(Picture by Pinterest)
⏳️⏳️⏳️
Dia telah di sana. Berdiri di depan gerbang berlapis cat hitam. Menatap kepada bangunan tak seberapa besar yang barangkali tidak cukup disebut sebagai rumah tinggal. Telah berderet beberapa sepeda motor di lahan parkir yang cukup luas di balik pagar. Barangkali, satu-satunya yang mendominasi lahan di hadapannya memanglah lahan parkir. Seolah dibuat dengan sengaja sehingga yang singgah tak perlu pusing menyimpan kendaraan yang dibawa.
Bukan tanpa alasan dirinya di sana. Jauh-jauh terbang dari luar pulau demi memenuhi kesepakatan antar teman lama. Sepekan terakhir, layar ponselnya kian ramai oleh notifikasi chat dari grup bernamakan IPA 1 Angkatan 18. Grup yang sebetulnya telah didirikan bertahun-tahun lalu, tetapi lebih sering tak disinggahi, bahkan sekadar sebaris sapaan apa kabar. Dibiarkan lengang. Kosong tanpa obrolan. Diibaratkan rumah, mungkin telah banyak sarang laba-laba yang menghiasi grup chatting tersebut.
Erizka Nataya
Pada hari dia pergi, aku berada lama di kediamannya. Sempat mengobrol dengan beberapa kerabat, terutama keponakannya. Kalian pasti enggak akan percaya sama apa yang kuceritakan ini.
Chat dari seorang kawan lamanya berhasil menarik atensi belasan kawan lain. Menghidupkan obrolan sampai berjam-jam demi membahas apa yang ditemukan Erizka dari keterangan keponakan kawan lama mereka.
Sabda Aruparsa
Serius, Riz? Dia masih simpan semua? Kok, bisa?
Erizka Nataya
Aku juga enggak nyangka. Belasan tahun berlalu sejak kita lulus dari SMANJA dan dia masih menyimpan segala yang pernah terjadi saat kita bareng-bareng di XI dan XII IPA 1. Jujur, aku langsung mewek pas sowan ke rumah yang dia sediakan khusus untuk menyimpan potret-potret kenangannya. Btw, enggak cuma dari angkatan kita aja. Dia pun masih simpan semua foto-foto dari masa SMP bahkan TK.
Anda
Sang Penjaga Kenangan. Dia sangat apik dalam menjaga kenangan yang dia miliki.
Sabda Aruparsa
Selalu begitu, ya, Bu Rumi Lanakila?
Suka banget ngasih julukan ke temen-temennya 😁
Erizka Nataya
Kebiasaan Rumi banget, ya.
Suka ngasih julukan ke temen-temen.
Efek kebanyakan makan buku, ya, Bu Rumi? 😅
Gerak jemarinya tak langsung berselancar di layar keyboard. Justru sepasang mata berlensa minus itu terpaku pada satu nama yang menjadi pembalas atas pesannya. Nama yang pada belasan tahun lalu berhasil menarik sisi lain seorang Rumi Lanakila. Nama yang bertahun-tahun kemudian mengajarkan seorang Rumi Lanakila tentang materi bersabar dan mengikhlas.
Anda
@Sabda Aruparsa @Erizka Nataya Kalian masih ingat rupanya sama kebiasaan jelekku 😄
Sabda Aruparsa
Bukan inget lagi, tapi nancap di memori, Rumi. Apa dulu julukanmu untukku? Si Paling Telat Masuk. Ya, Si Paling Telat Masuk kamu sematkan buat sosok seganteng dan selucu Mas Sabda Aruparsa. Niat banget buat nurunin pasaranku, ya? 😒
Balasan yang berhasil menjadikan emoji tawa terbahak-bahak berderet sebagai balasan dari kawan-kawan lain. Kelakar olok-olok pun segera memenuhi laman grup chat mereka. Saling membongkar aib satu sama lain. Tampak tak sungkan sama sekali bahwa sebaris kisah masa lalu mereka begitu muram, begitu jenaka, begitu menggelikan, ataupun begitu mendebarkan.
Sabda Aruparsa
Omong-omong soal Sang Penjaga Kenangan, apa kalian enggak mau kita mampir bareng-bareng ke tempatnya? Siapa tahu kita nemu foto-foto jadul yang lebih aib dari yang kita duga. Dia pinter banget mainin kamera, loh. Siapa tahu ada foto-foto candid kalian yang lagi ngupil atau lagi ngorok atau lagi buang air, misalnya.
Erizka Nataya
Ayolah kita reuni! Kita doa sekaligus mengenang hal-hal yang udah lewat yang berhasil diabadikan dia.
Maka, belasan balasan chat selanjutnya berisi pemilihan hari, tanggal, dan bulan serta tahun untuk mereka kembali bersua. Tersepakati bahwa mereka bisa berkumpul tepat sehari sebelum perayaan ulang tahun Sang Penjaga Kenangan yang ke-34.
Erizka Nataya
Selain buat ketemu dia, buat nontonin apa-apa yang udah dia buat, kita juga perlu tahu kabar terbaru seorang Rumi Lanakila. Bukan begitu, Bapak @Sabda Aruparsa? 😏
Sabda Aruparsa
Ha ha ha.
Kayak apa ya Rumi setelah berusia 34 tahun? Apakah sudah ubanan? Apakah giginya sudah ada yang ompong? Apakah anaknya sudah SD? Rumi ... seperti apa hari ini?
Dia menyadarinya walau samar. Ada yang berbeda dari lemparan chat yang diberikan nomor bernamakan Sabda Aruparsa ... ah, tidak. Pesan yang dilempar Erizka Nataya pun seolah-olah merujuk kepada hal yang hanya diketahui Erizka dan Sabda.
Apakah mereka terlibat suatu hubungan?
