Selasa, 28 Oktober 2025

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

 


🍀🍀🍀

301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati seseorang, tidak ada jalan pintas."—Sadanaga Miura, Kijin Gentoushou, eps. 10.

302. "Yang bisa dipahami dan diketahui manusia pada akhirnya terbatas. Yang bisa dilihat seseorang dibatasi jangkauan penglihatan mereka. Soalnya setiap orang itu, yang bisa mereka ketahui hanya kisah mereka sendiri. Tapi, tidak terlihat bukan berarti tidak ada yang tak bisa dilihat siapa pun tapi benar-benar ada. Ingatlah baik-baik dan jangan pernah lupakan."Kijin Gentoushou, eps. 10.

303. "Terkadang, jauh lebih baik ketika mendengar pendapat yang berbeda."—Yuri Makuwa, Witch Watch, eps. 14.

304. "Tapi sepertinya, takdir adalah sesuatu yang tidak seharusnya kau paksa untuk melawannya. Terima saja dan bersenang-senanglah."—Nemu Miyao, Witch Watch, eps. 15.

305. "Mengintimidasi untuk menunjukkan dominasi sejak awal itu sungguh menjijikkan."—Kiryu Miharu, Witch Watch, eps. 16.

306. "Kau ubah ciri khas yang kaumiliki sejak lahir menjari senjata."—Kiryu Miharu, Witch Watch, eps. 16.

307. "Hal-hal buruk mungkin terjadi, tapi aku yakin ada juga kenangan indah. Kenangan yang penting bagimu. Ada banyak hal yang tidak bisa kau ubah sejak lahir. Jadi, tak 'kan membantu kalau kau hanya mengeluh. Kalau kau mulai menyalahkan orang lain, kau tak 'kan bisa berhenti."—Keigo, Witch Watch, eps. 16.

308. "Kau tak boleh mengatakan sesuatu seperti itu dengan keras. Ada sesuatu yang disebut kotodama. Ibuku bilang, itu berarti kata-kata punya kekuatan misterius."—Nico Wakatsuki, Witch Watch, eps. 19.

309. "Aku yakin, setiap orang punya rahasia yang tak bisa mereka bagikan."—Kiryu Miharu, Witch Watch, eps. 21.

310. "Setiap orang punya satu atau dua rahasia."—Kiryu Miharu, Witch Watch, eps. 21.

311. "Kau harus menjaga hal yang misterius ketika menyangkut cinta yang murni."—Nico Wakatsuki, Witch Watch, eps. 22.

312. "Hal yang sangat luar biasa untuk punya teman yang punya hobi yang sama denganmu."—Yuri Makuwa, Witch Watch, eps. 23.

313. "Senang rasanya punya sesuatu yang bisa didedikasikan untuk dirimu sendiri."—Nico Wakatsuki, Witch Watch, eps. 23.

314. "Kepercayaan diri berasal dari usaha dan mungkin kau menyukai bagian dirimu sendiri."—Morihito Ogata, Witch Watch, eps. 24.

315. "Ya, dunia ini sangat berbahaya. Mungkin semua orang merasa gelisah. Seperti peribahasa, "Terbangun dari tidur panjang karena kapal uap.""—Yotaka/Kinu, Kijin Gentoushou, eps. 11.

316. "Kesalahan itu bukan sesuatu yang bisa diukur dari besarnya. Terkadang ada yang baru menyadari betapa pentingnya setelah sekian lama. Tapi, meski mungkin akan menyesalinya di masa depan, anak muda harus menjalani hidup sesuai keinginannya dengan sepenuh hati. Lalu, saat mereka tersandung, menyiapkan tempat kembali adalah peran orang dewasa sebagai orang tua. Karena, tidak ada sesuatu yang tidak bisa diubah."—Ayah Natsu dan Jinta, Kijin Gentoushou, eps. 12.

317. "Dan dalam aliran waktu ini, manusia menenun kehidupan mereka bersama, baik sekejap maupun abadi. Bahkan saat mereka saling berkelahi dan berpisah, tanpa ucapan selamat tinggal yang terakhir. Musim yang tak terhitung jumlahnya datan dan pergi dan waktu berubah secara diam-diam."Kijin Gentoushou, eps. 14.

318. "Membantu mewujudkan impuan suamimu adalah bagian dari menjadi seorang istri."—Istri Kaneomi, Kijin Gentoushou, eps. 15.

319. "Kau tahu, sulit percaya kepada orang yang menyimpan banyak rahasia."—Yunagi, Kijin Gentoushou, eps. 16.

320. "... bahkan jika itu ketidakmurnian, keberadaannya masih memiliki makna."—Jinya Kadono, Kijin Gentoushou, eps. 17.

321. "Hidup adalah anugerah, tapi merupakan perpaduan antara yang baik dan yang buruk. Perubahan juga punya rasa yang sama. Aku tak tahu beban apa yang ada di pundakmu, tapi kau tak akan sama tanpanya, 'kan?"—Yotaka/Kinu, Kijin Gentoushou, eps. 19.

322. "Ketika masa lalu muncul di kepalamu dan membuatmu ingin menangis, banggalah! Karena itu adalah bukti kalian membangun sesuatu untuk dirimu sendiri yang patut disyukuri. Tapi, aku punya permintaa. Jangan biarkan rasa takut untuk mengucapkan selamat tinggal membuatmu mengabaikan masa kini. Akan selalu ada saat-saat ketika mengingat masa lalu membuatmu ingin membenci segalanya, tapi kalian berdua istimewa. Kalian bisa lebih dari itu untuk menemukan kebahagiaan bersama orang lain. Umurmu yang panjang adalah hal yang membuatmu hidup di masa kini menjadi pengalaman yang penting. Itu yang kuyakin terbaik untukmu."—Sadanaga Miura, Kijin Gentoushou, eps. 19.

323. "Karena ada orang yang menderita akibat pilihannya. Melakukan hal yang benar dengan cara yang benar belum tentu jawaban terbaik. Butuh pencuri untuk menangkap pencuri. Urusan iblis harus diserahkan kepada iblis."—Ofuu, Kijin Gentoushou, eps. 20.

324. "Mungkin, kelemahan kita bukan hal yang buruk."—Jinya, Kijin Gentoushou, eps. 21.

325. "Saat hari-hari biasa mulai terasa berat, kita semua ingin bersantai dan beristirahat. Jika keinginan itu betul terwujud dan seseorang akhirnya bisa bernapas dengan tenang, orang mungkin takut kembali ke hari-hari biasa itu. Hidup tidak pernah berjalan sesuai keinginanmu. Hidup saja sudah cukup sulit, tapi kau tidak bisa tetap terjebak di tempat seperti ini. Ya, bersantai sesekali tidak apa-apa."—Jinya, Kijin Gentoushou, eps 24.

326. "Saat hal-hal yang hilang bertambah, begitu pula hal-hal yang kau dapatkan. Lagi pula, itu karena kau sudah hidup cukup lama hingga kau merasa senang dengan reuni yang tidak terduga."—Jinya Kadono, Kijin Gentoushou, eps. 24.

327. "Aku melalui banyak hal dan sayapku terluka dalam prosesnya. Sekarang, aku tidak bisa terbang."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 4.

328. "Kita ini teman yang berpetualang bersama, 'kan? Bertualang itu penuh bahaya. Kalau kamu merahasiakan sesuatu, itu akan merepotkan yang lain."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 5.

329. "Karena diharapkan sebanyak itu, pasti sakit saat dikhianati."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 5.

330. "Kenangan hebat itu tidak semudah itu terbentuk."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 5.

331. "Aneh sekali. Di atas tempat tidur, kenangan yang hanya ada di novel tanpa disadari menjadi kenangan yang nyata."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 6.

332. "Cinta tuh enggak kasih waktu buat mikir, Hairi-kun."—Shizuku Mizuori, Summer Pockets, eps. 8.

333. "Apa jadi enggak ada artinya kalau kita berpisah? Walaupun kita berpisah, walaupun kita enggak bakal ketemu lagi, kurasa itu enggak bikin perasaan kita enggak berarti. Seberapa pun sakitnya, aku tetap sayang kamu. Itu enggak berubah. Kamu yang bikin aku ingat itu."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 8.

334. "Kado itu cara terbaik buat nunjukkin perasaan ke orang yang kamu cintai."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 9.

335. "Kadang-kadang, kita emang butuh ngerasa unggul. Kadang-kadang, kita semua pengen jadi orang lain juga."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 11.

336. "Bro sejati tahu kapan harus kasih ruang."—Ryouichi Mitani, Summer Pockets, eps. 12.

337. "Kamu masih anak-anak, jadi boleh kok bilang apa yang kamu mau. Anak-anak enggak perlu sungkan."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 18.

338. "Menurutku, enggak ada cara yang benar untuk jadi ibu. Yang penting untuknya apa yang ingin kamu lakukan."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 19.

339. "Saat kamu sedih, kamu tidak perlu menahannya. Ungkapkanlah apa adanya. Sampaikan ke orang di dekatmu. Saat kamu menghadapi kesedihan yang tak bisa dihadapi sendirian, kamu bisa melewatinya selama bisa berbagi dengan seseorang. Ulurkan tanganmu. Selama ada kehangatan yang bisa diraih di sana, maka akan baik-baik saja."—Shiroha Naruse, Summer Pockets, eps. 20.

340. "Enggak semua kenangan itu indah."—Kakek Shiroha, Summer Pockets, eps. 24.

341. "Seperti halnya kita bisa rindu masa lalu, aku merasa rindu pada masa depan yang belum pernah kulihat."—Hairi Takahara, Summer Pockets, eps. 26.

342. "Pakai alat untuk menutupi kekurangan sendiri itu kelakuan yang bodoh, mu."—Mumu, Uchuujin Muumuu, eps. 2.

343. "Bahkan, seorang jenius pun jangan terlalu memaksakan diri."—Decimaru, Uchuujin Muumuu, eps. 6.

344. "Yang terpenting saat makan, jika yang masak ada di depanmu, jadinya lebih tenang pas makan, 'kan?"—Sakurako Umeyashiki, Summer Pockets, eps. 8.

345. "Elektronik untuk hal-hal khusus itu tentang keberagaman. Dan keberagaman itu bisa memicu ide pada seseorang."—Wataru Tenkubashi, Uchuujin Muumuu, eps. 13. 

346. "Romansa adalah potensi."—Wataru Tenkubashi, Uchuujin Muumuu, eps. 13.

347. "Hanya karena baru dan praktis, bukan berarti bagus."—Anomori, Uchuujin Muumuu, eps. 14.

348. "Kalau orangnya enggak mau berubah, lebih gampang yang di sekitarnya yang menyesuaikan."—Sakurako Umeyashiki, Uchuujin Muumuu, eps. 18.

349. "Olahraga itu kayak bikin "mesin". "Mesin" bertenaga tinggi yang butuh banyak energi. Bakar kalori lebih banyak dalam aktivitas sehari-hari itu yang bikin kita kurus."—Wataru Tenkubashi, Uchuujin Muumuu, eps. 18.

