Rabu, 13 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kedua Puluh

🌷🌷🌷

Kegemparan terjadi di kantor kepemerintahan Kota Erthura. Beberapa pejabat daerah yang tidak memenuhi standar tugas dari Rhisiart mendapat surat pemberhentian. Barangkali, separuh lebih pejabat berhasil disingkirkan Rhisiart dari kursi kepemerintahan. Gelombang protes segera memenuhi alun-alun gedung. Jika saja Rhisiart tidak membawa Bandit Pedang Hitam, huru-hara tak hanya lewat suara. Berkembang menjadi kekacauan dan pengrusakan infrastrutur.

"Kau bahkan sudah memprediksi bahwa protesan mereka akan terjadi, Duke Muda." Lewat jendela di kantor Rhisiart, Orhamel hanya memperhatikan kerusuhan di luar. Merasa tidak perlu turun tangan karena toh, anak buah yang dibawanya telah lebih dari cukup membuat mereka hanya menggonggong tanpa melempari kaca jendela dengan batu atau menggedor-gedor pintu dengan batang kayu.

"Tidak akan ada yang suka kucuran dananya dibendung, Orhamel." Sembari sibuk mengeceki sisa nama pejabat kota, Rhisiart menanggapi. "Mulai sekarang, mereka harus bekerja keras demi memenuhi bukan saja lumbung gandum dan padi, tetapi gengsi berpesta pora khas bangsawan elite. Selama ini, mereka tak pernah berlelah-lelah bekerja memperbaiki kualitas kota, tetapi dana dari pajak tidak pernah berkurang. Sudah saatnya mereka merasakan pagi dan sore berkeringat mencari pundi-pundi koin."

"Kau jauh lebih kejam dari mendiang ayahmu, Duke Muda." Lewat obrolan beberapa malam lalu saat Orhamel bertemu Sanae di dapur mansion, mereka mengobroli banyak hal, salah satunya keterikatan Rhisiart dengan duke sebelumnya. Meski berada di Erthura, pinggiran Erthura yang mana info-info terkait kota masih bisa didengar, nyatanya Orhamel tak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu. Baginya, cukup mengetahui bangsawan mana yang nakal, barulah dia akan bertindak. Urusan yang tidak menghasilkan uang bagi kelompok mereka, Orhamel acuh tak acuh.

"Seseorang berkata kepadaku agar aku menunjukkan dominasi kepada mereka yang tidak melihat taring dan cakarku. Jangan menunjukkan sedikit pun belas kasih atau aku sendiri yang akan diterkam."

"Menyerang lebih dulu memang bisa diandalkan dari sekadar bertahan." Orhamel beranjak. Mengambil duduk di sofa besar tanpa sungkan bahkan menyandarkan kedua kakinya ke atas meja. "Jadi, apa tugasku hari ini, Duke Muda? Tidak mungkin hanya ini, bukan?"

Rhisiart mengangkat tumpukan kertas yang selesai diperiksa. "Daftar aset pejabat yang harus kausita, Orhamel."

"Wow!" Meski bukan hal baru bagi dunia Orhamel, mendapati setumpuk kertas berisi info aset dari pejabat-pejabat bermasalah tetaplah mengejutkan sekaligus mendebarkan. "Pantas saja Erthura berjalan di tempat. Entah bagaimana, penduduk menengah ke bawah tidak banyak bicara saat hak mereka kurang terpenuhi sebagai warga kota."

"Diam bukan berarti tidak mempermasalahkan." Ditempelkannya punggung ke sandaran kursi lantas menguruti pelipis demi mengurangi denyutan nyeri. Rhisiart tak pernah benar-benar suka bekerja di ruangan tertutup. Pengap walau ruang kerjanya hampir sama besar seperti kamar di mansion. Suntuk walau jendela-jendela besar dibiarkan terbuka demi masuknya angin segar setiap waktu. Dia butuh sesuatu ... atau barangkali seseorang untuk menemani hari kerjanya yang padat. Di sana. Di ruang kerja dari gedung kepegawaian kota. Bukan hanya di mansion.

