Rabu, 13 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kesembilan Belas

🌷🌷🌷

"Apa yang ingin Ibu lakukan setelah ini? Jangan langsung tidur setelah makan. Tabib bilang, sistem pencernaan akan mudah terganggu jika kita langsung tiduran setelah makan." Iloi mengerling. Sengaja membangun kelakar sehingga Permaisuri Celdara terhibur oleh keberadaannya.

"Ibu senang kau menghabiskan banyak waktu dengan Ibu belakangan bahkan selalu makan di tempat Ibu. Kau tidak ingin menyapa ayahmu?"

"Barangkali, jika bukan karena paksaan atau urusan kekaisaran, aku lebih memilih menjauh dari Ayah. Toh, dia sudah punya mainan baru." Iloi tak sudi memanggilnya sebagai selir bahkan menggunakan kata gundik pun masih terlalu sopan bila disematkan kepada sosok semacam gadis yang dibawa ayahnya yang dia yakin hanya berdasar nafsu semata, bukan pertimbangan kepemerintahan.

"Karen, kau bisa bereskan mejanya. Kurasa, kami sudah selesai." Sembari membersihkan mulut dengan selembar saputangan khusus makan, Permaisuri meminta gadis pelayan yang menunggui mereka merampungkan tugas. "Kau masih mau makan sesuatu?"

Iloi menggeleng. "Aku sudah kenyang, Bu. Sup ayam buatan Elodi malam ini sangat lezat. Sangat cocok dimakan saat angin malam berembus lebih dingin."

"Elodi sangat tahu harus menyajikan menu apa untuk cuaca atau udara yang bagaimana."

"Jadi, apa yang ingin Ibu lakukan setelah ini?"

"Bagaimana kalau berjalan-jalan sebentar? Meski udara agak dingin, langitnya sangat cerah. Kita bisa menontoni ratusan rasi bintang musim kemarau."

Iloi beranjak, mendekati kursi yang diduduki Permaisuri, lantas berlutut sembari menjulurkan tangan. "Dengan senang hati, putra ibu satu-satunya ini akan menemani."

Tanpa sungkan, Permaisuri menyambut uluran tangan Iloi. Bersama keduanya keluar dari ruang makan. Taman Istana Permaisuri menjadi tujuan untuk menikmati keindahan langit malam musim kemarau. Di belakang mereka, gadis pelayan bernama Karen menyusul setelah memberesi meja makan.

"Ah, Iloi." Hampir mereka memasuki gerbang taman Istana Permaisuri saat langkah Permaisuri lebih dulu berhenti. "Sepertinya, Ibu ingin ke tempat lain. Bersediakah kau menemani Ibu ke sana?"

"Ke mana pun Ibu mau." Iloi membungkuk dengan salah satu tangan di depan dada dan tangan lain di belakang punggung sebagai tanda hormat.

Permaisuri tersenyum. Menggandeng kembali tangan Iloi. Mengarahkan langkah mereka ke sebuah bangunan di sebelah barat daya taman Istana Permaisuri. Bangunan yang di mata Iloi tidak seharusnya masih berdiri karena tampak usang, tidak terawat, dengan tanaman liar merambati setiap dinding.

"Sejak kapan bangunan ini ada, Bu?" Iloi membantu Permaisuri mengangkat bagian gaun yang sempat tersangkut ranting pohon. Sebuah pohon liar yang tidak dia tahu namanya. Tumbuh sangat subur dengan ranting yang sangat rapat; menjalar ke mana-mana.

"Sejak lama. Bahkan sudah ada sebelum kau lahir, Iloi." Permaisuri justru tampak tidak peduli dengan gaun yang sering tersangkut ranting, yang bisa saja menimbulkan robekan. "Dulu, Ibu dan pamanmu sering memasuki bangunan ini. Banyak sekali buku-buku kuno yang bisa kami baca. Bangunan ini didirikan atas permintaan nenek kami. Leluhurmu."

Iloi mengangguk-angguk. Mengekor saja kepada Permaisuri yang terampil melangkah di antara rumput maupun gulma yang meninggi. Sedikit jeri saat membayangkan bahwa bisa saja beragam hewan melata mengintai kaki mereka.

"Sejak nenekmu meninggal dan Ibu menikah, Ibu jarang berkunjung ke tempat ini. Barangkali yang masih mampir saat itu adalah bibimu. Ibu dengar, dia seorang wanita yang sangat suka membaca. Suka mengeskplorasi hal-hal yang menarik. Ibu bisa membayangkan bagaimana antusiasnya dia saat menemukan tempat ini."

Iloi menjadi pendengar yang baik. Membiarkan sang ibu menceritakan bagaimana kehidupan masa remajanya bersama tempat yang memuat puluhan rak dengan ratusan atau barangkali ribuan buku yang dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri. Setidaknya, ada sepotong kehidupan yang masih baik-baik saja dari hidup sang ibu setelah apa yang perempuan itu lalui belakangan.

