🌷🌷🌷
Petang membungkus Erthura saat Sanae kembali ke mansion. Tidak sendiri, melainkan bersama kereta yang ditarik dua kuda. Sebagai orang penting di sebuah wilayah, Rhisiart perlu memiliki kendaraan pribadi alih-alih hanya menyewa. Maka bersenang hati Sanae mencarikan kereta yang cocok untuk tuannya usai mendatangi Kediaman Ebihara. Sayangnya, Sanae belum bisa memasang lambang kepemimpinan Rhisiart di kereta mereka. Selain perlu digambar dan dijahit, Sanae tak tahu pola seperti apa yang ingin dipakai Rhisiart. Mereka belum berdiskusi terkait lambang kepemimpinan yang memang lazim dimiliki pemimpian sebuah wilayah, terlebih seorang duke.
Tampak Orphana menyirami halaman samping saat Sanae membawa kereta memasuki istal. Kedatangan maid paling senior di mansion membuat gerak kerja Orphana terhenti sejenak. Selain memberi salam, keingintahuan Orphana akan barang bawaan Sanae menggiringnya untuk ikut memasuki istal. Terperangah gadis lima belas tahun di belakang Sanae saat menemuka dua kuda jantan berkaki kekar dengan tubuh yang sangat gagah berwarna hitam dan putih. Sependek ingatan Orphana, baru kali itu dilihatnya kuda yang amat gagah lagi tampan--kalaulah frasa tampan bisa disematkan kepada seekor kuda.
"Bagaimana menurutmu, Orphana? Bukankah kereta dan kuda ini sangat bagus?"
"Kereta dan kuda paling indah yang pernah kulihat, Nona Maid-chan."
"Tentu saja. Aku yang memilihnya maka tidak boleh hanya kereta dan kuda biasa-biasa saja." Dibenahinya kerah kostum maid Sanae sebagai bentuk kejemawaan. "Bantu aku mengurus mereka selagi kita belum memiliki tukang istal sendiri."
"Siap, Nona!"
Ditepuk-tepuknya bahu Orphana sebelum Sanae meninggalkan istal. Merasa sedikit lega karena gadis itu telah lebih santai saat berbicara, tidak seperti malam sebelumnya yang canggung bahkan cenderung takut.
Sanae masuk dari belakang mansion usai dari istal. Menemukan Orphelia berkutat dengan bahan-bahan masakan yang menghampar di meja besar di dapur mereka. Setumpuk udang dan ikan air tawar memenuhi bejana tembaga. Telah seluruhnya dibersihkan. Mengundang takjub Sanae karena Orphelia jauh lebih cekatan mengurus bahan masakan daripada dirinya; jauh lebih cekatan sebagai maid walau sebagian besar waktu mereka habiskan menjadi budak.
"Kau yang berbelanja, Orphelia?" Dicucinya tangan di pancuran dekat deretan tungku yang semuanya menyala.
Satu tungku digunakan Orphelia untuk menjerang air. Satu tungku digunakan untuk menanak nasi dalam pot tanah liat yang harumnya mulai memenuhi seantero dapur. Satu lagi disiapkan untuk memanggang. Telah terhampar jaring-jaring dari logam antilengket berbentuk persegi berukuran setengah depa untuk masing-masing sisi.
"O? Kau sudah pulang, Nona Maid-chan?" Merasa bahwa wanita muda yang menyelamatkan mereka terhitung lebih tua usia, Orphelia dan Orphana memutuskan memanggilnya dengan embel-embel Nona alih-alih sekadar Maid-chan.
"Baru saja." Sanae mendekati posisi Orphelia yang sedang mengeluarkan kacang polong segar dari kulitnya. "Wah! Kita makan enak malam ini."
"Sebelum rencanaku terealisasi untuk pergi berbelanja ke Distrik Bulan Putih, Hakaza sudah lebih dulu datang membawakan udang dan ikan air tawar. Dia bilang, itu titipan Tuan Orhamel. Hasil memancing di sungai dekat hutan."
