Rabu, 13 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kedua Puluh Satu

🌷🌷🌷

Mereka bersenang-senang. Sengaja tidak menunggang kereta sehingga setapak demi setapak jalanan Distrik Bulan Putih bisa mereka nikmati dengan perlahan. Sebagai yang besar di Erthura, hafal mati seluk-beluk ruas jalanan kota tersebut, Sanae berbangga hati menjadi pemandu bagi dua gadis kembar di sampingnya. Sigap menjelaskan saat Orphelia atau Orphana menanyai perihal toko-toko yang mereka lewati. Cekatan mencari kedai-kedai yang menarik perhatian, terutama si kembar. Tak sungkan memberi wejangan agar gadis-gadis yang dibawanya tidak tertipu mulut manis pemilik resto.

Adakala, Orphelia atau Orphana terhenti di beberapa butik dan toko kain dengan jendela kaca besar yang menampilkan beberapa koleksi terbaru untuk musim kali itu. Jiwa berbelanja mereka terpancing walau kemudian mundur teratur begitu membaca label harga yang tercantum.

"Upah dari Tuan Duke bisa habis seketika hanya untuk satu gaun. Aku bisa nelangsa sebulan penuh karena tidak bisa membeli ramen dan camilan, Nona Maid-chan." Memberengut wajah Orphana saat langkah mereka terpaksa meninggalkan butik yang terkenal akan desain-desain gaun indah sekaligus tidak ramah harga.

"Tidak ada salahnya mengorbankan jatah ramen dan camilanmu untuk sebuah gaun indah, Orphana."

"Tidak, Nona Maid-chan." Orphana menggeleng dengan sangat yakin. "Lagi pula, gaun seindah itu tak akan pernah kupakai. Mau dipakai untuk apa, memang? Aku hanya maid. Tidak akan pernah menghadiri acara-acara yang mengharuskan kepemilikan gaun semacam itu."

"Hmm ...."

Yang dipikirkan Orphana cukup benar. Secara sosial, seorang maid tidak akan ke mana-mana. Hanya menghuni rumah untuk melakukan pelayanan. Sekalipun menghadiri sebuah acara, kostum mereka tetaplah kostum maid. Sangat jarang para bangsawan membolehkan maid mereka menggunakan gaun indah selain kostum maid saat menemani tuan maupun nyonya ke sebuah acara sosial.

Sanae tak lagi mendebat. Alibi Orphana sangat masuk akal. Demi mengurai muram yang sempat mampir di wajah rekan maid-nya, Sanae membawa mereka kembali berkeliling. Tidak lupa mengunjungi butik Pharina. Meski tak sama kualitas, gaun-gaun di butik kenalannya itu cukup sama indah dengan keluaran butik ternama di kota mereka yang mana harga beli justru lebih terjangkau. Keputusan yang segera disambut binar bahagia di sepasang mata Orphana.

"Jangan sungkan mencobai gaun-gaun yang kalian suka, Nona-nona." Pharina menyadari ketertarikan kedua gadis lebih muda yang dibawa Sanae.

"Sungguh kami boleh mencobai yang mana pun, Nyonya Pharina?" Gantian Orphelia yang antusias. Kendati tak setertarik saudari kembarnya terhadap dunia mode, Orphelia tetap tersedot keindahan gaun-gaun di butik Pharina yang memiliki harga lebih terjangkau. Bagi seorang maid, seberapa banyak koin yang mereka keluarkan untuk memenuhi ego konsumtif sangatlah harus diperhitungkan.

"Tentu saja, tentu saja, Nona-nona." Pharina sampai menahan tawa saat melihat betapa ketertarikan nona-nona yang dibawa Sanae terpancar tanpa tertutup-tutupi.

Mengantongi izin pemilik butik, Orphelia dan Orphana mulai berkeliling ruangan; memasang awas kepada deretan gaun-gaun yang sebagian besar sangat cocok untuk dipakai saat musim kemarau. Memilih beberapa dengan warna-warna yang saling bertolak belakang: Orphelia cenderung menyukai pakaian-pakaian dengan warna cerah, sedangkan Orphana memilih beberapa gaun dengan warna lebih lembut.

Sementara kedua teman seperjalanannya mencobai beberapa gaun, Sanae diajak Pharina memasuki sebuah ruangan kecil yang dia tahu biasa digunakan pemilik butik untuk menyimpan hasil jadi pakaian-pakaian pesanan. Sanae ingat bahwa masih ada beberapa potong pakaian Rhisiart yang belum dia ambil tempo hari karena masih proses penyelesaian.

"Apakah pesananku selesai, Nyonya?" Sanae melongoki rak yang tepat di depannya.

"Tepat sekali. Tadinya, aku akan meminta seorang pegawai untuk mengantarnya ke mansion kalian. Beruntung karena kau yang datang ke sini sehingga aku tidak perlu repot menyuruh pegawai butik." Pharina mengeluarkan helai-helai pakaian dari salah satu rak lantas memasukkannya ke keranjang rotan dengan permukaan sangat halus. "Kaubawa sekarang, bukan?"

"Tentu." Sanae menerima uluran keranjang dari tangan Pharina. "Kasihan tuanku karena tidak punya banyak pakaian untuk berganti. Dia sangat tidak peduli dengan penampilan padahal telah menjadi petinggi kota."

"Seperti Duke Ryonswald saat muda." Pharina membenahi lebih dulu beberapa helai pakaian jadi yang berantakan untuk kemudian membimbing Sanae keluar; bergabung kembali dengan Si Kembar yang telah menenteng beberapa helai gaun. "Jika bukan karena istrinya yang sangat cerewet terhadap dunia mode, barangkali Duke Ryonswald akan memakai pakaian yang sama untuk bekerja dan bertemu kolega pada hari yang sama."

Sanae menahan senyum. Jika ada yang meyakinkan dari Rhisiart bahwa dia betulan putra kandung Ryonswald, beberapa kebiasaan mereka memang serupa. Mungkin, wajah mereka pun seiras. Sanae tak yakin karena tak terlalu mengingat bagaimana wajah mendiang duke. Sekalipun besar di Erthura, belasan tahun dalam kepemimpinan Ryonswald Hywel, Sanae sangat jarang bertemu tatap dengan sang petinggi kota. Kendati dalam beberapa kesempatan pihak duke kerap mengadakan pertemuan dengan Elora atau meminta Elora menemuinya di kantor pejabat kota, Sanae kerap mangkir dari ajakan; membiarkan gadis lain dari Rumah Maid Bunga Tulip untuk menggantikan. Dia sendiri akan kabur ke pinggiran hutan untuk berlatih bela diri dengan seseorang.

Karena masih ingin mengunjungi tempat-tempat lain, Sanae mengingatkan agar Orphelia dan Orphana tidak berlama-lama setelah menemukan gaun dengan desain yang sesuai isi kantong mereka. Berkat kebaikan dan kedekatan Pharina dengan Sanae, Pharina memberikan potongan harga atas gaun-gaun yang dibawa pulang si gadis kembar. Mencipta cengiran lebar sepanjang jalan di wajah Orphelia maupun Orphana.

"Besok-besok, aku akan menjadikan butik Nyonya Pharina sebagai toko langganan untuk gaun-gaunku. Lihatlah, Nona Maid-chan! Gaun seindah ini boleh ditukar hanya dengan beberapa keping perunggu. Berbeda sekali dengan harga di butik-butik sebelumnya. Padahal, kualitas kain dan jahitan dari butik Nyonya Pharina tidak kalah bagus dan rapi."

"Butik-butik yang kita kunjungi sebelumnya memang menyasar kaum bangsawan, Orphelia. Mereka tak segan meninggikan harga, terlebih butik mereka sering diliput media-media cetak yang cukup ternama. Terkadang, harga sebuah produk meninggi bukan saja dari kualitas, tetapi dari nama yang keberadaannya telah melanglang ke sana kemari; dari promosi-promosi yang kerap memakai model-model profesional."

"Ah, aku mengerti!" Orphana menjentikkan jari setelah menemukan titik terang di dalam kepalanya. "Pantas saja banyak lukisan model terkenal yang menempeli butik-butik itu. Mereka memang dibayar untuk mempromosikan, ya?"

"Kau pintar, Anak Muda."

Cengiran melebar di wajah Orphana karena pujian Sanae.