350. "Dengar! Kalau mau berubah, yang pertama harus berubah itu dirimu sendiri."—Wataru Tenkubashi, Uchuujin Muumuu, eps. 18.

351. "Mulai sekarang, bahkan USB pun kamu harus tahu "kepribadian"-nya. Kayak milih pacar, Sakurako."—Mumu, Uchuujin Muumuu, eps. 21.

352. "Budaya itu memori eksternal untuk pengetahuan dan pengalaman. Cuma ada makna kalau dipakai dan diwariskan. Sekalinya hilang, tak akan pernah bisa kembali."—Guru Mumu, Uchuujin Muumuu, eps. 22.

353. "Aku percaya persahabatan tidak pernah memudar walaupun kami terpisah."—Ryuichi Naruhodo, Gyakuten Saiban 1, eps. 11.

354. "Seorang pengacara hanya bisa tertawa saat putus asa."—Ryuuichi Naruhodo, Gyakuten Saiban 1, eps. 12.

355. "Di pengadilan, bukti adalah segalanya."—Reiji Mitsurugi, Gyakuten Saiban 1, eps. 13.

356. "Jangan menanggungnya sendiri! Kita bukan pahlawan. Kita hanyalah manusia. "Menyelamatkan seseorang"? Itu bukanlah tugas yang mudah."—Reiji Mitsurugi, Gyakuten Saiban 1, eps. 23.

357. "Mereka yang menyembunyikan kebenaran akan dikhianati oleh kebenaran."—Reiji Mitsurugi, Gyakuten Saiban 1, eps. 23.

358. "Sepintar apa pun kau menyembunyikannya, kebenaran akan selalu terungkap."—Reiji Mitsurugi, Gyakuten Saiban 1, eps. 24.

359. "Kita hanya bisa saling percaya dan berjuang dengan semua yang kita miliki. Percaya pada seseorang dan mengandalkan mereka adalah satu-satunya cara untuk menjangkau kebenaran."—Ryuuichi Naruhodo, Gyakuten Saiban 1, eps. 24.

360. "Jaksa tidak berjuang untuk ketenaran dan kemuliaan."—Reiji Mitsurugi, Gyakuten Saiban 1, eps. 24.

361. "Memperlihatkan secercah harapan kepada manusia lemah lalu mengalahkan secara telak, mirip sekali dengan lintah darat."—Yumeko Jabami, Kakegurui 1, eps. 3.

362. "Sikap orang sepertimu yang tidak melawan balik orang yang kurang ajar akan menjadi hewan peliharaan abadi."—Yumeko Jabami, Kakegurui 1, eps. 5.

363. "Kiwatari, janganlah menilai segala hal dari tolok ukurmu karena semua manusia terlahir berbeda-beda. Hal yang dapat dimaafkan, hal yang tidak dapat dimaafkan, tidak ada orang yang akan menurutimu seratus persen."—Yumeko Jabami, Kakegurui 1, eps. 5.

364. "Berurusan dengan orang gila memanglah susah."—Kaede Manyuda, Kakegurui 1, eps. 8.

365. "Konsep paradoksal yang tak bisa dimengerti oleh keinginan seseorang itulah sifat alami perjudian."—Yumeko Jabami, Kakegurui 1, eps. 9.

366. "Setiap kali semuanya terlihat berjalan lancar, saat itulah biasanya ada halangan yang datang."—Runa Yomozuki, Kakegurui 1, eps. 10.

367. "Jika kau sadar akan kemampuanmu, maka kau pasti bisa menemukan tujuan. Untuk merealisasikan suatu ambisi, kamu harus mengambil risiko. Semakin tinggi ambisimu, semakin besar pula risikonya. Risiko itu mungkin saja waktu atau mungkin usaha yang mengorbankan nyawamu."—Kaede Manyuda, Kakegurui 1, eps. 10.

368. "Pada saat itu, pergi ke bulan hanyalah impian belaka. Tapi, itu terwujud. Jadi, mungkin saja impian lain juga bisa terwujud. Kita bisa menjadi apa pun dan bisa pergi ke mana pun. Selagi masyarakat dipenuhi harapan itu, dia memutuskan tak 'kan pergi ke mana pun."—Hanako-kun, Jibaku Shounen no Hanako-kun 1, eps. 6.

369. "Anak muda memang ingin serba sempurna di dalam dirinya. Dulunya juga aku begitu, kok. Tapi, di saat yang sama, kau akan menerima dirimu yang sekarang. Sama seperti aku. Jadi, jangan bimbang dan jalani hidup dengan riang."—Shirosaki, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 4.

370. "Harusnya, virus-virus yang biasa dipunyai cowok itu disimpan di folder terpisah sambil dianalisi cara gombal dan karakter mereka terus dijadikan patokan buat memilih cowok lainnya. Kalau kamu sih ditimpa terus makanya kena gombalan yang sama berkali-kali."—Sayaka Watanabe, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 5.

372. "Saat membicarakan sesuatu yang disukai, apalagi jika ada teman yang sama, menyenangkan, ya."—Kazunari Usa, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 5.

373. "Bukan hanya anak kecil saja yang bisa bersenang-senang, orang dewasa juga butuh."—Shirosaki, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 6.

374. "Setiap orang menyukai hal yang berbeda. Jadi, bukan salahku kalau aku tidak suka."—Chinatsu, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 6.

375. "Memang benar kalau setiap orang menyukai hal yang berbeda. Jadi, mau bagaimana lagi. Tapi, kita akan merasakan sakit kalau seorang teman mengatakan hal yang jelek terhadap apa yang kita sukai."—Ritsu Kawai, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 6.

376. "Kalau mau menyelesaikan masalahnya, kamu harus berusaha lebih keras."—Sumiko, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 6.

377. "Lebih enak merayakan sesuatu dengan makan makanan yang lezat bersama-sama, 'kan?"—Chinatsu, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 6.

378. "Kalau sudah tumbuh dewasa, akan ada banyak hal yang terlupakan. Bisa jadi, itu kenangan yang indah."—Mayumi Nishikino, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 10.

379. "Membaca karya picisan itu sesuatu hal yang biasa. Yang aneh itu adalah kalau mengejek niat orang lain yang ingin membaca lebih banyak buku."—Ritsu Kawai, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 12.

380. "Wanita itu layaknya minuman beralkohol. Makin tua makin jadi, tapi terkadang ada juga botol yang saat dibuka isinya bakteri semua."—Sayaka Watanabe, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 12. 

381. "Kalau dia tipe orang yang senang melakukan segalanya bersama, tak 'kan ada orang yang punya kecocokan 100%. Yang penting dalam berteman itu bukanlah mencari kecocokan, melainkan bisa tidaknya kalian menerima perbedaan satu sama lain."—Mayumi Nishikino, Bokura wa Minna Kawaisou, eps. 12. 

382. "Saat otakmu sedang kelelahan, kau membutuhkan gula."—Mari Fukami, Nana Maru San Batsu, eps. 2.

383. "Pertandingan selalu soal kesempatan. Pertandingan selalu menyenangkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi."—Gakuto Sasajima, Nana Maru San Batsu, eps. 3.

384. "Kompetisi itu adalah masalah kesempatan. Menyenangkan karena tak ada yang tahu apa yang akan terjadi."—Jinko Sasajima, Nana Maru San Batsu, eps. 7.

385. "Lebih mudah mengingat sesuatu dengan membaca hal yang berkaitan daripada membaca semua hal secara acak."—Gakuto Sasajima, Nana Maru San Batsu, eps. 7.

386. "Kompetisi adalah kesempatan. Kalah hari ini adalah akar kemenangan besok."—Jinko Sasajima, Nana Maru San Batsu, eps. 8.

387. "Sangat tidak baik menertawakan kesalahan orang lain."—Shiki Koshiyama, Nana Maru San Batsu, eps. 11.

388. "Pemenang sejati tetap bisa menang, tak peduli apa pun peraturannya."—Chisato Mikuriya, Nana Maru San Batsu, eps. 12.

389. "Kalau takut akan merepotkan, pasti akan sulit jadi akrab karena diri sendiri juga tidak senang. Justru harus lebih terbuka dan saling memaafkan saat merepotkan. Kalau tidak begitu, tidak akan benar-benar bisa akrab."—Ren Aharen, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 3.

390. "Kurasa, manusia itu adalah hal yang pasti berubah. Maka dari itu, meski perubahan ke arah baik maupun arah buruk, tapi aku ingin kita terus bersama."—Raidou-kun, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 3.

391. "Terkadang, seseorang ingin sendiri untuk beberapa saat."—Raidou-kun, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 6.

392. "Semua orang membuat kesalahan. Tak ada gunanya menangisi susu yang tumpah."—Reina Aharen, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 7.

393. "Terkadang, tidak memikirkan apa pun itu adalah hal yang penting. Kau boleh memikirkan banyak hal, tapi terlalu banyak berpikir pun tidak baik."—Toubaru-sensei, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 9.

394. "Tapi, impianmu itu adalah milikmu. Ooshiro, kau seharusnya melakukan hal yang memang ingin kau lakukan."—Guru Walas III Aharen, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 9.

395. "Tapi, jika kau ingin menggapai impianmu, jangan serahkan impianmu pada orang lain. Impianmu adalah milikmu."—Mitsuki Ooshiro, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 9.

396. "Menggerakkan orang lain itu sama dengan mengajari orang lain. Kalau memang kau bisa, kurasa sebaiknya kau mencoba."—Raidou-kun, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 11.

397. "Kalau kau tidak tahu jawaban yang benarnya, sebaiknya kau mengutamakan hal yang ingin kau lakukan."—Raidou-kun, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 11.

398. "Aku belum tahu masa depan seperti apa, tapi setidaknya, aku ingin berusaha untuk hari-hari di depanku ini. Karena itu akan jadi pengalaman berharga yang hanya bisa kita lakukan sekarang. Meskipun setelah ini semuanya berjalan menuju jalan yang berbeda. Kenyataan bahwa kita pernah ada di sini ingin kunyatakan."—Reina Aharen, Aharen-san wa Hakarenai 2, eps. 12.

399. "Cinta bukan tentang ketakutan, tapi tentang menikmatinya."—Saya Otsuka, Busu ni Hanataba, eps. 12.

400. "Mana mungkin tak ada apa-apa saat kamu menangis."—Yosuke Ueno, Busu ni Hanataba, eps. 12.


Senin, 13 Oktober 2025

Sang Penjaga Kenangan

 

(Picture by Pinterest)

⏳️⏳️⏳️

Dia telah di sana. Berdiri di depan gerbang berlapis cat hitam. Menatap kepada bangunan tak seberapa besar yang barangkali tidak cukup disebut sebagai rumah tinggal. Telah berderet beberapa sepeda motor di lahan parkir yang cukup luas di balik pagar. Barangkali, satu-satunya yang mendominasi lahan di hadapannya memanglah lahan parkir. Seolah dibuat dengan sengaja sehingga yang singgah tak perlu pusing menyimpan kendaraan yang dibawa. 