Dia menggeleng. Mengenyahkan dugaan ngawur yang memenuhi kepala. Jelas ngawur karena sosok di balik nama Erizka Nataya bukan lagi wanita lajang. Dia telah bersuami. Telah menikah dengan seorang pengusaha batik lokal di tanah kelahiran mereka. Undangannya terkirim ke alamat rumah Rumi Lanakila walau tak terpenuhi untuk datang—beberapa tahun lalu. Selain kesibukan bekerja, Rumi tidak lagi di tanah kelahirannya saat Erizka menikah. Telah pindah ke pulau tetangga. Tidak memungkinkan baginya mengambil cuti lantas memenuhi undangan kawan lama saat itu. Hanya mengirim ucapan selamat, doa khusus pengantin lewat inbox FB, dan sebungkus kado sebagai bentuk perayaan darinya.
Seperti apa Rumi setelah berusia 34 tahun? Pertanyaan lewat chat seorang Sabda Aruparsa menyusup ke bawah kesadaran wanita itu. Masih di depan gerbang berlapis cat hitam, masih menghadap sebentuk bangunan yang alih-alih disebut rumah justru dilabeli sebagai Pondok Kenangan, dia tengah mendata apa-apa yang berbeda dari Rumi berusia 34 tahun dengan Rumi berusia 17 tahun.
Dia menggeleng lagi. Menahan senyum. Geli sendiri demi membayangkan dirinya menilai diri sendiri. Perkara perubahan sesuatu atau seseorang, hendaknya dinilai oleh mata orang lain. Oleh mata yang bukan miliknya. Oleh sosok-sosok yang melihat dirinya berkembang proses demi proses. Jika dia yang menilai, barangkali hasilnya hanyalah sebaris opini. Subjektif. Tidak ... adil.
Isi kepala yang berkeliaran ke mana-mana, kesadaran yang berlarian ke beberapa masa, menjadikan telinganya terlambat menyadari bahwa sebuah kendaraan mesin beroda dua telah berhenti tidak jauh dari posisinya berdiri. Berhenti, tetapi tidak segera memberi kabar bahwa ada sosok lain yang siap bergabung dengan kesibukannya menjelajahi waktu di alam bawah sadar. Berhenti, tak berniat bergegas memasuki gerbang, justru bergabung menjadi penikmat keterbungkaman sembari menatapi Pondok Kenangan di balik pagar.
Ah, tidak. Yang baru datang hanya menengok sekilas bangunan bernamakan Pondok Kenangan itu. Detik berikutnya, untuk menit yang panjang, sepasang mata sayunya justru memaku kepada sesosok wanita bergaun semata kaki berwarna biru pastel dengan ornamen brokat di bagian lengan sampai dada. Gaya berpakaian yang begitu santun karena tidak membiarkan lengan, bahu, perut, ataupun dadanya bercelah sedikit pun. Bagian-bagian yang banyak orang pada zaman sekarang tidak sungkan memamerkan.
Senyumnya mengembang demi ingatan masa lalu. Demi gaya berpakaian dari seorang wanita dengan mata berbingkai lensa minus yang memang selalu sopan. Tidak suka memamerkan bagian-bagian yang memang tidak seharusnya dipamerkan.
"Bisa digantung Abah hidup-hidup kalau aku pakai pakaian seksi, Ruhi. Kamu kayak enggak tahu perangai abahku saja. Beliau sangat-sangat ketat kalau udah urusan berpakaian cucu-cucunya."
Dia pernah mencuri dengar obrolan antara dua kawan gadisnya kala mereka study tour dan menemukan gerombolan gadis dari sekolah lain dengan pakaian yang katanya trendy—walau sebagian tidak setuju karena yang dibilang trendy lebih tepat dikatakan sebagai pakaian-pakaian kurang bahan di mata sebagian besar ABG yang terdidik secara moral.
"Iya juga ya, Rum. Abahmu kalau udah urusannya sama sopan santun tuh enggak main-main. Bikin ngeri. Aku sampai perlu bikin pengingat kalau main ke rumahmu kudu pakai pakaian yang rapi serapi-rapinya. Enggak boleh ada bolong walau di dengkul sekalipun biar enggak kena ceramah abahmu."
"Nah, 'kan? Ke kamu aja beliau bisa enggak sungkan ceramah, apalagi ke aku yang cucunya? Wah, telingaku bisa panas karena omelannya bisa dari Isya sampai Subuh."
Kedua gadis dengan nama yang hampir mirip itu kemudian tertawa. Seolah-olah perkara aturan pakaian hanyalah lelucon di mata mereka. Omelan seorang sepuh tak perlu ditanggapi dengan hati membara. Justru dijadikan pengingat agar mereka berusaha menjaga gaya berbusana tetap sopan di tengah serangan modernisasi yang makin membabi buta.
Dia ... wanita itu, dengan gaya berpakaian sopannya justru berhasil mengeluarkan getaran aneh di dalam jantung seorang cucu Adam.
"Sabda?"
Telinganya tersadarkan oleh sebuah panggilan lembut. Menyadarkan pula alam bawah sadarnya untuk kembali. Untuk menemui kenyataan. Untuk menanggapi sapaan yang berasal dari wanita bergaun biru pastel di hadapannya. Berjarak tak kurang dari dua meter, dia temui lagi sebaris senyum yang berhasil mencipta dekik di kedua pipi si wanita berlensa minus.
"Sudah dari tadi ya di sana?" Tanpa berpindah, tanpa berniat menghampiri, tanyanya mengudara dari tempat dia berdiri sejak datang.
"Ada mungkin ... lima menit." Pria yang dipanggil Sabda memberikan cengiran lebar sembari turun dari kendaraan yang ditunggangi. "Kamu? Enggak mungkin cuma lima menit berdiri di sana, bukan?"
Mereka bersisian. Berjarak hanya satu depa. Sama-sama menjadikan Pondok Kenangan sebagai semesta tatapan. Membiarkan sekeliling dihujani cericit gerombolan gereja serta gemerisik dedaunan ketapang dibelai embus bayu menjelang pukul sepuluh pagi.
