Jumat, 08 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kelima

🌷🌷🌷

"Kau ... jangan lupa segera mencari maid untuk membantumu di kediaman barumu, Rhisiart." Iloi sudah dalam kondisi teler saat mereka keluar dari Kedai Bir Allan. Berjalan terseok dalam papahan Rhisiart saat mencari penginapan.

Sejak datang, Rhisiart memang belum sempat mencari tempat bermalam selagi bisa tidaknya mansion di dekat Menara Lonceng dia dapatkan. Untuk sementara akan tinggal di penginapan alih-alih di kediaman mendiang duke. Dia sangat tahu akan seberapa murka mantan duchess dan anak-anaknya jika Rhisiart sengaja menginap di sana. Tak ingin menambah kekesalan mereka, dia tak akan berkeliaran di hadapan Klerianna dan putri-putrinya.

Pukul tiga dini hari saat Rhisiart mendongak ke langit demi membaca pewaktu dari posisi bulan. Mereka telah keluar dari Distrik Malam Biru yang sayangnya tidak tersedia penginapan. Menurut keterangan salah satu pelayan Allan, kawasan penginapan berada di Distrik Orang Timur dan Distrik Bulan Putih. Karena jam operasi Distrik Bulan Putih hanya sampai pukul lima sore, berkemungkinan besar Rhisiart tidak akan disambut sekalipun mengiming-imingi bayaran lebih banyak.

Meski bukan kota yang sangat besar, setiap penduduk Kota Erthura sangat menjunjung peraturan yang telah ditetapkan. Jika pukul lima harus menutup toko, tanpa protes mereka akan menutup toko kendati masih ramai pembeli. Jam operasional yang nyatanya dipatuhi dengan damai meski beberapa kali terjadi kericuhan saat bangsawan-bangsawan gila hormat bertandang lantas memaksa toko atau penginapan yang dimau untuk melayani mereka.

Merasa agak sulit dan memakan waktu jika hanya memapah, Rhisiart mengganti cara dengan menggendong Iloi di punggung. Bobot yang jauh lebih kurus darinya tak menjadi soal saat mereka harus berjalan lebih dari satu kilometer dari Distrik Malam Biru menuju gerbang Distrik Orang Timur. Sebagian ruas jalan yang mereka lewati di luar Distrik Malam Biru telah sepi. Hanya kemerlip lampu tempel atau obor di luar bangunan yang menandakan bahwa jalanan tersebut sesungguhnya berpenghuni. Tidak tampak prajurit penjaga satu pun yang berpatroli. Sangat jauh berbeda dengan kota di mana paman dan bibinya tinggal.

"Distrik Orang Timur tepat berada di timur, Tuan. Setiap distrik yang ada di Erthura tepat menempati empat arah mata angin. Distrik Malam Biru di selatan, Distrik Awan Emas di utara, lalu Distrik Bulan Putih di barat. Setiap distrik memiliki pintu gerbang berbeda. Kaupasti bisa mengenalinya." Begitulah yang dikatakan Allan si pemilik kedai bir sebelum mereka keluar.

Langkah Rhisiart ditemani ceracauan Iloi. Dia biarkan saja pemuda di punggungnya mengoceh tanpa tanggapan. Kepala Rhisiart justru tengah mengingat seluk-beluk kota yang sempat ditinggalinya selama beberapa tahun. Kalaulah Allan tak memberi tahu, Rhisiart mampu menemukan sendiri arah mana yang harus diambil meski tentu selama belasan tahun tak dijumpai, Erthura mengalami banyak perubahan.

Terdapat persimpangan jalan menuju hutan sebelum Rhisiart berbelok ke Distrik Orang Timur. Hutan yang pernah dijadikan tempat pertemuan dengan paman dan bibinya yang kemudian merawat Rhisiart hingga menjadi Rhisiart yang sekarang. Hutan yang juga menjadi tempat perpisahan dengan seorang gadis berpakaian pelayan.

Sudah sebesar apa dia sekarang?

Rhisiart mendongak. Menemukan bulan tanpa gangguan awan bersolek dengan sinar kebiruan. Bila diingat kembali, sesungguhnya malam belasan tahun lalu adalah malam yang cukup memalukan. Tidak pernah sekalipun Rhisiart digendong oleh gadis seusia--sebelumnya. Hal yang kemudian mendasari Rhisiart untuk membentuk kekuatan tubuh agar kejadian yang sama tak terulang. Andai pertemuan kembali terjadi, seperti yang diyakini gadis pemberi shuriken, Rhisiart ingin menunjukkan bahwa dia telah menjadi lelaki yang kuat. Sangat kuat sampai-sampai setiap perhelatan tarung di kota pamannya selalu dia ikuti dan menjadi pemenang. Berbilang usia muda, tetapi kemampuan Rhisiart bisa disandingkan dengan jenderal. Walau sampai hari itu tak kunjung berminat memenuhi tawaran Kaisar Celdara agar dirinya mengabdi di bawah kekuasaannya.