Bukan tanpa alasan dirinya di sana. Jauh-jauh terbang dari luar pulau demi memenuhi kesepakatan antar teman lama. Sepekan terakhir, layar ponselnya kian ramai oleh notifikasi chat dari grup bernamakan IPA 1 Angkatan 18. Grup yang sebetulnya telah didirikan bertahun-tahun lalu, tetapi lebih sering tak disinggahi, bahkan sekadar sebaris sapaan apa kabar. Dibiarkan lengang. Kosong tanpa obrolan. Diibaratkan rumah, mungkin telah banyak sarang laba-laba yang menghiasi grup chatting tersebut. 


Erizka Nataya

Pada hari dia pergi, aku berada lama di kediamannya. Sempat mengobrol dengan beberapa kerabat, terutama keponakannya. Kalian pasti enggak akan percaya sama apa yang kuceritakan ini. 


Chat dari seorang kawan lamanya berhasil menarik atensi belasan kawan lain. Menghidupkan obrolan sampai berjam-jam demi membahas apa yang ditemukan Erizka dari keterangan keponakan kawan lama mereka. 


Sabda Aruparsa

Serius, Riz? Dia masih simpan semua? Kok, bisa? 


Erizka Nataya

Aku juga enggak nyangka. Belasan tahun berlalu sejak kita lulus dari SMANJA dan dia masih menyimpan segala yang pernah terjadi saat kita bareng-bareng di XI dan XII IPA 1. Jujur, aku langsung mewek pas sowan ke rumah yang dia sediakan khusus untuk menyimpan potret-potret kenangannya. Btw, enggak cuma dari angkatan kita aja. Dia pun masih simpan semua foto-foto dari masa SMP bahkan TK. 


Anda

Sang Penjaga Kenangan. Dia sangat apik dalam menjaga kenangan yang dia miliki. 


Sabda Aruparsa

Selalu begitu, ya, Bu Rumi Lanakila? 

Suka banget ngasih julukan ke temen-temennya 😁


Erizka Nataya

Kebiasaan Rumi banget, ya. 

Suka ngasih julukan ke temen-temen.

Efek kebanyakan makan buku, ya, Bu Rumi? 😅


Gerak jemarinya tak langsung berselancar di layar keyboard. Justru sepasang mata berlensa minus itu terpaku pada satu nama yang menjadi pembalas atas pesannya. Nama yang pada belasan tahun lalu berhasil menarik sisi lain seorang Rumi Lanakila. Nama yang bertahun-tahun kemudian mengajarkan seorang Rumi Lanakila tentang materi bersabar dan mengikhlas. 

Anda 

@Sabda Aruparsa @Erizka Nataya Kalian masih ingat rupanya sama kebiasaan jelekku 😄


Sabda Aruparsa

Bukan inget lagi, tapi nancap di memori, Rumi. Apa dulu julukanmu untukku? Si Paling Telat Masuk. Ya, Si Paling Telat Masuk kamu sematkan buat sosok seganteng dan selucu Mas Sabda Aruparsa. Niat banget buat nurunin pasaranku, ya? 😒


Balasan yang berhasil menjadikan emoji tawa terbahak-bahak berderet sebagai balasan dari kawan-kawan lain. Kelakar olok-olok pun segera memenuhi laman grup chat mereka. Saling membongkar aib satu sama lain. Tampak tak sungkan sama sekali bahwa sebaris kisah masa lalu mereka begitu muram, begitu jenaka, begitu menggelikan, ataupun begitu mendebarkan. 


Sabda Aruparsa

Omong-omong soal Sang Penjaga Kenangan, apa kalian enggak mau kita mampir bareng-bareng ke tempatnya? Siapa tahu kita nemu foto-foto jadul yang lebih aib dari yang kita duga. Dia pinter banget mainin kamera, loh. Siapa tahu ada foto-foto candid kalian yang lagi ngupil atau lagi ngorok atau lagi buang air, misalnya. 


Erizka Nataya

Ayolah kita reuni! Kita doa sekaligus mengenang hal-hal yang udah lewat yang berhasil diabadikan dia.


Maka, belasan balasan chat selanjutnya berisi pemilihan hari, tanggal, dan bulan serta tahun untuk mereka kembali bersua. Tersepakati bahwa mereka bisa berkumpul tepat sehari sebelum perayaan ulang tahun Sang Penjaga Kenangan yang ke-34. 


Erizka Nataya

Selain buat ketemu dia, buat nontonin apa-apa yang udah dia buat, kita juga perlu tahu kabar terbaru seorang Rumi Lanakila. Bukan begitu, Bapak @Sabda Aruparsa? 😏


Sabda Aruparsa

Ha ha ha.

Kayak apa ya Rumi setelah berusia 34 tahun? Apakah sudah ubanan? Apakah giginya sudah ada yang ompong? Apakah anaknya sudah SD? Rumi ... seperti apa hari ini? 


Dia menyadarinya walau samar. Ada yang berbeda dari lemparan chat yang diberikan nomor bernamakan Sabda Aruparsa ... ah, tidak. Pesan yang dilempar Erizka Nataya pun seolah-olah merujuk kepada hal yang hanya diketahui Erizka dan Sabda. 

Apakah mereka terlibat suatu hubungan? 

Dia menggeleng. Mengenyahkan dugaan ngawur yang memenuhi kepala. Jelas ngawur karena sosok di balik nama Erizka Nataya bukan lagi wanita lajang. Dia telah bersuami. Telah menikah dengan seorang pengusaha batik lokal di tanah kelahiran mereka. Undangannya terkirim ke alamat rumah Rumi Lanakila walau tak terpenuhi untuk datangbeberapa tahun lalu. Selain kesibukan bekerja, Rumi tidak lagi di tanah kelahirannya saat Erizka menikah. Telah pindah ke pulau tetangga. Tidak memungkinkan baginya mengambil cuti lantas memenuhi undangan kawan lama saat itu. Hanya mengirim ucapan selamat, doa khusus pengantin lewat inbox FB, dan sebungkus kado sebagai bentuk perayaan darinya. 

Seperti apa Rumi setelah berusia 34 tahun? Pertanyaan lewat chat seorang Sabda Aruparsa menyusup ke bawah kesadaran wanita itu. Masih di depan gerbang berlapis cat hitam, masih menghadap sebentuk bangunan yang alih-alih disebut rumah justru dilabeli sebagai Pondok Kenangan, dia tengah mendata apa-apa yang berbeda dari Rumi berusia 34 tahun dengan Rumi berusia 17 tahun. 

Dia menggeleng lagi. Menahan senyum. Geli sendiri demi membayangkan dirinya menilai diri sendiri. Perkara perubahan sesuatu atau seseorang, hendaknya dinilai oleh mata orang lain. Oleh mata yang bukan miliknya. Oleh sosok-sosok yang melihat dirinya berkembang proses demi proses. Jika dia yang menilai, barangkali hasilnya hanyalah sebaris opini. Subjektif. Tidak ... adil. 

Isi kepala yang berkeliaran ke mana-mana, kesadaran yang berlarian ke beberapa masa, menjadikan telinganya terlambat menyadari bahwa sebuah kendaraan mesin beroda dua telah berhenti tidak jauh dari posisinya berdiri. Berhenti, tetapi tidak segera memberi kabar bahwa ada sosok lain yang siap bergabung dengan kesibukannya menjelajahi waktu di alam bawah sadar. Berhenti, tak berniat bergegas memasuki gerbang, justru bergabung menjadi penikmat keterbungkaman sembari menatapi Pondok Kenangan di balik pagar. 

Ah, tidak. Yang baru datang hanya menengok sekilas bangunan bernamakan Pondok Kenangan itu. Detik berikutnya, untuk menit yang panjang, sepasang mata sayunya justru memaku kepada sesosok wanita bergaun semata kaki berwarna biru pastel dengan ornamen brokat di bagian lengan sampai dada. Gaya berpakaian yang begitu santun karena tidak membiarkan lengan, bahu, perut, ataupun dadanya bercelah sedikit pun. Bagian-bagian yang banyak orang pada zaman sekarang tidak sungkan memamerkan. 

Senyumnya mengembang demi ingatan masa lalu. Demi gaya berpakaian dari seorang wanita dengan mata berbingkai lensa minus yang memang selalu sopan. Tidak suka memamerkan bagian-bagian yang memang tidak seharusnya dipamerkan.

"Bisa digantung Abah hidup-hidup kalau aku pakai pakaian seksi, Ruhi. Kamu kayak enggak tahu perangai abahku saja. Beliau sangat-sangat ketat kalau udah urusan berpakaian cucu-cucunya.

Dia pernah mencuri dengar obrolan antara dua kawan gadisnya kala mereka study tour dan menemukan gerombolan gadis dari sekolah lain dengan pakaian yang katanya trendy—walau sebagian tidak setuju karena yang dibilang trendy lebih tepat dikatakan sebagai pakaian-pakaian kurang bahan di mata sebagian besar ABG yang terdidik secara moral. 

"Iya juga ya, Rum. Abahmu kalau udah urusannya sama sopan santun tuh enggak main-main. Bikin ngeri. Aku sampai perlu bikin pengingat kalau main ke rumahmu kudu pakai pakaian yang rapi serapi-rapinya. Enggak boleh ada bolong walau di dengkul sekalipun biar enggak kena ceramah abahmu.

"Nah, 'kan? Ke kamu aja beliau bisa enggak sungkan ceramah, apalagi ke aku yang cucunya? Wah, telingaku bisa panas karena omelannya bisa dari Isya sampai Subuh.

Kedua gadis dengan nama yang hampir mirip itu kemudian tertawa. Seolah-olah perkara aturan pakaian hanyalah lelucon di mata mereka. Omelan seorang sepuh tak perlu ditanggapi dengan hati membara. Justru dijadikan pengingat agar mereka berusaha menjaga gaya berbusana tetap sopan di tengah serangan modernisasi yang makin membabi buta. 

Dia ... wanita itu, dengan gaya berpakaian sopannya justru berhasil mengeluarkan getaran aneh di dalam jantung seorang cucu Adam. 

"Sabda?" 

Telinganya tersadarkan oleh sebuah panggilan lembut. Menyadarkan pula alam bawah sadarnya untuk kembali. Untuk menemui kenyataan. Untuk menanggapi sapaan yang berasal dari wanita bergaun biru pastel di hadapannya. Berjarak tak kurang dari dua meter, dia temui lagi sebaris senyum yang berhasil mencipta dekik di kedua pipi si wanita berlensa minus. 

"Sudah dari tadi ya di sana?" Tanpa berpindah, tanpa berniat menghampiri, tanyanya mengudara dari tempat dia berdiri sejak datang. 

"Ada mungkin ... lima menit." Pria yang dipanggil Sabda memberikan cengiran lebar sembari turun dari kendaraan yang ditunggangi. "Kamu? Enggak mungkin cuma lima menit berdiri di sana, bukan?" 