"Sepertinya ... begitu." Diberinya cengiran tak kalah lebar. Berusaha mengusir sungkan serta debar yang perlahan-lahan mengentaki dada; muncul kembali setelah sekian lama tanpa perjumpaan sekalipun sejak hari mereka lulus. "Aku datang pukul sembilan lewat empat puluh lima dan sekarang tepat pukul sepuluh."
Teracung-acung satu lengannya ke hadapan Sabda. Menunjukkan angka jam di pergelangan tangan. Jam dengan tali berwarna biru pastel itu sangat cocok berdampingan dengan kulitnya yang kuning langsat. Menambah keanggunan di mata Sabda.
"Datang sendiri? Aku enggak lihat kendaraan apa pun selain kendaraanku di sini." Ditolehnya arah mana pun sehingga Sabda mampu menemukan kendaraan milik wanita itu, yang sayangnya tidak terlihat di mana pun. "Enggak bawa kendaraan sendiri berarti ... diantar Mas Ayang, ya?"
Jenaka nada yang menyambangi telinga si wanita berhasil menarik simpul-simpul senyum di bibir menjadi kekehan ringan. "Memangnya kamu tahu kalau aku punya Mas Ayang?"
"Enggak, sih, tapi bisa saja memang diantar Mas Ayang, to? Rumi yang berusia 34 tahun enggak mungkin masih jomlo, 'kan?"
Wanita itu memang Rumi. Rumi Lanakila. Teman semasa SMA Sabda. Selalu satu kelas dengannya sejak masuk pertama kali menjadi kelas X sampai lulus sebagai alumnus SMANJA.
"Seorang wanita berusia 34 tahun dan masih jomlo apakah hal yang aneh sekarang ini?" Rumi mengembalikan tatapan ke Pondok Kenangan.
Seseorang keluar dari pintu depan. Kendati berjarak hampir sepuluh meter dari posisinya, Rumi tahu bahwa sosok yang keluar dari bangunan itu tengah mencari-cari sesuatu; Tatapannya ke sana kemari; Kepalanya menoleh ke sana-sini. Berhenti kemudian begitu sepasang matanya bersirobok dengan sepasang mata berlensa minus milik Rumi. Lambaian tangan menjadi penanda bahwa ketakziman mengagumi Pondok Kenangan dari luar harus segera diakhiri.
Sebelum Sabda menjawab pertanyaan Rumi, ajakan wanita itu lebih dulu menginterupsi.
"Erizka sudah nyariin. Ayo masuk, Sabda!" Tanpa menunggu respons Sabda, Rumi melangkah memasuki gerbang berlapis cat hitam. Membiarkan Sabda tertinggal beberapa langkah di belakang sendirian sembari menuntun sepeda motor miliknya. Gegas bergabung dengan Erizka yang begitu dihampiri segera menggamit tangan Rumi untuk masuk.
Di dalam, di ruangan-ruangan bangunan bernama Pondok Kenangan, telah menanti beragam hal dari masa lalu untuk mereka ziarahi. Hal-hal yang mungkin bisa mengubah sesuatu pada masa di mana Sang Penjaga Kenangan tidak lagi ada.
⏳️⏳️⏳️
"Namanya Rumi. Rumi Lanakila. Teman pertama Tante begitu menginjak rumput SMANJA. Kebaikan hati dia bikin Tante semakin sadar bahwa masih ada orang-orang yang bisa menghargai keberadaan seseorang."
Dia mengingatnya. Waktu-waktu yang dihabiskan bersama wanita yang dia panggil Tante selalu menjadi memori menyenangkan, terlebih saat dari mulut sang tante mengular cerita-cerita masa sekolah. Tentang teman sekelas yang terbuka menerima wanita itu. Tentang orang-orang yang begitu menghargai keberadaannya. Tentang sebuah kesempatan yang wanita itu berikan untuk menguntai kisah baru yang lebih seru.
"Tante Ruhi dekat banget ya sama Tante Rumi?"
Dia mendapati wanita di atas ranjang rumah sakit itu mengangguk. "Kami selalu satu kelas, Lyra. Tiga tahun selalu satu kelas bahkan satu meja. Belum lagi, nomor absen kami berurutan. Setiap ulangan umum pun, kami selalu satu ruangan. Menyadari bagaimana kami berteman, Tante merasa Tuhan sedang mengganti hari-hari menyedihkan Tante saat masih di Jepang. Keputusan pindah ke tanah kelahiran Mama yang tidak lain adalah nenekmu itu, enggak akan Tante sesali."
"Tante Rumi kaget enggak sewaktu tahu kalau Tante Ruhi tuh anak campuran?"
Berkembang tawa di wajah pias Ruhi. "Justru dia berhasil menebak duluan, Lyr. Saat kami mengantre di depan ruang guru untuk daftar ulang, kami duduk bersisian di tepi koridor. Rumi sempat memperhatikan Tante dengan saksama sampai kemudian menegur. 'Kamu blasteran Jepang, ya?' Itu pertanyaan Rumi yang langsung Tante angguki. Hebat, 'kan? Orang seringnya ngira Tante blasteran Cina atau Korea, tetapi Rumi—dengan sangat tepat—bisa langsung menodong Tante anak blasteran Jepang."
"Sughoi!" Lyra sampai bertepuk tangan, bukan saja oleh cerita Ruhi atas Rumi, tapi kebahagiaan yang tercermin di sepasang sipit Ruhi. "Tante Rumi ... secantik apa, Tante?"
"Hm ...."
Menengadah wajah Ruhi ke langit-langit kamar perawatan dengan telunjuk menempeli sudut dagu. Mengingat-ingat wajah Rumi saat terakhir kali mereka bersua belasan tahun lalu. Wajah yang entah bagaimana setelah enam belas tahun tak pernah berkabar. Yang dia ingat hanyalah wajah Rumi saat masih berusia delapan belas tahun kurang lima bulan.
"Definisi cantik bagi setiap mata selalu berbeda, Lyra. Yang pasti, setiap sosok yang terlahir sebagai perempuan akan selalu cantik. Enggak boleh kita bilang jelek karena Tuhan sudah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk. Cuma, ada beberapa hal dari cantik yang terdefinisikan lebih istimewa dan Rumi memiliki keistimewaan dari kecantikan yang dia miliki."