Perjalanan mereka belum berakhir. Lepas dari deretan butik, Sanae mengajak kedua gadis yang lebih muda mengunjungi dereta toko barang-barang antik; beberapa di antaranya merupakan toko perhiasan yang telah berdiri sangat lama. Lagi-lagi, sepasang mata Orphelia dan Orphana termanjakan oleh banyaknya perhiasan dalam etalase. Dari emas sampai paladium. Dari permata sampai berlian. Lengkap menjejali toko-toko di salah satu ruas jalan Distrik Bulan Putih.

Asyik menyelami keramaian, tenggelam dalam lautan arus penduduk, membuat ketiganya tak menyadari bahwa mendung perlahan menyambangi horizon Kota Erthura. Merangkak kian pekat untuk kemudian merintik tepat ketika ketiga gadis milik mansion Rhisiart Hywel keluar dari Distrik Bulan Putih. Sanae yang menyadari pertama kali bahwa hujan siap menyapa Erthura lekas meminta Orphelia dan Orphana mempercepat urusan di sana.

"Bukankah lebih baik kalau kita berteduh saja, Nona Maid-chan? Kurasa ... hujannya akan sangat deras ... dan lama." Sempat Orphana mendongak; mencoba meramal cuaca di atas kepala. Sepengalamannya, mendung yang tiba di Erthura hari itu menandakan hujan kerap datang dengan deras dengan durasi yang akan lama.

"Sudah cukup petang, Orphana. Kita harus sudah di rumah sebelum Duke Muda pulang."

Alasan Sanae terdengar meyakinkan sehingga dua gadis yang mengekori langkahnya hanya mengangguk-angguk. Namun, bukan saja perkara Rhisiart yang akan segera pulang. Ada hal lain yang membuatnya tidak ingin terlibat dengan guyuran air langit. Jika bisa dihindari, secepat mungkin akan dia hindari. Dia tak bisa membiarkan tubuhnya dicumbui deras hujan.

Sialnya, perjalanan pulang mereka terjegal oleh kemunculan segerombolan pria berbadan kekar dengan golok-golok besar terpanggul di bahu. Seringai kepuasan terarah kepada Sanae. Dari sikap yang ditunjukkan, Sanae tahu bahwa mereka memang menunggu kemunculannya. Barangkali pula, perjalanan mereka hari itu telah dipantau oleh kelompok tersebut. Kelompok yang dia yakini merupakan bandit bayaran seorang bangsawan, meski entah bangsawan mana dan siapa.

Sadar bahwa ada dua gadis yang tidak bisa bertarung, Sanae menjadi tembok bagi Orphelia dan Orphana. Berdiri paling depan. Menatap nyalang kepada pria-pria berwajah bengis yang bila dihitung lebih dari sepuluh kepala. Bukan lawan yang sulit, tetapi Sanae perlu berhati-hati agar serangan mereka tak menyasar kepada Orphelia dan Orphana. Lebih bagus lagi, sebelum pertarungan meletus, kedua gadis itu pergi lebih dulu. Dia harus mencari cara agar keduanya bisa kabur.

"Jadi, kaulah si bocah ingusan yang telah mengganggu kebijakan bangsawan kami? Di mana pasangan suami-istri nahas itu? Mereka harus kembali!" Lelaki paling kekar yang berdiri paling depan menceracau dengan sesekali meludah.

Kendati beberapa penduduk lalu-lalang, mereka tak berani ikut campur. Tentu saja. Siapa pula yang ingin babak belur padahal tahu juga tidak perkara yang sedang dihadapi ketiga gadis dengan gerombolan pria berbadan kekar?

Pasangan suami-istri? Ah, sadarlah Sanae akan topik yang membuat gerombolan pria tengik itu mencegat jalan pulang mereka. Pastilah bangsawan yang pernah menjadi majikan Carloz dan Amritha yang menyuruh mereka menghabisi dirinya. Kelompok sebelumnya sudah dibuat kocar-kacir pun tidak memberi jera kepada mereka.

"Aku akan meladeni kalian dengan sebuah syarat." Sanae melirik Orphana yang sudah menempel ketat kepada Orphelia. Geli bercampur khawatir. Biar bagaimanapun, mereka tetaplah gadis yang belum dewasa benar. Pernah disekap lantas dijadikan budak barangkali menjadi trauma tersendiri setiap kali bertemu dengan orang-orang yang memiliki rupa sekelas bandit bayaran.

Sebelum menanggapi, pria berbadan kekar yang berdiri paling depan dari gerombolannya meludah. Mengangkat sebelah alis. Tanpa sungkan menampakkan ekspresi meremehkan. "Tidak ada untungnya memenuhi syarat yang kauajukan, Nona."

Guntur menggelegar di atas kepala. Mengagetkan tupai yang tengah mengumpulkan kenari. Membuat kambing-kambing terbirit-birit dari padang rumput di dekat sungai untuk bergegas masuk kandang sebelum bulu-bulu berharga mereka basah oleh gerimis yang perlahan menderas.

Sanae menatap jeri gulungan abu-abu yang mengumpul di langit Erthura, tepat di atas kepalanya. Alih-alih cemas karena harus menghadapi belasan bandit, dia lebih khawatir akan derasnya gerimis. Merasa mulai tak nyaman saat sebagian gaun maid-nya telah basah.

"Kukalahkan lima dari orangmu maka kau harus menyetujui syaratku." Sanae menunjuk beberapa pria di belakang si pria dengan bekas luka di hidung. "Hanya melawanku. Jangan sekali-sekali menyentuh gadis-gadis di belakangku. Bagaimana?"

Pria dengan bekas luka di hidung mencermati sejenak pengajuan Sanae. "Tidak buruk. Anggap sebagai jaminan bahwa hidangan yang kauberikan akan memuaskan kami."

"Kalian mundurlah!" Diikuti gerakan tangan, Sanae meminta agar gadis di belakangnya mencari jarak aman.

"K-kau yakin akan menghadapi mereka sendirian, Nona Maid-chan?" Meski tidak sepenakut Orphana, Orphelia tetap merasa jeri kala melihat hunusan golok para bandit yang mencegat mereka.

"Kalian tenang saja. Hanya belasan bandit bukanlah hal besar. Puluhan pemanah profesional saja bisa kuhabisi dalam semalam." Sanae bersiap. Merogoh senjata yang tersimpan di saku dalam celemek.

Ya, celemek. Kendati tidak sedang melayani tuannya, Sanae tetap berpakaian maid. Tidak meninggalkan celemek kesayangannya di mana belasan shuriken maupun kunai menghuni bagian saku. Ah, dia perlu berterima kasih kepada Pharina karena telah membuatkan celemek dengan banyak saku sehingga senjatanya lebih mudah dibawa ke mana-mana.

Bersama dengan hujan yang menderas, guntur yang bertalu-talu, serta kilat yang merobeki langit Erthura, lesatan shuriken dan kunai Sanae mencumbui dada, dahi, bahkan tangan dari pria-pria berbadan kekar yang menjadi menu pembuka pertarungan mereka.

🌷🌷🌷


Maid-chan: Pelayanan Kedua Puluh

🌷🌷🌷

Kegemparan terjadi di kantor kepemerintahan Kota Erthura. Beberapa pejabat daerah yang tidak memenuhi standar tugas dari Rhisiart mendapat surat pemberhentian. Barangkali, separuh lebih pejabat berhasil disingkirkan Rhisiart dari kursi kepemerintahan. Gelombang protes segera memenuhi alun-alun gedung. Jika saja Rhisiart tidak membawa Bandit Pedang Hitam, huru-hara tak hanya lewat suara. Berkembang menjadi kekacauan dan pengrusakan infrastrutur.

"Kau bahkan sudah memprediksi bahwa protesan mereka akan terjadi, Duke Muda." Lewat jendela di kantor Rhisiart, Orhamel hanya memperhatikan kerusuhan di luar. Merasa tidak perlu turun tangan karena toh, anak buah yang dibawanya telah lebih dari cukup membuat mereka hanya menggonggong tanpa melempari kaca jendela dengan batu atau menggedor-gedor pintu dengan batang kayu.

"Tidak akan ada yang suka kucuran dananya dibendung, Orhamel." Sembari sibuk mengeceki sisa nama pejabat kota, Rhisiart menanggapi. "Mulai sekarang, mereka harus bekerja keras demi memenuhi bukan saja lumbung gandum dan padi, tetapi gengsi berpesta pora khas bangsawan elite. Selama ini, mereka tak pernah berlelah-lelah bekerja memperbaiki kualitas kota, tetapi dana dari pajak tidak pernah berkurang. Sudah saatnya mereka merasakan pagi dan sore berkeringat mencari pundi-pundi koin."