Atas segala hal yang dilakukan ayahnya, Iloi tak pernah satu suara. Dia sangat menentang, harus menentang, tapi butuh waktu untuk bisa menggulingkan sang ayah yang duduk sebagai Kaisar saat itu. Harus ada rencana matang. Harus ada pilihan yang kuat sehingga penggulingan Kaisar bisa diterima semua kalangan.

"Jika ada pilihan untuk tidak berperang dengan orang sendiri, lebih baik kita menempuh jalur tersebut walau butuh waktu yang lama, Iloi. Jangan korbankan rakyat untuk sesuatu yang bisa kita siasati tanpa berperang. Satu hal paling memungkinkan adalah menemukan penerus takhta sah atas kursi kaisar, yakni keturunan dari kaisar sebelumnya yang tidak lain adalah anak pamanmu."

"Bagaimana Ibu yakin kalau Paman memiliki anak? Bukankah selama ini Paman tidak pernah menunjukkannya? Bahkan, keberadaan Permaisuri terdahulu pun kerap Paman hindarkan dari konsumsi publik. Aku pernah mendengar bahwa sebelum ditemukan tewas, Permaisuri terdahulu tidak tinggal di istana."

"Ada banyak yang tidak suka dengan kepemimpinan pamanmu karena kepentingan pribadi mereka terusik sehingga menggunakan berbagai cara untuk menyingkirkan orang-orang yang dicintai pamanmu, termasuk Permaisuri dan bayi mereka, Iloi. Sebelum pergi mengasingkan diri, Ibu sempat bertemu dengan bibimu. Kami sempat berbincang cukup lama. Walau dia tidak bercerita apa pun, Ibu tahu bahwa saat itu dia sedang mengandung. Barangkali jika bayi mereka hidup, usianya tak jauh berbeda denganmu. Hanya berjarak dua atau tiga tahun kelahiran, Iloi. Ibu bisa membedakan mana perempuan yang sedang hamil dan tidak."

Iloi hanya bisa mendukung, berusaha meyakini, bahwa yang dijelaskan ibunya masuk akal. Itulah yang menjadi sebab Iloi berusaha sekeras mungkin memenuhi keinginan Permaisuri untuk menemukan keturunan sah garis kekaisaran yang tidak lain anak kandung kaisar dan permaisuri sebelumnya.

"Kemarilah, Iloi!" Panggilan Permaisuri menarik kesadaran Iloi untuk kembali bergabung dengan apa yang sedang mereka jelajahi.

Iloi mendekati Permaisuri yang sudah beberapa langkah di depannya. Tanpa lampu, mereka tak kesulitan melangkah di ruang tertutup karena siraman cahaya bulan dari jendela besar tak bertirai. Didapatinya Permaisuri berdiri di depan rak besar yang berada di bagian paling belakang. Sedikit lebih menempel dengan tembok daripada puluhan rak lainnya. Sebuah peletakkan yang janggal di mata Iloi.

Bukan barisan buku yang ingin diperlihatkan Permaisuri. Bukan kotak-kotak berisi kertas maupun pena usang yang ingin dipamerkan kepada putra semata wayangnya. Melainkan, sebuah jalan rahasia yang terbuka setelah Permaisuri menekan salah satu buku. Jelas rak dan dinding yang mereka hadapi memang didesain untuk menjadi pintu sebuah ruangan yang barangkali dimaksudkan untuk orang-orang tertentu di istana.

"Ibu, ini ...."

Permaisuri mengangguki kalimat tak lengkap putranya.

🌷🌷🌷

Untuk pertama kali setelah diangkat menjadi duke, Rhisiart mendatangi kantor dinas kepegawaian yang merupakan tempat di mana para bangsawan terpilih menjadi bagian pejabat kota. Kedatangan yang mengundang huru-hara karena Rhisiart muncul tidak sendiri, melainkan bersama Orhamel dan beberapa anggota Bandit Pedang Hitam. Bukan saja nama yang dibawa, tetapi penampilan Bandit Pedang Hitam yang tidak segan menunjukkan senjata membuat belasan bangsawan meringis jeri.

"Ho ho ho! Lihat siapa yang datang hari ini? Apakah hujan akan mendadak turun dari langit yang cerah?"

Langkah Rhisiart dan Bandit Pedang Hitam terhadang kedatangan seorang pria paruh baya dengan tampilan sangat mencolok. Hanya melihat pakaian yang menempel di tubuhnya saja Rhisiart tahu bahwa lelaki paruh baya itu merupakan bangsawan kelas atas. Bukan saja kalimat sambutan yang terdengar menggelikan bagi telinga Orhamel, tetapi tatapan meremehkan yang terarah jelas kepada mereka.

"Lewat data yang kami kumpulkan, setidaknya ada setengah dari pejabat Kota Erthura yang berada di bawah kendali mantan duchess. Mereka masuk ke golongan Faksi Kaisar di mana mantan duchess tentulah menjadi satu dari sebagian orang kepercayaan Kaisar. Sayangnya, pejabat-pejabat dalam rengkuhan mantan duchess kerap bermasalah. Mencopot jabatan yang mereka pangku saat ini akan mengirim anggapan bahwa kita berada di kubu Permaisuri."