"Betapa baiknya Orhamel sampai-sampai memberi kita udang dan ikan sebanyak ini." Ditusuk-tusuknya permukaan salah satu ikan dengan jari. Tidak lembek pertanda ikan pemberian ketua Bandit Pedang Hitam masihlah segar. Hm, sepertinya bukan sekadar mampir membawakan hasil memancing. Pasti ada hal lain yang dibawa Hakaza untukku.
Sebelum meninggalkan dapur, Sanae menyiapkan poci dan cangkir teh yang akan dia sajikan untuk Rhisiart. Ditemukannya si duke muda masih berkutat di balik meja dengan tumpukan dokumen saat Sanae memasuki ruang kerja Rhisiart. Bunyi troli yang didorong serta aroma teh yang menguar ke udara berhasil mengalihkan tatapan Rhisiart dari kertas-kertas di tangan.
"Terima kasih telah bekerja keras hari ini, Duke Muda." Sanae membungkuk hormat.
"Kau mendapatkan yang kau mau?" Datangnya Sanae berhasil menghentikan gerak tangan Rhisiart di atas kertas. Masih belasan dokumen yang perlu dipelajari, tetapi Rhisiart menangguhkan. Akan dia lanjut besok. Petang yang terpantul dari jendela seharusnya menjadi alarm bahwa jam kerja pemuda itu telah selesai.
"Tentu saja." Sanae mendekat sembari mendorong troli. Berdiri di samping meja. Memindahkan cangkir beralas piring kecil dengan corak mewah untuk kemudian diisi teh beraroma krisan dan melati. "Satu kereta dengan dua kuda yang gagah harus ditukar dua ratus koin emas. Kau harus mengganti koin emas yang kupakai untuk membeli kendaraan pribadimu, Duke Muda."
"Maid macam apa yang memiliki ratusan koin emas, hm?" Menjeling tatapan Rhisiart kepada gadis yang melayaninya. "Barangkali, kau jauh lebih kaya dariku, Maid-chan."
"Aku tidak hanya bekerja kepadamu, Duke Mu--"
"Rhisiart." Rhisiart menginterupsi. "Bisakah kau memanggilku Rhisiart saja, Maid-chan?"
"Aku akan menjadi maid paling tidak sopan jika memanggil seorang duke hanya dengan namanya saja." Sepasang cermin hijau zaitun Sanae memindai seisi ruangan. Beberapa gumpalan kertas terserak acak di lantai. Selembar handuk menggeletak di sofa dekat jendela. Selain kamar, ruang kerja adalah dunia lain yang menampakkan bagaimana seorang Rhisiart Hywel sangat mengabaikan kerapian.
Satu per satu Sanae punguti setiap yang berserak di lantai atau di titik-titik seharusnya tidak terdapat barang-barang berserakan. Beberapa gumpalan kertas dia masukkan ke tong sampah di dekat pintu. Handuk yang menggeletak akan dia bawa ke ruang mandi untuk kemudian dijemur di depan jendela besar yang memang dimaksudkan agar cahaya menyirami ruangan.
Selesai dengan serakan barang di lantai, Sanae berkeliling ruangan untuk menyalakan lampu. Gelap telah menyapa sebagian langit di luar. Hendak menutupkan gorden usai memberesi pena di atas meja saat Rhisiart justru mencekau pergelangan tangannya; membawanya duduk di sofa besar dekat jendela yang masih terbuka. Jatuh kepala Rhisiart di atas pangkuan Sanae.
"Hari ini sangat melelahkan walau hanya membaca puluhan dokumen." Pemuda itu memejam. Wangi manis terendus dari pakaian yang dikenakan Sanae. Wangi yang dalam ingatan Rhisiart seperti percampuran antara bunga dan buah. Menenangkan sekaligus menyegarkan. "Sepertinya, aku lebih suka bertanding di festival gulat daripada membenahi sebuah kota."
