Senin, 22 September 2025

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 2

πŸ€πŸ€πŸ€

101. "Ada banyak yang ingin kujelaskan, tetapi pepatah bilang kita lebih cepat paham jika mengalaminya langsung."—Leslie, Deep Insanity: The Lost Child, eps. 1.

102. "Kita bisa mengetahui keahlian seseorang dengan melihat bagian otak yang mereka pakai."—Larry, Deep Insanity: The Lost Child, eps. 2.

103. "Mimpi itu berbeda dari kenyataan."—Leslie, Deep Insanity: The Lost Child, eps. 2.

104. "Orang pintar tak 'kan terjun ke dunia politik seperti mereka."—Iceman, Deep Insanity: The Lost Child, eps. 3.

105. "Larry, kau tidak merasakan rasa sakit ini, 'kan? Tapi kau harus sadar bahwa ada yang akan merasa sakit jika kehilangan dirimu."—Leslie, Deep Insanity: The Lost Child, eps. 3.

106. "Jika kita sentimental terhadap setiap kematian, hati tak 'kan kuat."—Kobato, Deep Insanity: The Lost Child, eps. 7.

107. "Malam hari bisa mengubah cara pandang seseorang dengan drastis."—Kou Yamori, Yofukashi no Uta, eps. 2.

108. "Sesuatu yang sampai membuatmu menangis, sebaiknya jangan dilakukan."—Kou Yamori, Yofukashi no Uta, eps. 6.

109. "Saat orang jatuh cinta, otak mereka akan menghasilkan hormon dopamin dalam jumlah banyak. Dikatakan kalau rasanya sangat mirip dengan mengonsumsi obat jenis tertentu."—Akihito, Yofukashi no Uta, eps. 9.

110. "Jangan seenaknya ngejek hobi yang jelas-jelas disukai orang lain."—Marin Kitagawa, Sono Bisque Doll 1, eps. 1.

111. "Kau harusnya bilang saja kalau kau tak mau melakukannya. Kau harus lebih memikirkan dirimu sendiri. Katakan apa yang sebenarnya kau rasakan demi kebaikan dirimu sendiri."—Marin Kitagawa, Sono Bisque Doll 1, eps. 1.

112. "Punya pendirin terhadap sesuatu memang penting."—Marin Kitagawa, Sono Bisque Doll 1, eps. 3.

113. "Mencintai sesuatu bukan berarti kau mahir dalam melakukannya. Tak ada jaminan yang mengatakan semua kerja kerasmu terbalaskan."—Kakek Gojo, Sono Bisque Doll 1, eps. 4.

114. "Justru karena kau menyukainya, kau bisa menguatkan dirimu saat semuanya terasa sulit. Keinginan untuk membuat orang lain senanglah yang telah mendorong kita di saat sulit."—Kakek Gojo, Sono Bisque Doll 1, eps. 4.

115. "Dan menurutku, hal terbaik dari cosplay adalah kau bisa menjadi apa pun yang kau inginkan. Kalau kau merasa sedikit pun ingin mencobanya, maka kau harus mencoba cosplay."—Wakana Gojo, Sono Bisque Doll 1, eps. 9.

116. "Kita tak bisa melihat apa yang mereka rasakan, tetapi semua orang punya perjuangannya masing-masing."—Wakana Gojo, Sono Bisque Doll 1, eps. 9.

117. "Pasti rasanya sulit untuk mengatakan hobi atau kesukaan seseorang kepada orang lain. Itu butuh keberanian."—Wakana Gojo, Sono Bisque Doll 1, eps. 10.

118. "Kenyataan itu berat. Jadi, aku memutuskan untuk menemukan gadis-gadis baik di dunia mimpi."—Yuuki Oojima-kun, Koi to Senkyo to Chocolate, eps. 2.

119. "Nilai kata maaf akan jatuh ketika terlalu sering diucapkan."—Satsuki Shinonome, Koi to Love to Chocolate, eps. 2.

120. "Hanya kuda-kuda yang mengikuti pacuan yang bisa menang. Kuda-kuda yang tidak ikut tidak akan bisa menang."—Yuuki Oojima, Koi to Senkyo to Chocolate, eps. 2.

121. "Membuat makanan bersama dengan seseorang yang kamu cintai terdengar sangat menyenangkan."—Isara Aomi, Koi to Senkyo to Chocolate, eps. 7.

122. "Salah satu untuk memasak dengan baik adalah selalu mencicipi dulu saat kamu membuatnya."—Satsuki Shinonome, Koi to Senkyo to Chocolate, OVA.

123. "Saat kita mengharap imbalan, perbuatan baik kita jadi tiada artinya."—Rentarou Satome, Black Bullet, eps. 3.

124. "Yang paling menakutkan tentang membunuh orang adalah terbiasa melakukannya. Saat kita membunuh seseorang dan tahu kalau tak 'kan dapat hukuman, itulah saat orang-orang melupakan dosa-dosanya."—Rentarou Satome, Black Bullet, eps. 3.

125. "Aku tidak ingin jadi manusia yang tidak mampu mengucapkan impiannya."—Seitenshi-sama, Black Bullet, eps. 5.

126. "Jika ada secangkir air di gurun pasir, orang-orang cuma akan saling bunuh untuk mendapatkannya."—Sumire Muroto, Black Bullet, eps. 11.

127. "Mungkin manusia memiliki dua wajah. Cahaya dan kegelapan. Dan inilah wajah cahaya jika kau bisa melihat doa dan harapan dalam setiap cahaya ini."—Rentarou Satome, Black Bullet, eps. 13.

128. "Mustahil. Capek. Merepotkan. Ketiga kata tersebut bisa memengaruhi potensi pada manusia."—Aria H. Kanzaki, Hidan no Aria, eps. 2.

129. "Hidup itu perlu dijalani dengan perlahan. Anak yang terlalu terburu-buru nanti akan jatuh."Hidan no Aria, eps. 4.

130. "Manusia ditentukan oleh gen mereka. Mereka tanpa sifat-sifat yang tepat, tidak peduli seberapa keras mencoba, akan segera mencapai batas mereka."—Tooru Sayanaki, Hidan no Aria, eps. 12.

131. "Wanita suka pria yang hebat memasak."—Eriko-san, Dragon Crisis, eps. 1.

132. "Es krim adalah teman wanita."—Eriko-san, Dragon Crisis, eps. 1.

133. "Jika kau membuang ketidakpastian dan hanya mengejar apa yang harua kau lakukan, kau secara alami akan menguasai kekuatanmu."—George, Dragon Crisis, eps. 4.

134. "Kau hanya akan menderita saat dibatasi oleh kebencian."Dragon Crisis, eps. 5.

135. "Apakah dia benar atau salah, dia harus memutuskannya sendiri. Kau harus memutuskan sendiri apa yang akan kaulakukan suatu hari nanti."—Eriko, Dragon Crisis, eps. 12.

136. "Kau tidak boleh berkata tua kepada wanita."—Popura Taneshima, Working 1, eps. 1.

137. "Begini, seseorang tidak bisa senang kalau dalam bahaya."—Popura Taneshima, Working 1, eps. 2.

138. "Orang yang tinggi harus tenang dan sabar. Karena itu, selnya berkembang dengan baik."—Jun Satou, Working 1, eps. 3.

139. "Hubungan orang lain akan rusak kalau kau ikut campur dengan urusan mereka."—Hiroomi Souma, Working 1, eps 7.

140. "Todoroki, adakalanya pria harus melakukan apa yang harus dilakukannya."—Jun Satou, Working 1, eps. 9.

141. "Hidup itu terkadang berat."—Hiroomi Souma, Working 1, eps. 9.

142. "Kata orang, benci dan cinta itu beda tipis."—Popura Taneshima, Working 1, eps. 10.

143. "Dengan dapatkan pengalaman kerja, bisa membangun sosialisasi dan kepercayaan diri."—Kyouko Shirafuji, Working 1, eps. 10.

144. "Gadis yang sedang jatuh cinta akan mengambil kesempatan apa pun, 'kan?"—Jun Satou dan Hiroomi Souma, Working 2, eps. 8.

145. "Kekuatan sejati dibangun dari suara pikiran dan tubuh yang bugar."—Kozue Takanashi, Working 2, eps. 11.

146. "Mencoba membunuh orang itu tindakan salah."—Yayoi Houzuki, Dark Gathering, eps. 7

147. "Untuk menakuti gagak lain, orang dulu biasanya menaruh mayat gagak."—Keitarou Gentouga, Dark Gathering, eps. 8.

148. "Mempelajari sesuatu yang dibenci hanya akan memperburuk semuanya."—Hitomi Tsukishiro, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 2.

149. "Mempelajari sesuatu itu akan bagus kalau sedikit demi sedikit."—Ibu Kohaku Tsukishiro, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 3.

150. "Dunia tanpa warna ... aku tak bisa membayangkannya."—Yuito Aoi, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 3.

151. "Bukankah tak mengetahui sesuatu yang akan terjadi itu terasa mendebarkan?"—Hitomi Tsukishiro, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 4.

152. "Foto monokromatik itu mirip seperti lukisan tinta. Tanpa warna. Pandangan seseorang bisa meluas saat melihatnya. Jika warnanya lebih sedikit, mungkin kamu bisa memahami sesuatu yang berharga."—Yuito Aoi, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 4.

153. "Yang menentukan masa depan adalah dirimu sendiri."—Asagi Kazeno, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 5.

154. "Sesuatu yang berharga memang sering tertusuk duri. Mungkin kami terlalu dekat. Kamu pasti b8sa menemukan bagian yang lembut. Orang yang memberi tusukan biasanya memiliki bekas luka tertentu."—Kohaku Tsukishiro, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 6.

156. "Kalau cuma senyuman, itu membosankan. Selain itu, ikatan bisa menjadi lebih kuat kalau sedikit dipukul."—Kurumi Kawai, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 6.

157. "Menyesal itu tak 'kan mengubah apa pun. Yang terpenting adalah apa yang akan terjadi. Karena mereka suka dan mereka punya mimpi, mereka menggunakan alasan itu untuk terus maju."—Kohaku Tsukishiro, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 7.

158. "Kesukaan orang itu berbeda-beda dan mungkin kamu bisa menemukan hal yang lebih kamu sukai. Hal itu tak perlu diputuskan sekarang. Selama tak terburu-buru, kamu pasti baik-baik saja."—Kurumi Kawai, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 7.

159. "Foto yang sama tak 'kan bisa diambil dua kali. Seperti langit, semua orang itu terus hidup. Lampu yang menyala kemarin, sekarang telah padam. Tanpa sadar, pemandangan yang sama telah berubah lagi."—Shou Yamabuki, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 9.

160. "Membuat orang bahagia itu memang menyenangkan."—Yuito Aoi, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 12.

161. "Menggambar untuk orang lain adalah sesuatu yang hebat, loh."—Kakak kelas Yuito, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 12.

162. "Menyukai seseorang bukanlah sesuatu yang buruk."—Asagi Kazeno, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 12.

163. "Memberi tahu seseorang kalau kamu selalu melihatnya atau bilang suka kepadanya; saat kamu mengingat momen-momen itu, saat lelah, itu adalah obat yang manjur."—Kurumi Kawai, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 12.

164. "Warna gelap dan warna cerah, semua itu membentuk dirimu. Tidak usah dihapus. Di masa depan, tetaplah tersenyum."—Yuito Aoi, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 13.

165. "Sebuah perasaan bisa mengubah dunia."—Hitomi Tsukishiro, Irozuku Sekai no Ashita Kara, eps. 13.

166. "Aku rasa, kita harus percaya pada orang yang kita sukai dan jangan takut menyakitinya. Harus berani dan jangan ragu memulainya."—Youhei Mashiba, Working! 3, eps. 3.

167. "Cinta itu bagai gulat. Menyerang adalah pertahanan terbaik. Kamu harus lebih agresif."—Kozue Takanashi, Working! 3, eps. 3.

168. "Kalau ada masalah, curhat saja biar dibantu."—Yachiyo Todoroki, Working! 3, eps. 9.

169. "Setiap orang bisa berubah."—Nazuna Takanashi, Working! 3, eps. OVA.

170. "Terkadang, berubah itu penting. Tapi terkadang, berubah juga penting."—Souta Takanashi, Working! 3, eps. OVA.

171. "Aku tidak akan memeluk cowok yang punya pacar."—Popura Taneshima, Working! 3, eps. OVA.

172. "Terlalu memanjakan dan menyayangi majikan bukanlah tugas seorang pelayan."—Sebastian, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 4.

173. "Menambah pengetahuan bukanlah hal yang merugikan."—Sebastian, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 4. 

174. "Tugas pelayan bukan hanya mencemaskan majikannya. Pelayan sejati harus menyambut kepulangan majikannya dalam kondisi sempurna."—Tanaka-san, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 4.

175. "Untuk mengobati luka hati, istirahat adalah obat yang terbaik."—Tanaka-san, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 5.

176. "Seberapa pun hebatnya seorang prajurit, luka parah di medan perang bisa membuat panik."—Baldroy, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 5.

177. "Anak bukanlah alat orang tua."—Ciel Phantomhive, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 8.

178. "Manusia itu bisa berubah dengan cepat."—Ciel Phantomhive, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 12.

179. "Menganggap orang lain tidak setara itu tidak sopan."—Sebastian, Kuroshitsuji 5: Midori no Majo-hen, eps. 13.

180. "Maju sendirian bukanlah hal yang bisa dilakukan semua orang apalagi demi orang lain."—Shingo Natori, Wind Breaker 2, eps. 3.

181. "Kata-kataku mungkin tak bisa diandalkan, tapi jangan menanggung semuanya sendirian. Bukankah kita teman?"—Akihiko Nirei, Wind Breaker 2, eps. 3.

182. "Saat lelah, makanan apa pun tak 'kan ada rasanya, tapi saat makan bersama orang-orang yang membuat hatimu aman, anehnya jadi terasa enak. Yang sudah terjadi tak bisa diubah. Apa pun yang orang pikirkan, kita hanya bisa menanggungnya dan terus menjalani hidup. Ke depannya pun pasti akan banyak hal melelahkan. Saat itu terjadi, ingatlah! Rasa itu adalah bukti bahwa kau tidak sendirian."—Hajime Umemiya, Wind Breaker 2, eps. 3.

183. "Tapi, tetap saja. Aku ingin orang tahu tentang keberadaanku."—Akihiko Nirei, Wind Breaker 2, eps. 4.

184. "Dengan mengandalkan temanmu dan memercayakan tugas kepada mereka, bisa menyelesaikan masalah yang kau hadapi. Bahkan kalau itu adalah sesuatu yang bisa kaulakukan, orang lain melakukannya untukmu sehingga kau bisa melakukan hal yang lain. Apa yang bisa dilakukan satu orang dalam waktu yang terbatas tidak terlalu banyak. Bagaimanapun juga, menyuruh atau meminta orang lain untuk melakukan sesuatu mungkin sedikit menakutkan pada awalnya."—Kotoha Tachibana, Wind Breaker 2, eps. 4.

185. "Hanya karena labelnya berubah, bukan berarti isinya berubah. Tak ada cara untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, tapi tetap saja, teman-temanmu ... bahkan ketika mereka melihatmu terlihat lemah; bahkam ketika mereka melihatmu merasa takut dan kehilangan kesabaran, tak ada yang menolakmu."—Ren Kaji, Wind Breaker 2, eps. 4. 

186. "Bahkan kalau itu tak masuk akal dan tak keren, aku tetap menyukainya. Hal ini berlaku untuk semua orang. Mengandalkan dan diandalkan. Memaafkan dan dimaafkan dan tetap bersama. Jadi, tak apa-apa."—Hajime Umemiya, Wind Breaker 2, eps. 4.

187. "Hidup sebagai manusia tidak semudah itu. Orang dewasa sering berkata begitu. Kalau begitu, meski berat, aku pikir inilah hidup. Ternyata bukan. Jalan ini bukan segalanya."—Haruka Sakura, Wind Breaker 2, eps. 5.

188. "Sakura-kun, merepotkan dan direpotkan orang itu bukan hal jelek. Semua pasti punya kelemahan dan sisi tidak keren, tapi bukan berarti kita harus takut maupun malu akan hal itu."—Hayato Suo, Wind Breaker 2, eps. 5.

189. "Perasaan suka seseorang bisa membuat orang di sekitarnya ikut menjadi kuat."—Anggota Roppo-Ichiza, Wind Breaker 2, eps. 10.

190. "Mereka yang mengejek sesuatu yang disukai orang lain itu biasanya tak puas dengan dirinya sendiri."—Tasuku Tsubakino, Wind Breaker 2, eps. 10.

191. "Mereka yang punya segalanya tak 'kan tahu perasaan orang yang tidak punya apa-apa."—Shuhei Suzuri, Wind Breaker 2, eps. 10.

192. "Penderitaan karena tidak punya apa-apa muncul karena kau ingin punya sesuatu, 'kan?"—Tasuku Tsubakino, Wind Breaker 2, eps. 10. 

193. "Tak ada orang yang langsung sempurna sejak awal. Orang baru wajar membuat kesalahan. Kalau ada anak baru yang jago dari awal, kami juga bakal susah cari makanlah. Ya, selama kalian mau belajar, pasti akan ada jalan."—Kanji Nakamura, Wind Breaker 2, eps. 10.

194. "Hargailah orang yang sudah berkorban demi wanita yang disukainya."—Akihiko Nirei, Wind Breaker 2, eps. 10.

195. "Apa pun yang orang-orang bilang, dirikulah yang berhak menentukan tempatku berada."—Haruka Sakura, Wind Breaker 2, eps. 11.

196. "Perubahan itu datang dengan perjuangan."—Mizuki Saku, Wind Breaker 2, eps. 11.

197. "Jika kau ingin mencapai tempat yang tinggi, kau harus terus mengejar impianmu."Witch Watch, eps. 5.

198. "Mungkin, mencoba berbagai pekerjaan bukanlah ide buruk."—Morihito Otogi, Witch Watch, eps. 8.

199. "Tidak ada yang membuat malu. Kau seharusnya bicara seperti biasanya saja pada gadis incaranmu."—Nico Wakatsuki, Witch Watch, eps. 9.

200. "Kita banyak kelemahan. Tapi tidak peduli seberapa kecil kekuatan kita, jika kita gabungkan kekuatan kita, semuanya akan selesai."—Nico Wakatsuki, Witch Watch, eps. 12. 

πŸ€πŸ€πŸ€

Minggu, 14 September 2025

Cuplikan "Teman Lama"

(Picture by Pinterest)

🍰🍰🍰

Langgam tertawa. Astaga! Di sini, yang tidak peka bukan hanya dirinya. Wanita itu pun, gadis itu pun, tidak bisa membaca dengan baik ekspresi yang ditunjukkan Langgam saat itu. Satu hal yang Langgam syukuri sekarang. Karena dengan begitu, mereka tetap menjalin hubungan pertemanan yang tidak canggung. Tetap menjadi Langgam dan Swastika seperti saat mereka menerima hukuman ketika telat masuk di hari pertama MOS.

Satu sama, Wa.

Ponsel di atas meja berdering. Panggilan datang dari Mas Abi. Langgam sampai mengernyit karena tidak biasanya sang kakak menelepon.

"Iya, Mas," salam Langgam setelah panggilan diterima.

"Kamu pulang jam berapa, Lang?"

Kernyitan di dahi Langgam makin banyak. Masnya sedang lupa atau bagaimana? Bukankah dia sudah tahu jadwal tetap Langgam pulang dari bengkel?

"Jam lima kayak biasa, Mas."

Abi di seberang sana menepuk dahi. "O, iya. Selalu jam lima, ya."

Berkat istrinya yang sejak tadi uring-uringan ingin makan spageti, tetapi belum ada spageti yang cocok di lidah, Abi ikut pusing meladeni Sekar.

Dua minggu lalu, kabar bahagia itu datang. Setelah hampir lima tahun mereka menunggu, akhirnya Sekar dinyatakan positif hamil. Bunda dan Ayah sampai menangis terharu karena Sekar yang juga menangis saat memberi tahu kabar tersebut. Dalam sebuah rumah tangga, salah satu hal yang paling ditunggu adalah datangnya momongan, tidak terkecuali pasangan Abi dan Sekar. Mereka bahkan harus menunggu hingga hampir lima tahun.

Sejak saat itu, beragam perubahan dialami Sekar yang sukses membuat orang satu rumah excited sekaligus bingung. Beberapa kali Sekar mengidam hal-hal yang membuat mereka kelimpungan mencari. Contohnya saja dua hari lalu. Tengah malam, wanita itu sesenggukan di ruang TV. Bunda dan Ayah sampai parno, takut kalau yang menangis tengah malam di rumah mereka bukan manusia. Usut punya usut, Sekar sangat ingin makan pastel tutup Lovely yang kebetulan stok di rumah mereka habis.

Tentulah orang satu rumah pusing. Jam segitu, Lovely sudah tutup. Mau mengganggu yang punya untuk dibuatkan mendadak? Tidak mungkin. Siapa mereka sampai tega membangunkan Swastika yang pasti sudah pulas di alam mimpi?

"Enggak mau tau. Mau pastel tutup sekarang." Wajah Sekar sudah sangat basah oleh air mata.

Abi dan Langgam hanya mendesah frustrasi. Sementara Bunda tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengelus lembut punggung sang menantu. Beliau sangat memahami fase yang sedang dialami Sekar. Perubahan hormon orang hamil memang bisa mengacaukan perasaan si calon ibu.

Andai Bunda bisa buatkan sama persis seperti yang di Lovely, Bunda buatkan, deh, Kar. Bunda hanya bisa membatin sepanjang menghibur Sekar dengan elusan.

"Ya, gimana? Kan, Lovely tutup, Mbak. Masa iya aku gedor-gedor rumah Suwa untuk minta dibuatkan pastel tutup khusus buat Mbak Sekar?"

Ucapan Langgam justru membuat isak Sekar menjadi. Bunda memelototi Si Bungsu, sedangkan Abi menggeplak sang adik yang berujung keluhan.

"Coba, deh, Lang. Coba hubungi Suwa. Barangkali Suwa bisa bantu." Bunda memberi saran.

"Bunda, ini tengah malam. Enggak enaklah bangunin orang terus diminta masakin."

Isak Sekar makin keras sekarang.

"Coba dulu. Siapa tahu Suwa mau bantu." Bunda tidak tega melihat menantunya senelangsa itu karena mengidam.

Dengan berat hati, bukan karena tidak ikhlas membantu iparnya melainkan tidak enak kepada Swastika, Langgam mencoba menghubungi wanita itu. Lebih dulu melihat typing WA milik Swastika. Barangkali masih online.

Bravo! Typing-nya betul-betul masih online. Bagaimana bisa dia belum tidur di jam segini?

Langgam segera menekan tombol panggilan dari aplikasi hijau tersebut. Tidak butuh menunggu lama, panggilan segera tersambung.

"Halo, Lang?"

Desah kelegaan keluar dari mulut Langgam. "Syukurlah kamu masih online, Wa."

"Kenapakah? Aku memang biasa tidur telat."

"Anu ... begini ...."

Sungguh! Langgam tidak enak memintanya.

"Lang?"

"Ehm ... begini, Wa. Mbak Sekar lagi hamil dan dia ngidam pengen makan pastel tutupnya Lovely sekarang. Ehm ... kira-kira ... bisa buatin enggak?"

Ya, ampun, Mbak Sekar! Sumpah, ya! Ngerepotin anak orang banget! Langgam melirik Sekar yang sudah menghentikan isak, tetapi matanya masih berkaca-kaca dengan pandangan yang innocense banget. Ingin marah malah jadi tidak tega.

"Mbak Sekar lagi hamil? Wah, selamat, ya. Kamu bentar lagi mau jadi Om." Swastika malah terdengar begitu santai. "Kamu bisa datang ke sini, Lang. Kebetulan, aku ada stok pastel tutup di freezer. Nanti tinggal panasin aja di microwave. Gimana? Mau?"

"Boleh, Wa. Aku ke sana sekarang. Maaf, ya, ganggu. Maaf banget."

Swastika terkekeh. "Santai aja, Lang. Aku maklum, kok. Ibu hamil memang begitu. Oke, aku tunggu, ya."

Jadilah tengah malam itu Langgam menggeber matic-nya ke rumah Swastika untuk menjemput si pastel tutup frozen demi sang ipar yang ngidam tidak tahu waktu. Untungnya, pengorbanan tak sia-sia. Satu loyang pastel tutup ukuran lima belas sentimeter itu ludes dihabiskan Sekar. Yang lain sampai menghela napas lega selega-leganya karena Sekar tidak jadi menangis sepanjang malam.

"Kenapa emangnya, Mas? Mbak Sekar ngidam apa lagi sekarang?"

Abi malah menyahut dengan tawa. "Kamu kenapa jadi parno begitu?"

"Parnolah. Ngidamnya suka enggak tahu waktu."

Abi masih terbahak di seberang panggilan. "Namanya ibu hamil. Entar kalau kamu punya istri pun terus dikasih rezeki bisa hamil, kamu akan merasakan kepusingan ini."

Semoga istriku nanti tidak semeribetkan itu. "Jadi, sekarang apa?"

"Mbakmu minta makan spageti. Tadi, udah Mas beliin di toko piza yang terkenal itu, tapi enggak mau. Enggak enak katanya. Enggak sesuai lidah dia. Heran Mas juga. Biasanya juga enjoy-enjoy aja makan spageti dari sana."

Hormon ibu hamil. Semuanya jadi serba sensitif. Begitu kata Bunda"Terus?"

"Bantuin Mas, Lang. Tolong cariin spageti dari toko mana aja, deh. Beli semuanya, tapi enggak perlu porsi full. Mubazir nanti kalau ujungnya enggak ada yang cocok di lidah Sekar."

Istri siapa yang hamil, siapa pula yang ikutan repot. "Oke, oke. Nanti Langgam coba cari di beberapa resto." Langgam ingat pernah masuk di beberapa restoran western yang menyediakan spageti. Nanti akan dia coba mampiri satu per satu resto tersebut.

"Oke. Makasih, ya. Tolong yang ikhlas kalau bantuin, ya. Demi calon keponakanmu, nih." Panggilan segera diputus setelah Abi mengucap salam.

Lah? Kenapa seolah-olah dia ikut bertanggung jawab dengan kehamilan iparnya? Yang bapaknya siapa di sini, oi!

🍰🍰🍰

"Enggak enak. Ini terlalu asam." Sekar meminggirkan piring ketiga berisi spageti dengan lumuran bolognais.

Langgam sampai meneguk ludah karena terlihat sangat enak, tetapi iparnya malah bilang tidak enak. "Serius enggak enak, Mbak?" 

"Coba aja." Sekar memberengut kesal. Sejak tadi, tidak ada satu pun spageti yang sesuai dengan lidahnya.

Langgam mengambil garpu dan menyendok sebagian sepageti di piring tersebut lalu melahapnya. Enak, kok. Ya, standar rasa spageti restolah.

"Enak, kok."

"Enggak enak, Lang. Enggak enak di lidah Mbak."

Baiklah. Langgam lupa. Iparnya sedang hamil. Tentu saja ada yang berbeda dengan cara kerja lidah tersebut.

"Jadi, gimana? Itu resto terakhir di kota ini yang jual spageti, loh, Mbak. Tuh, liat! Udah berjejer piring-piring spageti yang semuanya enggak cocok di lidah Mbak Sekar." Lama-lama, kesabaran Langgam yang ikut habis menghadapi drama ibu hamil.

Langgam berhasil membawa tiga kemasan spageti, sedangkan Ayah dan Abi yang sudah mencari sejak siang berhasil membawa delapan kemasan yang semuanya tidak cocok di lidah Sekar. Kalau terus begini, ujungnya seperti kejadian waktu itu. Iparnya kembali terisak karena keinginan yang tidak terpenuhi.

"Coba Bunda masakin aja. Siapa tahu yang buatan Bunda lebih cocok di lidah Mbak Sekar." Langgam mencari solusi.

"Sudah. Bahkan yang pertama kali dibilang enggak enak sama dia, ya, buatan Bunda." Bunda memberengut sambil menyilangkan kedua lengan di perut.

"Bukan enggak enak, Bunda. Enggak cocok di lidah Sekar." Sang menantu tidak mau disalahkan.

"Ya, intinya begitu. Untung Ayah mau habiskan jadi tidak mubazir."

Ayah yang duduk di samping Bunda malah memberikan cengiran lebar. "Ayah cuma bisa bantu habiskan sepiring, ya. Selebihnya, Ayah enggak sanggup." Laki-laki paruh baya itu melirik barisan piring spageti yang terbengkalai.

"Jadi, gimana? Masa Sekar enggak bisa makan spageti yang sesuai lidah Sekar?" Wanita itu mulai kembali terisak.

Aduh! Gawat kalau sudah begini!

"Sabar, sabar. Biar Langgam cari lagi, oke? Tunggu." Langgam kembali meraih kunci sepeda motor lalu melajukan Si Matic berkeliling kota untuk mencari toko spageti lagi.

Sayangnya, stok resto yang menjual spageti memang hanya segitu-segitunya di kota mereka. Sudah mereka datangi semua. Terus, mau ke mana Langgam mencari?

Tatapan Langgam terpaku ke arah Lovely Cake and Bakery dengan lampu masih menyala dan menyisakan Swastika tengah duduk di salah satu kursi dekat jendela. Ditengoknya arloji di pergelangan tangan kanan. Jika tidak salah memperhatikan, seharusnya jam segini Lovely sudah tutup. Kenapa Swastika masih di sana?

Langgam menghentikan motor di halaman parkir Lovely. Setelah mengunci dengan baik, langkahnya terarah masuk. Denting bel terdengar saat pintu terbuka.

"Mohon maaf. Lovely sudah tutup. Silakan kem ...."

Swastika tak jadi melanjutkan kalimat saat kepalanya menegak demi mengecek siapa pelanggan yang mendatangi Lovely saat sudah tutup. Sejak tadi, dia sibuk menulis sesuatu di sebuah buku bertemankan secangkir kapucino.

"Langgam?"

"Hai, Wa." Langgam meringis canggung sambil menggaruk kepala bagian belakang. "Aku kebetulan lewat tadi. Terus liat Lovely masih nyala dan kamu masih duduk di situ. Jadi, aku samperin."

Swastika menahan senyum. Memang seharusnya dia sudah pulang. Namun, dia memiliki jadwal pengecekan bahan-bahan toko yang habis stok. Jadi, Swastika masih terperangkap di sana.

"Duduk, Lang. Kamu ke sini bukan buat mandorin aku yang lagi nyatet, 'kan?"

"Eh, iya. Eh, enggak. Maksudku, bukan buat mandorin." Langgam bergegas duduk di kursi seberang Swastika. Mereka terpisah oleh sebuah meja besi di mana buku, bolpoin, dan cangkir kopi Swastika berada.

Wanita itu tidak jadi meneruskan catatan. Ditatapnya Langgam yang berwajah frustrasi. Ada apa dengan pria ini? Tidak biasanya datang dengan wajah begitu.

Alih-alih menanyakan alasan Langgam mampir, Swastika merasa lebih cocok menawarkan sesuatu.

"Mau kopi, Lang?"

"Hah? O, enggak usah, Wa." Langgam jadi tidak enak. Sudah mampir tanpa izin saat toko tutup, mengganggu kesibukan Swastika pula.

"Santai aja. Kayaknya otakmu lagi ruwet. Perlu kafein, tuh."

"Eh?"

Sebelum Langgam kembali menolak, Swastika sudah beranjak. Begitu sampai di ambang pintu ruangan tempat kopi-kopi biasa disiapkan, Swastika berhenti lalu berbalik, kembali menatap Langgam.

"Mokacino, 'kan?"

"Hah?"

"Kopimu. Masih suka mokacino, 'kan?"

"Always."

Swastika membalas dengan senyum lalu melanjutkan langkah memasuki ruang kopi. Sementara menunggu Swastika, Langgam memeriksa buku catatan yang sejak tadi ditulisi wanita itu.

"Tepung pro. tinggi, rendah, dan sedang. Tepung maizena dan sagu. Tepung almon dan pistacio. Kacang mete, almon, pistacio, dan walnut." Langgam mengernyit. Banyak sekali bahan asing yang tidak dia paham kegunaannya. "Keju parmesan, keju mozarella, keju edam, dan keju cheddar." Astaga! Kenapa keju bisa sebanyak ini jenisnya?

Langgam masih terus membaca daftar bahan yang akan dipesan Swastika besok pagi untuk memenuhi stok dapur Lovely. Berkali-kali mendengkus karena membaca bahan aneh yang bahkan tidak pernah dilihat di dapur rumahnya. Bahkan, nyaris semua bahan dalam daftar yang dibuat Swastika tidak tersedia di sana. Bunda bukan perempuan yang ahli dalam per-baking-an. Itu kenapa kalau ingin makan kue pasti beli di toko dan langganannya adalah Lovely Cake and Bakery.

Swastika muncul beberapa menit kemudian dengan cangkir putih yang mengepulkan aroma mokacino.

"Jadi, ada apa sampai wajahmu semumet itu?" Swastika meminggirkan catatan dan bolpoin.

Pantaskah dia ceritakan ini kepada wanita di hadapannya?

"Aku yakin, kamu lagi menghadapi suatu situasi yang kurang menyenangkan." Swastika memasang senyum tulus.

Langgam mendesah lebih dulu. "Entah ini kurang menyenangkan atau sebenarnya berkah."

"Anggaplah berkah."

Berkah macam apa yang membuatnya berkeliling kota sampai nyaris tengah malam hanya untuk mencari spageti yang cocok di lidah iparnya?

"Masih dalam rangka membantu Mas Abi yang menghadapi kehamilan Mbak Sekar."

Ah, Swastika paham sekarang. Masih masalah ngidam.

"Kali ini apa?"

"Spageti."

"Spageti? Hm, bukannya di kota ini banyak resto yang menjual spageti?"

"Banyak, tapi belum satu pun yang cocok dengan lidah ibu hamilnya Mbak Sekar."

Swastika menahan tawa. Bukan salah Mbak Sekar kalau merepotkan suami dan iparnya. Memang, beberapa ibu hamil mengalami fase ngidam yang mungkin bikin orang geregetan bahkan kesal. Dulu pun, Swastika mengalaminya saat menghadapi kehamilan Amanda. Anak satu itu benar-benar merepotkan. Minta dibuatkan mi goreng ala abang-abanglah pas tengah malam. Minta dibuatkan bronis kejulah. Tidak peduli mbaknya super mengantuk bahkan baru tidur karena harus menyelesaikan naskah. Mana si Ojan kebanyakan tidak di rumah karena kerja di luar kota. Otomatis yang direpotkan kalau bukan Swastika, ya, Mama dan Abah.

"Balada ibu hamil memang begitu, Lang. Ada saja yang diminta dan enggak lihat-lihat waktu pula mintanya. Adikku dulu juga gitu waktu hamil Resyakilla. Yang direpotin, ya, aku. Jangan-jangan, nanti keponakanmu plek-ketiplek kamu lagi karena turut andil ngurusin ibunya."

"Wah, bagus itu. Kalau plek-ketiplek aku kan ganteng tiada tara."

Swastika terkikik. Astaga! Pria di hadapannya masih tidak berubah. Masih se-PD dulu.

"Jadi, belum nemu sampai sekarang spageti yang dimau lidahnya Mbak Sekar?"

Langgam menggeleng. "Mungkin, aku harus ke kota sebelah. Siapa tahu nemu resto lain yang bisa memenuhi ekspektasi lidah Mbak Sekar."

Astaga! Ke kota tetangga? Butuh dua jam ke sana. Bolak-balik empat jam. Belum lagi, ini nyaris tengah malam. Mana ada resto western yang buka sampai 24 jam? Ya, kalaupun ada, tetap tidak bisa malam itu juga dia dapatkan spageti-spageti itu.

"Tunggu sebentar." Swastika kembali ke ruang kopi untuk mengambil stok saus spageti yang dia simpan siang tadi di freezer toko. "Aku enggak tau ini bakalan cocok atau enggak di lidah Mbak Sekar, tapi aku harap bisa cocok." Sekar menaruh satu kotak plastik berisi saus spageti buatannya.

"Saus spageti?"

Swastika mengangguk. "Kamu bisa panasin terus tuang ke atas spageti rebusnya. Cuma, aku enggak punya stok pasta mentah."

Seingat Langgam, Bunda selalu simpan stok sepageti dan fusili mentah di rumah.

"Ya, ampun, Wa. Serius ini enggak apa-apa aku bawa? Rasanya, dari kemarin-kemarin kami ngerepotin kamu terus."

"Santai aja kali, Lang. Aku bisa paham dan ... ya, semoga kali ini cocok biar kamu enggak perlu ke kota tetangga."

Kalau sampai tidak cocok juga, entahlah. Akan jadi apa Langgam kalau harus menempuh perjalanan empat jam bolak-balik hanya untuk mencari spageti yang sesuai lidah iparnya.

Setelah mengobrol sebentar dan menghabiskan mokacino buatan Swastika, Langgam pamit. Sejujurnya, dia ingin lebih lama mengobrol dengan Swastika.

"Bener enggak mau aku antar pulang?" tanya Langgam. Membayangkan seorang wanita pulang selarut itu membuat Langgam ngeri.

"Enggak usah. Aku bawa motor sendiri, kok. Tuh." Swastika menunjuk matic hitam yang tidak jauh dari matic Langgam.

"Kamu wanita, Wa. Aku enggak tega bayanginnya kamu pulang selarut ini."

Swastika tersenyum tipis. Bayangan di mana Langgam mengantarnya pulang usai tragedi pengeroyokan Dimas kembali membayang. "Tenang aja. Kan, aku bisa sedikit karate."

Benar juga. Wanita itu bukan sembarang wanita yang mudah disentuh cuma-cuma. Kalau ada yang berani macam-macam, jelas dia akan melawan.

"Ya, udah. Aku pamit, ya. Kamu juga sebaiknya segera pulang." Langgam beranjak dengan tidak lupa membawa kotak plastik berisi saus spageti buatan Swastika.

"Hu um. Bentar lagi selesai, kok. Kamu hati-hati. Jangan ngebut."

Langgam melebarkan senyum, berbalik, lalu melangkah keluar. Denting bel terdengar sangat nyaring karena jalanan di luar toko mulai sepi. Sebelum benar-benar beranjak, Langgam melambai ke arah Swastika yang menatapnya dari balik jendela kaca. Wanita itu pun balas melambai. 

Sepanjang perjalanan pulang, Langgam berdoa agar wanita itu baik-baik saja. Tidak lupa berdoa semoga ini yang terakhir dirinya diribetkan oleh spageti.

🍰🍰🍰

Ayah, Bunda, Langgam, dan Abi menatap cemas ke arah Sekar yang mulai menyendok spageti dengan saus buatan Swastika. Dari yang terlihat, Sekar tidak mempermasalahkan aroma saus tersebut. Tidak seperti beberapa piring sebelumnya yang bahkan belum diicip sudah dipinggirkan karena aromanya, menurut Sekar, tidak enak.

Satu suapan masuk. Sekar mengunyah perlahan. Wajahnya tampak senang. Matanya berbinar. Begitu suapan kedua masuk, wanita itu histeris, tetapi dengan ekspresi yang dipenuhi kepuasan.

"Kenapa? Kenapa?" Abi segera menghampiri sang istri.

"Ini dia, Mas! Ini dia spageti yang sesuai lidah Sekar. Ini enak banget, Mas. Enggak begitu asem, dagingnya juga banyak. Aroma palanya sedap."

Ayah dan Bunda langsung melemaskan bahu. Tunai sudah drama spageti Sekar hari itu. Tidurnya akan tenang karena sang menantu tidak akan lagi menangis tengah malam. Untung rumah mereka tidak menempel dengan rumah tetangga. Kalau sampai menempel lalu mendengar suara tangisan Sekar yang persis kuntilanak di film-film, bisa parno mereka.

Langgam langsung menghela napas lega. Agenda berkeliling kota tetangga dadakan tidak perlu dilakukan. Malam itu, tidurnya akan nyenyak karena tidak memikirkan isakan sang ipar akibat tidak mendapat makanan yang diinginkan.

"Syukurlah kalau pas. Dihabisin ya, kalau gitu. Dari siang, porsi makanmu kacau karena ngurusin spageti mulu." Abi mencium puncak kepala Sekar. Meski bikin heboh dan pusing, Abi tetap mensyukuri apa yang terjadi. Sudah lama dirinya memimpikan hal semacam itu; Sekar yang hamil akan membuatnya melewati banyak drama sebagai suami yang siaga.

"Hu um." Sekar mengangguk-angguk. Dia bahkan tidak berniat menyisihkan sehelai spageti pun saking enaknya saus yang dibawa Langgam. "Omong-omong, kamu dapat saus spageti ini dari mana, Lang?"

Ayah, Bunda, dan Abi menatap Langgam bersamaan.

"Dari Suwa."

"Hah? Suwa?" Bunda terperangah.

"Iya. Pas Langgam lagi jalan buat nyari resto lain, Langgam lihat Suwa masih di Lovely. Sendirian. Langgam samperin terus kelepasan curhat kenapa Langgam bisa ada di sana jam segitu. Eh, Suwa ngasih saus itu untuk bantuin Langgam biar enggak keliling kota sebelah." Langgam menghampiri kulkas dan mengambil sebagian spageti sisa dari tupperware untuk kemudian dipanaskan.

Sejak pulang tadi sore, dirinya belum sempat makan malam. Melihat Sekar begitu menikmati spageti, dirinya jadi ngiler untuk makan itu pula. Ya, meski bukan spageti bersaus buatan Suwa, tak apalah. Yang penting tetap spageti.

Belum ada sahutan lagi dari mereka yang justru saling tatap sambil senyum-senyum tidak jelas sementara Langgam memanaskan makanan.

"Enak banget, loh, Lang. Tapi, Mbak enggak mau bagi-bagi. Mbak mau habisin sendiri saus dari Suwa." Sekar akan chat wanita itu untuk mengucapkan terima kasih dan memuji masakannya.

"Untung ketemu Suwa di sana." Langgam menyahut setelah memasukkan satu sendok spageti ke mulut.

"Jadi, benar-benar calon mantu idaman, 'kan, Yah?" Bunda menjawil Ayah.

Langgam sampai tersedak mendengar celetukan Bunda. Memorinya langsung ingat dengan nama dalam kontak Bunda untuk Swastika.

"Idaman banget." Ayah terkikik.

"Ipar idaman." Abi pun ikut-ikutan yang membuatnya dipelototi Langgam.

Ada apa sih, dengan anggota rumah ini?

🍰🍰🍰


Bus Terakhir

(Picture by Pinterest)

🌻🌻🌻

Menginjak pukul dua dini hari, Kedai Bir Ichinoya berhasil 'mengusir' pelanggan terakhir yang setengah mabuk. Sebagai bentuk pelayanan atau mungkin pula kebaikan hati pemilik kedai, sebuah taksi diberhentikan untuk mengantar sang pelanggan sehingga sosok yang setengah mabuk itu tidak luntang-lantung terlalu lama di jalanan. Perginya pelanggan terakhir menjadi alarm bagi para pekerja untuk bergegas membereskan sisa-sisa kekacauan dari para peminum. Satu-dua orang membersihkan meja dengan tumpahan bir atau serakan remah-remah kudapan. Yang lain memberesi konter dan dapur: membawa gelas dan piring kotor untuk kemudian mencucinya, mengecek kecukupan bahan untuk dijual esok malam, menghitung penghasilan yang didapat hari itu, serta memilah sampah-sampah dan memasukkannya ke kantong-kantong sesuai jenis yang diberlakukan.

Tampak melelahkan. Seolah tak ada habisnya walau pelanggan telah hengkang. Di sela-sela sibuk memberesi, demi membunuh jenuh, para karyawan Kedai Bir Ichinoya menghidupkan obrolan. Menyalakan kelakar-kelakar mengundang tawa sehingga lelah seusai melayani begitu banyaknya pelanggan dapat terangkat sebagian. Satu-dua yang telah akrab justru merencanakan pergi ke pemandian umum. Berendam air hangat lalu minum susu—menenggak bir bagi yang telah cukup usia—atau mengudap telur rebus akan mampu menghilangkan pegal-pegal di sekujur tubuh. Sebagian lagi ada yang memilih segera pulang, bergegas tidur setelah mampir sebentar ke kedai ramen tengah malam, untuk kemudian tidur dalam hamparan futon yang empuk dan hangat. Musim mulai beranjak menjadi gugur sehingga berlama-lama di luar rumah pada dini hari sama seperti mereka sedang menyelami lemari pendingin.

"Suzuhara-chan, kau mau ikut? Aku dan Sei-san akan mampir ke pemandian umum. Kudengar, ada pelayanan baru berupa pijat relaksasi di sana. Bukankah akan sangat sempurna jika kita pergi setelah lelah bekerja?"

Gadis yang sedang memisahkan ragam sampah untuk dimasukkan ke kantong berbeda itu menoleh. "Pemandian Umum Reikiko, Haruno-san?"

"Hum hum." Wanita yang lebih berumur dari gadis yang dipanggil Suzuhara-chan itu mengangguk-angguk antusias. Tampak seperti bocah lima tahun yang disetujui pergi bermain setelah berhari-hari terjebak di dalam rumah karena musim dingin yang menggigit. Semakin tampak seperti bocah karena tinggi dan bentuk tubuh yang begitu mungil di mata siapa pun. "Kau harus mencobanya, Suzuhara-chan. Temanku kemarin sudah ke sana dan katanya, pelayanan pijat mereka sangat memuaskan."

"Woah!" Membulat mulut Suzuhara demi mendengar promosi meyakinkan Haruno-san. Namun, dia tak bisa pergi malam itu. Dia harus segera sampai ke rumah. Masih ada PR yang belum sempat dia kerjakan dan itu akan dikumpulkan besok. Dia tak punya banyak waktu walau sekadar menikmati pelayanan pijat dari sebuah pemandian umum.

"Mungkin lain kali, Haruno-san. Maaf, ya. Aku masih ada PR yang belum selesai kukerjakan dan harus dikumpulkan besok. Jika tidak segera pulang, bisa-bisa aku tak sempat mengerjakan."

"Ah, sayang sekali, Suzuhara-chan." Menekuk bibir Haruno-san karena kawan mandinya berkurang. "Kuharap kau bisa mengerjakan dengan baik PR-mu itu. Menjadi gadis yang masih sekolah—terkadang—memang menyebalkan karena masih harus mengerjakan PR."

"Memangnya, Haruno-san tidak ada tugas kuliah? Anak kuliahan juga punya tugas, 'kan?"

"Eto ...." Lebar cengiran Haruno dengan diimbuhi garuk-garuk cuping hidung.

"Suzu-chan!" Panggilan lain datang dari laki-laki paruh baya dengan celemek tersampir di bahu. "Setelah membuang sampah, kau bisa langsung pulang. Jangan lupa membawa bingkisan yang ada di meja konter, ya. Kau bisa ambil mana pun karena toh isinya sama."

"Baik, Ichinoya-san. Terima kasih karena sudah mengurusku."

"Bergegas selesaikan tugasmu agar tidak ketinggalan bus terakhir."

"Baik!" Tangkas tangan Suzuhara bekerja. Secepat kilat menyelesaikan pemisahan jenis sampah. Dua plastik besar sarat muatan dibawanya ke bagian belakang kedai. Di sanalah dia menumpuk plastik sampah yang akan diambil petugas siang nanti.

Selesai mencuci tangan, mengganti seragam kerja dengan seragam sekolah yang tersimpan di loker karyawan, tak lupa menggunakan sweter rajut untuk menahan gigil serta membawa bingkisan yang disiapkan pemilik kedai, Suzuhara berjalan menjauh ke arah timur dari Kedai Bir Ichinoya. Melewati beberapa kedai ramen untuk kemudian sampai di halte yang mana bus terakhir dengan tujuan daerah perumahannya terbiasa berhenti. Sembari menunggu, dibukanya bingkisan dari Ichinoya; berupa sekotak gyoza dan yakisoba ber-topping daging asap dan jamur.

Jatah kudapan para karyawan Kedai Bir Ichinoya hari itu. Sangat cukup untuk mengganjal perut Suzuhara setiba di rumah. Setidaknya, dia akan memakan yakisoba di rumah. Tiga dari tujuh gyoza pemberian Ichinoya tak bisa selamat dari lumatan mulut. Wangi kulit gyoza yang terpanggang serta jus dari isian yang meleleh keluar tak bisa menghentikan rontaan perut dan lidah untuk mencicipi.

"Gyoza buatan Ichinoya memang sangat lezat." Suzuhara menatap lekat pada kotak berisi sisa gyoza. Ada ingatan yang muncul setiap kudapan khas negeri kelahirannya itu menyapa mulut. Tentang masa yang telah lewat. Tentang sosok yang tidak lagi membersamai hari-harinya. Tentang kesendirian yang kian hari kian menggigit.

Sudah berapa tahun dirinya tak menyapa mereka? Sudah berapa ratus hari mereka tak menanyai kabar tentangnya? Apakah memang seorang anak tidak lagi dibutuhkan setelah hubungan di antara kedua orang tuanya selesai? Hanya karena ayah dan ibunya memilih jalan kisah berbeda, lantas dirinya berhak diabaikan? Ditinggalkan begitu saja? Hanya dipenuhi secara material ... apakah cukup bagi seorang anak? Bahkan dengan kerja paruh waktu yang dia jalani, dia bisa menghidupi diri sendiri; Bisa makan makanan lezat hampir setiap hari; Bisa membeli buku bacaan apa pun yang dia mau; Bisa membiayai sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi untuk lulus sebagai siswi sekolah menengah atas.

Dia mendongak. Mendapati langit malam pada awal musim gugur yang begitu cerah. Tiga bintang paling terang di arah timur bersolek tanpa gangguan awan-awan yang melintas. Dia ingat guru SD-nya pernah mengatakan bahwa tiga bintang paling terang yang bisa dilihat pada awal Juni sampai akhir November dinamai sebagai Segitiga Musim Panas.

"Keberadan Segitiga Musim Panas bisa dijadikan penanda pergantian musim. Karena nanti, saat memasuki musim dingin, ada segitiga bintang lain yang terangnya lebih terlihat."

Tahu-tahu, satu telunjuk tangannya mengarah kepada bintang paling terang dari ketiga titik yang membentuk segitiga di atas kepala. "Yang paling terang adalah Vega dari rasi bintang Lyra si Harpa. Lalu, ke arah kiri bawah ada Deneb dari rasi bintang Cygnus si Angsa. Ke arah kanan bawah ada Altair dari rasi bintang Aquila si Elang."

Pelajaran tentang langit, materi tentang bintang-bintang, adalah hal yang Suzuhara sukai selama bersekolah. Ah, benar. Dia pun ikut Klub Astronomi sejak SMP sampai SMA; semakin menyukai setelah pertemuan tak sengaja dengan seseorang. Samar-samar, ingatannya mengintip momen yang telah lama lewat. Tentang sebuah pertemuan di atap sekolah sewaktu SMP. Saat dia kabur dari rumah setelah perbincangan kedua orang tua yang berujung kepada kesepakatan bercerai.

"Kau ini masih SMP, kenapa berkeliaran di sini malam-malam?"

Dia yang menekuk kaki sembari menyembunyikan tangis di antara lutut terperanjat demi mendengar kemunculan seseorang. Bukan saja sosoknya, tetapi proses muncul yang datang dari tembok pembatas atap alih-alih tangga berhasil menimbulkan kernyit di wajah.

"Woah! Kau menangis, Nona?" Mengabaikan ekspresi sekaligus tatapannya, dia justru ikut duduk. Berjarak hanya satu depa di samping kanan Suzuhara. "Tidak baik untuk nona kecil sepertimu berkeliaran bahkan naik ke atap sekolah malam-malam. Kau tidak tahu rumor kalau hantu berkeliaran di lorong-lorong sekolah setiap malam, ya?"

"Ini sekolahku." Memberengut wajah Suzuhara sembari menumpukan dagu di sela lutut yang tertekuk. "Aku tidak takut hantu. Tidak ada hantu di dunia ini."

Entah apa yang lucu, tetapi sosok di samping Suzuhara justru tergelak. "Nona Kecil, kau sangat pemberani."

"Kau sendiri kenapa di sini? Naik dari mana? Kenapa tidak dari tangga? Memangnya kau laba-laba atau cecak yang bisa merayap di tembok? Kenapa kau mun—"

"Satu per satu kalau bertanya, Nona. Kau ini sudah seperti senapan gatling saja yang memberondong musuh dalam sekali serang." Kecerewetan gadis di sampingnya mengundang gemas sampai-sampai tanpa sadar tangannya mengacak-acak rambut Suzuhara; mencipta lagi cemberut di wajah gadis itu.

Kenapa bisa dia sok akrab sekali?

Selesai mencandai rambut Suzuhara, tangannya tersimpan kemudian di dalam saku almamater sekolah khusus laki-laki yang rasanya tidak asing dalam ingatan Suzuhara. Entah di mana, dia seperti pernah melihat gerombolan anak laki-laki dengan seragam yang sangat mirip yang dikenakan sosok di sampingnya.

Mungkinkah murid dari sekolah itu juga? Kalaupun iya, tentu saja tidak aneh. Anak laki-laki sepertinya sangat wajar masuk akademi khusus laki-laki—yang menurut beberapa kawan gadisnya menjadi tempat menyebalkan sekaligus menyenangkan dalam satu waktu.

"Aku ke sini untuk melihat bintang. Kabur dari rumah karena orang tua yang bertengkar sangatlah berisik. Di sini, di atap sekolah yang katamu milikmu ini, aku bisa menontoni gugusan bintang dengan leluasa. Lihat!" Dia menunjuk langit Jepang di arah timur. "Kau lihat tiga titik paling terang di sana?"

Mengusap wajah demi menyingkirkan bekas air mata yang meleleh ke pipi, Suzuhara mengikuti arah tunjuk pemuda di sampingnya. Gerakan telunjuk si pemuda membentuk bangun segitiga di alam imaji Suzuhara.

"Namanya Segitiga Musim Panas. Bintang-bintang paling terang yang membentuk segitiga itu berasal dari tiga rasi yang berdekatan. Yang paling terang adalah Vega dari rasi bintang Lyra si Harpa. Lalu, ke arah kiri bawah ada Deneb dari rasi bintang Cygnus si Angsa. Ke arah kanan bawah ada Altair dari rasi bintang Aquila si Elang. Kemunculan mereka dimulai sejak awal Juni sampai akhir November. Menandai datangnya musim panas dan awal-awal musim gugur."

Malam yang tak pernah Suzuhara sangka akan dipertemukan dengan sosok pemuda yang begitu menyukai dunia bintang—dunia langit malam secara keseluruhan, seperti dirinya.

Decit rem menjadi pengingat bahwa pengelanaan Suzuhara kepada masa lampau harus diakhiri. Bus terakhir yang menuju kediamannya telah datang. Tanpa perlu menengok bagaimana kondisi bus—merasa bahwa bus tersebut adalah bus yang sama seperti sehari-hari dia naiki, Suzuhara beranjak meninggalkan halte; Memasuki bus dengan tidak lupa menempelkan kartu pembayaran transportasi umum khusus pelajar.

"Selamat malam, Nona. Semoga harimu berakhir menyenangkan."

Langkahnya tak langsung mendatangi kursi yang diinginkan. Terpancang sejenak di dekat mesin pembayaran untuk mencermati sopir yang menyapa. Bukankah cukup aneh untuk malam itu karena sopir bus menyapa dengan hangat kepadanya? Sangat tidak biasa walau memang beberapa sopir memiliki sikap yang ramah kepada penumpang bus. Namun, sepanjang menjadi penikmat transportasi umum yang satu itu, khusus bus terakhir di setiap perjalanan pulang, Suzuhara baru mengalami.

"Bus akan berangkat, Nona. Silakan pilih di mana pun kau mau duduk." Tersenyum ramah, sopir laki-laki yang dia kira seusia—atau lebih sedikit—dengan ayahnya itu menyilakan.

Tak mau ambil pusing, dia beranjak; Memilih barisan dua bangku; Mengempas duduk di bangku dekat jendela.

Bus melaju perlahan. Meninggalkan halte yang menyisakan kursi-kursi kesepian. Membawa hanya satu penumpang yang perlahan-lahan terkantuk di kursinya walau kesendirian gadis yang duduk di dekat jendela itu bertahan hanya sepuluh menit.

Hampir tertinggal, seorang pemuda yang muncul dari sebuah lorong jalan berlarian mengejar. Jika saja si sopir tak melongok ke spion, sudah dipastikan si pemuda dengan ransel hitam dan jas khas laboratorium itu ketinggalan kendaraan terakhir yang mengantarnya pulang; berakhir menginap di hotel murah atau warung internet terdekat.

Terengah tubuhnya begitu memasuki bus. Sebelum menentukan kursi mana yang ingin diduduki, tatapnya memindai; menemukan seorang gadis berseragam SMA tengah terkantuk-kantuk di kursi untuk dua orang. Entah bagaimana, langkahnya terarah ke kursi si gadis. Hampir jatuh kepala si gadis ke sisi kursi yang kosong saat tubuhnya terburu-buru terempas sehingga bahu menjadi bantalan bagi kepala yang terkulai. Dengkur halus terdengar seiring bus yang kembali melaju.

"Su-zu-ha-ra To-ki-o." Diejanya rajutan nama dari kain yang menempeli plakat kecil yang dijadikan gantungan ransel. Nama yang menggiring ingatannya kepada sebuah malam di atap sebuah sekolah menengah pertama pada beberapa tahun lalu. Gambaran seorang gadis SMP dengan wajah dipenuhi bekas air mata menyusupi ingatan. "Mungkinkah ...."

🌻🌻🌻

Dia merasakannya. Usapan lembut di pipi. Menggiring kemudian untuk terjaga, lantas sepasang mata mengerjap-ngerjap demi menemukan cahaya sehingga fokus penglihatannya kembali.

"Ayo bangun, Sayang! Busnya berhenti. Kita sampai."

Tertatih isi kepalanya mengais-ngais kesadaran demi serangkaian kalimat yang terdengar ... aneh?

Sayang? Siapa yang memanggil Sayang kepada siapa?

Saat sadar terpulihkan, cerah sepasang matanya menangkap berbagai objek. Tak ayal tubuhnya tergeragap saat menemukan sesosok lelaki duduk di baris yang sama. Tepat di kursi di sampingnya. Lebih aneh lagi karena lelaki dengan ransel dan jas putih yang dia tahu khas orang-orang pekerja laboraturium justru mengurai senyum lembut yang rasanya begitu manis dipandang.

Apa yang kaupikirkan, Suzuhara? Bukan saatnya mengagumi senyum orang asing. Bagaimana jika dia berniat jahat kepadamu, hah? Bangun! Pulihkan kesadaranmu, Suzuhara-chan!

"Kau sudah sadar sepenuhnya? Bus sudah berhenti. Kita harus segera turun atau Akiyama-san akan mengomeli kita seperti dulu."

A ... kiyama-san? Seperti dulu? Kita?

Kerutan di dahi Suzuhara bertambah berkali lipat. Semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari pria yang kini menghadapnya. Dari bagaimana dia mengajak mengobrol dengan begitu santai dan tidak formal, seolah mereka telah saling mengenal untuk waktu yang lama.

Hei! Mana ada! Aku bahkan tidak tahu siapa dia? Bagaimana bisa dia bicara sesantai itu kepada orang asing?

Tak peduli seberapa bingung wajah dari sosok yang duduk dengannya, pria berjas laboraturium bangkit. Satu tangannya lantas terjulur. "Ayo, Suzu-chan! Anak-anak sudah menunggu di rumah. Kita sudah sangat telat."

"Su-Suzu ... -chan?" Astaga! Dia ini siapa? Bagaimana bisa memanggilku -chan? Aku ... aku tidak mengenalnya, hei!

"Kapan kalian akan turun, Tuan dan Nyonya Hirasaki? Aku sudah harus berangkat. Atau ... kalian mau sampai ke pangkalan bus agar waktu berduaan kalian lebih lama? Dasar pasangan muda!"

Seolah tak tersinggung oleh gerutuan si sopir bus, pria berjas putih di hadapannya justru tergelak. Benar-benar tampak seperti mereka telah saling mengenal begitu lama.

"Istriku baru bangun, Akiyama-san. Bersabarlah sedikit lagi. Biarkan dia mengumpulkan kesadaran lebih dulu. Aku yakin, dia begitu kelelahan hari ini. Bekerja sekaligus kuliah bukanlah hal mudah."

Bekerja? Sambil kuliah? Apa lagi ini? Astaga!

"Bergegaslah, Nyonya Hirasaki. Aku juga ingin segera pulang dan bertemu cucu-cucuku."

"Ayo, Suzu-chan! Kita harus mengasihani Akiyama-san." Lembut diraihnya tangan Suzuhara agar segera bangkit.

Walau masih tak mengerti, walau diliputi kebimbangan besar, walau banyak pertanyaan di dalam kepala, entah kenapa tubuhnya tak menolak ajakan pria berjas putih. Bahkan tak menampik tangan besarnya yang melesapkan tangan Suzuhara dalam genggaman. Meninggalkan kelakar untuk Akiyama—yang disambuti dengan dengkusan, mereka keluar bus. Tak menunggu sampai bus melaju, keduanya menjajaki trotoar ke arah barat dari halte di mana mereka tiba. Meski terasa ada yang berbeda, Suzuhara sangat ingat bahwa arah yang diambil memanglah jalan menuju rumahnya.

Rumah yang tak lagi memakai plakat Keluarga Tokio, melainkan Keluarga Hirasaki. Bahkan tertulis lengkap siapa saja yang tinggal di sana sehingga kolega dari siapa pun penghuni rumah tersebut akan dengan mudah menemukan satu dari sekian mereka yang dibutuhkan.

Hirasaki Ichiyo? Suzuhara Hirasaki? Sinohara Hirasaki? Maihara Hirasaki?

Ada empat nama yang tercetak dalam plakat. Tiga nama terakhir jelas menandakan bahwa mereka adalah bagian terdekat dari kepala keluarga bernama Hirasaki Ichiyo.

Kepala keluarga? Hirasaki ... Ichiyo? Tetapi, ini rumahku. Bagaimana bisa plakatnya berganti dari Tokio menjadi Hirasaki? Nama belakangku pun berganti menjadi Hirasaki. Tadi pun, si sopir bus menyebut kami sebagai Tuan dan Nyonya Hirasaki. Apa maksudnya ini? Aku tidak pernah merasa menikah dengan pria ini.

Kepalanya memang berisik oleh pertanyaan-pertanyaan yang anehnya tak satu pun disuarakan. Lebih aneh lagi saat tubuhnya tak menampik setiap kali disentuh, entah digenggam atau digamit. Seharusnya, dia memprotes karena pria asing memasuki rumah bahkan mengganti nama belakangnya lantas menambahi dua nama lain yang dia tidak kenal.

Siapa pria ini? Siapa si Hirasaki Ichiyo ini? Bagaimana aku tidak meneriakinya karena memasuki rumahku? Astaga! Sebenarnya aku kenapa? Aku ... di mana?

Yang Suzuhara ingat, dia pulang dari bekerja di Kedai Bir Ichinoya. Duduk sendirian di halte sembari mengudap beberapa buah gyoza pemberian Ichinoya-san. Sembari menunggu bus terakhir, ingatannya berlarian ke masa-masa lain. Satu hal yang paling terkenang adalah pertemuan dengan seorang pemuda berseragam salah satu sekolah khusus laki-laki di kotanya. Sekolah yang juga berdekatan dengan gedung SMP-nya. Sampai menjelang tengah malam, mereka di atap SMP Suzuhara lantas menontoni puluhan gugus bintang, terutama susunan tiga bintang paling terang pada musim panas yang mereka kenal sebagai Segitiga Musim Panas.

Ingatan masa lalunya selesai bersamaan datangnya bus terakhir. Bus dengan sopir yang untuk pertama kali menyapa begitu hangat. Dia duduk kemudian di bangku dua jejer. Memilih dekat jendela. Bus melaju yang perlahan-lahan membuatnya terkantuk. Di antara sadar dan tidak, dia seperti merasakan bus berhenti lalu masuk seseorang dengan pakaian putih. Selebihnya, dia tak tahu. Tak ingat apa pun. Tahu-tahu dibangunkan oleh suara dan usapan lembut di pipi; diberi tahu bahwa bus telah sampai ke tujuan mereka.

Yang terjadi selanjutnya, mereka sampai di kediaman dengan plakat bertuliskan Hirasaki Ichinoya sebagai kepala keluarga.

"Sepertinya, anak-anak sudah tidur." Suara pria itu menjeda keriuhan di kepala Suzuhara. "Bibi yang menjaga menulis pesan bahwa dia pulang tepat setelah Sino dan Mai tertidur. Ada gyoza dan kare yang disisakan Bibi untuk makan malam kita. Kau mau makan atau mandi dulu, Sayang?"

Selagi Suzuhara hanya mematung di ambang pintu ruang keluarga—menyambung dengan dapur dan ruang makan, pria itu telah melepas jas; menggulung kemeja cokelat yang dikenakan untuk kemudian memakai celemek; Menyalakan kompor dan memanasi kare serta gyoza buatan asisten rumah tangga dengan sistem pulang-pergi selama bekerja.

"Kare-nya sedikit pedas dengan banyak daging sapi tanpa lemak. Kesukaanmu, Sayang. Kutambahkan kentang, ya? Sepertinya, Sino dan Mai menghabiskan kentang dalam kare ini."

Apa yang pria itu bicarakan? Anak-anak? Sino? Mai? Anak-anak siapa? Kenapa dia selalu memanggilku dengan Sayang atau Suzu-chan? Dia ... siapa?

"Sayang?" Merasa suaranya diabaikan, pria itu berbalik. Membiarkan kompor menyala untuk merebus kembali kare yang telah ditambahi beberapa potongan kentang. Mendapati wajah pucat Suzuhara—yang tengah berpikir keras, bergegas dia mendekat. "Kau kenapa? Kau merasa tidak sehat? Mau beristirahat dulu?"

"Aku ... di mana?" Tergagap Suzuhara mencari tahu. Dia harus memecahkan kebingungan yang membelit atau kepalanya pecah oleh ketidakmengertian. "Kau ... siapa? Bagaimana bisa plakat Keluarga Tokio berubah menjadi Keluarga Hirasaki? Kenapa ... kenapa nama belakangku menjadi Hirasaki?"

Tak masalah dengan rentet pertanyaan Suzuhara, pria itu memasang senyum lembut. Senyum yang betul-betul manis sekaligus tulus bagi mata Suzuhara.

"Sayang, kita di rumah. Rumahmu yang menjadi rumah kita bersama setelah menikah. Kau bilang kau tidak ingin meninggalkan rumah ini, jadi aku yang mengalah pindah." Kedua tangannya menyentuh lembut kedua bahu Suzuhara. "Aku Hirasaki Ichiyo. Suamimu. Pria yang menikah dengan Suzuhara Tokio. Karena kau sudah menikah denganku, maka nama belakangmu berganti dari Tokio menjadi Hirasaki, mengikuti nama depanku."

"Menikah?"

Hirasaki mengangguk. Masih disertai senyum.

"Aku ... menikah denganmu?"

Lagi, Hirasaki mengangguk. Senyum masih tak luntur di bibirnya.

"B-bagaimana bisa? B-bagaimana kita ... bisa saling mengenal lalu menikah?" Tidak, tidak, tidak! Ini mustahil! Aku belum lulus SMA. Baru akan lulus musim semi tahun depan. Bagaimana bisa dia menyebut kami telah menikah?

"Ceritanya akan sangat panjang kalau kau ingin kembali mengenang masa-masa itu, Sayang." Ada keki yang terbit di wajah Hirasaki—bahkan telinganya bersemu merah. "Sebaiknya, kau bersih-bersih dulu selagi aku menyiapkan makan malam. Setelahnya, baru kita akan mengobrol tentang masa lalu. Bagaimana? Kau tampak kelelahan. Mandi air hangat akan membuat tubuhmu lebih nyaman."

Tubuhnya didorong dengan lembut untuk keluar dari ruang keluarga. Berpindah ke ruangan lain yang dia tahu merupakan kawasan mencuci, toilet, dan kamar mandi. Hal mengejutkan berikutnya terjadi. Di ruangan khusus kepentingan kakus itu, dia menemukan banyak foto tertempel, entah di dinding maupun cermin besar.

"Mandilah dengan nyaman. Tak usah terburu-buru, oke?"

Suzuhara mengangguk terpatah. Sepeninggal Hirasaki, alih-alih bergegas ke bak mandi, Suzuhara justru mendekati belasan lembar foto yang meramaikan dinding dan cermin. Foto-foto yang memuat dirinya, Hirasaki, dan dua bocah berbeda gender tetapi memiliki postur yang sama besar. Belum lagi, wajah mereka begitu mirip. Yang membedakan hanyalah warna rambut; si bocah lelaki memiliki warna rambut yang sama dengannya, sedangkan si bocah perempuan memiliki warna dan jenis rambut yang sama dengan Hirasaki. Menandakan bahwa gen-gen mereka seolah diturunkan kepada kedua bocah itu.

"Sepertinya, anak-anak sudah tidur." Menyusup kalimat Hirasaki ke dalam kepalanya.

Jika benar yang dikatakan Hirasaki perihal anak-anak, kedua bocah ini berarti anakku dan dia? Sino dan Mai? Sinohara dan Maihara?

Dia berhasil menemukan foto-foto dirinya dengan gaun pernikahan. Bersanding dengan Hirasaki yang tampan dan manis dengan balutan jas. Dalam satu deret, dia menemukan potretnya dengan berbagai kondisi terabadi: dia yang berperut buncit, dia yang meringis kesakitan di atas birthing ball, dia yang berada di ranjang persalinan, dia yang kemudian menggendong satu bayi berbedong kain warna biru dengan satu bayi lagi berbedong kain warna merah muda tergendong Hirasaki. Dalam setiap momen yang terabadi, sosok Hirasaki selalu ada di antara mereka. Hirasaki yang terkantuk-kantuk saat menidurkan bayi perempuan. Hirasaki yang sedang mengganti popok si bayi laki-laki. Bahkan, Hirasaki tak sungkan memasak sembari mengawasi kedua bayinya makan.

Potret keluarga yang sangat dia impikan. Keberadaan seorang pria yang tak cuma menjadi suami, tetapi ayah dari anak-anak mereka. Dari bagaimana anak-anak memberi pelukan kepada Hirasaki dalam foto-foto itu, Suzuhara bisa melihat seberapa besar peran pria itu di kehidupan para bocah—di kehidupan mereka.

"Aku ... menikah dengan lelaki sehangat dan seperhatian ini?" Dia usap foto pernikahannya dengan Hirasaki yang menampakkan senyum sangat lebar. Kentara sangat-sangat bahagia. Meski masih bingung, dia menyerah untuk mengingat lebih banyak. Memilih ke kamar mandi. Menyiapkan jakuzi dan mengisinya dengan air hangat. Mencampur garam mandi beraroma lavender dan mint yang seketika melegakan pernapasan serta merelaksasi otot-otot badan.

Ah, terserahlah! Aku tak ingin memusingkan sesuatu yang seperti ini. Barangkali, hidupku yang sebenarnya berada di sini.

Dia menyandar di pinggiran jakuzi. Membiarkan air hangat meremajakan. Menggiring sepasang matanya kembali memejam. Aroma lavender dan mint berhasil mendorong kembali Suzuhara memasuki alam mimpi.

🌻🌻🌻

Tarikan rem bus yang cukup kuat berhasil menyentakkan kesadaran. Dahinya bahkan tak terselamatkan akibat dorongan dari rem yang ditarik kasar—membentur punggung kursi di depannya sehingga mencipta pekik samar. Belum selesai dengan rasa sebal karena bus berhenti mendadak, suara sopir memberi tahu bahwa dia sudah bisa keluar. Bus berhenti di halte dekat perumahannya.

"Paman, kau mengerem sangat kasar. Dahiku sampai menyeruduk kursi di depanku." Sembari mengusap-usap dahi yang kemerahan, dia memprotes. Kantuknya telah benar-benar hilang. Sepasang matanya secerah matahari bulan Agustus. Saking sebalnya, dia sampai tak menyadari bahwa ada penumpan lain di bus yang sama dengan posisi duduk bersebarangan dengan kursinya.

"Maaf, Nona. Aku hampir menabrak kucing liar yang melintas. Kebetulan sekali tepat di halte kau seharusnya berhenti."

"Terima kasih sudah mengantarku. Semoga harimu menyenangkan dan tidak ada lagi kucing yang hampir tertabrak sehingga penumpang tidak menyeruduk kursi-kursi di depannya."

"Akan kuingat baik-baik pesanmu, Nona. Berhati-hatilah saat berjalan di tempat sepi."

Dia mengangguk. Bergegas keluar. Dibenahinya sweter sehingga angin musim gugur pada awal minggu tak menggigiti kulit. Mengambil arah ke selatan, dia meninggalkan halte di mana bus berhenti. Hampir berbelok ke arah kanan saat terdengar derap terburu-buru di belakang.

"Tunggu, Nona! Hei, tunggu! Kau meninggalkan ponselmu!"

Ponsel? Aku?

Dia berhenti. Mengecek saku sweter yang dijadikan tempat menyimpan ponsel. Tak ada. Benda berukuran 7 inci dengan layar pipih itu tak ada di sana. Dia lantas menoleh. Menemukan pria berjas putih dengan ransel tersampir di bahu kanan terengah-engah mendatangi.

"Kau meninggalkannya." Dia menyerahkan benda yang tentu saja sangat dikenali. Ponsel miliknya. "Sepertinya, kau tak sadar ketika ponselmu terjatuh akibat bus yang mengerem dadakan tadi."

"Maaf merepotkanmu." Dia menerimanya dengan kelegaan. Hidupnya akan kacau jika sampai ponsel itu menghilang bahkan tak ditemukan lagi. Siapa yang bisa menjamin sebuah ponsel jatuh di bus akan aman atau disimpankan, terlebih banyak rumor beredar belakangan bahwa wilayah kerja pengutil telah sampai ke transportasi-transportasi umum? "Eto ... harus dengan apa aku berterima kasih, hm ...."

Harus dia panggil apa pria yang telah menolongnya? Dia tak tahu sama sekali nama pria itu.

"Tidak perlu, Suzuhara-san. Aku hanya mengembalikan ponselmu. Bukan sesuatu yang besar."

"Kau ... tahu namaku?" Tatapan Suzuhara menelisik apa pun dari yang dipakai pria berjas putih di depannya. Menemukan kartu identitas terjepit di bagian saku dada. "Ichiyo ... -san?"

"Hirasaki Ichiyo. Panggil Hirasaki saja."

Hirasaki Ichiyo? Hm ... rasanya pernah mendengar nama itu? Di mana? Kapan? Hm ....

"Ayo kuantar kau sampai ke rumah. Tidak baik bagi seorang gadis berjalan sendirian pada hari segelap ini."

"Eh?" Suzuhara menatapi langkah Hirasaki. Tepat menuju ke kediamannya. Bukankah dia belum memberi tahu ke mana arah seharusnya yang mereka ambil?

"Ayo, Suzu-chan! Kau harus segera sampai ke rumah, bukan?"

Alih-alih mengekori, Suzuhara tak berkutik. Tercengang demi mendengar panggilan yang diberikan Hirasaki. Memanggil dengan sebutan nama depan bahkan diimbuhi -chan pada pertemuan pertama dua orang asing bukanlah hal sopan. Tidak seharusnya Hirasaki memanggil demikian. Seharusnya pula, Suzuhara merasa tidak nyaman bahkan mengomel. Namun, entah bagaimana, perasaannya baik-baik saja. Dia tak merasa tersinggung oleh panggilan Hirasaki kepadanya, seolah-olah mereka telah terbiasa melakukan itu.

"Suzu-chan!" Menggema panggilan Hirasaki yang telah beberapa langkah mendahului. Bergaya sangat santai sembari memegangi ransel di salah satu bahu.

"Iya! Aku menyusul!" Eh? Aku? Bagaimana ....

Langkahnya lebih dulu bergegas; Mendatangi Hirasaki; Berjalan di belakangnya tanpa suara. Membiarkan gemerisik dedaunan maple menjadi simfoni perjalanan pulang mereka.

🌻🌻🌻


Sabtu, 13 September 2025

Cuplikan "Ada yang Memang Sulit Dilupakan"

(Picture by Pinterest)

Momen Kedua

Dia mulai menjadi bagian dari hari-hariku.

🌼🌼🌼

Jadilah kami tontonan para ABG yang agaknya beberapa mulai terpesona oleh cowok cungkring di sampingku. Kalau boleh jujur, wajah si Raga ini tidak jelek-jelek amat. Cuma kalau dibandingkan dengan Kak Roki, meski punya bibit buaya darat, masih gantengan Kak Roki.

“Mau nyanyi sambil duduk atau berdiri?” tanya Kak Retha.

“Saya berdiri saja, Kak. Engap kalau nyanyi sambil duduk,” akuku. Fakta yang kualami memang seperti itu. Aku lebih cepat kehabisan napas kalau bernyanyi sambil duduk.

“Raga mau duduk?” tawar Kak Rosiana.

“Boleh, Kak.”

Kak Roki mengambil satu bangku, menyerahkan gitar ke Raga, dan membiarkan cowok itu duduk. Posisi kami yang seperti ini tampak sejajar. Ya ampun, betapa kuntetnya aku jika berdiri di samping si Raga.

“Talitha bisa lagu apa?” Pertanyaan Kak Roki mengembalikan alam bawah sadarku yang beberapa saat lalu melanglang buana.

“Lagu duet aja, Tha. Raga bisa nyanyi juga enggak?” Nuri yang duduk di bangku saf tengah, barisan kedua, kembali berceloteh.

“Bisa, kok.”

Aku menengok sedikit ke Raga yang tampak santai saja berdiri di depan kelas. Agaknya, cowok ini cukup punya jiwa narsis. Tidak tampak sama sekali demam panggung. Padahal, aku yang terbilang sering bernyanyi untuk upacara hari Senin saja masih merasa demam panggung kalau disuruh bernyanyi solo begini—enggak solo-solo amat, kan tadi si Nuri bloon minta kami duet.

My Heart aja. Yang Acha duet sama Irwansyah.” Rana mengusulkan.

“Enggak. Ribet bahasa Inggris-nya. Lidahku lidah Jawa banget.” Aku langsung menolak. Aksen Inggris-nya nanti agak medok kalau aku nyanyi itu.

Kak Roki menahan tawa.

Lucu memangnya ucapanku?

“Kalau gitu ... Pelengkap Hidupku. Eren sama Romi, tuh.” Suara Dimas yang kali ini menginterupsi.

Pelengkap Hidupku? Yang bagaimana liriknya? Hm ... ah, ya.

“Boleh. Raga hafal?” Aku menoleh ke Raga yang sejak tadi diam saja. Sama sekali tidak komen ini dan itu. Nih, anak mauan orangnya.

“Boleh. Lumayan hafal dan tau kuncinya.”

Lumayan dia bilang? Hm, tidak menjanjikan sekali jawabannya.

🌼🌼🌼

“Tha, Tha.” Nuri terbahak setelah jam nahas itu. Senang sekali dia melihat kawannya menderita demam panggung sampai salah lirik.

“Gara-gara kamu, 'kan?” Aku mendengkus. Sebal sekali.

“Buat Persami nanti jangan sampai salah lirik ya, Tha. Banyakin latihan sama Raga biar lebih enjoy pas hari H.” Begitu saran Kak Roki, sambil menahan tawa, sebelum keluar kelas.

Huf! Niat hati tidak ingin menjadi siswi yang menonjol, tetapi Nuri justru menjerumuskanku. Sudah bisa dipastikan, kandidat paling kuat kalau ada lomba nyanyi antarkelas pasti aku yang ditunjuk.

“Pas Persami nanti, aku enggak masuk saja, deh. Biar tahu rasa Gugus Peach ini.”

“Eh, jangan begitu, dong! Kok, balas dendam, sih? Kan, bagus juga buat kariermu ke depannya, Tha.” Nuri masih terkekeh di antara saran tidak masuk akalnya.

“Aku enggak pengen jadi penyanyi.” Kusandarkan tubuh di tiang koridor, sedangkan Nuri duduk di emperan taman mini yang memang disediakan setiap kelas.

“Iya, tau, tau. Mau jadi penulis, editor, syukur-syukur reporter.”

Aku menahan senyum. Nuri masih ingat rupanya dengan impian yang pernah kuberi tahu.

“Ganti personel enggak bisa apa? Kayaknya yang bisa nyanyi bukan aku saja, Nur.” Kalau ada kesempatan untuk berkelit, kenapa enggak?

“Ada sih yang bisa nyanyi, tapi mungkin enggak seenak suara kamu.” Nuri mengendik tak acuh.

“Bagaimana kalau kita diskusi lagi? Tanya lagi siapa yang mau tampil. Sumpah ya, Nuri. Aku malas tampil depan umum begitu.”

“Ya, coba saja. Cuma, aku enggak bisa jamin kalau mereka mau dengan sukarela tukeran tempat mengantikan you. Lagian, tampil doang enggak bikin mukamu bopeng, Tha. Kan, lumayan. Hadiahnya buat kelas kita nanti.”

“Masalahnya, kalau sampai salah lirik kayak tadi, gimana? Reputasiku yang ingin jadi siswi biasa-biasa saja bisa berubah. Nanti ada tagline: Talitha Si Gadis yang Lupa Lirik Saat Bernyanyi. Kan, enggak bagus banget.”

Nuri kembali terbahak. Nih, anak memang receh. Gampang banget buat menertawakan kesengsaraan orang.

“Ya, kamu latihanlah. Pulang MOS nanti kamu sama Raga latihan. Jangan langsung pulang.”

Artinya, aku harus izin dari jaga toko buku dan CD-nya Mbak Ginuk? Mau bagaimana lagi? Kalau sampai aku lupa lirik di hari H, tagline Talitha Si Gadis yang Lupa Lirik Saat Bernyanyi akan benar-benar menghantui sepanjang tiga tahun dunia putih abu-abuku.

“Suara kamu sudah bagus, Tha. Cuma perlu mempertajam ingatanmu dengan liriknya. Kamu juga enggak buta nada.” Tiana ikut nimbrung. Agaknya, gadis ini baru dari kantin karena tangannya menenteng banyak makanan.

“Betul, tuh. Udah, jangan banyak alasan. Pokoknya, kamu harus latihan untuk mempertajam ingatanmu tentang lirik. Nanti kita patungan buat uang makan kamu selama latihan.” Riska menaikturunkan alis.

Fiuh! Apa boleh buat.

🌼🌼🌼

Tadinya, aku meminta Nuri untuk menemani latihan. Namun, gadis itu memiliki segudang alasan untuk kabur. Meminta gadis yang lain pun sama saja. Mereka tidak setia kawan sama sekali. Meninggalkan temannya sendirian di sini. Ya, tidak sendirian. Kan, ada Raga. Cuma ... ya, bagaimana, ya?

“Ini bekal kalian selama latihan. Pokoknya, Talitha harus hafal lirik lagu yang mau dinyanyikan di Persami.” Akmal menaruh dua plastik hitam penuh isi di atas meja.

“Raga, bimbing Talitha. Kalian cuma latihan nyanyi doang loh, ya. Enggak selain itu.” Nuri mengingatkan setelah menaruh dua gelas plastik berisi es jeruk manis.

Aku mengernyit atas kalimat aneh gadis itu. Enggak selain itu ... maksudnya? Dia nih, pikirannya suka ke mana-mana, deh.

Sementara yang lain sibuk mengingatkan ini dan itu, Raga anteng saja di tempatnya. O, iya. Kami juga dipinjami gitar akustik oleh Kak Roki untuk latihan.

Kelas langsung sunyi setelah mereka keluar. Tinggal aku dan Raga. Pintu sengaja dibuka agar tidak mengundang gosip yang tidak-tidak.

Meski aku dan Raga duduk satu meja, tetapi kami jarang mengobrol. Kami seperti punya dunia sendiri-sendiri yang tidak perlu dimasuki orang lain. Pun aku tipe cewek yang tidak begitu bisa akrab dengan cowok, kecuali mereka yang membuka circle untukku.

“Jadi, mau lagu apa untuk acara Persami? Kayaknya, kamu kurang hafal dengan lagu tadi.” Raga memecah bisu. Syukurlah dia duluan yang bersuara.

“Sebentar, aku mikir dulu.” Iya, perlu mikir karena aku juga lupa lagu apa yang hafal di luar kepala. Harus lagu duet pula. Masalahnya, kalau diminta ingat, justru otak ini lupa. Perlu tanya Google-kah?

“Coba dengerin ini.” Raga menghampiriku yang sejak tadi duduk di meja Arui, tepat di depan menghadap papan tulis. Diselipkannya sebelah earphone ke salah satu telingaku.


Ucapkanlah kasih satu kata yang kunantikan

Sebab 'ku tak mampu membaca matamu, mendengar bisikmu

Nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu

Sebab 'ku tak sanggup mengartikan getar ini

Sebab 'ku meragu pada dirimu ....


Aku menoleh ke Raga. Cowok itu memejam sepanjang lagu bergema di telinga kami. Seperti sangat menikmati atau bahkan dia menyelam ke intisari lagunya? Jangan-jangan, cowok ini sedang jatuh cinta karena tampak ... seperti itu.

Daripada menikmati lagu, aku lebih menikmati ekspresi diam Raga yang mendengarkan lagu. Diam, tetapi seolah menyatu dengan setiap alunan musiknya. Aku seperti melihat sisi lain Raga yang tak pernah kutemui.

Sepanjang pertemuan awal kami, Raga tidak banyak bicara. Hanya bersuara seperlunya, bahkan kepadaku yang satu meja. Tidak banyak berbincang jika denganku, tetapi agaknya cukup akrab dengan beberapa teman cowok di kelas.

Seperti apa sebenarnya Raga? Apakah dia benar-benar menyukai musik?

“Mau lagu ini?”

“Hah?” Aku tersentak saat Raga menatapku. Sejak kapan dia terjaga dari menikmati lagu?

“Mau lagu ini, enggak?” ulangnya karena aku belum menjawab.

“Ah, boleh-boleh. Aku cari liriknya dulu.”

“Langsung catat aja. Aku dikte.”

“Eh?”

“Biar cepet. Buruan catet.”

“Ah, iya, iya.” Aku mengangguk-angguk. Ngikut sajalah daripada berantem nanti.

Setelah lirik selesai ditulis, kami pun mulai berlatih. Satu dua kali percobaan, aku masih saja salah lirik. Inilah kenapa aku tidak tertarik menjadi penyanyi meski suaraku—kata orang—bagus. Aku tidak bisa menghafal lirik dengan baik.

🌼🌼🌼

“Ayo kuantar pulang!” Raga menghentikan sepeda tepat di depanku.

Ini hari ketiga kami latihan. Demi tidak ingin mengecewakan Gugus Peach, kami memaksakan diri latihan sampai sore. Untung toko Mbak Ginuk lagi sepi, jadi tidak terlalu merepotkan kalau aku hanya bekerja beberapa menit sebelum toko tutup.

Sejak SMP, aku sudah bekerja di toko Mbak Ginuk untuk mendapat uang saku tambahan. Sebagian upah kuberikan ke Ibu untuk menambal kekurangan beli lauk, sebagian lagi aku simpan untuk keperluanku. Biasanya, tabungan hasil upah menjaga toko kubelikan novel-novel karya penulis favorit.

Eh, omong-omong. Kok, Raga mau nganterin?

“Enggak usah, Ga. Rumahku beda arah sama rumah kamu. Aku juga harus ke toko dulu. Masih ada beberapa menit sebelum tutup.”

“Toko?”

O, ya. Selain Nuri, anak-anak Gugus Peach tidak ada yang tahu kalau aku bekerja paruh waktu. Ya, untuk apa menebar berita tidak penting, 'kan?

“Ehm, itu ... toko tempatku kerja paruh waktu.”

Raga tampak mengangguk. “Jauh dari sini?”

“Enggak, sih.”

“Kalau rumahmu, jauh dari sini?”

“Lumayan. Tiga puluh menit jalan kaki.”

“Ya, udah. Ayok kuantar.”

Lah, malah keukeuh mau nganter? “Enggak usah, Ga. Dibilang beda arah.”

“Udah sore, Tha. Udah setengah enam. Udah mau gelap. Hayuk!” Raga menarik tanganku mendekati boncengan. “Naik.”

Ini beneran Raga? Eh, kesambet apa dia sehangat ini? Biasanya juga bodo amat, 'kan?

“Ye, malah bengong. Hayuk!” Tarikan tangan Raga membuatku makin mepet ke boncengan.

Terima enggak?

“Talitha Saraswati?”

“Eh, iya, iya.” Aku langsung naik ke boncengan. Eh, kok, nurut?

Jalanan menggelap. Ya, namanya jalan pedesaan. Kalaupun terang, itu efek lampu-lampu dari rumah warga. Jika memungkinkan, dalam beberapa bulan ke depan, katanya akan ada pemberian lampu jalan di jalan-jalan utama desa. Lumayanlah. Seandainya aku kebagian pulang sore, seperti sekarang, aku tidak perlu was-was karena jalanan cukup terang.

“Tha, di mana tokonya?” Suara Raga yang tersapu angin mampir di telinga.

“Masih lurus. Nanti ada spanduk Toko Buku dan CD Mbak Ginuk.”

“Oke.”

Sunyi lagi. Raga ini irit bicara. Jangan-jangan modelan Ji Hoo di F-Four, nih. Dingin-dingin perhatian.

Kami sampai di depan toko Mbak Ginuk.

“Kamu tunggu sini aja,” instruksi Raga saat aku turun dari boncengan.

“Loh? Kan, aku mau kerja.”

“Diam dan tunggu sini, oke?”

Seperti sihir, instruksi Raga tidak bisa dibantah—atau memang aku saja yang tidak mau beradu urat dengannya? Eh, tapi, kenapa dia memintaku menunggu di sini? Ish, mauan lagi si Talitha!

Setelah beberapa menit, Raga kembali keluar. “Yuk, pulang!”

“Hah?” Ih, keanehan apa, sih? Hari ini aku makan apa, sih? Eh, bukan aku, tapi Raga.

Raga yang kenapa.

“Aku udah izin ke Mbak Ginuk kalau hari ini kamu off. Besok-besok, kita latihan selesai lebih cepet biar enggak pulang kesorean.”

Aku hanya melongo mendengar ocehan Raga yang naik ke jok depan.

“Tha? Ayo, naik! Kok, malah bengong?”

Ini perlu diluruskan! Kondisi Raga yang seperti ini seperti bukan Raga. Dia pasti kesambet. Jangan-jangan, beneran ada hantu di sekolah itu mengingat bangunannya saja tua.

Aku berjalan lewat sisi lain dan berdiri di depan sepeda Raga, menatap penuh tuntut ke cowok yang duduk santai di jok sepeda berwarna oranye.

“Bilang ke aku, kamu kesambet apa? Kamu salah makan ya, tadi?” Aduh, anak orang ini. Kalau sampai kenapa-kenapa, entar aku yang disalahin.

“Kesambet?” Tatapan Raga cengo sesaat, tetapi hanya beberapa detik. Tawanya meledak sampai bahu cowok ikut terguncang.

Beneran kesambet dia. Aduh, mendadak merinding bulu roma.

“Tha, Tha. Makanya jangan kebanyakan nonton horor. Yuk, ah! Udah gelap banget.” Raga menekan pedal sehingga sepeda meluncur sedikit dan berhenti di sampingku.

“Enggak. Ini bukan Raga. Kamu siapa?”

Raga malah terkekeh. Ya ampun, aku serius ini. Kalau dia benar bukan Raga, aku harus apa?

Dia meraih sebelah tanganku dan menyentuhkan telunjuk ke pipinya. “Raga, 'kan?”

Mana aku tahu! Memangnya aku pernah nyentuh pipi dia sebelumnya?

“Tha, ini Raga. Beneran Raga, kok. Udah, yuk. Kebanyakan nonton film nih, kamu.” Raga kembali menarik tanganku untuk segera naik ke boncengan.

Dia ... beneran Raga Jiwa Asmarandana, 'kan?

🌼🌼🌼


100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  πŸ€πŸ€πŸ€ 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...