"Dari beberapa penduduk di Distrik Malam Biru, mereka malas menuntut ini dan itu karena toh pejabat-pejabat itu terlalu bebal. Aku tidak mengerti kenapa Ryonswald tak banyak mengambil langkah padahal tentu saja tahu bahwa anak buahnya bermasalah."

Gerakan kedua bahunya menjadi tanggapan protesan Orhamel. "Penjelasannya terkubur bersama tulang-belulang mantan duke di kedalaman tanah."

"Yang jelas, setelah kejadian hari ini, mansion-mu akan menjadi sasaran bandit-bandit kelas teri suruhan pejabat nakal. Barangkali juga, ibu tirimu akan ambil bagian untuk menyingkirkanmu. Orang-orangnya telah tersingkir dari kursi kepemerintahan. Akan sangat memengaruhi faksi mantan duchess."

"Mereka tidak akan mudah menyentuhku, Orhamel. Tidak untuk kedua kali."

"Heh?" Menjeling mata Orhamel demi mendengar kalimat Rhisiart walau tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya senyum yang pemuda itu imbuhkan demi meredam keingintahuan sang kapten Bandit Pedang Hitam.

🌷🌷🌷

Dia telah menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan kamar sang tuan. Tidak lagi terlihat selimut terserak di atas lantai. Pakaian yang selesai digunakan pun tidak bertebaran, entah di sofa atau nakas. Buku-buku maupun kertas-kertas dikembalikan ke tempat asal. Botol tinta terisi ulang, penuh dan siap digunakan kapan pun. Gelas maupun poci kosong telah diantar ke ruang cuci untuk kemudian diganti dengan yang baru. Sebelum matahari berada tepat di atas kepala, urusannya telah benar-benar rampung.

Usai mengecek sekitaran mansion, langkahnya mendekati dapur. Alih-alih mendapati si kembar Orphana dan Orphelia berjibaku dengan bahan dan alat memasak, dia menemukan kedua gadis berusia lima belas tahun itu tengah bergantian menggoyang ayunan kayu di mana bayi mungil berjenis kelamin perempuan terlelap. Barangkali, sejuk angin yang melewati jendela terbuka di dapur membuat suasana tidur si bayi kian nyaman.

"Dia terlihat nyaman tidur di sini." Dihampirinya si gadis kembar yang selalu antusias setiap kali menjaga si bayi perempuan. Kentara bahwa keduanya sangat menyambut baik, menerima dengan suka rela saat dirinya mengabarkan bahwa tuan mereka mengizinkan pasangan suami dan istri dengan bayi perempuan itu menjadi bagian dari mansion.

"Serena justru sangat menyukai jika ayunannya diletakkan di tempat dengan banyak angin, Nona Maid-chan." Bergerak tangan Orphelia mengusapi pipi bayi perempuan yang diberi nama Serena itu. "Nona tahu sendiri kalau kemarau di Erthura masih belum pergi. Tidur dengan serbuan angin sepoi-sepoi menjelang siang tentulah jauh lebih nyaman daripada terperangkap di kamar."

"Bukankah jendela di kamar mereka juga bisa dibuka?" Ditemukannya Orphelia dan Orphana menggerakkan kedua bahu.

"Bibi Amritha sedang mencuci saat Serena tidur, sedangkan kami tadi sedang membersihkan halaman belakang. Daripada tidak ada yang menjaga, kami mengusulkan agar ayunan Serena dibawa saja ke dapur sehingga kami bisa sekaligus mengawasi selagi Bibi mencuci."

"Terima kasih sudah mau membantuku menjaganya, Orphana, Orphelia." Muncul perempuan dengan gurat lelah meski memasang senyum lebar begitu sepasang matanya bertumbukan dengan mata hijau zaitun dari wanita yang berdiri di ujung ayunan putrinya. "Dia memang suka tidur dengan kondisi yang sejuk, Maid-chan. Saat Orphana dan Orphelia bilang agar membawa saja ayunannya ke dapur, aku justru terbantu. Dari tempat mencuci, aku masih bisa mengawasi boks ayunannya."