Pemaparan Orhamel pada rapat sebelumnya menyelip di ingatan Rhisiart. Kendati tidak ingin memihak siapa pun di antara pecah kongsi kekaisaran, melihat bagaimana pejabat-pejabat tak bermartabat berkeliaran bebas di tanah kelahirannya, Rhisiart semakin tergiring untuk mendukung Iloi.

"Aku tidak lagi bisa memercayai kepemimpinan ayahku, Rhisiart. Jika Erthura mau mendukung Faksi Permisuri, aku akan sangat berterima kasih. Erthura adalah salah satu kota dengan sumber daya yang sangat diperhitungkan kekuatannya. Kalian memiliki orang-orang dari Distrik Orang Timur dan Distrik Malam Biru yang kudengar bukan penduduk biasa. Akan sangat membantu jika mereka, digerakkan olehmu, mau bergabung dengan Faksi Permaisuri."

"Selamat pagi, Tuan Viliuz." Meski tak menyukai gaya menyapa dari lelaki di hadapannya, Rhisiart berusaha tetap menyapa dengan sopan. "Maaf jika duke baru ini baru mendatangi kantor pejabat kota. Ada banyak hal yang harus dia persiapkan sehingga kedatangannya kemari akan menjadi hal baru, hal yang membantu lebih banyak penduduk Erthura walau harus muncul lebih lambat dari seharusnya."

Melihat ketenangan dari duke baru di hadapannya, geraman tertahan di wajah Viliuz. Mimik yang terbaca bukan saja oleh Rhisiart, tetapi Orhamel dan beberapa anggota Bandit Pedang Hitam yang ikut masuk--sebagian berjaga di luar.

"Sebagai orang baru yang bahkan kedatangannya tidak disangka-sangka, kau harus menunjukkan dominasi wibawamu kepada mereka yang melihatmu dengan tatapan meremehkan, Rhisy. Kau tidak perlu melunak ataupun sopan kepada mereka yang membencimu terang-terangan. Melihat latar belakang kehidupanmu, jelas akan ada pecah kubu di kantor pejabat kota. Kubu yang selama ini bernaung di bawah rengkuhan mantan duchess akan menjadi yang paling menyiratkan ketidaksukaannya kepadamu."

Rhisiart menahan senyum demi mendengar petuah gadis pelayannya saat mereka hanya berdua di kamar demi mempersiapkan penampilan istimewa hari itu.

"Sangat wajar jika anak muda sepertimu akan sangat syok mendapati beban kerja sekelas mengatur perkembangan sebuah kota sebesar Erthura. Tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa karena kami bisa mengendalikan selagi kau belum siap."

Di samping Rhisiart, Orhamel menggeretakkan gigi demi melihat tampang sok bijak Viliuz. Dia telah banyak bertemu orang, bertemu pejabat, sehingga cukup mampu membaca bahwa yang diperlihatkan Viliuz adalah bentuk meremehkan.

Dengan gerakan tangan yang samar, Rhisiart berusaha meredam kekesalan lelaki besar di sampingnya. "Akan sangat membantu jika pejabat-pejabat kota bekerja sesuai ranah yang telah ditetapkan. Sayangnya, duke baru ini menerima banyak sekali keluhan dari penduduk Erthura terkait pengembangan kota dari berbagai segi."

Entah apa yang lucu, tetapi Viliuz tergelak demi mendengar penuturan Rhisiart. "Halah! Penduduk banyak mau. Sudah bagus kami bantu membangun apa yang mereka butuhkan."

Ingin sekali Orhamel menendang bokong Viliuz. Namun, lagi-lagi Rhisiart memberi kode agar mereka menahan diri. Toh, tidak sampai satu jam, mereka akan mengeluarkan beberapa pejabat dari jajaran kepemerintahan kota.

"Baiklah, Tuan Viliuz. Matahari semakin tinggi maka sudah seharusnya jam kerja dimulai." Memasang wajah tenang, Rhisiart tetap melebarkan senyum demi menghadapi kepongahan bangsawan di hadapannya. "Ah, ya. Kalau bisa aku meminta tolong, sebelum kita bekerja menyelesaikan masalah Erthura, aku ingin mengumpulkan seluruh pejabat di aula. Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian terkait sistem kepemerintahan selama aku yang menjabat sebagai duke. Jadi, tolong kumpulkan mereka di aula, Tuan Viliuz."

Tak menunggu tanggapan Viliuz, Rhisiart meminta Orhamel dan beberapa anggota Bandit Pedang Hitam yang ikut masuk untuk mengikuti langkahnya menuju ruang khusus duke. Saat melewati Viliuz, Orhamel menggerakkan tangan di leher; memeragakan posisi orang menggorok disertai senyum culas. Berharap Viliuz menyadari bahwa mulut angkuhnya akan terbungkam hari itu.

Di tempatnya, Viliuz menahan geram sepanjang melepas kepergian sang duke baru berikut para pengawalnya.

🌷🌷🌷


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...