Rabu, 06 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Pertama

🌷🌷🌷

Distrik Bulan Putih dikejutkan oleh dentang lonceng. Berbunyi sebanyak dua belas kali yang menandakan bahwa petinggi daerah telah tutup usia. Disusul tersebarnya selebaran oleh sebuah kantor berita yang menyatakan bahwa Duke Ryonswald Hywel mengembuskan napas terakhir pada pukul sembilan pagi. Hari ketiga puluh untuk musim semi pada bulan ketiga menjadi waktu duka Kota Erthura.

Sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang pemimpin kota, penduduk Erthura menghentikan segala aktivitas. Toko-toko ditutup. Ladang dan kebun ditinggalkan. Ternak-ternak kembali dimasukkan ke kandang. Kantor-kantor instansi dilarang menerima klien. Digantikan dengan berbondong-bondongnya penduduk ke halaman kediaman sang duke.

Seperti yang telah disepakati dalam kitab hukum, mereka mengenakan pakaian berwarna merah darah sebagai bentuk perkabungan. Bagi laki-laki, setelan mereka berbahan kain katun ditambahi dengan ikat kepala yang semua bagiannya serba panjang. Sementara untuk perempuan, balutan di tubuh berupa gaun panjang menjulur sampai mata kaki dengan bagian lengan yang tertutup sempurna; sehelai selempang berwarna perak menyilang dari bahu kiri. Kaum perempuan dilarang memakai riasan apa pun. Hanya tusuk rambut dengan roncean mahkota bunga tulip dari bahan akrilik yang menjadi pelengkap.

"Kita juga harus hadir ke rumah duka mendiang Duke Ryonswald, Nyonya Elora?" Dengan sedikit enggan, seorang gadis di antara belasan gadis melepas celemek putih yang merupakan kesatuan dari seragam pelayannya.

"Tentu saja, Sanae. Rumah Maid Bunga Tulip berada dalam wilayah kerja Kota Erthura. Kita termasuk bagian dari orang-orang Duke Ryonswald. Tentu saja harus ikut berkabung bahkan mengantarkan peti matinya."

Gadis yang dipanggil Sanae berdecak lirih. Sungguh dia paling malas menghadiri acara-acara keramaian. Berkat hari berkabung itu, dia kehilangan upah bekerja di salah satu toko Distrik Bulan Putih yang bayarannya dihitung per jam. Terpaksa harus menunda keinginannya memiliki shuriken dan kunai baru.

"Ayo! Kubantu kau menggelung rambut, Sanae. Aku tahu kau tidak cakap dalam merias rambut." Gadis lain yang lebih dulu selesai berbusana mendatangi Sanae. Mendorong pelan punggungnya memasuki sebuah kamar yang digunakan sebagai kamar khusus merias di Rumah Maid Bunga Tulip.
"Kauingin membantu atau meledekku, Kak Zeimora?"

Tawa gadis bernama Zeimora meramaikan kamar rias. "Mungkin keduanya."

Terdapat belasan calon gadis pelayan yang menghuni Rumah Maid Bunga Tulip. Dikepalai Elora sejak pertama kali didirikan dua puluh tahun lalu. Satu-satunya rumah maid di Kota Erthura. Tempat di mana para bangsawan mengambil gadis-gadis untuk melayani kediaman mereka. Diterimanya mereka atas kebijakan Duke Ryonswald membuat Elora menaruh hormat kepadanya sehingga mengharuskan anak didik Rumah Maid Bunga Tulip untuk turut serta dalam masa berkabung.

Pemakaman tidak dilakukan pada hari yang sama. Jasad Duke Ryonswald baru akan dikebumikan esok hari. Memberikan kesempatan kepada kerabat-kerabat jauh untuk melihat terakhir kali sosok Duke Ryonswald.