"Kau jauh lebih kejam dari mendiang ayahmu, Duke Muda." Lewat obrolan beberapa malam lalu saat Orhamel bertemu Sanae di dapur mansion, mereka mengobroli banyak hal, salah satunya keterikatan Rhisiart dengan duke sebelumnya. Meski berada di Erthura, pinggiran Erthura yang mana info-info terkait kota masih bisa didengar, nyatanya Orhamel tak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu. Baginya, cukup mengetahui bangsawan mana yang nakal, barulah dia akan bertindak. Urusan yang tidak menghasilkan uang bagi kelompok mereka, Orhamel acuh tak acuh.

"Seseorang berkata kepadaku agar aku menunjukkan dominasi kepada mereka yang tidak melihat taring dan cakarku. Jangan menunjukkan sedikit pun belas kasih atau aku sendiri yang akan diterkam."

"Menyerang lebih dulu memang bisa diandalkan dari sekadar bertahan." Orhamel beranjak. Mengambil duduk di sofa besar tanpa sungkan bahkan menyandarkan kedua kakinya ke atas meja. "Jadi, apa tugasku hari ini, Duke Muda? Tidak mungkin hanya ini, bukan?"

Rhisiart mengangkat tumpukan kertas yang selesai diperiksa. "Daftar aset pejabat yang harus kausita, Orhamel."

"Wow!" Meski bukan hal baru bagi dunia Orhamel, mendapati setumpuk kertas berisi info aset dari pejabat-pejabat bermasalah tetaplah mengejutkan sekaligus mendebarkan. "Pantas saja Erthura berjalan di tempat. Entah bagaimana, penduduk menengah ke bawah tidak banyak bicara saat hak mereka kurang terpenuhi sebagai warga kota."

"Diam bukan berarti tidak mempermasalahkan." Ditempelkannya punggung ke sandaran kursi lantas menguruti pelipis demi mengurangi denyutan nyeri. Rhisiart tak pernah benar-benar suka bekerja di ruangan tertutup. Pengap walau ruang kerjanya hampir sama besar seperti kamar di mansion. Suntuk walau jendela-jendela besar dibiarkan terbuka demi masuknya angin segar setiap waktu. Dia butuh sesuatu ... atau barangkali seseorang untuk menemani hari kerjanya yang padat. Di sana. Di ruang kerja dari gedung kepegawaian kota. Bukan hanya di mansion.

"Dari beberapa penduduk di Distrik Malam Biru, mereka malas menuntut ini dan itu karena toh pejabat-pejabat itu terlalu bebal. Aku tidak mengerti kenapa Ryonswald tak banyak mengambil langkah padahal tentu saja tahu bahwa anak buahnya bermasalah."

Gerakan kedua bahunya menjadi tanggapan protesan Orhamel. "Penjelasannya terkubur bersama tulang-belulang mantan duke di kedalaman tanah."

"Yang jelas, setelah kejadian hari ini, mansion-mu akan menjadi sasaran bandit-bandit kelas teri suruhan pejabat nakal. Barangkali juga, ibu tirimu akan ambil bagian untuk menyingkirkanmu. Orang-orangnya telah tersingkir dari kursi kepemerintahan. Akan sangat memengaruhi faksi mantan duchess."

"Mereka tidak akan mudah menyentuhku, Orhamel. Tidak untuk kedua kali."

"Heh?" Menjeling mata Orhamel demi mendengar kalimat Rhisiart walau tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya senyum yang pemuda itu imbuhkan demi meredam keingintahuan sang kapten Bandit Pedang Hitam.

🌷🌷🌷

Dia telah menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan kamar sang tuan. Tidak lagi terlihat selimut terserak di atas lantai. Pakaian yang selesai digunakan pun tidak bertebaran, entah di sofa atau nakas. Buku-buku maupun kertas-kertas dikembalikan ke tempat asal. Botol tinta terisi ulang, penuh dan siap digunakan kapan pun. Gelas maupun poci kosong telah diantar ke ruang cuci untuk kemudian diganti dengan yang baru. Sebelum matahari berada tepat di atas kepala, urusannya telah benar-benar rampung.

Usai mengecek sekitaran mansion, langkahnya mendekati dapur. Alih-alih mendapati si kembar Orphana dan Orphelia berjibaku dengan bahan dan alat memasak, dia menemukan kedua gadis berusia lima belas tahun itu tengah bergantian menggoyang ayunan kayu di mana bayi mungil berjenis kelamin perempuan terlelap. Barangkali, sejuk angin yang melewati jendela terbuka di dapur membuat suasana tidur si bayi kian nyaman.

"Dia terlihat nyaman tidur di sini." Dihampirinya si gadis kembar yang selalu antusias setiap kali menjaga si bayi perempuan. Kentara bahwa keduanya sangat menyambut baik, menerima dengan suka rela saat dirinya mengabarkan bahwa tuan mereka mengizinkan pasangan suami dan istri dengan bayi perempuan itu menjadi bagian dari mansion.

"Serena justru sangat menyukai jika ayunannya diletakkan di tempat dengan banyak angin, Nona Maid-chan." Bergerak tangan Orphelia mengusapi pipi bayi perempuan yang diberi nama Serena itu. "Nona tahu sendiri kalau kemarau di Erthura masih belum pergi. Tidur dengan serbuan angin sepoi-sepoi menjelang siang tentulah jauh lebih nyaman daripada terperangkap di kamar."

"Bukankah jendela di kamar mereka juga bisa dibuka?" Ditemukannya Orphelia dan Orphana menggerakkan kedua bahu.

"Bibi Amritha sedang mencuci saat Serena tidur, sedangkan kami tadi sedang membersihkan halaman belakang. Daripada tidak ada yang menjaga, kami mengusulkan agar ayunan Serena dibawa saja ke dapur sehingga kami bisa sekaligus mengawasi selagi Bibi mencuci."

"Terima kasih sudah mau membantuku menjaganya, Orphana, Orphelia." Muncul perempuan dengan gurat lelah meski memasang senyum lebar begitu sepasang matanya bertumbukan dengan mata hijau zaitun dari wanita yang berdiri di ujung ayunan putrinya. "Dia memang suka tidur dengan kondisi yang sejuk, Maid-chan. Saat Orphana dan Orphelia bilang agar membawa saja ayunannya ke dapur, aku justru terbantu. Dari tempat mencuci, aku masih bisa mengawasi boks ayunannya."

"Kalau Bibi Amritha tidak mengawasi pun, aku dan Orphelia akan dengan senang hati melakukannya." Diberinya cengiran lebar kepada perempuan yang perlahan dia anggap seperti bibi sendiri. Seolah, keberadaan keluarga ataupun kerabat yang sempat lenyap dari kehidupannya--kehidupan mereka--tergantikan oleh pertemuan dengan wanita yang dipanggil Maid-chan. Telah dipunyainya seorang kakak perempuan, seorang kakak laki-laki, seorang adik bayi menggemaskan, serta sepasang orang tua.

Amritha tersenyum diikuti anggukan. Dia tahu bahwa gadis kembar itu akan selalu mau membantu menjaga bayi perempuannya.

"Kau sudah memasak untuk makan siang, Orphelia?"

"Baru mau kulakukan, Maid-chan." Orphelia beranjak dari sisi kanan ayunan Serena. "Kauingin makan sesuatu? Mau dibuatkan makanan khusus? Apakah Tuan Duke akan pulang untuk makan siang?"

Sanae menggeleng diiringi senyum lebar. "Tidak, Orphelia. Dia tidak akan pulang. Sudah ada yang mengurus makanan di kantor. Ya, semoga saja dia tidak diracun. Seharusnya, selain menjadi 'perampas' aset pejabat nakal, Orhamel bisa dipinta untuk mengecek makanan dari kantin kantor pejabat kota; ada atau tidak adanya racun yang dikhususkan untuk Duke Muda."

Mendengar bahwa tuannya bisa saja menghadapi bahaya, tak pelak Orphelia terbelalak. "Kau bersungguh-sungguh, Maid-chan? Tuan Duke ... diracun? O, astaga! Apakah mulai besok kubawakan bekal saja untuk Tuan Duke agar makan siangnya tidak perlu dihantui racun?"