"Aku jadi makin penasaran. Tante punya foto Tante Rumi? Lyra mau lihat, dong."
Tawa lebar menghiasi wajah pias Ruhi. "Ada. Banyak. Karena kamu singgung soal foto, Tante jadi ingat salah satu rencana besar dalam hidup Tante. Tolong nanti Lyra bantu Tante, ya."
Gadis dengan seragam sekolah menengah atas itu mengangguk-angguk. Sepasang mata yang bentuknya serupa dengan sang tante pun berbinar-binar. Perihal membantu apa-apa yang diinginkan Ruhi, dia selalu semangat.
"Ada banyak hal dalam hidup Tante yang sudah terlalui. Tentang hidup yang kadang di atas maupun di bawah. Tentang pertemuan yang terkadang mengesalkan maupun menyenangkan. Tentang perpisahan yang selalu berhasil menarik keluar air mata. Tentang persahabatan maupun cinta. Tentang waktu-waktu yang telah lewat di mana beragam kisah bersandar."
Diarahkannya sepasang mata menyusuri barisan foto-foto berbingkai yang menempeli tembok bercat hijau sage muda. Foto-foto yang sebagian besar perlu direstorasi dari file aslinya demi mendapat hasil yang lebih bagus dari jepretan pertama.
"Tante memang enggak punya anak, enggak pula punya suami, tetapi Tante memiliki kenangan yang andai bisa berharap, kenangan-kenangan itu harus selalu hidup. Jika bukan Tante yang menikmatinya, semoga orang lain, orang-orang yang dulu pernah Tante temui, orang-orang yang dulu menerima keberadaan Tante, bisa menziarahi kenangan-kenangan yang barangkali enggak mereka sadari."
Sampai hari dia berdiri di sana, menatapi ratusan lebih lembar potret berbingkai, ada satu bagian kehidupan yang dimiliki seorang Ruhi Hayashi yang masih tidak dia mengerti.
"Kenapa Tante enggak mau menikah? Om Harvan masih suka tanyain Tante tuh kalau kami papasan di sekolah. Tante ... enggak mau terima dia?"
Ada senyum terpatah yang menempel di bibir Ruhi kala tatapannya jatuh ke deretan aglonema di balik jendela kamar perawatan setelah bertatap lima detik dengan keponakannya. "Tante enggak mau bikin orang yang mencintai Tante semakin bersedih karen hanya hidup sebentar dengan Tante. Harvan ... dia berhak mendapat kisah lebih manis bersama wanita yang lebih sehat sehingga kisah mereka bisa berjalan lebih lama, Lyra."
"Tante ... mencintai Om Harvan, 'kan?"
Dia tak pernah mendapat jawaban langsung dari bibir Ruhi. Hanya seulas senyum yang sanggup dia rasakan perihnya. Senyum yang dia yakini sebagai jawaban tersirat bahwa tuduhannya adalah kebenaran.
Kenapa hidup selalu enggak adil buat Tante Ruhi?
Derum kendaraan menarik kesadarannya untuk kembali ke masa kini. Saat langkah membawanya ke depan pintu, beberapa wanita dan pria dewasa tengah saling bersapa bahkan sampai cipika-cipiki. Melambaikan tangan kepadanya begitu mereka sadar bahwa pemilik pondok yang dikunjungi telah menyambut. Sebagian telah mengenalnya karena pernah bertemu pada hari Ruhi pergi. Sebagian lagi masih tampak asing.
"Kami datang, Lyr." Satu wanita menghampiri Lyra. "Belum semua, tapi bisa dipastikan ketiga puluh alumnus IPA 1 Angkatan 18 akan datang semua."
Lyra mengangguk dengan senyum di wajah. Senang sekaligus terharu memenuhi dada demi melihat belasan orang yang pernah menjadi tokoh-tokoh dalam kisah remaja Ruhi. "Tante Ruhi pasti senang karena kawan-kawan lamanya bisa kumpul semua di hari yang sama. Makasih, Tante Riz."
"Don't mind." Sebuah rangkulan hangat menyapa bahu Lyra. "Malah, yang mengusulkan untuk kami reuni di sini bukan Tante Riz, Lyr. Om Sabda yang ngide biar kita ke sini bareng-bareng hari ini."
"Om ... Sabda?" Rasanya, nama yang disebutkan wanita yang dia panggil Tante Riz itu terdengar tak asing. Mungkin pernah disinggung Ruhi dalam obrolan mereka kemarin-kemarin.
Wanita di samping Lyra mendekatkan wajah ke telinga gadis di sampingnya. "Mantannya Ruhi. Mereka pernah pacaran sewaktu masih SMA. Ruhi pernah to cerita ke kamu?"
Ah, benar. Dia ingat sekarang. Sabda adalah pacar Ruhi sewaktu SMA. "Pacar yang enggak pernah dicintai Tante Ruhi, Tante Erizka."
"Heh? Apa katamu?"
Alih-alih menjelaskan, Lyra justru memberikan kerling jenaka. Menyilakan kemudian para tamu untuk berkeliling; melihat-lihat ruangan demi ruangan yang mengabadikan ratusan foto berbingkai dalam berbagai ukuran. Sesekali, dia dengar berbagai celetukan dari para tante dan om yang datang: tentang foto ini yang begini, tentang foto itu yang kenapa begitu, tentang foto anu yang seharusnya tidak anu. Respons-respons yang mendatangkan geli sekaligus haru di dada Lyra. Namun, dari sekian yang telah datang, sepasang matanya belum menemukan sosok itu. Sosok-sosok yang memiliki tempat lebih spesial di kehidupan masa remaja Ruhi Hayashi.
Apa mereka enggak jadi datang, ya? Ada khawatir yang mencuat di dada Lyra. Dia berharap, sosok-sosok itu hadir sehingga tugas yang diberikan Ruhi kepadanya dapat terselesaikan sekaligus ... dia ingin tahu dengan mata kepala sendiri sosok-sosok itu. Bila perlu, dia ingin mendengar dari mereka terkait masa-masa sekolah sang tante. Bukankah sudut pandang berbeda bisa saja memberikan kisah yang berbeda pula?