Tidak seperti anggota Rumah Maid Bunga Tulip lain yang berusaha mencari posisi sedekat mungkin dengan peti jenazah Duke Ryonswald, Sanae justru melambat-lambatkan langkah. Berusaha tak mencolok. Membiarkan tubuhnya terdorong-dorong sampai belakang. Terpisah dari rombongan gadis-gadis pelayan.

Dia tak begitu tertarik bergabung dalam masa berkabung. Kendati Duke Ryonswald diberitakan sebagai pemimpin kota yang baik, tidak begitu dengan istri dan putri-putrinya. Meski tidak berulah secara langsung, tindak-tanduk tak mengenakkan kerap disasarkan orang-orang utusan mereka kepada penduduk-penduduk yang tak patuh--di mata para perempuan bangsawan itu. Kalau saja tidak menghargai Elora, Sanae memilih ke Distrik Malam Biru untuk bertemu Pak Tua Ebihara lantas membincangkan senjata-senjata baru yang barangkali bisa dia dapatkan dengan harga murah.

Sampai hari pemakaman tiba, kerumunan yang berkabung di kediaman Duke Ryonswald tak menyurut. Tak hanya dari Kota Erthura, beberapa bahkan datang dari Ibu Kota Kekaisaran. Distrik Awan Emas yang merupakan kawasan khusus permukiman menjadi padat merayap.

Sanae semakin jauh dari rombongan Rumah Maid Bunga Tulip. Saat menemukan kesempatan untuk kabur, dengan menggunakan pijakan udara, Sanae menjadikan atap sebuah rumah sebagai tempat berdiam. Dia akan memperhatikan prosesi perkabungan dari ketinggian.

"Bersantai di atap rumah orang memang menyenangkan." Gadis itu merebah dengan menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan.

🌷🌷🌷

"Ini Bibi, Rhisiart. Boleh Bibi masuk?"

Langkahnya segera mendatangi pintu saat mendengar siapa yang mengganggu acara beres-beres. Dibukanya segera demi perempuan di luar tidak menunggu terlalu lama. Senyum melengkung setelah mereka saling berhadapan.

"Kau sedang beres-beres?" Dilongoknya dari balik tubuh besar Rhisiart.

Tubuh lelaki muda berusia dua puluhan tahun yang tidak seperti kebanyakan lelaki seusia. Rhisiart-nya telah menjadi pemuda gagah dengan hampir seluruh tubuh berupa otot. Pelatihan bertahun-tahun dengan pedang ganda besar berhasil mencipta bentuk tubuh khas seorang petarung.

"Hanya memasukkan beberapa pakaian, Bibi. Lagi pula, di Erthura tersedia banyak toko, bukan? Selebihnya bisa kucari di toko setelah tiba di sana."

"Bibi ingin memberikan ini untukmu." Perempuan di hadapan Rhisiart menyerahkan sebuah kotak kayu dengan ukiran serigala dalam perisai diapit dua pedang berlainan arah: sisi kanan menghadap atas, sedangkan sisi kiri menghadap ke bawah.

Rhisiart menerima pemberian sang bibi. Membukanya. Tatapan terkejut tak bisa dia sembunyikan.

"Lencana asli Keluarga Hywel."

"Lencana asli? Maksud Bibi?"

"Ayahmu, Duke Ryonswald, memberikannya kepada kami secara diam-diam setelah peristiwa dua belas tahun lalu. Dia tahu siapa dalang yang berusaha menyingkirkanmu, tetapi belum bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dia lakukan adalah memberikan salah satu hal berharga miliknya untuk kaumiliki. Dengan lencana itu, otomatis kepemimpinan berikutnya di wilayah Erthura akan kauambil alih, Rhisiart."

"Jadi ... Ayah tahu malam penyerangan kami?"