Mereka bersisian. Berjarak hanya satu depa. Sama-sama menjadikan Pondok Kenangan sebagai semesta tatapan. Membiarkan sekeliling dihujani cericit gerombolan gereja serta gemerisik dedaunan ketapang dibelai embus bayu menjelang pukul sepuluh pagi. 

"Sepertinya ... begitu." Diberinya cengiran tak kalah lebar. Berusaha mengusir sungkan serta debar yang perlahan-lahan mengentaki dada; muncul kembali setelah sekian lama tanpa perjumpaan sekalipun sejak hari mereka lulus. "Aku datang pukul sembilan lewat empat puluh lima dan sekarang tepat pukul sepuluh." 

Teracung-acung satu lengannya ke hadapan Sabda. Menunjukkan angka jam di pergelangan tangan. Jam dengan tali berwarna biru pastel itu sangat cocok berdampingan dengan kulitnya yang kuning langsat. Menambah keanggunan di mata Sabda. 

"Datang sendiri? Aku enggak lihat kendaraan apa pun selain kendaraanku di sini." Ditolehnya arah mana pun sehingga Sabda mampu menemukan kendaraan milik wanita itu, yang sayangnya tidak terlihat di mana pun. "Enggak bawa kendaraan sendiri berarti ... diantar Mas Ayang, ya?" 

Jenaka nada yang menyambangi telinga si wanita berhasil menarik simpul-simpul senyum di bibir menjadi kekehan ringan. "Memangnya kamu tahu kalau aku punya Mas Ayang?" 

"Enggak, sih, tapi bisa saja memang diantar Mas Ayang, to? Rumi yang berusia 34 tahun enggak mungkin masih jomlo, 'kan?" 

Wanita itu memang Rumi. Rumi Lanakila. Teman semasa SMA Sabda. Selalu satu kelas dengannya sejak masuk pertama kali menjadi kelas X sampai lulus sebagai alumnus SMANJA. 

"Seorang wanita berusia 34 tahun dan masih jomlo apakah hal yang aneh sekarang ini?" Rumi mengembalikan tatapan ke Pondok Kenangan. 

Seseorang keluar dari pintu depan. Kendati berjarak hampir sepuluh meter dari posisinya, Rumi tahu bahwa sosok yang keluar dari bangunan itu tengah mencari-cari sesuatu; Tatapannya ke sana kemari; Kepalanya menoleh ke sana-sini. Berhenti kemudian begitu sepasang matanya bersirobok dengan sepasang mata berlensa minus milik Rumi. Lambaian tangan menjadi penanda bahwa ketakziman mengagumi Pondok Kenangan dari luar harus segera diakhiri. 

Sebelum Sabda menjawab pertanyaan Rumi, ajakan wanita itu lebih dulu menginterupsi. 

"Erizka sudah nyariin. Ayo masuk, Sabda!" Tanpa menunggu respons Sabda, Rumi melangkah memasuki gerbang berlapis cat hitam. Membiarkan Sabda tertinggal beberapa langkah di belakang sendirian sembari menuntun sepeda motor miliknya. Gegas bergabung dengan Erizka yang begitu dihampiri segera menggamit tangan Rumi untuk masuk. 

Di dalam, di ruangan-ruangan bangunan bernama Pondok Kenangan, telah menanti beragam hal dari masa lalu untuk mereka ziarahi. Hal-hal yang mungkin bisa mengubah sesuatu pada masa di mana Sang Penjaga Kenangan tidak lagi ada.

⏳️⏳️⏳️

"Namanya Rumi. Rumi Lanakila. Teman pertama Tante begitu menginjak rumput SMANJA. Kebaikan hati dia bikin Tante semakin sadar bahwa masih ada orang-orang yang bisa menghargai keberadaan seseorang." 

Dia mengingatnya. Waktu-waktu yang dihabiskan bersama wanita yang dia panggil Tante selalu menjadi memori menyenangkan, terlebih saat dari mulut sang tante mengular cerita-cerita masa sekolah. Tentang teman sekelas yang terbuka menerima wanita itu. Tentang orang-orang yang begitu menghargai keberadaannya. Tentang sebuah kesempatan yang wanita itu berikan untuk menguntai kisah baru yang lebih seru. 

"Tante Ruhi dekat banget ya sama Tante Rumi?

Dia mendapati wanita di atas ranjang rumah sakit itu mengangguk. "Kami selalu satu kelas, Lyra. Tiga tahun selalu satu kelas bahkan satu meja. Belum lagi, nomor absen kami berurutan. Setiap ulangan umum pun, kami selalu satu ruangan. Menyadari bagaimana kami berteman, Tante merasa Tuhan sedang mengganti hari-hari menyedihkan Tante saat masih di Jepang. Keputusan pindah ke tanah kelahiran Mama yang tidak lain adalah nenekmu itu, enggak akan Tante sesali." 

"Tante Rumi kaget enggak sewaktu tahu kalau Tante Ruhi tuh anak campuran?" 

Berkembang tawa di wajah pias Ruhi. "Justru dia berhasil menebak duluan, Lyr. Saat kami mengantre di depan ruang guru untuk daftar ulang, kami duduk bersisian di tepi koridor. Rumi sempat memperhatikan Tante dengan saksama sampai kemudian menegur. 'Kamu blasteran Jepang, ya?' Itu pertanyaan Rumi yang langsung Tante angguki. Hebat, 'kan? Orang seringnya ngira Tante blasteran Cina atau Korea, tetapi Rumi—dengan sangat tepat—bisa langsung menodong Tante anak blasteran Jepang." 

"Sughoi!" Lyra sampai bertepuk tangan, bukan saja oleh cerita Ruhi atas Rumi, tapi kebahagiaan yang tercermin di sepasang sipit Ruhi. "Tante Rumi ... secantik apa, Tante?" 

"Hm ...." 

Menengadah wajah Ruhi ke langit-langit kamar perawatan dengan telunjuk menempeli sudut dagu. Mengingat-ingat wajah Rumi saat terakhir kali mereka bersua belasan tahun lalu. Wajah yang entah bagaimana setelah enam belas tahun tak pernah berkabar. Yang dia ingat hanyalah wajah Rumi saat masih berusia delapan belas tahun kurang lima bulan. 

"Definisi cantik bagi setiap mata selalu berbeda, Lyra. Yang pasti, setiap sosok yang terlahir sebagai perempuan akan selalu cantik. Enggak boleh kita bilang jelek karena Tuhan sudah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk. Cuma, ada beberapa hal dari cantik yang terdefinisikan lebih istimewa dan Rumi memiliki keistimewaan dari kecantikan yang dia miliki." 

"Aku jadi makin penasaran. Tante punya foto Tante Rumi? Lyra mau lihat, dong." 

Tawa lebar menghiasi wajah pias Ruhi. "Ada. Banyak. Karena kamu singgung soal foto, Tante jadi ingat salah satu rencana besar dalam hidup Tante. Tolong nanti Lyra bantu Tante, ya." 

Gadis dengan seragam sekolah menengah atas itu mengangguk-angguk. Sepasang mata yang bentuknya serupa dengan sang tante pun berbinar-binar. Perihal membantu apa-apa yang diinginkan Ruhi, dia selalu semangat. 

"Ada banyak hal dalam hidup Tante yang sudah terlalui. Tentang hidup yang kadang di atas maupun di bawah. Tentang pertemuan yang terkadang mengesalkan maupun menyenangkan. Tentang perpisahan yang selalu berhasil menarik keluar air mata. Tentang persahabatan maupun cinta. Tentang waktu-waktu yang telah lewat di mana beragam kisah bersandar." 

Diarahkannya sepasang mata menyusuri barisan foto-foto berbingkai yang menempeli tembok bercat hijau sage muda. Foto-foto yang sebagian besar perlu direstorasi dari file aslinya demi mendapat hasil yang lebih bagus dari jepretan pertama. 

"Tante memang enggak punya anak, enggak pula punya suami, tetapi Tante memiliki kenangan yang andai bisa berharap, kenangan-kenangan itu harus selalu hidup. Jika bukan Tante yang menikmatinya, semoga orang lain, orang-orang yang dulu pernah Tante temui, orang-orang yang dulu menerima keberadaan Tante, bisa menziarahi kenangan-kenangan yang barangkali enggak mereka sadari." 

Sampai hari dia berdiri di sana, menatapi ratusan lebih lembar potret berbingkai, ada satu bagian kehidupan yang dimiliki seorang Ruhi Hayashi yang masih tidak dia mengerti.

"Kenapa Tante enggak mau menikah? Om Harvan masih suka tanyain Tante tuh kalau kami papasan di sekolah. Tante ... enggak mau terima dia?

Ada senyum terpatah yang menempel di bibir Ruhi kala tatapannya jatuh ke deretan aglonema di balik jendela kamar perawatan setelah bertatap lima detik dengan keponakannya. "Tante enggak mau bikin orang yang mencintai Tante semakin bersedih karen hanya hidup sebentar dengan Tante. Harvan ... dia berhak mendapat kisah lebih manis bersama wanita yang lebih sehat sehingga kisah mereka bisa berjalan lebih lama, Lyra." 

"Tante ... mencintai Om Harvan, 'kan?" 

Dia tak pernah mendapat jawaban langsung dari bibir Ruhi. Hanya seulas senyum yang sanggup dia rasakan perihnya. Senyum yang dia yakini sebagai jawaban tersirat bahwa tuduhannya adalah kebenaran. 

Kenapa hidup selalu enggak adil buat Tante Ruhi? 

Derum kendaraan menarik kesadarannya untuk kembali ke masa kini. Saat langkah membawanya ke depan pintu, beberapa wanita dan pria dewasa tengah saling bersapa bahkan sampai cipika-cipiki. Melambaikan tangan kepadanya begitu mereka sadar bahwa pemilik pondok yang dikunjungi telah menyambut. Sebagian telah mengenalnya karena pernah bertemu pada hari Ruhi pergi. Sebagian lagi masih tampak asing. 

"Kami datang, Lyr." Satu wanita menghampiri Lyra. "Belum semua, tapi bisa dipastikan ketiga puluh alumnus IPA 1 Angkatan 18 akan datang semua." 

Lyra mengangguk dengan senyum di wajah. Senang sekaligus terharu memenuhi dada demi melihat belasan orang yang pernah menjadi tokoh-tokoh dalam kisah remaja Ruhi. "Tante Ruhi pasti senang karena kawan-kawan lamanya bisa kumpul semua di hari yang sama. Makasih, Tante Riz." 

"Don't mind." Sebuah rangkulan hangat menyapa bahu Lyra. "Malah, yang mengusulkan untuk kami reuni di sini bukan Tante Riz, Lyr. Om Sabda yang ngide biar kita ke sini bareng-bareng hari ini." 

"Om ... Sabda?" Rasanya, nama yang disebutkan wanita yang dia panggil Tante Riz itu terdengar tak asing. Mungkin pernah disinggung Ruhi dalam obrolan mereka kemarin-kemarin. 

Wanita di samping Lyra mendekatkan wajah ke telinga gadis di sampingnya. "Mantannya Ruhi. Mereka pernah pacaran sewaktu masih SMA. Ruhi pernah to cerita ke kamu?" 

