sekadar membukakan pintu saja malas. Bagaimana bisa duke baru itu memilihnya sebagai pelayan di mansion mereka? Apa tidak kacau nanti isi mansion karena ketidakbecusan pelayannya?
Digerakkannya kedua bahu acuh tak acuh. Dihampirinya taman bunga dari tumpukan batu bata tidak jauh dari teras. Hakaza menjadikannya sebagai titik tumpu untuk melempar diri sampai ke balkon. Tubuh yang tak seberapa gemuk itu mendarat mulus di lantai balkon yang berserakan beragam barang: tumpukan buku, kertas, seprai, bantal, selimut, dan entah apa lagi.
Harum kuah ramen berhasil menyusupi hidung Sanae padahal kotak penyimpanan pesan-antar belum terbuka. Disingkirkannya segera kain lap lantas bergegas mendekati Hakaza. Hampir membuka penutup kotak saat Hakaza mencekal tangannya.
"Cuci dulu tanganmu! Astaga! Kau mau makan bersama kuman dari debu yang baru kausentuh, hah?"
"Aku sudah berteman dengan para kuman. Makan roti berjamur saja aku tidak mati, kok."
"Tidak saat kaumakam ramen buatan ayahku." Hakaza menyembunyikan kotak khusus pesan-antar ke belakang tubuh. "Sampai kau tidak mencuci tanganmu, aku tidak akan menyerahkan pesananmu."
"Padahal aku yang bayar, 'kan?"
Melihat bagaimana interaksi antara Sanae dan bocah lelaki bersyal, Rhisiart perlu menahan tawa. Jelas mereka memiliki kedekatan lebih dari sekadar pelanggan dan kedai ramennya. Perkenalan yang telah terjalin sangat lama.
Mengingat jam makan malam telah tiba dan sebagian besar pekerjaan selesai, Rhisiart menarik tangan Sanae untuk mendatangi kamar mandi. "Jangan membuat pemilik kedai marah atau kau tidak akan lagi bisa menikmati makanan lezat mereka."
Menurut Sanae mengikuti langkah Rhisiart walau sembari mengerucutkan bibir. Segera diserahkan pesanannya setelah mereka kembali.
"Ah, Hakaza!" Seruan Sanae mengurungkan langkah Hakaza untuk segera kabur.
Dia menoleh dengan wajah menyiratkan kemalasan kalau harus meladeni tingkah aneh rekan merampoknya di Bandit Pedang Hitam. Sanae melempar sesuatu kepadanya. Sigap kedua tangan Hakaza menangkap. Sebuah kunci.
"Koin untuk ramen ada di sana. Terima kasih sudah mengirimkan tepat waktu."
Hakaza hanya membalas dengan mengangkat tangan. Berdiri di tembok pembatas balkon. Melayang turun dengan sangat mulus. Karena tidak ada pohon tinggi di sekitaran mansion sampai ke pagar depan, terpaksa Hakaza menggunakan kedua kaki untuk berjalan. Barulah setelah keluar dari mansion, lompatan demi lompatan dari satu batang pohon ke batang lain menjadi rute pulang menuju Kedai Ramen Yuuto.
🌷🌷🌷
Sanae belum mampu melanjutkan pekerjaan setelah menghabiskan satu porsi besar ramen dari Kedai Ramen Yuuto. Terlalu kenyang sampai-sampai mengangkat bokong saja tak becus dia lakukan. Menyerahkan sisa pekerjaan kepada Rhisiart tanpa sungkan. Lagi pula, duke muda yang dia layani tak protes sama sekali sepanjang memberesi ruangan yang akan dia jadikan kamar pribadi.
Sebagian barang yang mereka keluarkan telah dimasukkan kembali. Beberapa yang tidak layak pakai akan masuk bak sampah lantas dibakar. Beberapa pakaian yang sepertinya bekas penghuni terdahulu akan disumbangkan ke panti asuhan karena baik Rhisiart maupun Sanae tidak berminat memakainya. Dengan catatan bahwa sebelum disumbangkan, pakaian-pakaian itu harus dicuci terlebih dahulu.
Hal yang kemudian membuat Sanae menghela napas. Belum ada maid tambahan menandakan dia harus mengerjakan sendirian. Melihat pakaian menumpuk saja sudah membuat Sanae pening. Dia lebih memilih menghadapi sepasukan prajurit bayaran daripada mencuci gunungan pakaian.
Mendapati tatapan Sanae ke arah tumpukan pakaian bekas, menarik sudut-sudut bibir Rhisiart untuk tersenyum. Ekspresi Sanae sangat mudah dibaca seolah tidak ada niatan sama sekali untuk menutupi.