Perempuan itu mengangguk-angguk. "Sebagai anak lelaki satu-satunya, kau berhak menerima tampuk kekuasaan Erthura setelah dia tiada, seperti yang tertulis dalam Kitab Hukum Celdara. Seorang duke yang mangkat akan memberikan kekuasannya kepada anak lelaki mereka. Namun, jika sang duke tidak memiliki anak lelaki, tampuk akan diberikan kepada istri yang masih hidup."

"Ayah ... tidak ingin memberikan tampuk kekuasaan Erthura kepada istrinya yang sekarang, Bibi Juliana?"

Perempuan dengan rambut sebagian memutih di hadapan Rhisiart mengangguk. "Ayahmu telah mengetahui banyak hal. Dia tak bisa menyerahkan kekuasaan kepada istri maupun anak-anak perempuannya."

Helaan napas Rhisiart memutus lamunan yang mengembara atas ingatan kemarin malam saat bibi jauhnya memberikan kotak berisi lencana asli Keluarga Hywel. Lencana yang akan memberikan kekuatan bagi Rhisiart untuk memenuhi keinginan sang ayah: menjadi duke muda menggantikan Ryonswald Hywel yang telah tiada.

Menjelang pagi, setelah matahari di kaki bukit timur menyembul, kereta kuda Rhisiart memasuki Distrik Bulan Putih. Sebuah distrik yang menjadi wilayah kerja Kota Erthura di mana yang berjajar di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan hanyalah toko-toko. Beragam. Dari mulai toko bahan pangan sampai toko senjata. Namun, pagi yang seharusnya ramai oleh hilir mudik pedagang dan pembeli tak berlaku hari itu. Duka menyelimuti Erthura sehingga denyut kehidupan di Distrik Bulan Putih ditidurkan sementara.

Lonceng dari menara di atas bukit kembali berdentang. Sebanyak enam kali yang menandakan hari berkabung terakhir sekaligus pemberitahuan bahwa jasad mendiang akan segera dikebumikan. Berhentinya kereta kuda Rhisiart bersamaan dengan kereta lain yang lebih mewah di halaman kediaman Duke Ryonswald. Dari bendera kecil berlambang dua pedang saling bersilang dengan serumpun hibiscus menghiasi bagian tengah tersemat di pintu kereta, Rhisiart tahu bahwa yang datang merupakan perwakilan dari kekaisaran.

"Yo, Rhisiart." Sapaan tak asing menyambut keluarnya Rhisiart. Dari lelaki dengan garis wajah seusia Rhisiart.

"Salam, Pangeran Iloi." Rhisiart membungkuk dengan tangan kanan menyentuh dada, sedangkan tangan kiri menyentuh punggung dengan bagian telapak mengarah keluar.

"Aku turut berduka atas kepergian Duke Hywel, Rhisiart."

"Terima kasih telah menyempatkan datang, Pangeran."

"Jika aku tak datang, Erthura bisa semakin kacau. Aku tak yakin kalau kedatanganmu akan disambut baik oleh istri ayahmu dan putri-putrinya."

"Paman pasti memberitahumu." Rhisiart sangat yakin bahwa kemunculan Iloi berdasar kabar yang diberikan petinggi Keluarga Kremlyn.

"Zergen Kremlyn tidak akan membiarkan keponakan kesayangannya dalam kendali para ular, Rhisiart." Ditepuk-tepuknya bahu Rhisiart dengan cengiran lebar menghiasi wajah sampai kemudian pelayan pribadi Iloi memberi tahu bahwa mereka harus segera masuk rumah duka.

Beriringan Rhisiart dan Iloi masuk. Kedatangan yang seketika menarik atensi. Bukan saja penduduk, tetapi sekumpulan perempuan yang sejak kemarin tak berpindah dari sisi peti mati. Sekumpulan perempuan yang Rhisiart dan Iloi tahu bahwa air matanya hanyalah sandiwara. Sekumpulan perempuan berbeda usia yang tampak keheranan melihat pemuda asing ikut memberi salam penghormatan kepada jasad Duke Ryonswald.

🌷🌷🌷


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...