Ah, benar. Dia ingat sekarang. Sabda adalah pacar Ruhi sewaktu SMA. "Pacar yang enggak pernah dicintai Tante Ruhi, Tante Erizka." 

"Heh? Apa katamu?" 

Alih-alih menjelaskan, Lyra justru memberikan kerling jenaka. Menyilakan kemudian para tamu untuk berkeliling; melihat-lihat ruangan demi ruangan yang mengabadikan ratusan foto berbingkai dalam berbagai ukuran. Sesekali, dia dengar berbagai celetukan dari para tante dan om yang datang: tentang foto ini yang begini, tentang foto itu yang kenapa begitu, tentang foto anu yang seharusnya tidak anu. Respons-respons yang mendatangkan geli sekaligus haru di dada Lyra. Namun, dari sekian yang telah datang, sepasang matanya belum menemukan sosok itu. Sosok-sosok yang memiliki tempat lebih spesial di kehidupan masa remaja Ruhi Hayashi.  

Apa mereka enggak jadi datang, ya? Ada khawatir yang mencuat di dada Lyra. Dia berharap, sosok-sosok itu hadir sehingga tugas yang diberikan Ruhi kepadanya dapat terselesaikan sekaligus ... dia ingin tahu dengan mata kepala sendiri sosok-sosok itu. Bila perlu, dia ingin mendengar dari mereka terkait masa-masa sekolah sang tante. Bukankah sudut pandang berbeda bisa saja memberikan kisah yang berbeda pula? 

Kekhawatirannya luntur saat Erizka membawa masuk seorang wanita berkacamata yang memakai gaun semata kaki berwarna biru pastel serta seorang pria bersetelan kemeja berwarna merah marun yang dipasangkan dengan celana bahan berwarna hitam. Dia yakin seratus persen bahwa dua sosok yang datang paling terakhir, yang memasuki Pondok Kenangan paling belakangan adalah mereka yang dia tunggu. 

"Lyra, kenalkan. Mereka ini ...." 

"Tante Rumi dan Om Sabda, 'kan? Aku sudah tunggu dari tadi." 

Wanita berkacamata di antara mereka tampak bingung. Saling bertatap sebentar dengan kawan wanita yang membawanya masuk, yang justru berbalas jengitan bahu. 

"Aku Lyra, Tante Rumi." Tangannya menjulur lebih dulu kepada wanita berkacamata. "Keponakan Tante Ruhi sekaligus yang diamanahi buat menjaga Pondok Kenangan setelah Tante enggak ada." 

"Salam kenal, Lyra." 

"Dan ini ... Om Sabda, 'kan? Mantan pacar Tante Ruhi." Ada kerling jail yang diberikan gadis belia itu kepada pria di samping Rumi. Bersambut cengiran sungkan disertai garuk-garuk kepala bagian belakang. "Nah, karena Tante Rumi dan Om Sabda sudah datang, ayo ikut Lyra! Lyra dapat amanah dari Tante Ruhi untuk membawa kalian ke sana sehingga kebenaran dari belasan tahun lalu bisa terselesaikan." 

"Ke-kebenaran?" Beradu tatap Rumi dengan Erizka dan Sabda yang sama-sama menggeleng. Sama-sama tidak tahu.

"Ayo!" Tak peduli wajah bingung tamunya, Lyra menggamit lengan Rumi dan Sabda sekaligus. Memaksa kedua orang dewasa di sampingnya mengikuti langkah menuju lantai atas. Menuju ke sebuah ruangan dengan nama khusus. Ruangan yang hanya boleh dibuka dan diperlihatkan kepada yang bersangkutan. 

"Bilik Kenangan Rumi dan Sabda?" Serta-merta bibirnya bergerak, membaca sebaris kalimat yang tertempel di pintu bercat biru pastel. Pintu dari salah satu kamar di lantai atas Pondok Kenangan. 

Lyra mengeluarkan kunci dari saku kimono hitam yang dipakainya. Membuka tanpa hambatan. Tetap berada di luar kendati pintu telah terbuka lebar. "Silakan masuk, Tante Rumi, Om Sabda. Silakan menikmati kenangan-kenangan kalian yang sudah dihimpun Tante Rumi. Ada sebuah buku harian di atas meja dekat jendela. Tante Rumi dan Om Sabda boleh baca. Itu buku harian Tante Ruhi. Selamat menikmati kenangan." 

"Eh, anu ...." 

Lyra tak peduli akan ketergagapan Rumi. Dia bergegas meninggalkan mereka. Sempat memberi lambaian tangan dan senyum lebar sebelum menghilang di bawah tangga. 

Untuk beberapa detik, Rumi saling melempar pandang dengan Sabda. Mencari sesuatu yang barangkali dimengerti pria itu. Sayangnya, Sabda sendiri tak mengerti. Tak tahu-menahu rencana apa yang sudah disusun kawan lama mereka sampai-sampai menyediakan kamar khusus untuk kenangan-kenangan bertajuk milik Rumi dan Sabda. 

"Ayo masuk, Rumi! Ketidakmengertian kita barangkali akan terbongkar setelah kita melihat isi kamar ini. Bersedia masuk denganku, 'kan?" 

Tak ada jalan mundur. Selain penasaran dengan kenangan seperti apa yang terabadikan oleh Ruhi terkait mereka, Rumi pun ingin membaca buku harian Ruhi. Buku harian yang dengan suka rela dibiarkan dibaca oleh orang lain. Oleh dirinya dan Sabda.

"Asal kamu enggak macam-macam di dalam, Sabda." 

Kekehan renyah disertai uluran tangan Sabda disambut senyum hangat serta uluran tangan Rumi. Keduanya bersiap menziarahi masa-masa silam lewat foto-foto bidikan Ruhi Hayashi.

⏳️⏳️⏳️

Dadanya bergetar demi puluhan foto dalam bingkai berbagai ukuran walau didominasi format monokrom. Seperti yang tertulis di papan nama yang tertempel di pintu kamar, keseluruhan dinding maupun lemari atau bufet hanya diisi oleh foto dirinya dan seorang pemuda berambut ikal. 

Untuk beberapa saat, untuk menit yang panjang, tubuhnya terpancang di sisi dinding dekat pintu. Sepasang mata berbingkainya tak kuasa menahan dorongan bulir-bulir hangat yang kemudian tumpah membanjiri pipi. Dia ... tak pernah tahu bahwa kawan semejanya selama SMA itu selalu memiliki kesempatan untuk membidik kamera. Dia tak pernah tahu bahwa kawan berwajah campuran Jepang dan Jawa itu selalu berhasil "mencuri" potretnya. Potret-potret dalam berbagai ekspresi dan situasi. Betapa pandai tangan dan mata kawannya bermain demi mengabadikan momen-momen yang barangkali dia sendiri tak ingat untuk mengabadikan. 

"Ruhi pro banget, ya, Sabda? Dia selalu bisa "mencuri" apa pun dan bagaimanapun ekspresi dan kondisiku. Saking profesionalnya, aku enggak pernah menyadari kalau lagi difoto Ruhi." Diusapnya sebuah foto monokrom yang menampilkan potret dirinya tengah tertawa lebar; duduk di bawah pohon ketapang yang sebagian dahannya telah gundul karena kemarau. 

Dia ingat hari itu. Mereka memutuskan berteduh di bawah pohon ketapang paling besar di belakang sekolah demi menghindari sengatan matahari pukul setengah satu siang setelah melakoni praktik permainan sepak bola sebagai bahan materi mapel Penjaskes.

"Kalau bukan karena kepiawaian Ruhi mainin kamera, mainin mata buat menemukan potret-potret mengesankan, seorang Rumi Lanakila enggak akan punya foto kenangan untuk kelas IPA 1 Angkatan 18." Sabda ikut memperhatikan deretan foto di dinding yang didominasi wajah wanita dengan sepasang mata berbingkai. "Dilihat-lihat, kamu enggak banyak berubah ya, Rumi? Wajahmu kayak enggak tambah tua. Pipimu masih segembil saat kita SMA. Yang kayaknya agak beda paling-paling lensa kacamata kamu. Lebih tebal dari dulu." 

"Kamu ... masih ingat tentangku yang hari itu, Sabda?" 

Sabda menyimpan senyum di bibir. Beranjak. Menyentuhi satu per satu permukaan bingkai dengan wajah Rumi. Wajah yang dalam beberapa bidikan tertangkap tengah menatap kepadanya. Sebentuk tatapan yang dia yakin tidak akan diberikan kepada pemuda selain dirinya.

Membawanya kemudian sisi dinding lain. Dekat jendela. Posisi di mana sebuah meja teronggok hanya dengan sebuah buku di atasnya. Dari tempat dia berdiri, Sabda bisa melihat langsung peristirahatan terakhir dengan nama Ruhi Hayashi terukir di permukaan nisan. Rumah abadi yang dia huni memang sengaja dibuatkan dekat dengan Pondok Kenangan sehingga dirinya tak perlu berjauhan dengan bangunan yang mana segala kenangan semasa hidup bersemayam. 

"Andai Ruhi enggak mengabadikan kamu ke foto-foto jepretannya pun aku masih sanggup mengenali sosokmu, Rumi." Dia berbalik. Menatap wanita yang berjarak tujuh langkah di depannya. "Bagaimana bisa aku melupakan sosok yang berhasil membuatku merasakan debar aneh untuk pertama kalinya, Rumi?" 

"Debar ... aneh?" Tidak. Tanya yang meluncur dari bibir Rumi bukan karena ketidakmengertian. Dia tahu. Sangat paham. Sebagai manusia yang sangat hobi membaca dan menonton, dia telah sering mendapati obrolan semacam obrolan yang hari itu memerangkap dirinya dan Sabda. 

Dia ... hanya merasa belum siap mendengar sesuatu yang dulu sekali dia ingin dengar; yang dulu sekali dia harapkan terlontar dari bibir seorang Sabda Aruparsa; yang kemudian terpaksa dia lebur saat kabar Ruhi dan Sabda menjalin hubungan lebih dari teman ketika mereka di bangku kelas XI. 

"Mau baca ini dulu?" Di tangannya, Sabda menunjukkan buku harian yang disinggung keponakan Ruhi. "Aku yakin, Ruhi menulis kebenaran kisah tujuh belas tahun silam di sana. Sebelum mendengar penjelasanku, kamu perlu baca dulu penjelasan Ruhi." 

Rumi mendekat. Mengambil duduk di satu-satunya bangku yang tersedia. Pelan-pelan membaca lembar demi lembar buku harian Ruhi. Satu-dua halaman membuatnya menahan tawa. Satu-dua halaman lainnya membuat mata berkaca-kaca. Setiap ekspresi Rumi berhasil mengambil penuh atensi Sabda. Pria itu lebih fokus memperhatikan setiap gestur yang diperlihatkan Rumi alih-alih takzim membaca goresan tangan Ruhi—yang sebagian sulit dibaca karena saking 'bagus'-nya. 