Kekhawatirannya luntur saat Erizka membawa masuk seorang wanita berkacamata yang memakai gaun semata kaki berwarna biru pastel serta seorang pria bersetelan kemeja berwarna merah marun yang dipasangkan dengan celana bahan berwarna hitam. Dia yakin seratus persen bahwa dua sosok yang datang paling terakhir, yang memasuki Pondok Kenangan paling belakangan adalah mereka yang dia tunggu.
"Lyra, kenalkan. Mereka ini ...."
"Tante Rumi dan Om Sabda, 'kan? Aku sudah tunggu dari tadi."
Wanita berkacamata di antara mereka tampak bingung. Saling bertatap sebentar dengan kawan wanita yang membawanya masuk, yang justru berbalas jengitan bahu.
"Aku Lyra, Tante Rumi." Tangannya menjulur lebih dulu kepada wanita berkacamata. "Keponakan Tante Ruhi sekaligus yang diamanahi buat menjaga Pondok Kenangan setelah Tante enggak ada."
"Salam kenal, Lyra."
"Dan ini ... Om Sabda, 'kan? Mantan pacar Tante Ruhi." Ada kerling jail yang diberikan gadis belia itu kepada pria di samping Rumi. Bersambut cengiran sungkan disertai garuk-garuk kepala bagian belakang. "Nah, karena Tante Rumi dan Om Sabda sudah datang, ayo ikut Lyra! Lyra dapat amanah dari Tante Ruhi untuk membawa kalian ke sana sehingga kebenaran dari belasan tahun lalu bisa terselesaikan."
"Ke-kebenaran?" Beradu tatap Rumi dengan Erizka dan Sabda yang sama-sama menggeleng. Sama-sama tidak tahu.
"Ayo!" Tak peduli wajah bingung tamunya, Lyra menggamit lengan Rumi dan Sabda sekaligus. Memaksa kedua orang dewasa di sampingnya mengikuti langkah menuju lantai atas. Menuju ke sebuah ruangan dengan nama khusus. Ruangan yang hanya boleh dibuka dan diperlihatkan kepada yang bersangkutan.
"Bilik Kenangan Rumi dan Sabda?" Serta-merta bibirnya bergerak, membaca sebaris kalimat yang tertempel di pintu bercat biru pastel. Pintu dari salah satu kamar di lantai atas Pondok Kenangan.
Lyra mengeluarkan kunci dari saku kimono hitam yang dipakainya. Membuka tanpa hambatan. Tetap berada di luar kendati pintu telah terbuka lebar. "Silakan masuk, Tante Rumi, Om Sabda. Silakan menikmati kenangan-kenangan kalian yang sudah dihimpun Tante Rumi. Ada sebuah buku harian di atas meja dekat jendela. Tante Rumi dan Om Sabda boleh baca. Itu buku harian Tante Ruhi. Selamat menikmati kenangan."
"Eh, anu ...."
Lyra tak peduli akan ketergagapan Rumi. Dia bergegas meninggalkan mereka. Sempat memberi lambaian tangan dan senyum lebar sebelum menghilang di bawah tangga.
Untuk beberapa detik, Rumi saling melempar pandang dengan Sabda. Mencari sesuatu yang barangkali dimengerti pria itu. Sayangnya, Sabda sendiri tak mengerti. Tak tahu-menahu rencana apa yang sudah disusun kawan lama mereka sampai-sampai menyediakan kamar khusus untuk kenangan-kenangan bertajuk milik Rumi dan Sabda.
"Ayo masuk, Rumi! Ketidakmengertian kita barangkali akan terbongkar setelah kita melihat isi kamar ini. Bersedia masuk denganku, 'kan?"
Tak ada jalan mundur. Selain penasaran dengan kenangan seperti apa yang terabadikan oleh Ruhi terkait mereka, Rumi pun ingin membaca buku harian Ruhi. Buku harian yang dengan suka rela dibiarkan dibaca oleh orang lain. Oleh dirinya dan Sabda.
"Asal kamu enggak macam-macam di dalam, Sabda."
Kekehan renyah disertai uluran tangan Sabda disambut senyum hangat serta uluran tangan Rumi. Keduanya bersiap menziarahi masa-masa silam lewat foto-foto bidikan Ruhi Hayashi.
⏳️⏳️⏳️
Dadanya bergetar demi puluhan foto dalam bingkai berbagai ukuran walau didominasi format monokrom. Seperti yang tertulis di papan nama yang tertempel di pintu kamar, keseluruhan dinding maupun lemari atau bufet hanya diisi oleh foto dirinya dan seorang pemuda berambut ikal.
Untuk beberapa saat, untuk menit yang panjang, tubuhnya terpancang di sisi dinding dekat pintu. Sepasang mata berbingkainya tak kuasa menahan dorongan bulir-bulir hangat yang kemudian tumpah membanjiri pipi. Dia ... tak pernah tahu bahwa kawan semejanya selama SMA itu selalu memiliki kesempatan untuk membidik kamera. Dia tak pernah tahu bahwa kawan berwajah campuran Jepang dan Jawa itu selalu berhasil "mencuri" potretnya. Potret-potret dalam berbagai ekspresi dan situasi. Betapa pandai tangan dan mata kawannya bermain demi mengabadikan momen-momen yang barangkali dia sendiri tak ingat untuk mengabadikan.
"Ruhi pro banget, ya, Sabda? Dia selalu bisa "mencuri" apa pun dan bagaimanapun ekspresi dan kondisiku. Saking profesionalnya, aku enggak pernah menyadari kalau lagi difoto Ruhi." Diusapnya sebuah foto monokrom yang menampilkan potret dirinya tengah tertawa lebar; duduk di bawah pohon ketapang yang sebagian dahannya telah gundul karena kemarau.