"Kalau Bibi Amritha tidak mengawasi pun, aku dan Orphelia akan dengan senang hati melakukannya." Diberinya cengiran lebar kepada perempuan yang perlahan dia anggap seperti bibi sendiri. Seolah, keberadaan keluarga ataupun kerabat yang sempat lenyap dari kehidupannya--kehidupan mereka--tergantikan oleh pertemuan dengan wanita yang dipanggil Maid-chan. Telah dipunyainya seorang kakak perempuan, seorang kakak laki-laki, seorang adik bayi menggemaskan, serta sepasang orang tua.

Amritha tersenyum diikuti anggukan. Dia tahu bahwa gadis kembar itu akan selalu mau membantu menjaga bayi perempuannya.

"Kau sudah memasak untuk makan siang, Orphelia?"

"Baru mau kulakukan, Maid-chan." Orphelia beranjak dari sisi kanan ayunan Serena. "Kauingin makan sesuatu? Mau dibuatkan makanan khusus? Apakah Tuan Duke akan pulang untuk makan siang?"

Sanae menggeleng diiringi senyum lebar. "Tidak, Orphelia. Dia tidak akan pulang. Sudah ada yang mengurus makanan di kantor. Ya, semoga saja dia tidak diracun. Seharusnya, selain menjadi 'perampas' aset pejabat nakal, Orhamel bisa dipinta untuk mengecek makanan dari kantin kantor pejabat kota; ada atau tidak adanya racun yang dikhususkan untuk Duke Muda."

Mendengar bahwa tuannya bisa saja menghadapi bahaya, tak pelak Orphelia terbelalak. "Kau bersungguh-sungguh, Maid-chan? Tuan Duke ... diracun? O, astaga! Apakah mulai besok kubawakan bekal saja untuk Tuan Duke agar makan siangnya tidak perlu dihantui racun?"

Dikibas-kibasnya tangan ke udara. "Tidak perlu, Orphelia. Duke Muda tidak sebodoh itu, kurasa. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya."

"Tetapi ...."

"Tenang saja. Dia sosok yang tangguh. Pria yang hebat. Tidak akan semudah itu mencelakainya." Sanae mengacungkan ibu jari. "Nah, karena Duke Muda akan pulang petang, kau tidak perlu banyak memasak. Aku justru ingin mengajakmu dan Orphana berkeliling Erthura. Ada banyak kedai makanan di Distrik Bulan Putih yang harus kalian coba. Sejak kemari, kalian belum mengambil jatah libur padahal Duke Muda sudah memberi keleluasan sehingga kalian bisa libur kapan saja."

"Benar juga." Orphelia bergaya bak detektif yang serius berpikir; berpose dengan mengusap-usap dagu. "Karena banyak yang harus dibersihkan dan diberesi dari mansion ini, kami jadi lupa berlibur."

"Sepertinya, kita memang perlu pergi, Orphelia." Mendengar ajakan Sanae, Orphana mulai tergiur. "Selain melihat-lihat Erthura, kita juga perlu membeli beberapa perlengkapan pribadi. Kau tidak ingat kalau kita hanya punya beberapa potong gaun?"

Orphelia mengangguk-angguk.

"Ditambah ... Nona Maid-chan, Hakaza bilang kalau ramen di resto mereka adalah yang paling terkenal di Erthura. Bisakah nanti kita mampir? Aku ... ingin mencicipi makan ramen langsung di resto."

Demi melihat rona malu-malu Orphana, Sanae tak bisa menahan tawa. Gelegarnya nyaris membangunkan Serena jika saja tidak disadarkan oleh 'sssttt' Orphelia.

"Mari kunjungi banyak tempat seru dan resto-resto enak di Distrik Bulan Putih selagi Duke Muda belum pulang, Nona-nona." Dirangkulnya Orphana yang memang berdiri bersisian dengannya. "Sebelum itu, kalian siapkan makan siang untuk Paman Carloz dan Bibi Amritha agar mereka tidak kelaparan selagi kita bersenang-senang di luar."