Hingga tibalah jemarinya membuka sebuah halaman dengan tanggal tertera September, 2009. Bulan di mana mereka telah menjadi anak kelas XI. Bulan di mana kabar itu mulai berembus di antara kawan-kawan sekelasnya. 


Ck ck ck! Dilihat-lihat, kawanku yang bernama Rumi itu sangat susah sekali bergerak, sedangkan pesaingnya enggak main-main. Bisa-bisanya dia cuma nyengir bodoh setiap kali ada cewek yang coba-coba mendekati Sabda. 

Enggak bisa dibiarkan! Aku enggak ikhlas lahir batin kalau sampai Rumi patah hati karena Sabda kepincut cewek lain. Kalau Rumi enggak mau bertindak, biar aku ajalah yang jalan. Demi meredam gosip si Sabda jalan sama si ini atau si itu, demi cewek-cewek tengil itu enggak lagi mendekati Sabda, tuh cowok kudu punya tameng. Hm ... aha! Aku tahu cara paling ampuh buat bikin tameng si Sabda Gemblung. 


Berselang dua tanggal, curahan hati Ruhi terlampir di halaman berikutnya. 


Bravo! Sabda setuju dengan rencanaku. Kami resmi menjadi sepasang kekasih jadi-jadian. Sabda bilang, lebih aman kalau aku yang nempel ke dia daripada dia dideketi sama cewek-cewek lain yang tengilnya bikin pengen ngejitak. Sayang aja si Sabda terlalu baik. Heran juga. Ke Jujun atau ke Omuh tuh tangan ringan banget buat ngegeplak, giliran ke cewek padahal tengil minta ampun malah nyentil pun enggak mau. Padahal mah sah-sah aja kalau alasannya masuk akal. He he he. 


Di halaman tersebut, Rumi berhenti cukup lama. Mengulang sampai beberapa kali demi mencermati sebaris kalimat yang dituliskan kawannya. 

Kekasih jadi-jadian? Kekasih ... jadi-jadian?

Tatapnya berpindah. Mendongak kepada wajah dari pria yang sejak tadi berdiri di sampingnya bersandarkan meja. Menimbulkan tanya yang terpancar lewat mata pria itu. 

"Kok, Ruhi nulis di sini kalau kalian kekasih jadi-jadian? Maksudnya apa, Da?" 

"Coba baca sampai selesai. Aku yakin, Ruhi sudah siapkan jawaban dari pertanyaanmu itu." 

"Kenapa enggak kamu aja yang jelasin? Apa bedanya? Kamu juga terlibat kisah yang sama, 'kan?" 

"Khawatirnya, kamu bakalan menganggap penjelasanku sebagai alibi tak berdasar. Pemuda yang ke-GR-an. Pemuda yang sok keren. Aku sudah punya kesan enggak baik di mata kamu sejak hari itu, Rumi." 

"Aku ... enggak terlalu memikirkan." Rumi kembali menyusuri buku harian Ruhi. Menahan diri untuk tidak sebal karena senyum Sabda yang dipenuhi kemisteriusan sekaligus kejemawaan. Rasa-rasanya, dia berkawan dengan sosok-sosok yang suka sekali membuat isi kepala berpikir ratusan kali demi menemukan makna dari sebaris kalimat konotatif. 


Rumi enggak bilang, tapi aku bisa merasakan kalau dia punya sedikit kesal, kecewa, bahkan mungkin sedih akibat hubunganku dengan Sabda yang mereka sebut sebagai pacaran. Ah, andai Rumi tahu kalau yang kulakukan ini pun demi menyelamatkan perasaannya. Menyelamatkan posisinya biar enggak diganggu cewek-cewek tengil. 


Sepertiga bagian terakhir dari buku harian Ruhi berisi tentang kondisi hubungan di antara mereka: Ruhi, Sabda, dan Rumi. Tentang kencan-kencan Ruhi dan Sabda yang aslinya bukan kencan karena tidak pernah hanya berdua. Ruhi selalu mengajak Rumi setiap kali kawan gadisnya menginginkan pergi ke sebuah tempat, entah hanya ke pasar malam atau sampai ke wisata-wisata alam. 

Benar juga. Kenapa saat itu aku enggak memprotes kelakuan Ruhi yang ngejadiin aku kambing congek di hari kencan mereka? Kenapa juga aku mau-mauan ikut padahal sangat tahu bahwa dengan ikut mereka justru hatiku bisa lebih terluka? Ah, betapa bodohnya Rumi! Lebih gemblung dari si Mr. Gemblung-nya Ruhi.

Segala ketidakmengertian Rumi terpecahkan di halaman terakhir buku harian. Menjadi halaman paling banyak paragraf. Menjadi halaman dengan pesan paling panjang yang sepenuhnya terarah untuk Rumi Lanakila. 

....

Rumi, sebelum aku pergi, izinkan aku membuka apa-apa yang selama ini terahasiakan darimu. Tentang hubunganku dengan Sabda saat kita SMA. Kuharap, dengan pengakuan ini, kamu bisa mempertimbangkan untuk kembali ke dia. Semoga Tuhan berkenan untuk terus menjomlokan kamu sampai kalian dipertemukan kembali, ya. Entah bagaimana, aku meyakini bahwa kamu dan Sabda memiliki kisah yang lebih panjang. Tidak berhenti di pertemanan saat SMA. 

Rumi, aku dan Sabda memang pernah pacaran, tetapi kami enggak pernah saling cinta. Ide kami pacaran itu datangnya dariku. Aku enggak ikhlas kalau Sabda dikecengin sama cewek-cewek tengil mulu. Jadi, untuk menjaga dia biar enggak digangguin cewek asing, biar hatinya enggak tergoda buat macarin cewek selain kamu, aku bikin rencana itu. Aku ajak dia pacaran biar gosipnya nyebar ke mana-mana sehingga cewek-cewek tengil itu enggak lagi ngedeketin Si Tukang Telat Masuk. Pokoknya, Sabda enggak cocok sama mereka. Sabda Aruparsa cocoknya sama Rumi Lanakila—di mataku, sih. He he he.

Rumi, aku tahu kamu nahan cemburu saat tahu aku pacaran dengan Sabda. Selain cemburu, barangkali juga kamu marah, kecewa, enggak sangka karena aku, orang yang kamu bilang kawan baikmu, ternyata 'menikam' dari belakang. Aku juga ngerasa enggak enak hati sama kamu, tapi sumpah, Rumi. Walaupun aku dan Sabda dilabeli pacaran, kami enggak pernah ngapa-ngapain, kok. Enggak pernah jalan berdua. Enggak pernah mesra-mesraan di tempat sepi apalagi gelap. Aku cuma ngejagain dia secara fisik. Enggak ada dag-dig-dug di hatiku buat dia, Rumi. Enggak ada sama sekali karena aku tahu kalau gadis yang dicinta Sabda bukan kayak aku. 

Rumi, kalau aku bilang bahwasanya Sabda juga suka kamu, naksir kamu, pasti kamu enggak percaya, 'kan? Pasti kamu bakalan nuduh aku sok-sokan ngehibur kamu. Nyatanya, Sabda emang suka kamu, Rumi. Suka dari kita sama-sama kelas X. Cuma, Sabda enggak bisa ngajakin kamu pacaran saat itu. Dia sudah janji untuk fokus dulu sekolah. Untuk fokus dulu berkarier. Dia khawatir ganggu fokus sekolahmu kalau ngajakin kamu pacaran. Dia makhluk yang punya visi dan misi jauh ke kehidupan ke depan. Sabda cerita ke aku, kalau memang dia berjodoh denganmu, suatu hari nanti dalam situasi dan kondisi yang telah siap, kalian akan bertemu dengan cara apa pun untuk kemudian bersatu. Kalian akan masih sama-sama lajang saat bertemu kembali walau harus menghabiskan belasan tahun menunggu. Kurasa, meski agak keren, Sabda punya sisi gemblungnya tersendiri terhadap dunia romansa. Kamu setuju, 'kan, Rumi?

Di sisa usiaku yang tak banyak setelah dokter memvonis bahwa aku mengidap penyakit sulit tersembuhkan, aku mulai rajin berdoa. Aku ingat kamu pernah bilang kalau doa anak baik, doa gadis baik-baik, memiliki kesempatan besar untuk dikabulkan. Maka, aku mulai berdoa setiap hari, Rumi. Aku meminta kepada Tuhanku agar kamu dan Sabda benar-benar menjadi dua anak manusia yang terjodohkan. Wanita yang baik harus dengan pria yang baik walau datangnya perlu proses yang tidak mudah dan tidak sebentar. 

Sebelum kuakhiri surat ini, sekali lagi aku ingin kamu tahu bahwa aku enggak pernah jatuh cinta ke Sabda. Kami pacaran cuma untuk status biar Sabda enggak ditowel-towel cewek tengil. Biar kamu enggak makin cemburu dan sakit hati karena Sabda didatengin banyak cewek. Berterima kasihlah kepadaku yang sudah jadi tameng biar calon ayangmu itu tetap tersegel keperjakaannya, Rumi. He he he. Bercanda. 

Satu pesan terakhirku untuk sahabat terbaikku selama SMA, tolong jujur dengan perasaanmu nantinya, ya. Kalau memang kamu masih lajang saat bertemu kembali dengan Sabda yang juga lajang terus dia mengaku masih menyukaimu, jangan sok-sokan menolak, ya. Enggak perlu lagi tarik-ulur macam ABG bau kencur. Dia pun melalui proses yang panjang untuk menjaga keyakinannya bahwa esok masih ada sempat bertemu kembali dengan gadis yang dicintainya. Gadis pertama yang berhasil menciptakan debar-debar sepanjang hidupnya. Oke, Rumi? Enggak usah malu-malu kalau Sabda ngajakin kamu menikah. Terima! Gaskan! 

Sudahlah. Segitu saja pesanku. Peluk jauh dariku yang sudah di Alam Baka. Bahagia selalu, Rumi dan Sabda. Dari tempat yang tak terlihat, aku akan mengawasi perkembangan hubungan kalian. Bye, bye. 

....


Bulir hangat tak kuasa tertahan. Meluruhi pipi tanpa restu. Membasahkan seketika wajah. Melirih tangisnya di kelelangan kamar. Kendati tertulis dengan bahasa yang ceplas-ceplos, bisa dia rasakan sebesar apa ketulusan dari si pembuat surat. 

"Kenapa dia baik banget, Sabda? Kenapa dia repot-repot mikirin perasan orang lain? Kenapa wanita sebaik dia harus pergi secepat ini? Kenapa penjelasannya enggak datang dari mulut dia sendiri? Di saat aku berpikiran yang enggak-enggak tentang dia, dia malah mikirin kondisiku; mikirin kisahku yang harus baik-baik saja ke depannya? Kenapa ... dia semenyebalkan ini, Sabda?" 

"Kita enggak pernah benar-benar tahu isi kepala dan hati seseorang, Rumi. Ruhi dengan dunianya. Ruhi dengan rencananya. Dia menikmati apa yang dia ingin lakukan untuk orang-orang yang dia sayangi." Sabda memberi usapan lembut di punggung wanita itu. "Kita ... banyak berutang kepada Ruhi, Rumi." 