Tidak. Rhisiart telah membuat sumpah dengan seseorang bahwa tidak akan pernah menjadi bawahan Kaisar. Dia berjanji untuk membantu seorang pemuda mendapatkan kembali haknya. Bukan saja karena pemuda itu dari kalangan kelas atas, lebih kepada harga atas pertemanan mereka selama menimba ilmu di akademi yang sama.

Mengingat bulan semakin suruk ke barat, Rhisiart melanjutkan langkah. Akan sangat buruk bagi pemuda di punggungnya jika tak cepat-cepat direbahkan. Tampak dua penjaga berdiri di gerbang masuk Distrik Orang Timur. Dua penjaga bersenjatakan tombak meski tidak dilengkapi zirah. Mereka terlihat seperti penduduk kebanyakan dengan hanya memakai atasan dan bawahan agak kumal. Sebelum ditanya macam-macam, Rhisiart merogoh kantong di balik jubah; Mengambil lencana resmi duke; Memperlihatkannya kepada mereka yang justru memasang wajah terkejut.

"Jadi, Tuan-lah duke pengganti itu?"

Rhisiart mengangguk.

"Silakan, Tuan. Silakan Tuan masuk. Ling Fei, coba kautemani Tuan Duke mencari penginapan. Biar aku saja yang jaga sendirian." Pemuda dengan ikat kepala putih menyuruh rekannya yang tampak lebih muda.

"Tidak perlu. Aku cukup familier dengan Distrik Orang Timur. Aku bisa lakukan sendiri."

"Ah, iya, iya. Silakan kalau begitu, Tuan."

Rhisiart melangkah masuk tanpa kendala.

🌷🌷🌷

Dia berdiri menghadapi tugu batu setinggi betis. Diletakkannya sebuah shuriken di atas tugu yang memiliki permukaan mendatar. Kedua tangan menangkup. Sepasang mata memejam. Desir angin menjelang fajar menjadi kawan saat lantunan doa dalam senyap berkelindan. Ritual yang masih dia lakukan setiap kali selesai menjalani misi.

"Aku berhasil lagi, Bibi. Terima kasih." Dia mengusap pelan tugu batu lantas berbalik. Tak perlu berlama-lama. Datangnya hanya ingin sedikit bercerita kepada sosok yang telah menyelamatkan belasan tahun lalu. Sosok asing yang mengenalkannya dengan dua senjata khas Orang Timur.

"Kau memang seorang gadis, tetapi bukan berarti tidak boleh bertarung. Justru karena kau seorang gadis, kau harus bisa bertarung."

Dia mengingat kembali pertemuan hari itu. Pertemuan kesekian di tepi hutan saat dirinya kabur diam-diam dari pembelajaran di rumah maid. Usianya belum genap sembilan tahun, tetapi perempuan yang memiliki sorot mata paling teduh yang pernah dia temui berbaik hati mengajari satu-dua gerakan bela diri.

"Seorang gadis sangat rawan dijahati. Tidak bisa melawan maka tamatlah riwayatnya. Akan mudah dipukuli. Akan mudah dikasari bahkan dilecehkan. Kau jangan sampai melemah di hadapan laki-laki bajingan."

"Apakah Bibi kuat? Apakah Bibi bisa melawan laki-laki bajingan?" Mengerjap sepasang mata beriris hijau zaitun. Sangat tertarik dengan cara berpikir perempuan yang memiliki rambut panjang selegam arang.

"Kurasa ... aku kuat meski tidak pandai-pandai amat bertarung." Tawa renyah meledak di tepian hutan. Mengagetkan para bajing yang tengah menikmati biji-biji kenari. "Kalau kau tidak pandai menggerakkan tubuh untuk memukul atau menendang, kaupakai saja alat bantu. Gunakan senjata yang dari jarak jauh pun sudah bisa melukai."

"Senjata? Dari jarak jauh?" Gantian berbinar sepasang mata hijau zaitun seorang bocah perempuan.

"Kau bisa pakai shuriken, kunai, bahkan pisau buah sebagai senjata andalan. Bentuk mereka yang mudah disembunyikan di balik celemek pelayan tidak akan mudah diketahui. Kau bebas membawanya ke mana pun sehingga bisa kaupakai kapan pun."