Dia ingat hari itu. Mereka memutuskan berteduh di bawah pohon ketapang paling besar di belakang sekolah demi menghindari sengatan matahari pukul setengah satu siang setelah melakoni praktik permainan sepak bola sebagai bahan materi mapel Penjaskes.
"Kalau bukan karena kepiawaian Ruhi mainin kamera, mainin mata buat menemukan potret-potret mengesankan, seorang Rumi Lanakila enggak akan punya foto kenangan untuk kelas IPA 1 Angkatan 18." Sabda ikut memperhatikan deretan foto di dinding yang didominasi wajah wanita dengan sepasang mata berbingkai. "Dilihat-lihat, kamu enggak banyak berubah ya, Rumi? Wajahmu kayak enggak tambah tua. Pipimu masih segembil saat kita SMA. Yang kayaknya agak beda paling-paling lensa kacamata kamu. Lebih tebal dari dulu."
"Kamu ... masih ingat tentangku yang hari itu, Sabda?"
Sabda menyimpan senyum di bibir. Beranjak. Menyentuhi satu per satu permukaan bingkai dengan wajah Rumi. Wajah yang dalam beberapa bidikan tertangkap tengah menatap kepadanya. Sebentuk tatapan yang dia yakin tidak akan diberikan kepada pemuda selain dirinya.
Membawanya kemudian sisi dinding lain. Dekat jendela. Posisi di mana sebuah meja teronggok hanya dengan sebuah buku di atasnya. Dari tempat dia berdiri, Sabda bisa melihat langsung peristirahatan terakhir dengan nama Ruhi Hayashi terukir di permukaan nisan. Rumah abadi yang dia huni memang sengaja dibuatkan dekat dengan Pondok Kenangan sehingga dirinya tak perlu berjauhan dengan bangunan yang mana segala kenangan semasa hidup bersemayam.
"Andai Ruhi enggak mengabadikan kamu ke foto-foto jepretannya pun aku masih sanggup mengenali sosokmu, Rumi." Dia berbalik. Menatap wanita yang berjarak tujuh langkah di depannya. "Bagaimana bisa aku melupakan sosok yang berhasil membuatku merasakan debar aneh untuk pertama kalinya, Rumi?"
"Debar ... aneh?" Tidak. Tanya yang meluncur dari bibir Rumi bukan karena ketidakmengertian. Dia tahu. Sangat paham. Sebagai manusia yang sangat hobi membaca dan menonton, dia telah sering mendapati obrolan semacam obrolan yang hari itu memerangkap dirinya dan Sabda.
Dia ... hanya merasa belum siap mendengar sesuatu yang dulu sekali dia ingin dengar; yang dulu sekali dia harapkan terlontar dari bibir seorang Sabda Aruparsa; yang kemudian terpaksa dia lebur saat kabar Ruhi dan Sabda menjalin hubungan lebih dari teman ketika mereka di bangku kelas XI.
"Mau baca ini dulu?" Di tangannya, Sabda menunjukkan buku harian yang disinggung keponakan Ruhi. "Aku yakin, Ruhi menulis kebenaran kisah tujuh belas tahun silam di sana. Sebelum mendengar penjelasanku, kamu perlu baca dulu penjelasan Ruhi."
Rumi mendekat. Mengambil duduk di satu-satunya bangku yang tersedia. Pelan-pelan membaca lembar demi lembar buku harian Ruhi. Satu-dua halaman membuatnya menahan tawa. Satu-dua halaman lainnya membuat mata berkaca-kaca. Setiap ekspresi Rumi berhasil mengambil penuh atensi Sabda. Pria itu lebih fokus memperhatikan setiap gestur yang diperlihatkan Rumi alih-alih takzim membaca goresan tangan Ruhi—yang sebagian sulit dibaca karena saking 'bagus'-nya.
Hingga tibalah jemarinya membuka sebuah halaman dengan tanggal tertera September, 2009. Bulan di mana mereka telah menjadi anak kelas XI. Bulan di mana kabar itu mulai berembus di antara kawan-kawan sekelasnya.
Ck ck ck! Dilihat-lihat, kawanku yang bernama Rumi itu sangat susah sekali bergerak, sedangkan pesaingnya enggak main-main. Bisa-bisanya dia cuma nyengir bodoh setiap kali ada cewek yang coba-coba mendekati Sabda.
Enggak bisa dibiarkan! Aku enggak ikhlas lahir batin kalau sampai Rumi patah hati karena Sabda kepincut cewek lain. Kalau Rumi enggak mau bertindak, biar aku ajalah yang jalan. Demi meredam gosip si Sabda jalan sama si ini atau si itu, demi cewek-cewek tengil itu enggak lagi mendekati Sabda, tuh cowok kudu punya tameng. Hm ... aha! Aku tahu cara paling ampuh buat bikin tameng si Sabda Gemblung.
Berselang dua tanggal, curahan hati Ruhi terlampir di halaman berikutnya.
Bravo! Sabda setuju dengan rencanaku. Kami resmi menjadi sepasang kekasih jadi-jadian. Sabda bilang, lebih aman kalau aku yang nempel ke dia daripada dia dideketi sama cewek-cewek lain yang tengilnya bikin pengen ngejitak. Sayang aja si Sabda terlalu baik. Heran juga. Ke Jujun atau ke Omuh tuh tangan ringan banget buat ngegeplak, giliran ke cewek padahal tengil minta ampun malah nyentil pun enggak mau. Padahal mah sah-sah aja kalau alasannya masuk akal. He he he.
Di halaman tersebut, Rumi berhenti cukup lama. Mengulang sampai beberapa kali demi mencermati sebaris kalimat yang dituliskan kawannya.
Kekasih jadi-jadian? Kekasih ... jadi-jadian?
Tatapnya berpindah. Mendongak kepada wajah dari pria yang sejak tadi berdiri di sampingnya bersandarkan meja. Menimbulkan tanya yang terpancar lewat mata pria itu.
"Kok, Ruhi nulis di sini kalau kalian kekasih jadi-jadian? Maksudnya apa, Da?"