Dikibas-kibasnya tangan ke udara. "Tidak perlu, Orphelia. Duke Muda tidak sebodoh itu, kurasa. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya."

"Tetapi ...."

"Tenang saja. Dia sosok yang tangguh. Pria yang hebat. Tidak akan semudah itu mencelakainya." Sanae mengacungkan ibu jari. "Nah, karena Duke Muda akan pulang petang, kau tidak perlu banyak memasak. Aku justru ingin mengajakmu dan Orphana berkeliling Erthura. Ada banyak kedai makanan di Distrik Bulan Putih yang harus kalian coba. Sejak kemari, kalian belum mengambil jatah libur padahal Duke Muda sudah memberi keleluasan sehingga kalian bisa libur kapan saja."

"Benar juga." Orphelia bergaya bak detektif yang serius berpikir; berpose dengan mengusap-usap dagu. "Karena banyak yang harus dibersihkan dan diberesi dari mansion ini, kami jadi lupa berlibur."

"Sepertinya, kita memang perlu pergi, Orphelia." Mendengar ajakan Sanae, Orphana mulai tergiur. "Selain melihat-lihat Erthura, kita juga perlu membeli beberapa perlengkapan pribadi. Kau tidak ingat kalau kita hanya punya beberapa potong gaun?"

Orphelia mengangguk-angguk.

"Ditambah ... Nona Maid-chan, Hakaza bilang kalau ramen di resto mereka adalah yang paling terkenal di Erthura. Bisakah nanti kita mampir? Aku ... ingin mencicipi makan ramen langsung di resto."

Demi melihat rona malu-malu Orphana, Sanae tak bisa menahan tawa. Gelegarnya nyaris membangunkan Serena jika saja tidak disadarkan oleh 'sssttt' Orphelia.

"Mari kunjungi banyak tempat seru dan resto-resto enak di Distrik Bulan Putih selagi Duke Muda belum pulang, Nona-nona." Dirangkulnya Orphana yang memang berdiri bersisian dengannya. "Sebelum itu, kalian siapkan makan siang untuk Paman Carloz dan Bibi Amritha agar mereka tidak kelaparan selagi kita bersenang-senang di luar."

"Kami ... kami bisa mengurus makan siang kami sendiri, Maid-chan. Kalian tidak perlu repot-repot memasaknya." Amritha angkat bicara setelah merasa sungkan bahwa mereka masih memikirkan dirinya dan suaminya padahal ingin bergegas menikmati keramaian di luar.

"Tidak, tidak, tidak." Berkacak pinggang Orphelia sembari menghadap Amritha. "Memasak untuk seluruh penghuni mansion adalah tugas kehormatan bagiku, Bibi. Bibi tidak boleh mengambilnya. Lagi pula, kami tidak buru-buru. Memasak untuk porsi makan Paman dan Bibi tidak akan menyita waktu."

Amritha ingin kembali memprotes saat kode tangan Sanae dimengertinya untuk diam. Menghela napas, Amritha hanya bisa membungkuk sekaligus berterima kasih karena mereka benar-benar mengurus dirinya dan Carloz. Hidup yang sempat tidak baik-baik saja, dibalut kemiskinan berkepanjangan, terempas setelah pertemuan mereka dengan Rhisiart dan Sanae. Tidur mereka telah lebih nyaman berbalut selimut dan ranjang yang hangat di salah satu kamar sebuah mansion megah--kamar yang bahkan seharusnya dihuni oleh kaum bangsawan alih-alih rakyat jelata. Makan dan minum mereka terjamin karena sang duke memberlakukan kesetaraan yang mana menu makan disamakan antara milik sang tuan dengan para maid. Kekhawatiran akan seperti apa masa depan si bayi perempuan perlahan-lahan terempas. Selama mereka bekerja dengan si Duke Muda, setia membersamai kepemimpinannya, hidup mereka terjamin baik-baik saja.

Haru mengerubung di sepasang mata Amritha setiap kali mengingat telah banyak hal baik menghampiri keluarga kecilnya.

"Lagi pula, ibu menyusui harus banyak istirahat dan makan makanan yang lezat serta sehat." Sanae menghampiri Amritha lantas menggenggam kedua tangannya. "Nyonya tidak perlu merasa sungkan. Biarkan Orphelia memanjakan Nyonya dengan masakannya agar proses menyusui Serena berjalan dengan baik. Aku pernah mendengar bahwa ibu yang menyusui harus selalu bahagia agar air susunya sehat dan deras."

"Aku ... tidak tahu harus membalas dengan apa lagi atas kebaikanmu dan Tuan Duke, Maid-chan."

"Jangan pikirkan tentang bagaimana cara membalas budi karena yang aku dan Duke Muda lakukan bukan untuk meminta balas budi Nyonya. Jika ada yang ingin Nyonya lakukan setelah kami membantu, barangkali cukup dengan tunjukkan bahwa Nyonya, Tuan Carloz, dan Serena hidup dengan lebih bahagia."

"Siapa pun akan merasa hidupnya terbahagiakan jika tinggal dengan kalian, Maid-chan."

"Nah, itu sudah cukup untuk membalas budi kepada kami."

Mereka sama-sama tersenyum. Beranjak mendorong boks ayunan Serena saat sorot matahari semakin terik ke arah si bayi perempuan yang tetap nyenyak walau orang dewasa di sekitarnya sibuk berbincang. Sesekali saja mengulet atau mengerang untuk kemudian kembali tenang. Barangkali, suara pisau beradu telanen atau desisan minyak saat menggoreng ikan sudah seperti lagu nina bobo di telinganya.

Tak sampai satu jam, Orphelia menyelesaikan tugas. Stok makanan dan camilan untuk Carloz maupun Amritha tersimpan di bawah tudung saji. Dia tidak akan lagi kepikiran bahwa orang yang menjaga rumah akan kelaparan saat langkahnya menyusuri keramaian Erthura, terutama Distrik Bulan Putih, bersama Sanae dan Orphana.

"Kami berangkat, Bibi!"

Kepergian ketiganya dilepas senyum bahagia Amritha.

🌷🌷🌷


Maid-chan: Pelayanan Kesembilan Belas

🌷🌷🌷

"Apa yang ingin Ibu lakukan setelah ini? Jangan langsung tidur setelah makan. Tabib bilang, sistem pencernaan akan mudah terganggu jika kita langsung tiduran setelah makan." Iloi mengerling. Sengaja membangun kelakar sehingga Permaisuri Celdara terhibur oleh keberadaannya.

"Ibu senang kau menghabiskan banyak waktu dengan Ibu belakangan bahkan selalu makan di tempat Ibu. Kau tidak ingin menyapa ayahmu?"

"Barangkali, jika bukan karena paksaan atau urusan kekaisaran, aku lebih memilih menjauh dari Ayah. Toh, dia sudah punya mainan baru." Iloi tak sudi memanggilnya sebagai selir bahkan menggunakan kata gundik pun masih terlalu sopan bila disematkan kepada sosok semacam gadis yang dibawa ayahnya yang dia yakin hanya berdasar nafsu semata, bukan pertimbangan kepemerintahan.

"Karen, kau bisa bereskan mejanya. Kurasa, kami sudah selesai." Sembari membersihkan mulut dengan selembar saputangan khusus makan, Permaisuri meminta gadis pelayan yang menunggui mereka merampungkan tugas. "Kau masih mau makan sesuatu?"

Iloi menggeleng. "Aku sudah kenyang, Bu. Sup ayam buatan Elodi malam ini sangat lezat. Sangat cocok dimakan saat angin malam berembus lebih dingin."

"Elodi sangat tahu harus menyajikan menu apa untuk cuaca atau udara yang bagaimana."

"Jadi, apa yang ingin Ibu lakukan setelah ini?"

"Bagaimana kalau berjalan-jalan sebentar? Meski udara agak dingin, langitnya sangat cerah. Kita bisa menontoni ratusan rasi bintang musim kemarau."

Iloi beranjak, mendekati kursi yang diduduki Permaisuri, lantas berlutut sembari menjulurkan tangan. "Dengan senang hati, putra ibu satu-satunya ini akan menemani."