Sanae masih membungkam. Bukan karena tidak mengerti arah obrolan yang dibangun Rhisiart, melainkan tingkah yang baru saja diperlihatkan pemuda dalam pangkuan. Isi kepalanya mengais-ngais ingatan saat menjadi pembelajar di Rumah Maid Bunga Tulip. Pernahkah Elora menjelaskan bahwa salah satu tugas maid adalah membiarkan kepala si tuan terpangku di pahanya? Sependek ingatan Sanae, Elora tak pernah memberi pembelajaran untuk situasi yang petang itu dialami Sanae.
Bagaimana bisa dia tidak tampak jengah melakukan hal yang mungkin tabu dilakukan antara maid dan tuan majikan? Sanae tak habis pikir. Apakah dia juga akan melakukannya kepada Orphana dan Orphelia?
"Kau melamun, Maid-chan?" Wajah itu menghadap Sanae setelah bermenit-menit gerutuannya tak mendapat tanggapan. "Kau tidak mendengar ocehanku, Maid-chan?"
"Aku sedang mengherankan sesuatu." Baiklah. Sanae perlu mencari tahu.
"Soal?"
"Apakah kau selalu melakukan hal semacam ini dengan maid-maid-mu sebelumnya?"
"Melakukan apa?"
"Duduk di pangkuannya lalu menggerutu bahwa harimu berjalan terlalu melelahkan."
Tatapan Rhisiart mengarah ke sudut lain ruangan. "Aku tidak pernah memiliki maid khusus. Sekadar pelayan di rumah memang ada, tetapi yang khusus mengurusiku baru kau. Bahkan mungkin, untuk ke depannya, aku hanya ingin kau yang menjadi maid khususku."
Sebersit gelombang aneh menjalari dada Sanae, tetapi segera ditepis. Tidak! Dia tak boleh terpengaruh oleh ocehan pemuda yang bahkan baru dikenal beberapa hari. Isi kepala dan hatinya masih belum jelas terbaca.
"Aku dididik untuk menjadi maid yang mana saat bekerja di sebuah kediaman, aku harus memanggil majikanku dengan sebutan kehormatan. Mana bisa memanggilmu hanya dengan nama, Duke Muda." Baiklah. Mulai detik itu, Sanae tak akan mempermasalahkan bagaimana Rhisiart memperlakukannya. Selagi bukan tingkah aneh-aneh, Sanae akan membebaskan Rhisiart melakukan apa pun semaunya.
"Tidak saat kau bekerja kepadaku." Wangi manis yang melingkupi Sanae serta embus angin petang yang sejuk berhasil mengundang kantuk di sepasang mata Rhisiart. Dibiarkan perlahan memejam. Perpaduan situasi yang betul-betul menyamankan Rhisiart, seolah tak perlu khawatir bahwa bisa saja pembunuh bayaran bersembunyi di balik semak-semak di sekitar mansion; siap melesatkan panah untuk mencelakai dirinya. "Panggil hanya namaku, Maid-chan."
Perlu Sanae menahan tawa demi tuntutan pemuda dalam pangkuannya. Sangat kekanakan. Melebihi Jiro yang masih balita. "Baiklah, baiklah. Aku akan memanggil namamu saat kita hanya berdua."
"Kenapa begitu?"
"Bersamaku, kau boleh meniadakan status antara maid dan tuan majikan, tetapi tidak saat di hadapan orang lain. Kau harus tetap menunjukkan dominasimu sebagai tuan majikan sehingga mereka tidak memandangmu sebelah mata, Rhisiart."
"Aku bahkan tidak peduli bagaimana mereka melihatku."
"Sayangnya, aku peduli. Kalau kau bertindak gegabah, menurunkan citramu sebagai pemimpin kota di hadapan orang lain yang bisa jadi musuhmu, kau bisa kehilangan statusmu saat ini. Tentu saja akan berimbas bukan hanya kepadamu, tetapi kepada maid-maid yang melayanimu. Kau paham, 'kan?"
"Kau berpikir sangat jauh."