"Coba baca sampai selesai. Aku yakin, Ruhi sudah siapkan jawaban dari pertanyaanmu itu."
"Kenapa enggak kamu aja yang jelasin? Apa bedanya? Kamu juga terlibat kisah yang sama, 'kan?"
"Khawatirnya, kamu bakalan menganggap penjelasanku sebagai alibi tak berdasar. Pemuda yang ke-GR-an. Pemuda yang sok keren. Aku sudah punya kesan enggak baik di mata kamu sejak hari itu, Rumi."
"Aku ... enggak terlalu memikirkan." Rumi kembali menyusuri buku harian Ruhi. Menahan diri untuk tidak sebal karena senyum Sabda yang dipenuhi kemisteriusan sekaligus kejemawaan. Rasa-rasanya, dia berkawan dengan sosok-sosok yang suka sekali membuat isi kepala berpikir ratusan kali demi menemukan makna dari sebaris kalimat konotatif.
Rumi enggak bilang, tapi aku bisa merasakan kalau dia punya sedikit kesal, kecewa, bahkan mungkin sedih akibat hubunganku dengan Sabda yang mereka sebut sebagai pacaran. Ah, andai Rumi tahu kalau yang kulakukan ini pun demi menyelamatkan perasaannya. Menyelamatkan posisinya biar enggak diganggu cewek-cewek tengil.
Sepertiga bagian terakhir dari buku harian Ruhi berisi tentang kondisi hubungan di antara mereka: Ruhi, Sabda, dan Rumi. Tentang kencan-kencan Ruhi dan Sabda yang aslinya bukan kencan karena tidak pernah hanya berdua. Ruhi selalu mengajak Rumi setiap kali kawan gadisnya menginginkan pergi ke sebuah tempat, entah hanya ke pasar malam atau sampai ke wisata-wisata alam.
Benar juga. Kenapa saat itu aku enggak memprotes kelakuan Ruhi yang ngejadiin aku kambing congek di hari kencan mereka? Kenapa juga aku mau-mauan ikut padahal sangat tahu bahwa dengan ikut mereka justru hatiku bisa lebih terluka? Ah, betapa bodohnya Rumi! Lebih gemblung dari si Mr. Gemblung-nya Ruhi.
Segala ketidakmengertian Rumi terpecahkan di halaman terakhir buku harian. Menjadi halaman paling banyak paragraf. Menjadi halaman dengan pesan paling panjang yang sepenuhnya terarah untuk Rumi Lanakila.
....
Rumi, sebelum aku pergi, izinkan aku membuka apa-apa yang selama ini terahasiakan darimu. Tentang hubunganku dengan Sabda saat kita SMA. Kuharap, dengan pengakuan ini, kamu bisa mempertimbangkan untuk kembali ke dia. Semoga Tuhan berkenan untuk terus menjomlokan kamu sampai kalian dipertemukan kembali, ya. Entah bagaimana, aku meyakini bahwa kamu dan Sabda memiliki kisah yang lebih panjang. Tidak berhenti di pertemanan saat SMA.
Rumi, aku dan Sabda memang pernah pacaran, tetapi kami enggak pernah saling cinta. Ide kami pacaran itu datangnya dariku. Aku enggak ikhlas kalau Sabda dikecengin sama cewek-cewek tengil mulu. Jadi, untuk menjaga dia biar enggak digangguin cewek asing, biar hatinya enggak tergoda buat macarin cewek selain kamu, aku bikin rencana itu. Aku ajak dia pacaran biar gosipnya nyebar ke mana-mana sehingga cewek-cewek tengil itu enggak lagi ngedeketin Si Tukang Telat Masuk. Pokoknya, Sabda enggak cocok sama mereka. Sabda Aruparsa cocoknya sama Rumi Lanakila—di mataku, sih. He he he.
Rumi, aku tahu kamu nahan cemburu saat tahu aku pacaran dengan Sabda. Selain cemburu, barangkali juga kamu marah, kecewa, enggak sangka karena aku, orang yang kamu bilang kawan baikmu, ternyata 'menikam' dari belakang. Aku juga ngerasa enggak enak hati sama kamu, tapi sumpah, Rumi. Walaupun aku dan Sabda dilabeli pacaran, kami enggak pernah ngapa-ngapain, kok. Enggak pernah jalan berdua. Enggak pernah mesra-mesraan di tempat sepi apalagi gelap. Aku cuma ngejagain dia secara fisik. Enggak ada dag-dig-dug di hatiku buat dia, Rumi. Enggak ada sama sekali karena aku tahu kalau gadis yang dicinta Sabda bukan kayak aku.
Rumi, kalau aku bilang bahwasanya Sabda juga suka kamu, naksir kamu, pasti kamu enggak percaya, 'kan? Pasti kamu bakalan nuduh aku sok-sokan ngehibur kamu. Nyatanya, Sabda emang suka kamu, Rumi. Suka dari kita sama-sama kelas X. Cuma, Sabda enggak bisa ngajakin kamu pacaran saat itu. Dia sudah janji untuk fokus dulu sekolah. Untuk fokus dulu berkarier. Dia khawatir ganggu fokus sekolahmu kalau ngajakin kamu pacaran. Dia makhluk yang punya visi dan misi jauh ke kehidupan ke depan. Sabda cerita ke aku, kalau memang dia berjodoh denganmu, suatu hari nanti dalam situasi dan kondisi yang telah siap, kalian akan bertemu dengan cara apa pun untuk kemudian bersatu. Kalian akan masih sama-sama lajang saat bertemu kembali walau harus menghabiskan belasan tahun menunggu. Kurasa, meski agak keren, Sabda punya sisi gemblungnya tersendiri terhadap dunia romansa. Kamu setuju, 'kan, Rumi?