Tanpa sungkan, Permaisuri menyambut uluran tangan Iloi. Bersama keduanya keluar dari ruang makan. Taman Istana Permaisuri menjadi tujuan untuk menikmati keindahan langit malam musim kemarau. Di belakang mereka, gadis pelayan bernama Karen menyusul setelah memberesi meja makan.

"Ah, Iloi." Hampir mereka memasuki gerbang taman Istana Permaisuri saat langkah Permaisuri lebih dulu berhenti. "Sepertinya, Ibu ingin ke tempat lain. Bersediakah kau menemani Ibu ke sana?"

"Ke mana pun Ibu mau." Iloi membungkuk dengan salah satu tangan di depan dada dan tangan lain di belakang punggung sebagai tanda hormat.

Permaisuri tersenyum. Menggandeng kembali tangan Iloi. Mengarahkan langkah mereka ke sebuah bangunan di sebelah barat daya taman Istana Permaisuri. Bangunan yang di mata Iloi tidak seharusnya masih berdiri karena tampak usang, tidak terawat, dengan tanaman liar merambati setiap dinding.

"Sejak kapan bangunan ini ada, Bu?" Iloi membantu Permaisuri mengangkat bagian gaun yang sempat tersangkut ranting pohon. Sebuah pohon liar yang tidak dia tahu namanya. Tumbuh sangat subur dengan ranting yang sangat rapat; menjalar ke mana-mana.

"Sejak lama. Bahkan sudah ada sebelum kau lahir, Iloi." Permaisuri justru tampak tidak peduli dengan gaun yang sering tersangkut ranting, yang bisa saja menimbulkan robekan. "Dulu, Ibu dan pamanmu sering memasuki bangunan ini. Banyak sekali buku-buku kuno yang bisa kami baca. Bangunan ini didirikan atas permintaan nenek kami. Leluhurmu."

Iloi mengangguk-angguk. Mengekor saja kepada Permaisuri yang terampil melangkah di antara rumput maupun gulma yang meninggi. Sedikit jeri saat membayangkan bahwa bisa saja beragam hewan melata mengintai kaki mereka.

"Sejak nenekmu meninggal dan Ibu menikah, Ibu jarang berkunjung ke tempat ini. Barangkali yang masih mampir saat itu adalah bibimu. Ibu dengar, dia seorang wanita yang sangat suka membaca. Suka mengeskplorasi hal-hal yang menarik. Ibu bisa membayangkan bagaimana antusiasnya dia saat menemukan tempat ini."

Iloi menjadi pendengar yang baik. Membiarkan sang ibu menceritakan bagaimana kehidupan masa remajanya bersama tempat yang memuat puluhan rak dengan ratusan atau barangkali ribuan buku yang dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri. Setidaknya, ada sepotong kehidupan yang masih baik-baik saja dari hidup sang ibu setelah apa yang perempuan itu lalui belakangan.

Atas segala hal yang dilakukan ayahnya, Iloi tak pernah satu suara. Dia sangat menentang, harus menentang, tapi butuh waktu untuk bisa menggulingkan sang ayah yang duduk sebagai Kaisar saat itu. Harus ada rencana matang. Harus ada pilihan yang kuat sehingga penggulingan Kaisar bisa diterima semua kalangan.

"Jika ada pilihan untuk tidak berperang dengan orang sendiri, lebih baik kita menempuh jalur tersebut walau butuh waktu yang lama, Iloi. Jangan korbankan rakyat untuk sesuatu yang bisa kita siasati tanpa berperang. Satu hal paling memungkinkan adalah menemukan penerus takhta sah atas kursi kaisar, yakni keturunan dari kaisar sebelumnya yang tidak lain adalah anak pamanmu."

"Bagaimana Ibu yakin kalau Paman memiliki anak? Bukankah selama ini Paman tidak pernah menunjukkannya? Bahkan, keberadaan Permaisuri terdahulu pun kerap Paman hindarkan dari konsumsi publik. Aku pernah mendengar bahwa sebelum ditemukan tewas, Permaisuri terdahulu tidak tinggal di istana."

"Ada banyak yang tidak suka dengan kepemimpinan pamanmu karena kepentingan pribadi mereka terusik sehingga menggunakan berbagai cara untuk menyingkirkan orang-orang yang dicintai pamanmu, termasuk Permaisuri dan bayi mereka, Iloi. Sebelum pergi mengasingkan diri, Ibu sempat bertemu dengan bibimu. Kami sempat berbincang cukup lama. Walau dia tidak bercerita apa pun, Ibu tahu bahwa saat itu dia sedang mengandung. Barangkali jika bayi mereka hidup, usianya tak jauh berbeda denganmu. Hanya berjarak dua atau tiga tahun kelahiran, Iloi. Ibu bisa membedakan mana perempuan yang sedang hamil dan tidak."

Iloi hanya bisa mendukung, berusaha meyakini, bahwa yang dijelaskan ibunya masuk akal. Itulah yang menjadi sebab Iloi berusaha sekeras mungkin memenuhi keinginan Permaisuri untuk menemukan keturunan sah garis kekaisaran yang tidak lain anak kandung kaisar dan permaisuri sebelumnya.

"Kemarilah, Iloi!" Panggilan Permaisuri menarik kesadaran Iloi untuk kembali bergabung dengan apa yang sedang mereka jelajahi.

Iloi mendekati Permaisuri yang sudah beberapa langkah di depannya. Tanpa lampu, mereka tak kesulitan melangkah di ruang tertutup karena siraman cahaya bulan dari jendela besar tak bertirai. Didapatinya Permaisuri berdiri di depan rak besar yang berada di bagian paling belakang. Sedikit lebih menempel dengan tembok daripada puluhan rak lainnya. Sebuah peletakkan yang janggal di mata Iloi.

Bukan barisan buku yang ingin diperlihatkan Permaisuri. Bukan kotak-kotak berisi kertas maupun pena usang yang ingin dipamerkan kepada putra semata wayangnya. Melainkan, sebuah jalan rahasia yang terbuka setelah Permaisuri menekan salah satu buku. Jelas rak dan dinding yang mereka hadapi memang didesain untuk menjadi pintu sebuah ruangan yang barangkali dimaksudkan untuk orang-orang tertentu di istana.

"Ibu, ini ...."

Permaisuri mengangguki kalimat tak lengkap putranya.

🌷🌷🌷

Untuk pertama kali setelah diangkat menjadi duke, Rhisiart mendatangi kantor dinas kepegawaian yang merupakan tempat di mana para bangsawan terpilih menjadi bagian pejabat kota. Kedatangan yang mengundang huru-hara karena Rhisiart muncul tidak sendiri, melainkan bersama Orhamel dan beberapa anggota Bandit Pedang Hitam. Bukan saja nama yang dibawa, tetapi penampilan Bandit Pedang Hitam yang tidak segan menunjukkan senjata membuat belasan bangsawan meringis jeri.

"Ho ho ho! Lihat siapa yang datang hari ini? Apakah hujan akan mendadak turun dari langit yang cerah?"

Langkah Rhisiart dan Bandit Pedang Hitam terhadang kedatangan seorang pria paruh baya dengan tampilan sangat mencolok. Hanya melihat pakaian yang menempel di tubuhnya saja Rhisiart tahu bahwa lelaki paruh baya itu merupakan bangsawan kelas atas. Bukan saja kalimat sambutan yang terdengar menggelikan bagi telinga Orhamel, tetapi tatapan meremehkan yang terarah jelas kepada mereka.

"Lewat data yang kami kumpulkan, setidaknya ada setengah dari pejabat Kota Erthura yang berada di bawah kendali mantan duchess. Mereka masuk ke golongan Faksi Kaisar di mana mantan duchess tentulah menjadi satu dari sebagian orang kepercayaan Kaisar. Sayangnya, pejabat-pejabat dalam rengkuhan mantan duchess kerap bermasalah. Mencopot jabatan yang mereka pangku saat ini akan mengirim anggapan bahwa kita berada di kubu Permaisuri."

Pemaparan Orhamel pada rapat sebelumnya menyelip di ingatan Rhisiart. Kendati tidak ingin memihak siapa pun di antara pecah kongsi kekaisaran, melihat bagaimana pejabat-pejabat tak bermartabat berkeliaran bebas di tanah kelahirannya, Rhisiart semakin tergiring untuk mendukung Iloi.