"Dan kita enggak tahu harus bayar dengan apa utang-utang itu, Sabda." Tanpa merasa perlu menyeka air mata, Rumi mendongak demi menemukan wajah pria di sampingnya. Seperti dirinya, wajah pria itu pun tak banyak berubah setelah diamati lebih dekat.

"Mendoakannya ... barangkali bisa menjadi bayaran atas apa-apa yang sudah Ruhi lakukan untuk kita." 

"Cuma itu yang bisa kita lakukan pada akhirnya, Sabda." 

"Hum. Cuma itu." 

Keduanya sama-sama melempar tatap pada persemayaman atas nama Ruhi Hayashi yang terlindungi sebuah pohon flamboyan berbunga rimbun berwarna oranye—dari balik jendela kamar khusus kenangan mereka. Sama-sama berterima kasih atas apa yang telah diperbuat sesosok wanita berdarah campuran Jepang dan Jawa atas sepenggal kisah menakjubkan pada masa putih abu-abu mereka. Sama-sama merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan sosok yang justru menjadi penjaga sekaligus jembatan atas sepotong takdir yang pernah berlainan arah. 

Selesai dengan buku harian, Rumi membawanya. Berniat meminta izin Lyra agar membolehkan buku harian Ruhi bersamanya. Dia ingin menyimpannya. Menjadikan harta karun paling berharga di rumah masa depannya sehingga bukan saja Ruhi yang memiliki dan mengabadikan sebentuk kenangan menakjubkan. 

Kendati tak terikrar dengan kata-kata, walau tak tersuarakan dengan gamblang, munculnya Rumi dan Sabda ke hadapan belasan kawan lama mereka sembari bergenggaman telah lebih dari cukup menjadi penanda kabar bahagia atas purnanya dua sosok yang betah melajang sampai usia lebih dari kepala tiga. Dua sosok yang pernah berjarak, jika Tuhan mengizinkan untuk menyatu, pada penggalan masa kemudian pun akan dipertemukan dengan cari paling mengesankan. Yang akan membahagiakan bukan saja mereka, tetapi orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kenangan mereka. 

Di sudut ruangan, di kosmos terkecil sebuah dunia, sebentuk kebahagiaan pun berbunga di dada seorang gadis. 

"Terima kasih sudah menyelesaikan keinginan terakhir Tante, Lyra. Selamat tinggal. Sampai jumpa di dunia esok."

Gadis itu mengangguk kepada seberkas bayangan yang melayang keluar dari Pondok Kenangan. Tatapnya kemudian jatuh menontoni kebahagiaan dua sosok paling berkesan di hidup salah satu wanita kesayangannya. Sampai jumpa di dunia esok, Tante Ruhi. Salah satu impian Tante telah terpenuhi. Mereka menjadi apa yang Tante inginkan sejak dulu. Terima kasih sudah memberi kesempatan Lyra untuk membantu; untuk tahu dengan mata kepala sendiri bahwa yang bertakdir akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke rumah impiannya. 

⏳️⏳️⏳️


Senin, 06 Oktober 2025

100 Kutipan Anime/Film: Bagian 3

 


🍀🍀🍀

201. "Membesarkan seorang anak memang sangat sulit. Itu sudah pasti."—Misaki Oga, Beelzebub, eps. 10.

202. "Jika ada sesuatu yang ingin kaukatakan, katakanlah dengan jelas dan keras."—Tatsumi Oga, Beelzebub, eps. 10.

203. "Seperti apa yang dikatakan orang tua, bayi akan tidur nyaman jika dia di antara ibu dan ayahnya."—Nyonya Oga, Beelzebub, eps. 12.

204. "Orang-orang tanpa kekuatan akan dijadikan boneka. Itu terjadi sepanjang waktu. Tidak akan ada yang terjadi hanya dengan keras kepala seperti itu. Memiliki target akan membuatmu menjadi pria yang lebih kuat."—Kanzaki dan Himekawa, Beelzebub, eps. 21.

205. "Kekuatan sejati bukanlah tentang mengalahkan seseorang, melainkan tentang melindungi seseorang. Tidak peduli seberapa kuat kau atau berapa banyak pertempuran yang kaulewati, tanpa itu kau tidak akan pernah memenangkan pertempuran. Tidak peduli apa pun itu."—Zenjuro Saotome, Beelzebub, eps. 21.

206. "Situasi mendesak membutuhkan solusi yang mendesak juga."—Kotaro Tennouji, Rewrite 1, eps. 1.

207. "Kita memang tidak boleh mengabaikan isu lingkungan."—Kotaro Tennouji, Rewrite 1, eps. 3.

208. "Kau tahu, seorang teman tidak akan pernah membiarkan temannya sendirian."—Kotaro Tennouji, Rewrite 1, eps. 6.

209. "Jika kau menghargai kehidupan yang sekarang, berhentilah ikut campur urusan orang lain."—Sakuya Ootori, Rewrite 1, eps. 7.

210. "Saat pria berusaha sekeras ini, usahanya itu demi orang yang dicintainya."—Pani, Rewrite 1, eps. 10.

211. "Meskipun kecil, umat manusia sudah membuat banyak hal menakjubkan."—Kagari, Rewrite 1, eps. 10.

212. "Monster sekalipun punya hal yang ingin dia lindungi."—Midou, Rewrite 1, eps. 10.

213. "Cinta, kecantikan, dan kebajikan pasti ada di dunia ini. Begitu juga dengan kebencian, keburukan, dan kebodohan."—Rewrite 1, eps. 11.

214. "Rumor ada untuk dibuktikan, 'kan?"—Lucia Konohana, Rewrite 1, eps. 11.

215. "Manusia terus mengurangi umur planet ini, melalui tindakan merusak dan permusuhan. Tidak ada artinya melakukan itu semua."Rewrite 1, eps. 11.

216. "Hidup itu seperti berjalan di atas tali yang tipis."—Kotaro Tennouji, Rewrite 1, eps. 13.

217. "Ketika melibatkan sesuatu yang penting, maka beban terasa lebih berat."—Kotaro Tennouji, Rewrite 1, eps. 13.

218. "Kecerdasan yang tinggi membuat emosi manusia menjadi dingin. Yang mengabaikan perasaan hangat dari cinta dan kepedulian. Tidak peduli di mana seseorang berada, pasti ada yang menemukannya. Sebuah bintang yang menunjukkan jalan."—Kotaro Tennouji, Rewrite 2, eps. 1.

219. "Cara untuk istirahat di saat sedan ujian adalah melupakan semua yang kau pelajari dan melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan ujian. Aku yakin, melakukan hal yang sama terus-menerus membuat pikiranmu menjadi kaku. Dan pikiranmu mungkin akan hancur kalau kau memaksakannya."—Kotaro Tennouji, Rewrite 2, eps. 2.

220. "Pertemanan tanpa pamrih itu sangat langka dan sangat berharga."—Esaka-san, Rewrite 2, eps. 5.

221. "Jangan merendahkan dirimu sendiri. Kau akan terus berada di bawah kalau begitu. Pertahankan seranganmu tetap simpel dan berani. Jangan mengorbankan semuanya demi bertaruh dalam pertarungan psikologi. Simpel tapi efektif menggunakan kekuatan adalah dasar dan rahasia sukses."—Esaka-san, Rewrite 2, eps. 5.

222. "Ada banyak cara untuk hidup dan berguna. Kalau semua orang yang disebut pahlawan itu seperti Mikuni, organisasi akan hancur. Bahkan dengan kemampuanmu saat ini, kau bisa jadi prajurit yang bagus."—Esaka-san, Rewrite 2, eps. 5.

223. "Mereka yang mati tidak akan bisa hidup kembali."—Kotaro Tennouji, Rewrite 2, eps. 8.

224. "Hidup tak akan bisa terus ada jika menyerah."—Kagari, Rewrite 2, eps. 9.

225. "Meski kita tahu di dalam kepala kita;  perasaan kita, hati kita, tak 'kan mendengarnya. Itulah manusia, Kagari."—Kotaro Tennouji, Rewrite 2, eps. 9.

226. "Mudah menjadi suci, meski lemah sekalipun. Tapi, hanya yang kuat yang menang."—Esaka-san, Rewrite 2, eps. 10.

227. "Kemampuan dan tekad akan membuka jalan menuju masa depan. Walaupun kamu harus menelan planet tempatmu berasal, kamu harus keluar menuju kediaman baru. Semua itu akan membentuk kenangan yang tak terlupakan. Perasaan yang tak terbalas pasti membuatmu merasa kosong."—Kagari, Rewrite 2, eps. 11.

228. "Orang yang terobsesi ingin menjadi kuat sering bertindak seperti orang bodoh."—Izumi, Beelzebub, eps. 33.

229. "Sekali kau memasuki pertempuran itu, kau akan menjadi kuat. Bukankah itu esensi dari para pembuat onar?"Beelzebub, eps. 35.

230. "Seorang penguasa sejati harus tetap maju untuk menyempurnakan kehebatannya."—Himekawa, Beelzebub, eps. 40.

231. "Jangan khawatir. Kau pasti akan menjadi lebih kuat. Selama kau memiliki kamuan, yakinlah!"—Aoi Kunieda, Beelzebub, eps. 49.

232. "Waktu pasti akan berlalu ketika kamu bersenang-senang."—Hantu UKS, Beelzebub, eps. 53.

233. "Bukankah bagus punya banyak hal yang ingin diberi tahu? Itu membuatku semakin senang untuk hidup. Dunia ini adalah tempat yang sangat menarik."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 1.

234. "Ide yang besar butuh dinyatakan dengan kalinat besar agar tersampaikan, 'kan?"—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 1.

235. "Bagaimanapun baju tidurku, aku masih bisa melihat mimpi."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 1.

236. "Hidupku memang kuburan harapan."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 1.

237. "Ternyata, air mata bisa untuk hal senang dan sedih, ya."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 2.

238. "Jika hatimu cantik, penampilanmu juga cantik. Yang penting bukan penampilan luar, tetapi isi hati."—Marilla Cuthbert, Anne Shirley, eps. 2.

239. "Saat menantikan sesuatu, sudah mendapat separuh kebahagiaan."Anne Shirley, eps. 3.

240. "Namun, salah juga kalau mengakui sesuatu yang tidak dilakukan."—Marilla Cuthbert, Anne Shirley, eps. 3.

241. "Seseorang tak bisa terus sedih di dunia yang indah ini."Anne Shirley, eps. 4.

242. "Perpisahan itu menyayat hati, ya. Tapi, seseorang tak bisa terus putus asa."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 5.

243. "Untuk imajinasiku pun ada hal yang tak bisa kutulis."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 6.

244. "Aku membuat kesalahan, tapi tiap kesalahan membantuku memperbaiki kekuranganku."Anne Shirley, eps. 7.