Di sisa usiaku yang tak banyak setelah dokter memvonis bahwa aku mengidap penyakit sulit tersembuhkan, aku mulai rajin berdoa. Aku ingat kamu pernah bilang kalau doa anak baik, doa gadis baik-baik, memiliki kesempatan besar untuk dikabulkan. Maka, aku mulai berdoa setiap hari, Rumi. Aku meminta kepada Tuhanku agar kamu dan Sabda benar-benar menjadi dua anak manusia yang terjodohkan. Wanita yang baik harus dengan pria yang baik walau datangnya perlu proses yang tidak mudah dan tidak sebentar.
Sebelum kuakhiri surat ini, sekali lagi aku ingin kamu tahu bahwa aku enggak pernah jatuh cinta ke Sabda. Kami pacaran cuma untuk status biar Sabda enggak ditowel-towel cewek tengil. Biar kamu enggak makin cemburu dan sakit hati karena Sabda didatengin banyak cewek. Berterima kasihlah kepadaku yang sudah jadi tameng biar calon ayangmu itu tetap tersegel keperjakaannya, Rumi. He he he. Bercanda.
Satu pesan terakhirku untuk sahabat terbaikku selama SMA, tolong jujur dengan perasaanmu nantinya, ya. Kalau memang kamu masih lajang saat bertemu kembali dengan Sabda yang juga lajang terus dia mengaku masih menyukaimu, jangan sok-sokan menolak, ya. Enggak perlu lagi tarik-ulur macam ABG bau kencur. Dia pun melalui proses yang panjang untuk menjaga keyakinannya bahwa esok masih ada sempat bertemu kembali dengan gadis yang dicintainya. Gadis pertama yang berhasil menciptakan debar-debar sepanjang hidupnya. Oke, Rumi? Enggak usah malu-malu kalau Sabda ngajakin kamu menikah. Terima! Gaskan!
Sudahlah. Segitu saja pesanku. Peluk jauh dariku yang sudah di Alam Baka. Bahagia selalu, Rumi dan Sabda. Dari tempat yang tak terlihat, aku akan mengawasi perkembangan hubungan kalian. Bye, bye.
....
Bulir hangat tak kuasa tertahan. Meluruhi pipi tanpa restu. Membasahkan seketika wajah. Melirih tangisnya di kelelangan kamar. Kendati tertulis dengan bahasa yang ceplas-ceplos, bisa dia rasakan sebesar apa ketulusan dari si pembuat surat.
"Kenapa dia baik banget, Sabda? Kenapa dia repot-repot mikirin perasan orang lain? Kenapa wanita sebaik dia harus pergi secepat ini? Kenapa penjelasannya enggak datang dari mulut dia sendiri? Di saat aku berpikiran yang enggak-enggak tentang dia, dia malah mikirin kondisiku; mikirin kisahku yang harus baik-baik saja ke depannya? Kenapa ... dia semenyebalkan ini, Sabda?"
"Kita enggak pernah benar-benar tahu isi kepala dan hati seseorang, Rumi. Ruhi dengan dunianya. Ruhi dengan rencananya. Dia menikmati apa yang dia ingin lakukan untuk orang-orang yang dia sayangi." Sabda memberi usapan lembut di punggung wanita itu. "Kita ... banyak berutang kepada Ruhi, Rumi."
"Dan kita enggak tahu harus bayar dengan apa utang-utang itu, Sabda." Tanpa merasa perlu menyeka air mata, Rumi mendongak demi menemukan wajah pria di sampingnya. Seperti dirinya, wajah pria itu pun tak banyak berubah setelah diamati lebih dekat.
"Mendoakannya ... barangkali bisa menjadi bayaran atas apa-apa yang sudah Ruhi lakukan untuk kita."
"Cuma itu yang bisa kita lakukan pada akhirnya, Sabda."
"Hum. Cuma itu."
Keduanya sama-sama melempar tatap pada persemayaman atas nama Ruhi Hayashi yang terlindungi sebuah pohon flamboyan berbunga rimbun berwarna oranye—dari balik jendela kamar khusus kenangan mereka. Sama-sama berterima kasih atas apa yang telah diperbuat sesosok wanita berdarah campuran Jepang dan Jawa atas sepenggal kisah menakjubkan pada masa putih abu-abu mereka. Sama-sama merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan sosok yang justru menjadi penjaga sekaligus jembatan atas sepotong takdir yang pernah berlainan arah.
Selesai dengan buku harian, Rumi membawanya. Berniat meminta izin Lyra agar membolehkan buku harian Ruhi bersamanya. Dia ingin menyimpannya. Menjadikan harta karun paling berharga di rumah masa depannya sehingga bukan saja Ruhi yang memiliki dan mengabadikan sebentuk kenangan menakjubkan.
Kendati tak terikrar dengan kata-kata, walau tak tersuarakan dengan gamblang, munculnya Rumi dan Sabda ke hadapan belasan kawan lama mereka sembari bergenggaman telah lebih dari cukup menjadi penanda kabar bahagia atas purnanya dua sosok yang betah melajang sampai usia lebih dari kepala tiga. Dua sosok yang pernah berjarak, jika Tuhan mengizinkan untuk menyatu, pada penggalan masa kemudian pun akan dipertemukan dengan cari paling mengesankan. Yang akan membahagiakan bukan saja mereka, tetapi orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kenangan mereka.
Di sudut ruangan, di kosmos terkecil sebuah dunia, sebentuk kebahagiaan pun berbunga di dada seorang gadis.
"Terima kasih sudah menyelesaikan keinginan terakhir Tante, Lyra. Selamat tinggal. Sampai jumpa di dunia esok."
Gadis itu mengangguk kepada seberkas bayangan yang melayang keluar dari Pondok Kenangan. Tatapnya kemudian jatuh menontoni kebahagiaan dua sosok paling berkesan di hidup salah satu wanita kesayangannya. Sampai jumpa di dunia esok, Tante Ruhi. Salah satu impian Tante telah terpenuhi. Mereka menjadi apa yang Tante inginkan sejak dulu. Terima kasih sudah memberi kesempatan Lyra untuk membantu; untuk tahu dengan mata kepala sendiri bahwa yang bertakdir akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke rumah impiannya.
⏳️⏳️⏳️