"Aku tidak lagi bisa memercayai kepemimpinan ayahku, Rhisiart. Jika Erthura mau mendukung Faksi Permisuri, aku akan sangat berterima kasih. Erthura adalah salah satu kota dengan sumber daya yang sangat diperhitungkan kekuatannya. Kalian memiliki orang-orang dari Distrik Orang Timur dan Distrik Malam Biru yang kudengar bukan penduduk biasa. Akan sangat membantu jika mereka, digerakkan olehmu, mau bergabung dengan Faksi Permaisuri."

"Selamat pagi, Tuan Viliuz." Meski tak menyukai gaya menyapa dari lelaki di hadapannya, Rhisiart berusaha tetap menyapa dengan sopan. "Maaf jika duke baru ini baru mendatangi kantor pejabat kota. Ada banyak hal yang harus dia persiapkan sehingga kedatangannya kemari akan menjadi hal baru, hal yang membantu lebih banyak penduduk Erthura walau harus muncul lebih lambat dari seharusnya."

Melihat ketenangan dari duke baru di hadapannya, geraman tertahan di wajah Viliuz. Mimik yang terbaca bukan saja oleh Rhisiart, tetapi Orhamel dan beberapa anggota Bandit Pedang Hitam yang ikut masuk--sebagian berjaga di luar.

"Sebagai orang baru yang bahkan kedatangannya tidak disangka-sangka, kau harus menunjukkan dominasi wibawamu kepada mereka yang melihatmu dengan tatapan meremehkan, Rhisy. Kau tidak perlu melunak ataupun sopan kepada mereka yang membencimu terang-terangan. Melihat latar belakang kehidupanmu, jelas akan ada pecah kubu di kantor pejabat kota. Kubu yang selama ini bernaung di bawah rengkuhan mantan duchess akan menjadi yang paling menyiratkan ketidaksukaannya kepadamu."

Rhisiart menahan senyum demi mendengar petuah gadis pelayannya saat mereka hanya berdua di kamar demi mempersiapkan penampilan istimewa hari itu.

"Sangat wajar jika anak muda sepertimu akan sangat syok mendapati beban kerja sekelas mengatur perkembangan sebuah kota sebesar Erthura. Tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa karena kami bisa mengendalikan selagi kau belum siap."

Di samping Rhisiart, Orhamel menggeretakkan gigi demi melihat tampang sok bijak Viliuz. Dia telah banyak bertemu orang, bertemu pejabat, sehingga cukup mampu membaca bahwa yang diperlihatkan Viliuz adalah bentuk meremehkan.

Dengan gerakan tangan yang samar, Rhisiart berusaha meredam kekesalan lelaki besar di sampingnya. "Akan sangat membantu jika pejabat-pejabat kota bekerja sesuai ranah yang telah ditetapkan. Sayangnya, duke baru ini menerima banyak sekali keluhan dari penduduk Erthura terkait pengembangan kota dari berbagai segi."

Entah apa yang lucu, tetapi Viliuz tergelak demi mendengar penuturan Rhisiart. "Halah! Penduduk banyak mau. Sudah bagus kami bantu membangun apa yang mereka butuhkan."

Ingin sekali Orhamel menendang bokong Viliuz. Namun, lagi-lagi Rhisiart memberi kode agar mereka menahan diri. Toh, tidak sampai satu jam, mereka akan mengeluarkan beberapa pejabat dari jajaran kepemerintahan kota.

"Baiklah, Tuan Viliuz. Matahari semakin tinggi maka sudah seharusnya jam kerja dimulai." Memasang wajah tenang, Rhisiart tetap melebarkan senyum demi menghadapi kepongahan bangsawan di hadapannya. "Ah, ya. Kalau bisa aku meminta tolong, sebelum kita bekerja menyelesaikan masalah Erthura, aku ingin mengumpulkan seluruh pejabat di aula. Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian terkait sistem kepemerintahan selama aku yang menjabat sebagai duke. Jadi, tolong kumpulkan mereka di aula, Tuan Viliuz."

Tak menunggu tanggapan Viliuz, Rhisiart meminta Orhamel dan beberapa anggota Bandit Pedang Hitam yang ikut masuk untuk mengikuti langkahnya menuju ruang khusus duke. Saat melewati Viliuz, Orhamel menggerakkan tangan di leher; memeragakan posisi orang menggorok disertai senyum culas. Berharap Viliuz menyadari bahwa mulut angkuhnya akan terbungkam hari itu.

Di tempatnya, Viliuz menahan geram sepanjang melepas kepergian sang duke baru berikut para pengawalnya.

🌷🌷🌷


Minggu, 10 Agustus 2025

Maid-chan: Pelayanan Kedelapan Belas

🌷🌷🌷

Segalanya menjadi lebih ramai. Mansion mereka tidak lagi hanya diisi empat kepala. Satu pekan setelah malam di mana Rhisiart beradu minum bir dengan Orhamel, berbondong-bondong kelompok Bandit Pedang Hitam mendatangi mansion. Mencipta cengiran lebar di wajah Sanae saat menemukan Orhamel dan anak buahnya berpakaian lebih rapi walau senjata masih menghiasi pinggang maupun punggung. Paling tidak, Sanae tak hanya mengandalkan Orphelia dan Orphana untuk memberesi sisa ruangan yang masih terbengkalai.

"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu, Maid-chan." Orhamel lebih dulu menukas. Bisa membaca ekspresi Sanae bahwa gadis pelayan yang bukan sekadar gadis pelayan itu ingin sekali melempar selorohan.

"Kau ... cukup cocok memakai pakaian seperti itu, Orhamel." O, ayolah! Kapan lagi melihat Orhamel mengenakan sesuatu yang menutupi seluruh otot tubuhnya? Sependek ingatan Sanae, mengenal mereka selalu dengan hanya memakai rompi dan celana katun ala kadarnya yang terkadang hanya diganti beberapa hari sekali. Padahal jika mau, mereka bisa membeli sebanyak-banyaknya pakaian dengan koin-koin hasil rampasan yang dia yakin masih belum habis.

"Aku sungguh sial beradu minum dengan bocah tengik itu." Bukan tidak tahu bahwa yang mengajaknya adu minum adalah seorang duke muda sehingga cara bicaranya sangat tidak formal. Toh, pemuda itu sendiri yang meminta agar mereka tidak perlu sungkan, tidak perlu pula tunduk kepada perintahnya, asalkan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah di Erthura.

"Kau akan punya kehidupan yang lebih teratur, Orhamel." Sanae sungguh-sungguh memuji. "Jatah makanmu ditanggung pemilik mansion. Kau pun mendapat upah sesuai tugas yang diberikan. Belum lagi, mengingat usiamu tidak lagi muda, mengurangi terpapar angin malam akan sangat baik untuk kesehatan."

Orhamel berdecih. Walau diutarakan dengan nada berseloroh, yang dibilang Sanae ada benarnya. Barangkali, yang terjadi hari itu merupakan balasan Langit setelah apa yang mereka lakukan untuk Erthura bertahun-tahun belakangan.

"Nah, sebelum kalian melakukan tugas yang diberikan Duke Muda, kalian harus membantu kami memberesi ruangan-ruangan dalam mansion. Masih banyak yang belum dibersihkan dan dirapikan. Jadi, mohon bantuannya!" Sanae membungkuk.

"Mohon bantuannya, Paman Orhamel!" Menyusul Orphelia dan Orphana mengikuti yang dilakukan Sanae.

"Pa-Paman?"

Tawa meledak dari anak buah Bandit Pedang Hitam. Selain oleh panggilan gadis kembar yang terdengar imut saat menggunakan kata 'Paman' kepada Orhamel, mimik yang dimunculkan Orhamel menjadi pendukung bahwa mereka tak lagi bisa menahan gelak.

"Berisik! Cepat kalian beresi apa yang perlu diberesi di mansion tua ini!" Orhamel mendengkus sembari mendahului mereka melangkah. "Astaga! Semiskin apa si duke muda sampai-sampai hanya mampu membeli mansion tua nan reyot ini, heh?"

Masih sembari cekikikan, belasan anak buah Orhamel mengekor. Dengan dipandu Orphelia dan Orphana, mereka memulai pembersihan masal bagian dalam mansion. Dibagi menjadi beberapa kelompok kecil agar pekerjaan selesai bersamaan. Sesekali, gerak tangan mereka dicelotehi si kembar; berbuah decakan maupun dengkusan.

"Paman Aston, kau harus membersihkan dari atas dulu. Lihat! Kalau kaubersihkan plafonnya belakangan, lantai yang sudah disapu akan kotor kembali. Buang-buang tenaga. Nona Maid-chan bilang, tidak efisien. Kau harus bersihkan dari tempat paling tinggi dulu."

"Aku bukan paman kalian, hei!"

Begitulah. Bagi si kembar, memanggil mereka paman adalah jalan paling sopan. Dalam sekejap, kedua gadis remaja hafal keseluruhan nama anggota Bandit Pedang Hitam. Mengundang takjub sekaligus sebal karena diperintah ini atau disuruh itu.

Membiarkan Orphana dan Orphelia mengawasi kinerja Bandit Pedang Hitam di mansion mereka, Sanae yang mengambil tugas berbelanja kebutuhan hari itu. Berhitung bahwa jatah makan dan camilan akan bertambah berkali-kali lipat, Sanae memasang gerobak di salah satu kuda milik mereka.

Ya, gerobak. Bukan kereta yang biasa memuat penumpang. Berkat keahlian pria yang istrinya mereka tolong untuk bersalin, mereka memiliki gerobak khusus untuk mengangkut belanjaan.

"Kau bahkan menambahkan ukiran indah dan rumit di dinding-dinding gerobaknya, Tuan Carloz." Tak bisa Sanae tak takjub dengan hasil tangan Carloz.

"Ah, ini ... saat muda, aku pernah belajar mengukir dinding-dinding kereta milik kaum bangsawan, Nona Maid-chan." Digaruk-garuknya kepala bagian belakang demi mengusir sungkan. Dipuji oleh sosok yang dia tahu cukup berpengaruh di kediaman duke tentulah memberi senang tersendiri.

"Kurasa, daripada kalian kembali ke rumah lama di Distrik Malam Biru dan berurusan lagi dengan bangsawan nakal, ada baiknya kalian tetap di mansion." Sanae bersiap; melompat dengan mudah ke bagian depan gerobak. "Aku sudah membicarakannya dengan Duke Muda. Dia tak keberatan kalau kalian tetap di sini. Kau bisa mengurusi istal, kuda-kuda kami, taman, maupun kereta Duke. Nyonya Amritha bisa membantu Orphana dan Orphelia mengurusi mansion setelah masa nifasnya selesai. Lagi pula, kami butuh lebih banyak orang untuk membantu mengurusi hunian sebesar ini."

Menyembul retakan di sepasang mata Carloz. Bahwa di dunia yang mereka tinggali, yang kerap bertemu dengan pihak-pihak tak berperikemanusiaan, masih tersisa golongan yang bahkan tak perhitungan dalam membantu sesama. Sudah dibantu, diberi pula pekerjaan. Kebaikan mana lagi yang harus mereka dustakan?

"Kami ... kami akan setia dengan Duke Rhisiart, Nona Maid-chan. Kami akan mengikuti apa pun yang diperintahkan Duke Rhisiart. Terima kasih. Sungguh kami berterima kasih karena telah banyak dibantu."

Sanae mengibaskan tangan. "Tidak perlu sungkan."

Setelah mengecek kesiapan berbelanja yang semuanya telah siap, Sanae membawa Viori, kuda jantan berwarna hitam yang dibelinya kemarin, bersama gerobak dengan banyak keranjang bambu. Saat baginya menjalankan tugas sekaligus mengecek progres pesanan pakaian di butik Pharina.

Pagi yang sibuk terjadi tak hanya di kediaman Duke, tetapi di sepanjang jalan di seluruh distrik Erthura.

🌷🌷🌷

"Baiklah. Kurasa, aku tidak akan menggerutu untuk ke depannya atas segala apa pun yang diminta Duke Muda. Mendapat jatah makan sebanyak dan selezat ini tanpa harus berlelah-lelah sendiri merupakan satu dari kebaikan Langit." Ocehan Orhamel mendapat senyum lebar oleh seluruh maid yang tengah memberesi bekas makan siang mereka.

Jam istirahat setelah seharian memberesi mansion. Dua pertiga bangunan telah bersih dan rapi. Tidak ada lagi tanaman rambat liar yang membuat tembok-tembok tampak lebih kusam dan menyedihkan. Pot-pot mengenaskan telah diganti, baik media tanam maupun jenis tanaman itu sendiri. Bagian istal bahkan telah lebih dulu dibenahi sehingga memanjakan bukan saja mata para pekerja mansion, tetapi Viori dan Lorion. Usai mengunyah setumpuk rumput yang dibawakan Carloz dan Aston, mereka merebah; menikmati embusan angin kemarau yang hari itu cukup sejuk.

"Kalau kalian tidak keberatan, kalian boleh mencicipi kue yang kubuat. Aku ingin tahu pendapat kalian tentang rasanya." Dari dapur, Orphelia mendorong troli berisi loyang kue yang meruapkan aroma pisang, susu, dan stroberi, beserta setumpuk piring dan garpu kecil. "Akan kubuatkan teh juga sebagai teman."

"Oi, oi, Orphelia! Kau ingin membuat perut kami meledak, hah?" Menjeling Orhamel demi melihat kemunculan Orphelia dengan camilan yang dia siapkan sepenuh hati. Sialan! Aromanya sangat lezat. Sungguh akan sangat sulit ditolak.

"Kalian sudah bekerja keras membenahi hunian ini. Yang bisa kulakukan sebagai bentuk terima kasih hanya dengan membuatkan makanan dan kudapan yang enak. Tolong tunggu, ya!"

Tak sempat mencegah, Orhamel hanya bisa menatap kepergian Orphelia dengan wajah tak habis mengerti.

"Nikmati saja, Orhamel. Belum tentu kau menemukan kue selezat buatan Orphelia di Distrik Bulan Putih. Kapan lagi, bukan?" Sanae mengerling sembari mendorong troli berisi kue buatan Orphelia yang telah dipisahkan khusus untuk Rhisiart dan poci beserta cangkir teh beraroma rosela. Dibawanya troli ke ruang kerja Rhisiart.

Selagi kawanan Bandit Pedang Hitam memberesi mansion, Rhisiart memang mengurung diri di ruang kerja; mengumpulkan data-data pejabat kota yang disinyalir menyalahgunakan dana dari pajak para penduduk atau mengecek nama-nama bangsawan dari kota-kota di sekitar Erthura yang barangkali suatu hari nanti mengajaknya turut serta dalam acara-acara khusus para petinggi di pemerintahan daerah Kekaisaran Celdara.

Dari Sanae, Rhisiart tahu bahwa Ryonswald Hywel sering menghadiri pertemuan dengan duke, count, earl, bahkan baron dari berbagai kota yang masih satu wilayah Kekaisaran Celdara. Pertemuan-pertemuan yang biasanya membahas kerja sama demi memajukan wilayah masing-masing atau bahkan hanya sekadar agenda berburu pada musim-musim di mana hewan buruan melimpah. Agenda yang sejujurnya tidak terlalu disukai Rhisiart. Bertemu apalagi berinteraksi dengan orang asing adalah hal menyebalkan yang tidak ingin dia lakukan andai bisa.

Aroma teh rosela yang dibawa masuk Sanae menghentikan seketika pergerakan jemari Rhisiart dari belasan lembar di atas meja. Tatapnya berpindah dari lembaran kertas kepada Sanae yang mendorong troli untuk kemudian diposisikan di samping meja kerja Rhisiart.

"Kau berhak untuk teh dan kue lezat buatan Orphelia, Duke Muda." Dituangnya isi poci ke dalam cangkir porselen berukiran rumpun mawar, bersandingan dengan sepotong kue beraroma pisang dengan banyak krim dan stroberi. "Akan sangat rugi kalau kau tidak sempat mencicipi kue terbaru Orphelia."

Alih-alih bersegera menikmati waktu kudapan, Rhisiart justru bangkit; mengabaikan tumpukan kertas, cangkir teh, juga piring kue.

"Aku lebih suka menggunakan waktu istirahat untuk tidur sejenak di pangkuanmu, Maid-chan." Tanpa menunggu persetujuan Sanae, Rhisiart membawanya ke sofa besar di hadapan jendela. Seperti yang pernah mereka lakukan, dimintanya Sanae duduk lantas menggunakan pangkuan si gadis pelayan untuk menopang kepala Rhisiart. "Begini jauh lebih nyaman. Kepalaku sudah sangat pusing walau hanya mengeceki data-data bangsawan nakal di kota ini."