Dari peristiwa malam itu, kau telah mengarungi banyak hal menyakitkan, Rhisiart. Kau tidak boleh dikalahkan untuk kedua kali. Kau harus menjadi pria yang bisa menciutkan nyali siapa pun yang ingin menjatuhkanmu.
Di balik jendela, gelap melumat perlahan rona oranye Erthura. Meninggalkan jejak biru keunguan, melatarbelakangi kemerlip bintang dan cahaya rembulan. Satu per satu lampu dari setiap kediaman di seluruh distrik di Erthura menyala. Yang paling hingar-bingar tentulah Distrik Malam Biru, sedangkan yang paling senyap dimiliki Distrik Bulan Putih--menyisakan toko-toko terkunci tanpa penghuni.
Lamat-lamat Sanae mendengar dengkur halus. Bersumber dari sosok yang menjadikan sepasang pahanya sebagai bantal. Menuntaskan rasa penasaran, Sanae melongok si pemilik wajah. Sepasang mata hitamnya terkatup sempurna. Tergurat senyum simpul di sepasang bibir dengan barisan kumis tipis di bawah hidung. Sanae lupa memberi tahu bahwa seharusnya dia bercukur pagi tadi. Adanya kumis di wajah Rhisiart membuat pemuda itu terlihat lebih tua beberapa tahun. Alasan paling utama bahwa Sanae harus mengingatkan Rhisiart bercukur adalah dia tidak menyukai pemuda dengan kumis. Alasan yang tidak pernah dia beri tahu kepada si pemilik wajah.
Tentu saja. Barangkali jika Rhisiart mengetahui alasan Sanae tekun mengingatkan untuk bercukur justru akan menjadikannya bahan cemoohan. Bukankah memang konyol jika seorang maid memaksakan kehendak atas penampilan tuannya? Konyol untuk orang lain, tidak untuk Sanae. Terserah, bukan? Hampir sehari semalam dirinyalah yang membersamai Rhisiart. Boleh-boleh saja dia memberlakukan sebuah syarat, bukan?
Ya, tentu. Boleh saja jika yang menjadi maid adalah Sanae dan tuannya adalah Rhisiart.
Terserah Sanae Otsana. Dia terkikik dalam hati sembari menunggu bangunnya pemuda dari pangkuan. Membiarkan Rhisiart menikmati tidur senjanya sebelum dibangunkan untuk mandi dan makan malam.
🌷🌷🌷
Menjelang waktu tidur dan Sanae baru kembali ke kamar setelah mengurusi keperluan Rhisiart: menyiapkan bak mandi sebelum pemuda itu mengisi perut, membenahi ranjang yang entah bagaimana kembali berantakan padahal pemiliknya lebih banyak di ruang kerja sepanjang hari, mengisi poci tanah liat dengan air sehingga Rhisiart tak perlu ke dapur saat haus tengah malam, tidak lupa menyalakan lilin aromaterapi untuk merelaksasi tubuh Rhisiart sepanjang beristirahat.
Didapatinya selembar kertas dengan sebuah vas sebagai penahan di atas nakas saat Sanae hendak memasuki kamar mandi. Mengingat bahwa Hakaza mendatangi mansion sore tadi mengarahkan langkah Sanae mendekati nakas. Dibacanya secara singkat baris-baris kalimat dalam kertas yang dia hafal siapa penulisnya.
Kita berpesta lagi malam ini, Maid-chan. Datanglah ke sisi hutan sebelah utara. Seorang bangsawan bajingan akan lewat dengan kereta-kereta berisi peti emas. Dataku mengatakan kalau dia terlibat penggelapan dana pembangunan kota. Mereka membawa pasukan pemanah. Makanan lezat untukmu, bukan? Kau tidak seharusnya melewatkan kudapan tengah malam selezat ini.
Orhamel.