"Kami ... kami bisa mengurus makan siang kami sendiri, Maid-chan. Kalian tidak perlu repot-repot memasaknya." Amritha angkat bicara setelah merasa sungkan bahwa mereka masih memikirkan dirinya dan suaminya padahal ingin bergegas menikmati keramaian di luar.

"Tidak, tidak, tidak." Berkacak pinggang Orphelia sembari menghadap Amritha. "Memasak untuk seluruh penghuni mansion adalah tugas kehormatan bagiku, Bibi. Bibi tidak boleh mengambilnya. Lagi pula, kami tidak buru-buru. Memasak untuk porsi makan Paman dan Bibi tidak akan menyita waktu."

Amritha ingin kembali memprotes saat kode tangan Sanae dimengertinya untuk diam. Menghela napas, Amritha hanya bisa membungkuk sekaligus berterima kasih karena mereka benar-benar mengurus dirinya dan Carloz. Hidup yang sempat tidak baik-baik saja, dibalut kemiskinan berkepanjangan, terempas setelah pertemuan mereka dengan Rhisiart dan Sanae. Tidur mereka telah lebih nyaman berbalut selimut dan ranjang yang hangat di salah satu kamar sebuah mansion megah--kamar yang bahkan seharusnya dihuni oleh kaum bangsawan alih-alih rakyat jelata. Makan dan minum mereka terjamin karena sang duke memberlakukan kesetaraan yang mana menu makan disamakan antara milik sang tuan dengan para maid. Kekhawatiran akan seperti apa masa depan si bayi perempuan perlahan-lahan terempas. Selama mereka bekerja dengan si Duke Muda, setia membersamai kepemimpinannya, hidup mereka terjamin baik-baik saja.

Haru mengerubung di sepasang mata Amritha setiap kali mengingat telah banyak hal baik menghampiri keluarga kecilnya.

"Lagi pula, ibu menyusui harus banyak istirahat dan makan makanan yang lezat serta sehat." Sanae menghampiri Amritha lantas menggenggam kedua tangannya. "Nyonya tidak perlu merasa sungkan. Biarkan Orphelia memanjakan Nyonya dengan masakannya agar proses menyusui Serena berjalan dengan baik. Aku pernah mendengar bahwa ibu yang menyusui harus selalu bahagia agar air susunya sehat dan deras."

"Aku ... tidak tahu harus membalas dengan apa lagi atas kebaikanmu dan Tuan Duke, Maid-chan."

"Jangan pikirkan tentang bagaimana cara membalas budi karena yang aku dan Duke Muda lakukan bukan untuk meminta balas budi Nyonya. Jika ada yang ingin Nyonya lakukan setelah kami membantu, barangkali cukup dengan tunjukkan bahwa Nyonya, Tuan Carloz, dan Serena hidup dengan lebih bahagia."

"Siapa pun akan merasa hidupnya terbahagiakan jika tinggal dengan kalian, Maid-chan."

"Nah, itu sudah cukup untuk membalas budi kepada kami."

Mereka sama-sama tersenyum. Beranjak mendorong boks ayunan Serena saat sorot matahari semakin terik ke arah si bayi perempuan yang tetap nyenyak walau orang dewasa di sekitarnya sibuk berbincang. Sesekali saja mengulet atau mengerang untuk kemudian kembali tenang. Barangkali, suara pisau beradu telanen atau desisan minyak saat menggoreng ikan sudah seperti lagu nina bobo di telinganya.

Tak sampai satu jam, Orphelia menyelesaikan tugas. Stok makanan dan camilan untuk Carloz maupun Amritha tersimpan di bawah tudung saji. Dia tidak akan lagi kepikiran bahwa orang yang menjaga rumah akan kelaparan saat langkahnya menyusuri keramaian Erthura, terutama Distrik Bulan Putih, bersama Sanae dan Orphana.

"Kami berangkat, Bibi!"

Kepergian ketiganya dilepas senyum bahagia Amritha.

🌷🌷🌷


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...