"Tidur di ranjangmu bukankah jauh lebih nyaman?" Kedua lengan Sanae saling bersilang di dada walau sepasang matanya tak lepas memperhatikan kelakuan sang dukeBukankah dia tampak kekanakan?

"Di sini ... lebih nyaman." Sejuk angin menjelang sore membawa kantuk perlahan di sepasang mata Rhisiart. "Sangat nyaman, Maid-chan."

Sanae menghela napas. Dia betul-betul tak berkutik jika Rhisiart telah menyalakan mode suka-sukanya. Ah, tidak. Bukan mode suka-suka, melainkan manja. Rhisiart persis bocah manja yang tidak suka ditinggal lama-lama oleh ibunya.

Sembari menunggu Rhisiart menyelesaikan 'ritual', Sanae memindai ruang kerja. Seperti biasa, beberapa gumpalan kertas terserak di lantai. Sepotong handuk kecil yang tampak lembap menggeletak di bahu kursi. Dia yakin, Rhisiart menggunakannya untuk meredam gerah yang sempat menerjang wilayah Erthura beberapa jam lalu. Saat menemukan tumpukan kertas di atas meja, dia teringat beberapa lembar amplop yang menjejali kotak pos di depan mansion.

"Sebelum aku lupa, Rhisy." Sanae melongok demi memeriksa kondisi Rhisiart. "Kau betulan tertidur?"

Bergerak-gerak telinga Rhisiart demi mendengar panggilan yang dilontarkan gadis pelayannya. Mengubah arah wajah seketika menjadi menghadap wajah Sanae. Jarak wajah di antara keduanya hanya satu jengkal. "Kau ... memanggilku apa tadi?"

"Memanggil? Hm ... Rhisy?"

Senyum Rhisiart melebar demi sepotong nama yang dilontarkan gadis pelayannya. "Baru kau yang memanggilku dengan nama sependek itu."

"Tak suka?"

"Sama sekali tidak masalah." Rhisiart menahan diri untuk tidak tersenyum lebar demi menjaga wibawa. "Jadi, apa yang ingin kautunjukkan selagi ingat?"

"Ada kiriman surat. Aku menemukannya pagi tadi di kotak pos kita."

"Dari?"

"Bisa kaubangkit dulu? Aku menyimpannya di kamar. Lupa memberitahumu pagi tadi."

Rhisiart bangkit. Menyilakan Sanae untuk mengambil surat yang datang ke mansion mereka. Selagi menunggu, dia justru beranjak; menghampiri teh dan kue yang disiapkan Sanae. Manis dan asam dari kue yang masuk ke mulutnya berhasil mengusir sebagian pening dan kantuk. Perlu dia akui bahwa kemampuan memasak Orphelia memang cakap. Sangat cakap. Jauh lebih cakap dari gadis pelayan bermata hijau zaitun.

Lagi pula, aku meminta Maid-chan menjadi pelayanku bukan demi masakannya atau teh buatannya atau caranya memberesi ruangan demi ruangan di mansion. Aku hanya ingin dia bersamaku. Tak masalah jika dia tak pandai mengurusi mansion.

Kedua bahu Rhisiart bergerak. Hampir habis kue dan teh saat Sanae kembali masuk dengan membawa beberapa amplop bersegelkan lambang beberapa bangsawan yang tinggal di sekitaran Erthura. Hanya satu yang tidak cukup dikenali Sanae.

Rhisiart memintanya membacakan nama-nama pengirim surat. Sebagian besar tidak ... belum dikenali Rhisiart. Hanya satu surat yang pengirimnya sangat familier. Sangat dia kenali.

"Tolong bacakan surat dari Juliana Kremlyn, Maid-chan."

"Sesuai keinginanmu, Duke Muda." Sanae mengambil pisau dari saku di balik celemek yang segera mengundang kernyitan di wajah Rhisiart. Menangkap mimik heran sang duke, Sanae berbaik hati menjelaskan, "Aku selalu membawanya. Selain untuk berjaga-jaga karena musuh bisa datang kapan saja, mengisi saku celemek pelayanku dengan satu atau dua shuriken maupun pisau telah menjadi kebiasaan. Jadi, jangan aneh."

"Aku harus mulai terbiasa melihatmu membawa senjata ke mana-mana." Dengan gerakan tangan, Rhisiart meminta Sanae melanjutkan keinginannya.

Surat telah dikeluarkan dari amplop berlambang Keluarga Kremlyn. Guratan pena yang sangat rapi sekaligus cantik cukup menyihir Sanae selama beberapa detik. Ada belasan baris yang perlu Rhisiart dengar dari surat kiriman atas nama Juliana Kremlyn.

"Bagaimana kabarmu, Rhisiart? Sepekan lebih kau di Erthura, tetapi tak kunjung Bibi mendapat kabar terbarumu? Sebegitu sibukkah sampai-sampai mengabari Bibi saja tak sempat? Dasar anak nakal!" Perlu Sanae menahan tawa demi omelan lewat surat yang dilayangkan sosok bernama Juliana Kremlyn. "Sesibuk apa pun kau di sana, semoga kau tidak mengabaikan jam makan dan jam tidurmu. Bibi sudah dengar dari Pangeran Iloi kalau kau diangkat menjadi duke, menggantikan ayahmu. Bibi harap, kau tidak mendapat masalah dengan status barumu sekarang. Tetaplah berhati-hati karena dengan status barumu itu, akan ada kalangan yang pasti mengusikmu. Jangan sungkan meminta bantuan Paman dan Bibi, oke?"

Sanae mengambil napas. Berhenti sejenak. Beradu tatap dengan Rhisiart.

"Selesai?"

Gadis pelayan itu menggelengi pertanyaan Rhisiart. "Masih ada satu paragraf. Baris terakhir. Ditulis dengan ... kapital."

"Seluruhnya?"

Sanae mengangguk.

"Bacakan!"

"SEKALIPUN KAU SIBUK, TOLONG LUANGKAN WAKTU UNTUK BERKENCAN. JANGAN HABISKAN MASA MUDAMU DENGAN TUMPUKAN PEKERJAAN. KAUPAHAM, RHISIART? BIBI KAN JUGA MAU SEGERA MENIMANG CUCU DARIMU. JADI ...."

"Hentikan!" Rhisiart mendesis demi mendengar kalimat yang dibacakan Sanae dengan penuh penekanan. "Buang saja suratnya atau bakar sekalian. Pesan macam apa yang dia berikan sampai-sampai ditulis dengan huruf kapital? Buang saja, Maid-chan. Aku tidak akan menyimpan surat semacam itu." Tangannya mengibas-ngibas udara, berharap Sanae tidak menjadikan isi surat, terlebih kalimat dengan huruf kapital, kiriman Juliana Kremlyn sebagai bulan-bulanan.

Sayangnya, Sanae kadung tahu. Membaca lengkap pula sehingga tawanya tak bisa ditahan. "Aku bisa membantumu jika kau berniat mencari pendamping dalam waktu dekat, Rhisy."

"Berhenti mengolok-olokku, Maid-chan." Sepasang mata hitam Rhisiart menatap galak.

Walau yang digalaki tak peduli. Masih tertawa sembari memberesi cangkir teh dan piring kue yang telah kosong. Puas sekali menggodai sang duke yang ternyata tidak ada bedanya dengan kebanyakan pemuda yang memiliki orang tua dengan tingkat perhatian berlebihan. Meski terdapat pesan menggelikan, Sanae memahami satu hal tentang hubungan Rhisiart dan pengirim surat. Bahwa keberadaan Rhisiart di kehidupan Juliana Kremlyn tak sekadar keponakan. Barangkali, bagi Juliana, Rhisiart telah dianggapnya seperti anak sendiri sampai-sampai tak sungkan mengirimkan selorohan lewat surat.

Kau masih beruntung, Duke Muda. Masih ada keluarga yang menyayangimu dengan tulus. Kau masih memiliki tempat untuk pulang jika di sini kau tidak diterima siapa pun. Sebuah rumah yang sangat hangat, kurasa.

Mengingat waktu istirahat Rhisiart berakhir, Sanae beranjak membawa troli. Meninggalkan Rhisiart kembali dengan hanya pena dan tumpukan dokumen, sedangkan dirinya kembali ke dapur untuk membantu Orphelia menyiapkan makan malam.

🌷🌷🌷


 

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...