"Kita akan mencucinya setelah mendapat maid tambahan. Tidak harus besok kaucuci, Maid-chan."
"Astaga! Isi kepalaku rupanya transparan sampai-sampai kausanggup membacanya, Tuan Duke."
Kamar siap ditempati sebelum jam tidur tiba. Dua kamar bersisian yang ternyata saling terhubung. Ada pintu tembus di antara keduanya. Rhisiart menjadikan dua kamar itu sebagai miliknya dan milik Sanae.
"Kauserius? Kamar di samping itu sangat besar untuk ditinggali seorang maid. Lagi pula, aku ini hanya maid. Mana bisa menempati kamar yang sedemikian mewah." Sanae masih sadar diri. Masih tahu batasan bahwa sekalipun mereka dekat, mereka tetaplah bukan dari dunia yang sama. Sanae hanyalah maid. Kamar yang dia huni seharusnya ada di bagian belakang mansion. Kamar khusus pelayan.
"Kau tidak hanya maid, Maid-chan." Rhisiart berdiri menghadap tembok pembatas balkon. Menatap kejauhan di mana lampu-lampu distrik menyala bagaikan tebaran kunang-kunang. "Kau adalah teman bertugasku. Tidak ada beda antara kau dan aku, Maid-chan. Persetan dengan bangsawan ataupun pelayan. Tidak ada hal semacam itu di mansion-ku."
Sanae tak langsung menanggapi. Ditatapnya saksama punggung Rhisiart. Punggung seorang pemimpin kota yang masa kecilnya hampir terbunuh. Bocah lelaki yang dia selamatkan tanpa pikir panjang. Soal mereka akan bertemu kembali bertahun-tahun kemudian hanyalah gurauannya saat itu. Sanae sendiri tak menyangka bahwa Rhisiart yang langsung mengenali dirinya. Sanae saat masih anak-anak dengan Sanae setelah menjadi gadis dewasa tentulah mengalami banyak perubahan, tetapi Rhisiart bisa mengenali dengan sangat baik.
Dia bangkit. Mendekati Rhisiart. Berdiri di sampingnya. Terpaan angin malam Erthura memainkan helaian hijau zaitun milik Sanae. "Aku penasaran, bagaimana bisa kau mengenaliku sebagai bocah yang menolongmu malam itu? Orang-orang di sekitarku mengatakan bahwa wajah anak-anakku dengan wajah dewasaku mengalami banyak perubahan. Kita hanya bertemu sekali sepanjang belasan tahun terakhir."
"Kurasa, tidak ada maid segila kau yang ke mana-mana membawa shuriken, Maid-chan. Malam saat kebakaran terjadi, beberapa jam sebelumnya, aku dan Iloi berkunjung ke Kedai Bir Allan. Kau melayani kami dan tidak sengaja kulihat sembulan ujung shuriken dari bagian dalam celemekmu."
"Ah, itu rupanya." Memangnya, hanya aku, ya, yang melakukan hal yang dia sebut gila?
"Sepasang mata besarmu yang memiliki iris sewarna kulit buah zaitun adalah hal lain yang selalu kuingat, Maid-chan. Kurasa, hanya kau yang memiliki warna mata semacam itu di sini. Mata dan rambut berwarna senada. Sangat tidak biasa."
"Kau memiliki ingatan yang sangat tajam, Tuan Duke."
Angin bukit berembus sedikit kencang. Membawa dingin musim kemarau ke setiap pori-pori di dalam tubuh. Waktu merangkak sedikit demi sedikit menuju tengah malam. Dari mansion mereka yang belum terlalu banyak penerangan, Sanae menemukan puluhan gugus bintang di atas kepala. Berpendar lemah dengan beberapa titik cahaya terlihat lebih besar.
"Di sini, akan banyak pihak yang tidak menyukaiku, Maid-chan. Besok-besok, akan ada orang-orang yang dikirim untuk melenyapkanku. Entah karena cara memimpinku atau dendam masa lalu yang belum tertuntaskan. Adamu akan sangat banyak membantu. Aku memercayakan sepenuhnya keselamatanku kepadamu, Maid-chan. Sama seperti belasan tahun lalu." Rhisiart melepas tumpuan tangan dari permukaan tembok pembatas. Berbalik menyamping. Pergerakan yang juga disadari Sanae sehingga posisi mereka saling berhadapan. "Kita akan selalu dalam bahaya, Maid-chan."
"Asal kau membayarku dengan pantas."
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar