Mereka bersenang-senang. Sengaja tidak menunggang kereta sehingga setapak demi setapak jalanan Distrik Bulan Putih bisa mereka nikmati dengan perlahan. Sebagai yang besar di Erthura, hafal mati seluk-beluk ruas jalanan kota tersebut, Sanae berbangga hati menjadi pemandu bagi dua gadis kembar di sampingnya. Sigap menjelaskan saat Orphelia atau Orphana menanyai perihal toko-toko yang mereka lewati. Cekatan mencari kedai-kedai yang menarik perhatian, terutama si kembar. Tak sungkan memberi wejangan agar gadis-gadis yang dibawanya tidak tertipu mulut manis pemilik resto.
Adakala, Orphelia atau Orphana terhenti di beberapa butik dan toko kain dengan jendela kaca besar yang menampilkan beberapa koleksi terbaru untuk musim kali itu. Jiwa berbelanja mereka terpancing walau kemudian mundur teratur begitu membaca label harga yang tercantum.
"Upah dari Tuan Duke bisa habis seketika hanya untuk satu gaun. Aku bisa nelangsa sebulan penuh karena tidak bisa membeli ramen dan camilan, Nona Maid-chan." Memberengut wajah Orphana saat langkah mereka terpaksa meninggalkan butik yang terkenal akan desain-desain gaun indah sekaligus tidak ramah harga.
"Tidak ada salahnya mengorbankan jatah ramen dan camilanmu untuk sebuah gaun indah, Orphana."
"Tidak, Nona Maid-chan." Orphana menggeleng dengan sangat yakin. "Lagi pula, gaun seindah itu tak akan pernah kupakai. Mau dipakai untuk apa, memang? Aku hanya maid. Tidak akan pernah menghadiri acara-acara yang mengharuskan kepemilikan gaun semacam itu."
"Hmm ...."
Yang dipikirkan Orphana cukup benar. Secara sosial, seorang maid tidak akan ke mana-mana. Hanya menghuni rumah untuk melakukan pelayanan. Sekalipun menghadiri sebuah acara, kostum mereka tetaplah kostum maid. Sangat jarang para bangsawan membolehkan maid mereka menggunakan gaun indah selain kostum maid saat menemani tuan maupun nyonya ke sebuah acara sosial.
Sanae tak lagi mendebat. Alibi Orphana sangat masuk akal. Demi mengurai muram yang sempat mampir di wajah rekan maid-nya, Sanae membawa mereka kembali berkeliling. Tidak lupa mengunjungi butik Pharina. Meski tak sama kualitas, gaun-gaun di butik kenalannya itu cukup sama indah dengan keluaran butik ternama di kota mereka yang mana harga beli justru lebih terjangkau. Keputusan yang segera disambut binar bahagia di sepasang mata Orphana.
"Jangan sungkan mencobai gaun-gaun yang kalian suka, Nona-nona." Pharina menyadari ketertarikan kedua gadis lebih muda yang dibawa Sanae.
"Sungguh kami boleh mencobai yang mana pun, Nyonya Pharina?" Gantian Orphelia yang antusias. Kendati tak setertarik saudari kembarnya terhadap dunia mode, Orphelia tetap tersedot keindahan gaun-gaun di butik Pharina yang memiliki harga lebih terjangkau. Bagi seorang maid, seberapa banyak koin yang mereka keluarkan untuk memenuhi ego konsumtif sangatlah harus diperhitungkan.
"Tentu saja, tentu saja, Nona-nona." Pharina sampai menahan tawa saat melihat betapa ketertarikan nona-nona yang dibawa Sanae terpancar tanpa tertutup-tutupi.
Mengantongi izin pemilik butik, Orphelia dan Orphana mulai berkeliling ruangan; memasang awas kepada deretan gaun-gaun yang sebagian besar sangat cocok untuk dipakai saat musim kemarau. Memilih beberapa dengan warna-warna yang saling bertolak belakang: Orphelia cenderung menyukai pakaian-pakaian dengan warna cerah, sedangkan Orphana memilih beberapa gaun dengan warna lebih lembut.
Sementara kedua teman seperjalanannya mencobai beberapa gaun, Sanae diajak Pharina memasuki sebuah ruangan kecil yang dia tahu biasa digunakan pemilik butik untuk menyimpan hasil jadi pakaian-pakaian pesanan. Sanae ingat bahwa masih ada beberapa potong pakaian Rhisiart yang belum dia ambil tempo hari karena masih proses penyelesaian.
"Apakah pesananku selesai, Nyonya?" Sanae melongoki rak yang tepat di depannya.
"Tepat sekali. Tadinya, aku akan meminta seorang pegawai untuk mengantarnya ke mansion kalian. Beruntung karena kau yang datang ke sini sehingga aku tidak perlu repot menyuruh pegawai butik." Pharina mengeluarkan helai-helai pakaian dari salah satu rak lantas memasukkannya ke keranjang rotan dengan permukaan sangat halus. "Kaubawa sekarang, bukan?"
"Tentu." Sanae menerima uluran keranjang dari tangan Pharina. "Kasihan tuanku karena tidak punya banyak pakaian untuk berganti. Dia sangat tidak peduli dengan penampilan padahal telah menjadi petinggi kota."
"Seperti Duke Ryonswald saat muda." Pharina membenahi lebih dulu beberapa helai pakaian jadi yang berantakan untuk kemudian membimbing Sanae keluar; bergabung kembali dengan Si Kembar yang telah menenteng beberapa helai gaun. "Jika bukan karena istrinya yang sangat cerewet terhadap dunia mode, barangkali Duke Ryonswald akan memakai pakaian yang sama untuk bekerja dan bertemu kolega pada hari yang sama."
Sanae menahan senyum. Jika ada yang meyakinkan dari Rhisiart bahwa dia betulan putra kandung Ryonswald, beberapa kebiasaan mereka memang serupa. Mungkin, wajah mereka pun seiras. Sanae tak yakin karena tak terlalu mengingat bagaimana wajah mendiang duke. Sekalipun besar di Erthura, belasan tahun dalam kepemimpinan Ryonswald Hywel, Sanae sangat jarang bertemu tatap dengan sang petinggi kota. Kendati dalam beberapa kesempatan pihak duke kerap mengadakan pertemuan dengan Elora atau meminta Elora menemuinya di kantor pejabat kota, Sanae kerap mangkir dari ajakan; membiarkan gadis lain dari Rumah Maid Bunga Tulip untuk menggantikan. Dia sendiri akan kabur ke pinggiran hutan untuk berlatih bela diri dengan seseorang.
Karena masih ingin mengunjungi tempat-tempat lain, Sanae mengingatkan agar Orphelia dan Orphana tidak berlama-lama setelah menemukan gaun dengan desain yang sesuai isi kantong mereka. Berkat kebaikan dan kedekatan Pharina dengan Sanae, Pharina memberikan potongan harga atas gaun-gaun yang dibawa pulang si gadis kembar. Mencipta cengiran lebar sepanjang jalan di wajah Orphelia maupun Orphana.
"Besok-besok, aku akan menjadikan butik Nyonya Pharina sebagai toko langganan untuk gaun-gaunku. Lihatlah, Nona Maid-chan! Gaun seindah ini boleh ditukar hanya dengan beberapa keping perunggu. Berbeda sekali dengan harga di butik-butik sebelumnya. Padahal, kualitas kain dan jahitan dari butik Nyonya Pharina tidak kalah bagus dan rapi."
"Butik-butik yang kita kunjungi sebelumnya memang menyasar kaum bangsawan, Orphelia. Mereka tak segan meninggikan harga, terlebih butik mereka sering diliput media-media cetak yang cukup ternama. Terkadang, harga sebuah produk meninggi bukan saja dari kualitas, tetapi dari nama yang keberadaannya telah melanglang ke sana kemari; dari promosi-promosi yang kerap memakai model-model profesional."
"Ah, aku mengerti!" Orphana menjentikkan jari setelah menemukan titik terang di dalam kepalanya. "Pantas saja banyak lukisan model terkenal yang menempeli butik-butik itu. Mereka memang dibayar untuk mempromosikan, ya?"
"Kau pintar, Anak Muda."
Cengiran melebar di wajah Orphana karena pujian Sanae.
Perjalanan mereka belum berakhir. Lepas dari deretan butik, Sanae mengajak kedua gadis yang lebih muda mengunjungi dereta toko barang-barang antik; beberapa di antaranya merupakan toko perhiasan yang telah berdiri sangat lama. Lagi-lagi, sepasang mata Orphelia dan Orphana termanjakan oleh banyaknya perhiasan dalam etalase. Dari emas sampai paladium. Dari permata sampai berlian. Lengkap menjejali toko-toko di salah satu ruas jalan Distrik Bulan Putih.
Asyik menyelami keramaian, tenggelam dalam lautan arus penduduk, membuat ketiganya tak menyadari bahwa mendung perlahan menyambangi horizon Kota Erthura. Merangkak kian pekat untuk kemudian merintik tepat ketika ketiga gadis milik mansion Rhisiart Hywel keluar dari Distrik Bulan Putih. Sanae yang menyadari pertama kali bahwa hujan siap menyapa Erthura lekas meminta Orphelia dan Orphana mempercepat urusan di sana.
"Bukankah lebih baik kalau kita berteduh saja, Nona Maid-chan? Kurasa ... hujannya akan sangat deras ... dan lama." Sempat Orphana mendongak; mencoba meramal cuaca di atas kepala. Sepengalamannya, mendung yang tiba di Erthura hari itu menandakan hujan kerap datang dengan deras dengan durasi yang akan lama.
"Sudah cukup petang, Orphana. Kita harus sudah di rumah sebelum Duke Muda pulang."
Alasan Sanae terdengar meyakinkan sehingga dua gadis yang mengekori langkahnya hanya mengangguk-angguk. Namun, bukan saja perkara Rhisiart yang akan segera pulang. Ada hal lain yang membuatnya tidak ingin terlibat dengan guyuran air langit. Jika bisa dihindari, secepat mungkin akan dia hindari. Dia tak bisa membiarkan tubuhnya dicumbui deras hujan.
Sialnya, perjalanan pulang mereka terjegal oleh kemunculan segerombolan pria berbadan kekar dengan golok-golok besar terpanggul di bahu. Seringai kepuasan terarah kepada Sanae. Dari sikap yang ditunjukkan, Sanae tahu bahwa mereka memang menunggu kemunculannya. Barangkali pula, perjalanan mereka hari itu telah dipantau oleh kelompok tersebut. Kelompok yang dia yakini merupakan bandit bayaran seorang bangsawan, meski entah bangsawan mana dan siapa.
Sadar bahwa ada dua gadis yang tidak bisa bertarung, Sanae menjadi tembok bagi Orphelia dan Orphana. Berdiri paling depan. Menatap nyalang kepada pria-pria berwajah bengis yang bila dihitung lebih dari sepuluh kepala. Bukan lawan yang sulit, tetapi Sanae perlu berhati-hati agar serangan mereka tak menyasar kepada Orphelia dan Orphana. Lebih bagus lagi, sebelum pertarungan meletus, kedua gadis itu pergi lebih dulu. Dia harus mencari cara agar keduanya bisa kabur.
"Jadi, kaulah si bocah ingusan yang telah mengganggu kebijakan bangsawan kami? Di mana pasangan suami-istri nahas itu? Mereka harus kembali!" Lelaki paling kekar yang berdiri paling depan menceracau dengan sesekali meludah.
Kendati beberapa penduduk lalu-lalang, mereka tak berani ikut campur. Tentu saja. Siapa pula yang ingin babak belur padahal tahu juga tidak perkara yang sedang dihadapi ketiga gadis dengan gerombolan pria berbadan kekar?
Pasangan suami-istri? Ah, sadarlah Sanae akan topik yang membuat gerombolan pria tengik itu mencegat jalan pulang mereka. Pastilah bangsawan yang pernah menjadi majikan Carloz dan Amritha yang menyuruh mereka menghabisi dirinya. Kelompok sebelumnya sudah dibuat kocar-kacir pun tidak memberi jera kepada mereka.
"Aku akan meladeni kalian dengan sebuah syarat." Sanae melirik Orphana yang sudah menempel ketat kepada Orphelia. Geli bercampur khawatir. Biar bagaimanapun, mereka tetaplah gadis yang belum dewasa benar. Pernah disekap lantas dijadikan budak barangkali menjadi trauma tersendiri setiap kali bertemu dengan orang-orang yang memiliki rupa sekelas bandit bayaran.
Sebelum menanggapi, pria berbadan kekar yang berdiri paling depan dari gerombolannya meludah. Mengangkat sebelah alis. Tanpa sungkan menampakkan ekspresi meremehkan. "Tidak ada untungnya memenuhi syarat yang kauajukan, Nona."
Guntur menggelegar di atas kepala. Mengagetkan tupai yang tengah mengumpulkan kenari. Membuat kambing-kambing terbirit-birit dari padang rumput di dekat sungai untuk bergegas masuk kandang sebelum bulu-bulu berharga mereka basah oleh gerimis yang perlahan menderas.
Sanae menatap jeri gulungan abu-abu yang mengumpul di langit Erthura, tepat di atas kepalanya. Alih-alih cemas karena harus menghadapi belasan bandit, dia lebih khawatir akan derasnya gerimis. Merasa mulai tak nyaman saat sebagian gaun maid-nya telah basah.
"Kukalahkan lima dari orangmu maka kau harus menyetujui syaratku." Sanae menunjuk beberapa pria di belakang si pria dengan bekas luka di hidung. "Hanya melawanku. Jangan sekali-sekali menyentuh gadis-gadis di belakangku. Bagaimana?"
Pria dengan bekas luka di hidung mencermati sejenak pengajuan Sanae. "Tidak buruk. Anggap sebagai jaminan bahwa hidangan yang kauberikan akan memuaskan kami."
"Kalian mundurlah!" Diikuti gerakan tangan, Sanae meminta agar gadis di belakangnya mencari jarak aman.
"K-kau yakin akan menghadapi mereka sendirian, Nona Maid-chan?" Meski tidak sepenakut Orphana, Orphelia tetap merasa jeri kala melihat hunusan golok para bandit yang mencegat mereka.
"Kalian tenang saja. Hanya belasan bandit bukanlah hal besar. Puluhan pemanah profesional saja bisa kuhabisi dalam semalam." Sanae bersiap. Merogoh senjata yang tersimpan di saku dalam celemek.
Ya, celemek. Kendati tidak sedang melayani tuannya, Sanae tetap berpakaian maid. Tidak meninggalkan celemek kesayangannya di mana belasan shuriken maupun kunai menghuni bagian saku. Ah, dia perlu berterima kasih kepada Pharina karena telah membuatkan celemek dengan banyak saku sehingga senjatanya lebih mudah dibawa ke mana-mana.
Bersama dengan hujan yang menderas, guntur yang bertalu-talu, serta kilat yang merobeki langit Erthura, lesatan shuriken dan kunai Sanae mencumbui dada, dahi, bahkan tangan dari pria-pria berbadan kekar yang menjadi menu pembuka pertarungan mereka.
🌷🌷🌷