Bermenit-menit kemudian, perempuan berambut sewarna arang itu menjelaskan bagaimana cara menggunakan shuriken, kunai, ataupun pisau buah.

"Semakin kau pandai menyalurkan tenaga dalam ke lenganmu akan semakin akurat lemparan senjatamu sejauh apa pun jarak kau dengan lawan."

Maka, pada pertemuan-pertemuan berikutnya, lewat rengekan tak henti, disertai tawa kemenyerahan, perempuan berambut hitam selegam arang bersedia mengajari gadis cilik itu cara mengatur tenaga dalam, bagaimana melemparkan senjata sehingga selalu tepat sasaran, serta mengajari beberapa jurus bela diri. Hari-hari yang akan diingat si gadis cilik sebagai momen menyenangkan.

"Api! Api! Cepat cari air! Cepat padamkan apinya!"

Ramai teriakan mengembalikan lamunan. Suara gemeretak kayu-kayu terbakar berhasil menyusupi telinga. Langkahnya tertahan di ujung jalan menuju bangunan Rumah Maid Bunga Tulip. Berbondong-bondong penduduk dari dua distrik yang berhadapan menyita perhatian. Beberapa di antaranya tergopoh-gopoh membawa ember penuh air.

Api?

Dia menemukan gulungan asap membubung. Hitam. Serpihan kayu yang terlalap api berhamburan termainkan angin. Sesuatu yang besar telah terbakar.

Terbakar? Ke-kebakaran?

Sepasang kakinya tak lagi melangkah. Menerobos kerumunan yang makin menggila, dia berlari. Tak sempat meminta maaf saat menyenggoli beberapa penduduk.

Larinya terhenti. Terenyak saat mendapati bangunan di balik pagar hitam tinggi dalam jilatan si jago merah yang telah mencapai tembok cerobong asap. Tidak lagi tampak seperti rumah yang selama ini dia tinggali.

"R-rumah ... r-rumahnya kebakaran. Ny-nyonya Elora ... Nyonya Elora ... semuanya b-bagaimana?"

Gemetar merayapi tubuh. Tak ingin membayangkan bagaimana yang terjadi di dalam bangunan. Namun, ketidaktahuan akan kondisi orang-orang di dalam bangunan justru menggerakkan langkah tanpa sadar. Dia ingin memastikan bahwa mereka yang di sana telah berhasil kabur, keluar, sehingga tidak perlu terjebak dalam kobaran menghanguskan.

"Maid-chan! Apa yang mau kaulakukan, Maid-chan? Jangan mendekati bangunan yang terbakar, Maid-chan!" Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dan pendek berusaha menghentikan langkahnya, tetapi tak digubris. Seolah telinga wanita itu tersumpal sehingga teriakan peringatan apa pun tak sampai ke gendang pendengaran.

Dia mengabaikan seruan orang-orang. Dia melepas kasar cekalan dari salah satu penduduk yang memang mengenalnya. Antara sadar dan tidak, dia terus melangkah sekaligus mengabaikan teriakan yang meminta untuk mundur dari balik pagar. Dia harus melihat dengan mata kepala sendiri kondisi keseluruhan penghuni Rumah Maid Bunga Tulip. Ya, yang terbakar memanglah bangunan Rumah Maid Bunga Tulip.

Hampir dia membuka gerbang, berhasil menyingkirkan segala hambatan, hendak memasuki wilayah yang jelas-jelas menguar panas hebat, saat cekalan dari tangan yang besar dan kuat berhasil memancang tubuhnya. Terhenti seketika. Menolehkan kepalanya ke belakang, kepada sosok yang telah mengganggu rencana.

"Tidak, Maid-chan. Kau tidak boleh ke sana. Berbahaya!" Seorang pria tinggi nan besar lagi kekar menggeleng. Kendati berpenampilan menakutkan, bisa dia temukan kesahajaan dari wajah yang menyorotkan tatapan tajam.

"Se-semuanya ... s-semuanya di d-dalam ...."

"Yang lain sedang berusaha memadamkan apinya. Kau tak boleh mendekat apalagi masuk sampai api padam."

"T-tetapi ... mereka ...."

"Kau hanya bisa menunggu, Maid-chan."

Retak yang sejak tadi tertahan di sepasang mata hijau zaitunnya meremuk kemudian. Luruh menghangati sepasang pipi yang memantulkan cahaya kemerahan. Dia tak menemukan satu pun dari orang-orang di rumah maid dalam kumpulan penduduk yang mencoba memadamkan api. Menandakan bahwa kemungkinan besar mereka masih di dalam bangunan.

"Nyonya ... semuanya ...."

Satu-satunya rumah yang dia miliki telah habis terpanggang.

🌷🌷🌷

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...