Sanae menghela napas. Dugaannya tak keliru. Tak pula bisa mengabaikan ajakan menggiurkan si kepala Bandit Pedang Hitam. Selama masih banyak bangsawan bajingan di kota ataupun di kekaisaran, 'kudapan tengah malam' akan selalu tersedia. Rencana tidur lebih cepat terpaksa membuyar. Tidak mungkin dia biarkan Bandit Pedang Hitam dan Hakaza menikmati koin rampasan tanpa dirinya. Enak saja. Dia juga mau.
Usai membasuh tubuh seperlunya, Sanae bersiap. Membawa setumpuk shuriken, kunai, dan pisau buah terbaru. Melihat betapa penuh isi kotak senjata miliknya, Sanae meringis. Pundi-pundi koin Ebihara menggendut berkat dirinya. Pantas saja selera cerutu lelaki tua itu semakin mahal. Sama sekali tidak memikirkan dampak kesehatan pada masa mendatang selama mulutnya bisa menikmati perpaduan cengkih, tembakau, dan entah bahan apa lagi yang dijejalkan sehingga menimbulkan aroma asap yang cukup menyengat.
Alih-alih melewati pintu depan, Sanae membuka jendela. Mengambil ancang-ancang lantas melayang dari ketinggian untuk kemudian mendarat dengan sangat mulus di halaman mansion. Larutnya malam telah membungkus Orphana dan Orphelia di dalam selimut sehingga tak mungkin memergoki kepergiannya. Sempat ditengoknya jendela kamar Rhisiart sebelum melompati gerbang. Lampu kamar yang padam menandakan si pemilik telah terpejam. Setidaknya, begitulah yang dipikirkan Sanae.
Seperti kebiasaan yang lalu, dia tak membuka gerbang. Meminimalisir suara agar orang-orang di dalam mansion tak terganggu. Memanfaatkan tenaga dalam, Sanae menunggangi angin; Melompat ke permukaan tembok pembatas mansion; Memilih sebuah dahan pohon yang menjulur untuk kemudian mengantarkan Sanae ke dahan-dahan berikutnya. Mencoba tak terburu-buru karena toh kereta bangsawan yang akan mereka jarah masih satu jam lagi untuk sampai di titik pertemuan di sisi utara hutan.
Sama sekali Sanae tak menyadari bahwa kepergiannya berhasil dibuntuti. Nyatanya, sosok yang dia kira terpejam belumlah terlelap. Suara saat jendela dari kamar yang bersebelahan dengan kamarnya terbuka segera menarik atensi. Sengaja memadamkan lampu sehingga gadis pelayan itu tak curiga bahwa dia berniat membuntuti. Ingin tahu bagaimana kegiatan malam yang dilakukan si gadis pelayan.
"Kau mencari apa, Hakaza?" Dia memergoki seorang bocah lelaki mengendap-endap di depan pintu kamar gadis pelayannya. Meski yakin bahwa tujuan mengendap-endap si bocah lelaki bukanlah untuk mencuri. Tak terasa aura jahat dari Hakaza kendati penampilan dan wajahnya sangat tidak ramah.
"Eh? Anu ...."
Dia mendapati secarik kertas di tangan Hakaza. "Maid-chan sedang pergi. Kalau kau ditugasi untuk memberikan surat itu kepadanya, masuk saja ke kamarnya. Kupikir, Maid-chan tidak akan mengunci kamar itu."
Tak ingin membuat Hakaza segan, dia berlalu. Kembali masuk ke ruang kerja setelah berjalan-jalan sebentar di sekitar lantai atas demi membunuh penat.
Senyum tertahan di wajahnya saat momen kunjungan Hakaza ke mansion kembali memenuhi kepala. Meski tidak mengintip apa isi surat yang dibawa bocah itu, dia bisa meraba permintaan bagaimana yang dibawakan Hakaza untuk si gadis pelayan.
"Dia bahkan tidak berpikir dua kali untuk memenuhi undangan tersebut. Koin dan pertarungan seolah sama-sama membuatnya jatuh cinta."
Di bawah sinar bulan yang sesekali tertutup awan, dia mengikuti laju kepergian Sanae dengan tenang.
🌷🌷🌷
Tidak ada komentar:
Posting Komentar