245. "Eng ... jangan menyerah pada romansamu, Anna. Tapi, jangan berlebihan juga. Secukupnya saja. Secukupnya saja sudah bagus."—Matthew Cuthbert, Anne Shirley, eps. 7.

246. "Kita semua harus punya tujuan dalam hidup dan terus mengejarnya, tapi kita harus pastikan dulu itu layak dikejar."—Bu Guru Stacy, Anne Shirley, eps. 7.

247. "Di dunia yang tidak sempurna ini, memang tidak bisa semuanya sempurna, ya. Persaingan membuat belajar terasa berarti."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 7.

248. "Tujuan yang bagus tak perlu besar. Cobalah manfaatkan setiap hari sebaik mungkin."—Bu Guru Stacy, Anne Shirley, eps. 7.

249. "Aku tak ingin menjadi siapa pun, selain diriku."Anne Shirley, eps. 8.

250. "Ingat, ya! Belajar itu harus menyenangkan."—Bu Guru Stacy, Anne Shirley, eps. 8.

251. "Menjadi dewasa itu menyenangkan, tapi banyak sekali yang dilakukan dan pikirkan hingga tak sempat bicara melebih-lebihkan lagi."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 8.

252. "Matahari akan tetap terbit dan terbenam, entah aku gagal atau tidak di ujian matematika."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 8.

253. "Kita sudah kaya, loh. Karena kita sudah hidup selama 15 tahun dan memiliki imajinasi dan kita tahu cara menikmati pemandangan ini. Aku tak ingin menjadi siapa pun, selain diriku. Meski tak pernah dikelilingi permata seumur hidupku, aku puas menjadi Anne dari Green Gables dengan kalung mutiaraku. Dan aku puas menjadi Anne Shirley berambut merah dengan sahabat yang senyumnya manis dan mendandaniku dengan sempurna."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 8.

254. "Yang terbaik adalah berusaha dan menang. Yang terbaik kedua adalah berusaha dan kalah."—Anne Shirley, eps. 9.

255. "O, senangnya punya ambisi. Begitu meraih satu ambisi, kau melihat ambisi lain berkilau lebih tinggi lagi."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 9.

256. "Aku tak tahu apa yang ada di balik persimpangan itu, tapi aku akan percaya itu yang terbaik."Anne Shirley, eps. 10.

257. "Jika kuncup-kuncup kecil memulihkan hatimu, kamu seharusnya tak menutup hatimu dari itu."—Mrs. Allan, Anne Shirley, eps. 10.

258. "Yah, namanya juga kerja. Tentu harus menderita untuk mendapatkan gajimu."—Jane Spancer, Anne Shirley, eps. 11.

259. "Pria sejati tak menumpahkan air ke leher wanita."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 11.

260. "Mungkin, kita paling mencintai orang yang membutuhkan kita."Anne Shirley, eps. 12.

261. "Banyak hal menyenangkan di dunia ini yang bisa dilakukan tanpa berbohong."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 12.

262. "Aku cuma suka membayangkan hal-hal menyenangkan. Sudah banyak sekali hal tak menyenangkan di dunia ini hingga tak ada gunanya membayangkan hal itu lagi."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 12.

263. "Saat kupikir sesuatu yang indah akan terjadi, aku terbang tinggi dengan sayap imajinasi."Anne Shirley, eps. 13.

264. "Tidak pernah terlambat bagi Pangeran Sejati untuk menemui Tuan Putri Sejati."Anne Shirley, eps. 14.

265. "Jangan asal ikut campur urusan orang."—Marilla Cuthbert, Anne Shirley, eps. 14.

266. "Hatiku memang hancur jika itu bisa terjadi, tetapi kehidupan tak akan membiarkanmu terus sengsara. Aku benar-benar orang yang sangat bahagia dan puas meskipun hatiku hancur."—Lavendar Lewis, Anne Shirley, eps. 14.

267. "Hidup adalah serangkaian perpisahan."Anne Shirley, eps. 15.

268. "Melangkah maju menyusuri jalan kehidupan adalah sesuatu yang luar biasa. Pilih jalanmu sendiri dan terus maju! Jika kamu punya mimpi, jangan menyerah."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 15.

269. "Bukankah menangis membuatmu merasa lebih baik?"—Paul Irving, Anne Shirley, eps. 15.

270. "Bukankah akan lebih indah lagi, Anne, jika tak pernah ada perpisahan atau kesalahpahaman dan mereka bergandengan sepanjang hidup, tanpa ada kenangan yang tersisa, selain kenangan milik mereka berdua?"—Gilbert Blythe, Anne Shirley, eps. 15.

271. "Sulit sekali mengucapkan selamat tinggal."—Anne Shirley, eps. 15.

272. "... dan yang namanya perintis pasti punya kesusahannya sendiri."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 16.

273. "Cinta adalah kekuatan pendorong yang mengubah segalanya."Anne Shirley, eps. 17.

274. "Hidup tidak akan bisa berkembang dengan sempurna tanpa cobaan dan kesedihan. Meskipun kita baru bisa mengakuinya saat hidup kita cukup nyaman."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 17.

275. "Tapi, aku terus berusaha, bermimpi tentang apa yang bisa saja terjadi."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 18.

276. "Saat aku membuka buku, dengan indah mawar kemarin seolah kembali hidup."Anne Shirley, eps. 18.

277. "Cuma orang jenius yang boleh menulis akhir cerita sedih."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 19.

278. "Dengar, cerita itu hanya khayalan. Jadi, kau harus membuat pembacamu percaya itu memang mungkin terjadi."—Tuan Harisson, Anne Shirley, eps. 19.

279. "Menulis karya sastra yang hebat itu memang penting, tapi kenyataannya kamu juga harus membeli makan dan membayar kos."—Gilbert Blythe, Anne Shirley, eps. 20.

280. "Betapa menyiksanya harus dewasa, menikah, dan berubah."Anne Shirley, eps. 22.

281. "Menikah tak akan menyeramkan karena orang-orang masih hidup setelahnya."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 22.

282. "Anggaplah rintangan kecil sebagai lelucon dan rintangan besar sebagai pertanda kemenangan."Anne Shirley, eps. 23.

283. "Penulis itu bagai ternak yang sulit diprediksi. Maksudku, kemampuan menulis yang diterbitkan memiliki tanggung jawab besar."—Bibi Rumah Patty, Anne Shirley, eps. 23.

284. "Tidak peduli kegembiraan lebih dalam apa yang mungkin datang kepada kita nanti, kita tidak akan pernah lagi memiliki kenangan yang sama."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 23.

285. "Menyiksa dirimu sendiri tidak akan berguna bagi siapa pun."—Marilla Cuthbert, Anne Shirley, eps. 24.

286. "Tak ada dari kita yang bisa mewujudkan semua impian kita. Dan kita akan seperti mati kalau tidak ada yang tersisa untuk diimpikan. Berlian dan aura marmer memang indah, tapi ada lebih banyak "ruang untuk imajinasi" tanpa itu. Dan soal menunggu, itu bukan masalah. Kita akan bahagia, menunggu, bekerja untuk satu sama lain, dan bermimpi."—Anne Shirley, Anne Shirley, eps. 24.

287. "Semua orang hidup di masa kini. Kit tak bisa terikat oleh masa lalu."—Jinya, Kijin Gentoushou, eps. 2.

288. "Hidup lama belum tentu menjadikan kita dewasa, tapi seiring berjalannya waktu, saya memahami sesuatu. Saat masih muda, saya pikir yang saya lihat adalah segalanya. Saya yakin menyakiti orang lain itu salah, tapi saya terlalu muda untuk menyadari ada makna tersembunyi di baliknya. Saat itu, saya terlalu muda untuk berbuat sesuatu."—Jinya, Kijin Gentoushou, eps. 2.

289. "Sebagai anak, kebahagiaan terbesar yang bisa kamu berikan adalah hidup lebih lama dari orang tua."—Ayah Jinya, Kijin Gentoushou, eps. 2.

290. "Kau punya kepribadian yang datar, jadi kadang kau merasa tak peduli dengan apa pun dalam hidup. Sejujurnya, aku tak pernah tahu apa yang harus kupikirkan tentangmu. Tapi sekarang, kulihat kau pun bisa menjadi orang yang cengeng. Jadi, kau hanyalah pria biasa. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk merenung, oke? Kau akan punya kerutan permanen di dahimu."—Natsu, Kijin Gentoushou, eps. 5.

291. "Rumah bukanlah tempat tinggal manusia. Orang-oranglah yang membuat rumah."—Sadanaga Miura, Kijin Gentoushou, eps. 5.

292. "Kalau itu tak membuat orang tersenyum, maka itu bukanlah rumah."—Sadanaga Miura, Kijin Gentoushou, eps. 6.

293. "Jika sudah memutuskan, seorang pria itu harus memegang kata-katanya meskipun orang lain tak memahaminya, 'kan? Orang lain tak perlu memahami tekad di hatimu."—Sadanaga Miura, Kijin Gentoushou, eps. 6.

294. "Waktu menghanyutkan semua hal tanpa ampun. Tak ada yang bisa mempertahankan apa yang berharga baginya. Mereka akan selalu kehilangan. Yang hilang, tetaplah hilang. Itu tak 'kan pernah bisa didapatkan kembali."—Jinya, Kijin Gentoushou, eps. 6.

295. "Kukira, aku bisa melakukannya. Semua kehidupan berubah seiring berjalannya waktu. Hatiku yang pernah bersumpah untuk tak berubah pun tak bisa bertahan selamanya. Jangan menjadi sepertiku. Jadilah pria yang menghargai kebencian sendiri."—Motoharu, Kijin Gentoushou, eps. 7.

296. "Keberuntungan dan kesialan juga saling memutari, ya."—Ayah Jinya dan Natsu, Kijin Gentoushou, eps. 7.

297. "Menurutku, menjadi burung pipit yang bisa bertahan di musim dingin itu bagus, kok. Tapi, hati orang bisa berubah. Kuharap, suatu hari perasaanmu akan terbalas dan berubah menjadi kerang."—Akitsu Somegorou, Kijin Gentoushou, eps. 8.

298. "Burung tidak butuh alasan untuk hinggap di bunga yang mekar. Bukankah itu sama dengan saudara? Apa pun yang terjadi, ikatan itu tidak akan putus."—Natsu, Kijin Gentoushou, eps. 9.

299. "Tapi pada akhirnya, perasaa selalu menemukan jalan kembali ke tempat yang mereka dambakan."—Akitsu Somegorou, Kijin Gentoushou, eps. 9.

300. "Seiring berjalannya, tidak ada orang atau pemandangan yang bisa melawan. Tak ada yang tak berubah di dunia ini, tapi perasaan manusia ... hanya perasaan manusia saja meski berubah bentuk."Kijin Gentoushou, eps. 9.

🍀🍀🍀




100 Kutipan Anime/Film: Bagian 4

  🍀🍀🍀 301. "Jika Anda ingin meraih hati seseorang, Anda harus menghabiskan waktu untuk mengenalnya. Jika Anda ingin memasuki hati se...